
Sejak kejadian tempo hari, Heru mendadak menjadi seperti jebakan ranjau yang harus Ayu hindari. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, bahkan Heru sendiripun tidak, cowok itu bangun pagi dan beraktivitas seperti biasa. Ayu memutuskan menyimpan rapat kejadian itu di dalam hatinya.
“Yu, kasur gue tolong dirapihin, tapi buku-bukunya biarin posisinya tetap kayak gitu” tunjuk Heru saat Ayu muncul hendak membersihkan kamarnya. Ayu mengangguk patuh sekilas melirik berbagai buku bertebaran di atas kasur. Kening Heru berkerut menyadari perubahaan Ayu. Biasanya cewek itu akan cerewet bertanya Heru mau kemana, mau sarapan atau tidak, dan masih banyak lagi. Tapi akhir-akhir ini Ayu menjadi lebih pendiam. Apa jangan-jangan sakit?
“Yu-” Perkataan Heru terpotong karena ada panggilan masuk dari Danella. “Iya aku otw” kata Heru sembari melangkah keluar kamar. Ayu menarik napas lega. Mungkin akan lebih baik kalau mulai besok Ayu memastikan Heru sudah benar-benar pergi baru ia membersihkan kamar cowok itu. Kehadiran Heru disekitar Ayu membuat degup jantung Ayu berdetak tidak karuan. Ayu tidak mengerti apakah degup itu terjadi karena perasaan was-was atau canggung setiap kali mengingat ciuman mereka malam itu atau karena hal lain.
“Duh, bisa gila aku” gumam Ayu menggelengkan kepala buru-buru memulai pekerjaannya seperti biasa.
...----------------...
“No, lu ngeliatin Laras kayak pedofil” tegur Udin saat melihat Dano menopang dagu memperhatikan Laras duduk di sebelahnya. Laras dan Manda spontan berpaling, hanya sebentar karena setelah itu mereka kembali sibuk membuat design poster promosi untuk acara di bazar nanti.
“Biarin! Pacar gue kok, sana lu nyari pacar biar nggak komen aja kerjaannya” cibir Dano mencomot tahu isi milik Manda. Keempat orang itu duduk di gazebo payung bambu dekat kantin. Dano dan Udin yang baru saja selesai konsultasi skripsi langsung bergabung dengan Laras dan Manda yang sejak pagi terlihat serius memikirkan konsep stand bazar dan promosi.
“No, Din, kalo posternya udah jadi tolong dipost ya di instagram kalian” pintah Manda.
“Coba lihat posternya, kalo jelek gue nggak mau, merusak feeds” balas Udin langsung kena timpuk, ia tertawa geli melihat Manda cemberut.
“Rencana target dana yang harus didapat berapa?”
“Tiga juta minimal. Kalo nggak sampe gue minta ke Dano. Mau kan No?”
“Gue kasih, tapi balasannya apa?” tanya Dano tersenyum nakal.
Manda mencibir langsung mengorek Laras. “Ra, lihat tuh kelakuan pacar lu.” Laras berpaling agak bingung karena sejak tadi ia tidak memperhatikan obrolan mereka. Dano nyengir keningnya langsung bersandar di bahu Laras. Manda makin mencibir melihat kelakuan cowok itu.
“Hati-hati, mesra-mesraan di area kampus bisa didrop out.” Keempatnya serempak mendongak, Heru muncul menenteng laptop dan tumpukan kertas revisi, ia duduk di samping Udin sembari mendengus.
“Kenapa lu? Mau jadi banteng?”
“Haha lucu” balas Heru sarkas, Udin hanya nyengir lebar mengambil revisi cowok itu dan membaca seksama.
“Gila, udah masuk bab dua lu? Semangat banget ngerjain skripsi!” ujar Udin kaget. Heru pasang tampang songong. Teman-temannya langsung ikut melihat dan kemudian bergumam terkejut.
“Biar gini-gini gue masih punya kesadaran untuk menyelesaikan amanat orang tua”
__ADS_1
“Yeuh! Emang kita enggak apa?” semprot Manda sirik, sejak kemarin belum ada tanda-tanda skripsinya akan maju kek bab dua karena banyak revisi aneh dari dosen. Di momen seperti ini setiap kali melihat teman berhasil lanjut ke bab berikutnya rasa dengki dihati akan semakin merajalela.
“Ra, ayuk” ajak Manda tiba-tiba.
“eh, eh, mau kemana?” tahan Dano.
“Mau rapat, udah kamu disini aja” jawab Laras membereskan barang-barangnya.
“Jadi pulang bareng saya kan?”
“Iya jadi. Nanti aku telepon kalo udah selesai”
“Huuh, manja! Udah gede nggak bisa pulang sendiri” ejek Manda lalu menarik Laras pergi.
“Final badminton mau lanjut kapan?” tanya Udin setelah melemparkan kecupan mesra dan dibalas delikan jijik dari Manda.
“Tunggu gue selesai sidang” jawab Dano.
“Tahun depan dong?”
“Kak Della masih nganggep lu adik?”
“Anjing lu Her!” maki Dano lagi. “Eh Ru, coba lihat jurnal lu.”
Heru menggeser laptopnya membiarkan kedua orang itu mengutak-atik isi skripsinya sementara ia kembali menatap ponsel membalas pesan Danella. Kening Heru berkerut, satu yang bisa ia tangkap sekarang bahwa hubungannya dengan Danella sedang berada di ujung tanduk, tapi anehnya Heru tidak ingin berusaha keras menenangkan cewek itu.
“Kenapa lu?” tanya Dano menyadari perubahaan ekspresi Heru.
Heru mendongak lalu menggeleng, ia mematikan ponselnya dan menatap Dano serius. “Laras pernah nggak ngehindari lu?”
“Kenapa lu tiba-tiba nanya gitu?”
“Ada cewek ngehindarin gue...kayaknya gue buat salah deh, tapi gue nggak bisa mastiin gue beneran buat salah atau itu hanya sekedar mimpi” jelas Heru jujur.
“Danella?”
__ADS_1
Heru tidak menjawab. Akhir-akhir ini Heru bermimpi aneh, tentang dirinya mencium Ayu, sebuah perbuatan dengan presetanse kemungkinan terjadi sekitar nol koma dua persen alias mustahil! Awalnya Heru berpikir itu hanya sekedar bunga tidur, tapi tingkah Ayu seminggu ini membuat Heru merasa ragu. Setiap ada Heru Ayu terlihat jelas berusaha menjaga jarak, seakan Heru adalah setan dari neraka jahanam. Aneh. Apa memang benar-benar terjadi? Tapi kapan?.....Dan dimana?
“Minta maaf aja, mau salah atau enggak itu urusan belakang”
“Seandainya gue nggak salah?”
“Yaudah salah-salahin aja diri sendiri” balas Dano cuek. Heru mendengus, bertanya pada cowok itu memang sangat tidak membantu.
...----------------...
“Yu, pembalut kamu ada nggak? Aku boleh minta?” tanya Ningsih. Ayu bangkit dari kasur mencari pembalut dan menyerahkan pada Ningsih.
“Mbak aku ke minimarket dulu ya, kita udah nggak ada persediaan pembalut lagi”
“Bareng aku Yu”
“Nggak usah, mbak mandi aja, biar pas balik aku langsung mandi. Minimarketnya deket juga di depan.” Ayu mengambil jaket lalu pergi ke minimarket di depan kompleks. Ayu tidak terlalu merasa khawatir karena area sekitar situ cukup aman dengan penjagaan ketat satpam kompleks. Sekitar dua puluh menit kemudian setelah selesai membeli Ayu kembali, tangannya mengayun-ayun kantong sembari bersenandung pelan.
“Kamu yang kenapa!” suara bentakan seorang cewek membuat Ayu terkejut. Ayu melangkah mengendap-ngendap dan mendapati Heru berdiri berhadap dengan cewek yang sama di acara waktu itu. Mereka berada di halaman rumah membuat Ayu spontan merengut. Ayu ingin masuk tapi tidak mungkin ia menginterupsi kedua orang itu yang tampak sedang bertengkar hebat.
Mau tidak mau Ayu terpaksa berjongkok dan bersembunyi di pot bunga besar, disampingnya ada selokan kecil yang belum dibersihkan Toto.
Ayu bisa mendengar pertengkaran kedua orang itu. Kalimat seperti 'tidak mengerti,' 'kecewa,' 'Heru berubah,' 'Danella egois' bisa didengar Ayu dengan jelas. Ayu menyandarkan dagunya di atas lutut sembari mengaris-garis tanah dengan sebatang kayu kecil, ia ingin mereka berhenti bertengkar agar Ayu bisa segera masuk. Remang-remang lampu berhasil menyembunyikan Ayu tapi sejak tadi nyamuk-nyamuk nakal terus berterbangan mengigitnya.
PLAK! Tanpa perlu berpaling Ayu tahu Heru baru saja ditampar. Terdengar langkah kaki membuat Ayu buru-buru ke merapatkan tubuhnya ke pojok agar tidak terlihat. Beruntung, cewek yang menampar Heru lewat begitu saja tanpa melihat dirinya, sekilas Ayu bisa melihat cewek itu terlihat marah sekali, ia masuk ke mobilnya yang di parkir di depan rumah. Suara bantingan pintu mobil membuat Ayu mengelus dada. Saat sedang menatap kepergiaan cewek itu ponsel Ayu tiba-tiba berbunyi membuatnya terkejut bukan main, ada panggilan dari Ningsih, mungkin cewek itu khawatir Ayu tidak kunjung kembali.
“Ngapain lu?”
Ayu mendongak ia spontan berteriak kencang dan meloncat ke belakang saat melihat Heru memergokinya, kaki Ayu sukses masuk ke got. “Mas Heru! Mau buat saya mati kena serangan jantung ya?!” semprot Ayu kesal, setengah celananya basah karena air got.
“Ya lu ngapain disitu? Lu nguping ya?”
Ekspresi Ayu terlihat semakin kesal. “Lagian mas Heru ngapain berantem disini? Mending berantem di kamar, lelah berantem, tidur!” dumel Ayu dongkol dan berlalu pergi.
Heru melongo bingung, harusnya ia yang marah, tapi dumelan Ayu malah membuatnya tertawa terbahak-bahak. Mood Heru yang sedang jelek mendadak membaik setelah melihat Ayu berlalu sembari mengomel kesal. “Dasar cewek aneh..”
__ADS_1