
“Sam, istirahat bentar dong. Nyerah. Napas gue pendek” kata Amel langsung rebahan di pinggir lapangan. Mata Amel memandang langit malam melewati genteng tembus pandang di halaman belakang rumah Samuel. Rintik hujan turun membasahi genteng menimbulkan suara berisik. “Gue capek ”
Samuel menempelkan botol air dingin ke pipi cewek itu. “Lu besok rencana kemana?”
“Main ke rumah Laras.” Mata Amel melirik Samuel ikut berbaring di sampingnya. “Ini bukan akal-akalan lu kan biar kita bisa setim?”
“Bukan..... Ini murni undian Udin”
Amel berdecak pelan. “Kok bisa pas banget? Lu sama gue, Brandon Manda, Laras Dano. Kalo Laras sama Dano udah pasti itu akal-akalan Dano. Tapi kalo lu dan Brandon....gue nggak yakin cuman kebetulan”
“Kalo nggak percaya lu tanya aja ke Udin” jawab Samuel acuh tak acuh sembari memejamkan mata.
Amel menghela napas, ia bangkit dan duduk menghadap Samuel. Ekspresinya terlihat sangat serius. “Perlu gue ingetin kalo gue emang udah maafin lu, tapi hubungan kita cuman teman sekarang. Sesuka apapun gue sama lu, gue bakal matiin perasaan gue. Gue nggak hobi ngerusak rencana perjodohan orang.”
Mata Samuel terbuka dan menatap amel lekat-lekat. Kening Samuel berkerut seakan sedang memberikan penilain atas perkataan cewek itu. Ya. Samuel memang berbohong.
Tidak ada kemungkinan sebaik itu yang akan membuat Samuel bisa setim dengan Amel. Berulang kali Samuel berusaha meyakinkan Amel kalo hubungan mereka masih bisa diperbaiki, tapi sepertinya hati cewek itu sudah mengeras. Bukan sudah, tapi dipaksa untuk mengeras. Dikombinasikan dengan sikap keras kepala, Amel jelas menunjukan ia tidak akan memberikan kesempatan bagi Samuel untuk menyeruak masuk ke dalan hatinya.
“Iya tenang aja. Gue juga udah nganggep lu temen kok....Gue ambil air dulu, daripada kita canggung.” Samuel bangkit berdiri dan melangkah pergi.
Amel diam, ia tahu baru saja menyakiti hati Samuel. Tapi sekali lagi Amel memilih untuk menghempas perasaan itu jauh-jauh.
...----------------...
Setelah sekian lama akhirnya untuk pertama kali Ayu berlatih di lapangan badminton. Perasaannya meletup-letup bahagia. Jadi ini rasanya ketika berada di tempat dimana atlit badminton Indonesia berlatih? Seumur-umur Ayu hanya bisa merasakan main di lapangan sekolah dengan kayu tertancap di tanah sebagai net diiringi angin kencang berhembus membawa kok terbang ke arah lain, belum lagi ia harus bergantian dengan sekitar lima orang yang menunggu giliran bermain.
“Wah!” teriak Heru ketika smash Ayu mengenai jidatnya, cowok berjongkok sembari mengusap-ngusap keningnya.
”Mas Heru nggak papa?” tanya Ayu buru-buru berlari mendekati Heru.
“Lu mukul pake tenaga dalam ya? Sakit”
“Duh maaf” kata Ayu panik mengipas kening Heru dengan tangan.
Heru mendongak. “Ngapain lu ngipas-ngipas gitu?”
“Biar merahnya hilang"
“Lu kata kening gue sate? Aneh-aneh aja lu”
“Ya terus gimana?”
“Kayak gini Yu.” Tanpa diduga Heru menarik tangan kanan Ayu dan menaruh di atas keningnya. Tubuh Ayu mendadak membeku tapi tidak protes, ia hanya diam mengikuti Heru. Wajah cowok itu masih mendongak menatap Ayu serius.
Ayu menelan ludah gugup, di ruangan dengan satu lapangan ini hanya ada mereka berdua membuat Ayu bisa merasakan perubahan suasana diantara mereka. Mata Ayu menatap ke bawah tidak ingin balas menatap Heru.
“Lu takut ya sama gue?” tanya Heru tiba-tiba membuat Ayu mendongak. “Jujur aja Yu nggak papa”
“Saya......” Dengan salah satu tangan Ayu menyentuh kening Heru membuat Ayu merasa salah tingkah. Heru terlihat menunggu jawaban Ayu. “Iya, saya takut sama Mas Heru”
“Kenapa?”
Mata Ayu hampir membulat. Pakai ditanya lagi! batin Ayu menjerit. “Mas Heru galak.” Hening. Ayu mengigit bibir, harusnya ia tidak menjawab pertanyaan itu secara lugas. Takut-takut Ayu melirik Heru, tampang cowok itu terlihat seperti sedang menilai dan tanpa diduga ia tertawa terbahak-bahak. Heru melepaskan tangan Ayu dari keningnya.
__ADS_1
“Ekspresi muka lu lucu banget.” Ayu mencibir, ia duduk di samping Heru. “Kesukaan lu apa Yu?” tanya Heru lagi. Ayu angkat bahu. “Serius? Nggak ada sama sekali? Kayak nyanyi, gambar, atau apa gitu?”
“Kerja bisa termasuk kesukaan nggak mas?”
“Bisa, cuman agak aneh aja sih” angguk Heru.
“Kalo gitu kesukaan saya kerja” jawab Ayu tersenyum simpul. “Kalo kerja saya bisa punya uang buat bayarin sekolah Adit dan bantu ibu.”
Heru melemparkan tatapan serius, ekspresi cewek itu terlihat tenang namun pandangan matanya menunjukan bahwa ia sedang melamun memikirkan sesuatu. Semakin diperhatikan Ayu terlihat semakin menarik di mata Heru. Gerak-gerik Ayu tanpa sadar membuat Heru merasa ingin tau tentang Ayu lebih dalam. Cara Ayu bertutur kata, keningnya yang berkerut menghadapi keinginan Heru, atau senyumnya yang akhir-akhir ini mulai sering terlihat.
“Yu-” Baru saja Heru akan berbicara pintu ruangan terbuka. Tampak Dano muncul bersama Laras dan Udin, ketiganya nyengir lebar masuk tanpa permisi.
“Halo halo dik Ayu” sapa Dano sok akrab.
“Ngapain lu pada kesini? Mau nyontek trik ya? Sana pergi, lapangan ini udah gue sewa tiga jam khusus buat tim gue” usir Heru kejam.
“Betul, sekalian mau lihat sejauh apa persiapan lawan gue. Eh, lu bukan lawan gue sih, cuman kan siapa tau lu bakal jadi lawan gue” kekeh Dano menyodorkan plastik berisi snack.
“Hai” sapa Laras duduk di samping Ayu. “Aku Laras, kamu pasti Ayu ya?”
“Iya mbak betul”
“Nggak usah manggil mbak dan formal gitu, kita cuman beda setahun” bisik Laras tersenyum manis.
“Yu kalo ditanya Laras soal taktik jangan dijawab” teriak Heru. Ayu nyengir dan mengangguk patuh.
“Aku enggak securang itu” cibir Laras lalu menyodorkan sekotak es krim.
“Iya. Semoga menang ya. Kata Heru kalian rajin banget latihan tiap sore”
“Mas Heru cerita?”
“Iya. Biar slengean gitu dia orangnya kompetitif banget” angguk Laras. Selanjutnya kedua cewek itu asik mengobrol, mata Ayu tidak bisa lepas dari Laras. Cewek itu baik sekali, ia selalu tersenyum manis, dan mendengarkan cerita Ayu seksama. Berbanding dengan Dano yang cenderung pecicilan Laras justru terlihat lebih tenang dan dewasa. Kedua orang itu memang cocok satu sama lain.
“Saya sekarang lagi nyisihin duit buat bekal modal nanti. Impian saya ingin punya toko kue kecil-kecilan” kata Ayu saat obrolan mereka berkembang lebih jauh membicarkan masa depan nanti.
“Kita kerjasama aja gimana Yu? Buat toko kue kecil-kecilan? Kamu bagian buat kue, aku bagian promosi. Kebetulan aku lagi belajar buat promosi di sosial media. Mau lihat nggak contohnya?” Laras menscroll ponsel menunjukan media sosialnya yang akhir-akhir ini berisi promosi untuk kue-kue kering buatan Sari. Hasilnya tidak main-main, dalam sekali preorder Sari bisa mendapat untung yang tidak sedikit.
“Emang orang kayak saya bisa kerja sama Kak Laras?”
“Orang kayak kamu kenapa Yu?” tanya Laras.
Ayu diam, ia ingin menjelaskan bahwa rasanya mustahil bagi orang seperti Ayu untuk bermimpi setinggi itu. Hanya bermodalkan beratus ribu kok bermimpi untuk memiliki toko kue? “Sebenarnya nggak papa Yu kalo mau bermimpi, siapa tau jadi kan?” senyum Laras. Ayu mengangguk dalam hati menyetujui perkataan Laras, meskipun masih ada perasaan pesimis. Sekitar dua jam kemudian Dano dan Laras pamit pulang sementara Udin masih ingin berada disitu.
“Sampai ketemu lagi ya Yu”
“Hati-hati Kak Laras” lambai Ayu riang.
“Laras aja gue enggak?” tanya Dano lalu tertawa geli merangkul Laras pergi. Ayu tidak bisa menyembunyikan senyum, ia terus memperhatikan Laras sampai tidak sadar Heru berdiri di sampingnya.
“Ngapa lu senyum-senyum gitu? Naksir lu sama Dano? Udah ada gandengan” tegur Heru.
“Sembarangan aja Mas Heru, orang saya ngelihat Kak Laras kok”
__ADS_1
“Lihatin Laras sampai senyum-senyum gitu. Lu suka ya sama Laras?”
Ayu mengangguk polos. “Saya bisa ngerasa kalo Kak Laras itu orang baik”
“Emang baik. Sebenarnya kalo diperhatikan hidup lu itu selalu dikelilingi orang baik. Nih contohnya” kata Heru pede menunjuk dirinya sendiri.
“Siapa?” tanya Ayu lugu. Wajahnya berpaling menatap Heru, butuh lima detik bagi Ayu untuk menyadari maksud cowok itu. “Mas Udin mau main juga? Ayuk main bareng” kata Ayu buru-buru menyingkir. Heru berpaling lalu tertawa geli melihat Ayu yang salah tingkah.
...----------------...
“Heru itu kayaknya lagi jatuh cinta” kata Laras saat berada di mobil.
“Sama siapa?”
“Ayu.”
Dano tertawa sembari menyalakan mesin mobil dan melaju pergi. “Kenapa kamu mikir gitu?”
“Soalnya pas tadi aku ngobrol sama Ayu, aku nangkep beberapa kali Heru ngelirik ke arah Ayu”
“Oh dia emang gitu, matanya suka jelalatan kesana kemari kalo ada cewek ngumpul”
“Hmm...mungkin kali ya” gumam Laras kurang yakin, tapi kok rasanya beda? Dano menyalakan musik memutar lagu yang akhir-akhir ini disukai Laras.
“Maybe my soulmate die I don't know, maybe I don't have soul....” senandung Laras pelan.
“Kamu itu pilihan lagunya nakutin ya. Soulmate die, padahal ada saya di samping kamu.” Laras ketawa, tangannya terjulur mengusap pelan rambut Dano. “Mau nginap nggak?” tawar Dano.
Laras menggeleng. “Aku habis ini mau nyicil skripsi. Ngomong-ngomong aku dan Manda keterima magang di ravent”
“Perusahaan game itu ya?”
“Iya, bagian accounting. Susah tau masuknya, pake tes segala lagi, padahal cuman mau daftar magang”
“Kok kamu nggak pernah cerita kamu daftar magang?”
”Kata Manda Dano jangan dikasih tau nanti ngotot mau ikut”
“Ya gimana ya Ra, bener sih kata Manda, saya pasti ngotot pengen ikut Saya kalo sehari aja nggak lihat kamu rasanya ada yang kurang”
“Halah, gombal kamu. Kamu udah daftar magang?”
“Belum. Tapi kayaknya ngikut Samuel. Ntar saya tanya lagi ke Samuel, katanya sih Udin dan Brandon juga mau ikutan”
“Kalian magang kayak kerja kelompok ya, ramean terus.”
Mobil Dano berhenti di belokan jalan menuju ke kompleks rumah Laras. “Ra...” panggil Dano ketika Laras hendak membuka pintu mobil.
“Apa?”
“Ih masa lupa sih? Ini...” Dano menunjuk bibirnya. Laras ketawa geli ia maju dan mengecup bibir Dano pelan.
“Udah sana pulang. Hati-hati” kata Laras turun dan menutup pintu mobil, ia melambaikan tangan lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1