
Sebulan setelah itu Henry balik ke Singapura, Ayu mulai belajar mengejar paket C. Setiap malam berbekal laptop kecil yang dipinjamkan Heru, Ayu serius mengikuti kelas online sesekali ia ditemani Ningsih atau Raya yang penasaran dengan proses belajar Ayu, kedua orang itu juga mendadak menjadi orang tua yang mengawasi Ayu.
“PRnya jangan lupa dikerjain Yu” kata Ningsih saat Ayu sedang menjemur baju. Ayu tertawa geli lalu mengangguk, ia sempat melirik Dini mendengus. Sejak bertengkar dengan Ningsih, Dini jadi irit berbicara, sesekali cewek itu terlihat ingin ikut melihat kelas online Ayu tapi gengsinya tinggi untuk bertanya.
“Biar aku yang selesaiin aja mbak” kata Ayu. Dini mengangguk lalu tanpa banyak bicara ia kembali ke dapur. Ada untungnya juga Dini jadi pendiam, suasana dapur bisa lebih sedikit tenang dan menyenangkan tanpa perlu mendengar nyinyiran cewek itu.
“Hari ini belajar apa Yu?” tanya Ningsih setelah selesai membersihkan ruang makan.
“Bahasa Inggris mbak”
“Eh, aku mau ikut” kata Ningsih, pelajaran Bahasa Inggris adalah satu-satunya pelajaran kesukaan Ayu dan Ningsih.
“Ayu” panggil Heru muncul mendapati Ayu dan Ningsih berada di ruang makan. Keduanya sedang mengikuti kelas online sembari mengupas bawang.
“Lagi kelas ya?”
“Iya mas gimana?”
“Jadwal final badminton udah keluar, hari sabtu. Kita cuman punya kesempatan sekali buat latihan, jadi ketemu besok sore ya di tempat biasa”
“Tapi mas saya ada kelas”
“Habis lu kelas. Sampe ketemu besok sore” balas Heru langsung pergi tidak memberikan kesempatan bagi Ayu untuk protes.
Ayu bengong, lalu mendumel pelan. “Aneh-aneh aja”
“Yu kamu semangat latihannya. Aku harap kamu menang Yu, aku pengan makan di restoran yang kamu bilang itu” kata Ningsih sembari tertawa geli melihat Ayu mendengus bercanda.
...----------------...
Siang hari di saat matahari sedang naik tinggi-tingginya, Dano muncul di rumah Laras, tampangnya cemberut membawa laptop dan kertas skripsi.
“Ih anak ganteng, ada apa kok tiba-tiba merengut gitu? Ntar gantengnya ilang loh” goda Sri menyambut kedatangan Dano, cowok itu mendelik tidak siap membalas perkataan Sri, ia langsung melangkah masuk kamar Laras.
“Saya mau demo ke kampus” omel Dano tanpa salam. Laras berpaling, wajahnya penuh masker dan di depannya ada laptop menayangkan sebuah drama Korea. “Udah tiga kali saya mau bimbingan tapi dospem saya mendadak berhalangan. Ngisi seminar lah, ada acara keluarga lah. Dikira saya nganggur apa nunggu beliau? Biar gini-gini saya juga punya kerjaan lain” dumel Dano. Laras menahan tawa takut maskernya pecah.
Ya, ini adalah contoh percobaan semasa mengerjakan skripsi. Ada mahasiswa yang niat menyelesaikan skripsi tapi dosennya masa bodoh, ada dosen yang peduli tapi mahasiswanya yang masa bodoh, ada dosen baik seakan semuanya diperlancar tapi saat sidang ketika mahasiswanya 'dibantai' dosen lain ia hanya diam, ada yang strict tapi saat sidang mahasiswanya dibela habis-habisan.
“Lama-lama aku bangun kampus sendiri” dengus Dano berbaring di kasur, ia mendumel pelan sembari menscroll layar ponsel. Sekitar dua puluh menit Laras beranjak dari kursi hendak mencuci muka, ia tersenyum geli melihat Dano tertidur pulas tanpa beban.
__ADS_1
“Bapak tirinya Apin mana Ra? Saya mau minta tolong ganti lampu ruang tamu” tanya Sri saat Laras kembali dari kamar mandi.
“Lagi tidur, entar kalo udah mulai gelap baru aku bangunin. Kasihan anaknya lagi stres nggak bisa bimbingan”
“Aku masakin sesuatu aja kali ya Ra? Biar nggak stres banget. Soalnya habis minta tolong ganti lampu, aku mau minta tolong nitip beli pasirnya Apin”
“Dasar, mentang-mentang anaknya mauan jadi dimanfaatin. Nanti aku bilang deh” kata Laras, Sri terkekeh geli. Laras kembali ke kamar lanjut menonton drama sementara Dano masih tertidur pulas. Seharian ini Laras sama sekali tidak menyentuh skripsinya. Bisa gila Laras kalo setiap hari kerjanya mengetik skripsi.
“Ra...” suara parau Dano terdengar, salah satu matanya terbuka mencoba sadar dari tidur. “Ra...”
“Iya sayangku? Ada apa?” tanya Laras pelan, Dano berguman tidak jelas membuat Laras mengambil laptop dan berbaring di sebelah cowok itu.
“Saya mimpi jatuh ke jurang” gumam Dano memeluk perut Laras erat. “Untung saya keburu sadar”
“Kamu kecapean tuh, dari kemarin ngapain sih?”
“Ngerjain skripsi bareng anak-anak”
“Ngerjain apa nongkrong?”
“Dua-duanya” kekeh Dano lalu memejamkan mata lagi. Kalo lagi berduaan Dano paling suka bermanja-manja ria dengan Laras. Sebenarnya Dano juga suka manja ketika berada di depan teman-temannya, hitung-hitung membuat mereka melemparkan tatapan iri dengki, tapi Laras yang tidak mau, katanya malu udah gede.
“Kalo kalah gimana?”
“Nggak papa, yang saya cari kan berduaan sama kamu, bukan menang kalah”
“Dasar!”
...----------------...
Perkataan Laras terjadi, mereka kalah dua babak dari Ayu Heru yang kemudian secara resmi menyambet piala Udin Cup. Setelah menerima bunga dan foto bersama sang piala mereka memutuskan beristirahat di pinggir lapangan sembari menikmati konsumsi yang disediakan tim Brandon Manda.
“Enak banget pisang gorengnya” puji Udin mencomot dua pisang sekaligus.
“Jelas dong, digorengnya langsung pake minyak bumi Arab” balas Brandon sembarang.
“Yeh, emang lambung gue yamaha apa?” dengus Udin.
“Ayu selamat ya. Kamu lincah banget, sampai aku kerepotan” Laras menyodorkan sebotol air mineral dingin.
__ADS_1
“Makasih kak, kakak juga tadi mainnya keren”
“Kita buat kelompok badminton aja kali ya? Asik nih berempat” usul Manda tiba-tiba.
“Tapi aku kerja kak”
“Yaudah kita latihannya di rumah Heru tiap sabtu sore habis lu kerja. Lumayan Yu bisa ngajak orang rumah”
“Idenya gue tolak, rumah gue harus dihuni dengan nyaman tanpa gangguan manusia-manusia lain” ujar Heru dari samping mencuri dengar obrolan cewek-cewek.
Manda mendengus. “Pelit banget sih jadi orang!” Ayu ketawa, ia menggeleng ketika Amel iseng menawarkan rokok.
“Saya sekarang lagi ngejar paker C kak” cerita Ayu. Teman-temannya melemparkan pandangan tertarik.
“Oh iya? Sejak kapan?”
“Udah sebulan lebih, diurus sama Mas Heru. Kata Pak Henry kalo sekolah saya selesai saya bisa milih mau kuliah apa”
“Tuh denger kesaksian Ayu, gue baik kan?” celetuk Heru. Cewek-cewek langsung mencibir dan bergeser agak jauh agar percakapan mereka tidak dicuri dengar lagi.
“Semangat ya Yu, selesaiin sampe selesai. Siapa tau setelah itu kamu bisa ngambil sekolah pastry.”
Ayu melemparkan tatapan ragu. “Tapi sekolah itu mahal enggak sih kak? Soalnya Mbak Ningsih pernah nyari informasi sekolah sejenis itu di internet dan harganya lumayan”
“Yaelah Yu selow kan dibayarin. Gue jadi lu gas aja” ujar Amel menghembuskan asap rokoknya.
“Saya takut ngebebani Mas Heru”
Amel nyengir. “Yu, namanya rejeki jangan ditolak. Manfaatin aja, lagian tuh bocah kaya raya, hanya karena ngebayarin lu sekolah nggak akan buat kekayaan Heru langsung terjun bebas. Bahkan kalo mau satu Indonesia bisa disekolahin sama Heru”
“Betul tuh Yu, gas aja. Ntar kalo lu udah lulus lu bisa buat usaha kue kayak mimpi lu” dukung Manda. Ayu menatap ketiga cewek itu bergantian, ekspresi mereka terlihat serius. Hati Ayu mendadak tersentuh. Belum ada setahun Ayu mengenal mereka tapi rasanya seperti pertemanan mereka sudah terjalin lama. Ayu bisa merasakan Laras, Manda, dan Amel itu adalah anak yang baik dan tulus, meskipun karakter ketiganya berbeda drastis satu sama lain.
“Setau gue ya, mami tirinya Heru punya toko kue di Jakarta, siapa tau setelah lulus kuliah bisa lu warisin, berhubung anak tirinya nggak mau megang” info Amel pelan sekali.
“Ah kak Amel kejauhan itu mimpinya” tepis Ayu tersenyum geli.
“Yeh Ayu, omongan kan doa, ya kita ngomong aja yang baik-baik. Cepat aminin” paksa Amel bercanda.
“Aminnnnn” ujar ketiga cewek itu serempak.
__ADS_1