
Sejak kejadian itu hampir seminggu Laras menghilang, entah dimana ia berada tidak ada satupun yang tahu. Bahkan Manda dan Amel yang dijuluki kembar siam Laras tidak tahu dimana keberadaan cewek itu. Laras tidak ada di rumah, tidak ke kampus, dan ponselnya mati.
Semua teman-teman Laras panik, terutama Angga. Satu-satunya pesan yang Laras tinggalkan adalah pesan untuk Ratih. Laras mengatakan ia tidak ingin menikah dan memutuskan untuk pergi.
Laras : Laras harap ibu tetap sehat dan jangan terlalu khawatir sama Laras. Laras akan hidup baik dengan cara Laras sendiri, makasih ibu udah sayang sama Laras. Laras sayang ibu.
Dan Ratih hanya bisa menangis membaca pesan dari Laras. Ia menyesal memaksa putri sulungnya itu untuk menikah, Ratih tidak menginginkan apapun lagi, ia berharap Laras mau mengangkat teleponnya dan pulang ke rumah. Laras si penurut kini benar-benar meledak dan Ratih merasa khawatir sekaligus menyesal.
Tapi meskipun begitu, dari antara kepanikan teman-teman Laras hanya satu manusia yang terlihat tidak terganggu dengan menghilangnya Laras. Dano. Cowok itu bersikap seperti biasa, ia pergi ke kampus, latihan band, dan pulang, tidak nampak ekspresi khawatir atau gelisah karena Laras. Tentu saja ini menimbulkan kecurigaan Manda dan Amel. Pada suatu siang Manda dan Amel kompak mengintrogasi Dano, rentetan pertanyaan mendesak yang diberikan hanya dijawab dengan kerutan kening dan bahu terangkat.
“Gue bukan bapaknya Laras, jadi gue nggak tahu. Lu tanya aja ke nyokapnya gih”
“Nyokapnya juga nggak tahu dia dimana”
“Ya terus gue harus gimana? Nanya satu Jakarta. Kalo lu segitu pedulinya lapor polisi gih”
“Keluarga Laras nggak mau No. Laras ngirim pesan dia nggak mau dicari, jadi nggak bisa dibilang Laras diculik, dia pergi karena kemauannya sendiri” jelas Manda sabar.
“Gue juga nggak tahu. Udah lu berdua minggir, gue mau latihan” dengus Dano menarik tas dekilnya dan melangkah pergi. Manda dan Amel menatap Dano curiga. Cowok itu terlihat jelas sedang menyembunyikan sesuatu.
“Gue yakin si kunyuk tau dimana Laras” kata Amel geram. Keputusan akhir dibuat, mereka akan membuntuti Dano.
Selepas latihan tanpa Dano sadari, diam-diam Amel dan Manda mengikutinya. Mulai dari kampus sampai pulang rumah. Keduanya memarkirkan mobil tidak jauh dari rumah besar Dano, bermodalkan rasa penasaran, Amel dan Manda berada disitu sampai waktu mendekati pukul sepuluh malam. Namun tidak ada tanda-tanda Laras berada di situ atau Dano pergi ke tempat lain, aktivitas yang terlihat hanya satpam mengambil orderan food online dan Dano mengajak Kubis jalan sore, tapi setelah itu tidak ada aktivitas mencolok terjadi di rumah itu.
“Kayaknya untuk sekarang kita harus nerima kalo Dano nggak tahu Laras dimana” ujar Manda menahan kantuk.
“Besok kita ikuti Dano sekali lagi” balas Amel kemudian keduanya memutuskan untuk pergi dari situ.
...*****...
Pukul setengah dua pagi, Dano bangun dari tidur, ia mencuci muka dan setelah mengambil jaket cowok itu melaju pergi menggunakan jeep hitam, Dano menyempatkan diri membeli beberapa arum manis dari penjual jalanan. Jeep Dano melaju melewati beberapa tempat menuju ke arah puncak Bogor, ia berbelok di sebuah kompleks besar villa dan kemudian berhenti di sebuah rumah bercat coklat dengan pagar kayu bertuliskan Villa Radja.
Bunyi klakson mobil terdengar dan pagar terbuka. Alsad, satpam sekaligus penjaga villa Radja selama bertahun-tahun tersenyum lebar pada Dano.
“Non Larasnya udah tidur, tadi bantuin Ius ngebukus pesanan kotak makan” lapor Alsad.
“Makasih Pak, saya masuk dulu” kata Dano masuk ke dalam rumah menuju kamar pribadinya di lantai dua. Pelan Dano membuka pintu, ada Laras sedang tertidur pulas, beberapa tumpuk koran dan sebuah laptop berada di lantai. Dano menyalakan laptop Laras, tampak cewek itu sedang mencari pekerjaan untuk lulusan SMA. Dano menghela napas, Laras benar-benar berniat memulai hidupnya sendiri.
Dano merapikan barang-barang yang berserakan di lantai, ia duduk di pinggir kasur memperhatikan Laras tertidur lelap. Hampir seminggu Laras berada di Villa Radja. Di hari Laras datang dan menangis, saat itu juga Dano membawa Laras ke villa. Dano meminta Ius dan Alsad untuk selalu menemani Laras, cewek itu berada dalam kondisi rapuh dan Dano tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Laras seandainya ia kembali berada dalam puncak rasa frustasi.
Tubuh Laras mengelit merasakan sentuhan Dano di wajahnya, perlahan mata Laras terbuka, bawah matanya sedikit bengkak menunjukan bahwa ia habis menangis.
“Dano…kapan datang?” tanya Laras parau, ia menarik selimut menatap Dano yang duduk di dekatnya.
“Baru aja. Saya beli arum manis kalo kamu suka”
“Makasih, tapi aku udah sikat gigi” geleng Laras.
“Yaudah, saya yang habisin” kata Dano menaruh plastik arum manis di atas meja. “Kamu hari ini ngapain?”
“Bantuin Mbak Ius, pesanan kotak makan hari ini banyak banget, sampai harus minta bantuan tetangga. Aku juga nyari kerja, tadi udah masukin lamaran ke beberapa kafe.”
Dano menghela napas pelan mengusap rambut Laras, ia menunduk mengecup kening cewek itu. Perasaan sayang muncul dalam hati Dano. Diam-diam ia ikut merasa frustasi melihat kondisi Laras yang terlihat seperti mayat hidup. Dano baru menyadari bahwa ia menyukai sisi ceria Laras yang tertawa karena dirinya. Muram dan sedihnya Laras membuat Dano merasa tidak tenang. Saat ini Laras seperti memegang kendali atas perasaan Dano.
“Ra, gimana kalo kamu kerja di kafe teman saya?”
“Siapa?”
“Namanya Rian, dia kenalan saya pas SMA, kalo kamu mau saya bisa bilang ke Rian”
“Aku nggak mau ngerepotin kamu, udah banyak banget aku nyusahin kamu.”
Dano menggeleng. “Enggak Ra, saya senang bisa ngebantu kamu, lagipula itu lebih baik dibanding kamu nyari kerja kayak gini. Lagian kamu bilang kamu butuh kerja secepat mungkin kan?”
Laras terlihat ragu tapi kemudian mengangguk.
“Oh iya Ra, Sri tadi nitip barang-barang kamu. Kata Sri rumah aman, kamu fokus refreshing aja disini” ujar Dano menyerahkan barang milik Laras yang terbungkus plastik.
Sri adalah satu-satunya orang yang tahu dimana Laras berada. Empat hari setelah kepergian Laras, Sri datang ke rumah Dano dan menangis. Dano merasa iba terpaksa menceritakan dimana Laras dengan perjanjian Sri akan tutup mulut, awalnya Dano agak khawatir, tapi ternyata Sri bisa diandalkan. Cewek itu pandai menyimpan rahasia dan berpura-pura ikut mencari Laras, terbukti dengan laporan Sri yang mengatakan bahwa Angga berkali-kali datang ke rumah dengan tampang putus asa karena tidak menemukan tanda-tanda di mana Laras berada.
‘Biar tahu rasa! Dikira aku nggak marah sama kelakuannya apa?!’ dengus Sri marah-marah dan Dano hanya bisa tersenyum geli.
“Manda dan Amel nyarin kamu, tadi saya ditanya-tanya, tampang mereka kayak mau ngelabrak saya” cerita Dano sembari berbaring di samping Laras. Dano menarik Laras masuk ke dalam pelukannya dan mengelus pelan punggung cewek itu.
“Kamu bilang apa?”
“Bilang saya nggak tau kamu dimana, tapi teman kamu itu ngotot, saya sampai repot.”
Laras nyengir.
“Saya rasa saya bakal diteror terus sama dua kurcaci itu, mereka curigaan apalagi Amel”
“Kurcaci…seenaknya nyebut orang” kekeh Laras.
“Sebenarnya bukan dua kurcaci, tiga kurcaci, tambah kamu jadi tiga kurcaci. Pendek, kecil, cerewet”
“Enak aja, kami itu udah tinggian. Bahkan aku lebih tinggi tiga senti dibanding Manda”
“Iya, karena kepala kamu gede.”
Laras mencibir membenamkan kepalanya di dada Dano. Nyaman. Akhir-akhir ini Laras sering menangis, masalah membuat Laras menjadi lebih sensitif. Ia menangis karena hujan, matahari terlalu panas, ikan lupa diberi makan, semua hal ingin Laras tangisi. Tapi ketika ada Dano Laras menjadi lebih tenang, bahkan sekarang terdengar suara petir diluar dan Laras tetap tersenyum manis mendengar celotehan Dano. Ternyata Laras membutuhkan seseorang sebagai tempat untuk bersandar.
“Saya dulu pengen jadi dokter, tapi papa saya enggak mau, terpaksa saya masuk manajemen bisnis. Kata papa, saya harus nerusin bisnis keluarga.”
Laras mengangguk paham, Dano mungkin sering bertingkah aneh dan slengean di depannya, tapi tetap saja cowok itu adalah orang yang sama yang akan menyandang gelar pewaris Radja Group.
“Kalo seandainya kamu jadi dokter, kamu mau jadi dokter apa?”
__ADS_1
“Jantung” jawab Dano meraih tangan Laras dan meletakan di area luar jantungnya. “Letaknya disini, tapi dia pusat dari hidup kamu.”
Laras bisa merasakan degup jantung Dano, tenang, seirama dengan tarikan napas cowok itu.
“Tapi karena saya nggak bisa jadi dokter, jadi saya putuskan akan bangun rumah sakit” kekeh Dano, Laras nyengir, mimpi sebesar itu terdengar sangat gampang bagi seorang pewaris Radja Group. Laras berharap di kehidupan selanjutnya ia akan memiliki kesempatan yang sama untuk mengucapkan mimpinya dengan segampang itu.
“Semoga suatu hari nanti impian kamu terwujud” ujar Laras tulus.
“Kamu juga”
“Aku nggak punya mimpi, udah mati, sekarang yang penting aku hidup” kata Laras.
“Ingin hidup juga termasuk mimpi Ra. Kamu, saya, semua orang pasti punya mimpi, nggak ada mimpi yang mati, yang ada itu hanya ukuran besar kecilnya mimpi itu. Tapi saya senang kamu mau hidup dan saya harap keinginan itu nggak akan pernah hilang”
“Kenapa?”
Karena kalo kamu nggak pengen hidup, saya akan kehilangan kamu sementara kamu pergi ke tempat yang nggak bisa saya datangi, batin Dano.
Bahu Dano terangkat sebagai jawaban, ia memeluk Laras dan memejamkan mata. “Tidur Ra. Meskipun hari besok punya kesusahannya sendiri, untuk saat ini saya pengen kamu merasa aman dengan saya disini.”
Dan Laras tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa jantungnya berdegup kencang ketika mendengar perkataan Dano. Laras semakin menyukai Dano.
...*****...
Dano kaget bangun mendengar suara berisik ponsel, matanya mengerjap-ngerjap mencari ponsel di atas meja. Ada panggilan masuk dari Rudi.
“Kenapa pak?” tanya Dano parau, untung Laras masih tertidur pulas.
[Mas Dano, rumah kita disandera!!!]
“Hah, apa?” kantuk Dano seketika hilang mendengar teriakan Rudi.
[Rumah kita disandera, kalo dalam waktu dua puluh empat jam Mas Dano enggak pulang, akses ke rumah ini akan ditutup dan saya sama Mbak Yanti terancam kelaparan]
“Apa? Siapa sih yang kurang kerjaan-”
[Gue!]
Kening Dano berkerut mengenal suara Amel.
[Gue yakin lu pasti tau sesuatu mengenai keberadaan Laras. Gue dan Manda akan menutup akses ke rumah ini sampai elu ngasih tau dimana Laras.]
Dano berdecak, ternyata dua cewek itu belum menyerah dan jauh lebih nekat dari yang Dano perkirakan.
“Gue bilang gue nggak tahu”
[Gue nggak percaya! Tingkah lu mencurigakan]
“Mencurigakan gimana? Gue ke kampus kayak biasa, latihan, pulang. Emang lu berdua dua puluh empat jam bareng gue? Enak bener nuduh”
[Gue yakin sama tuduhan gue. Feeling gue selalu benar]
Mendengar perkataan Dano, Amel dan Laras hampir saja percaya, kalau saja mereka tidak mendengar suara Laras memanggil Dano.
“No, ACnya tolong digedein, dingin banget” gumam Laras menarik selimut.
Kening Dano lantas berkerut mendengar teriakan Amel, seharusnya Dano menerima telepon di luar kamar.
[Nda, benar feeling gue! Laras sama Dano. Heh bocah tengil! Cepat kasih tau Laras dimana?!!]
“Iya, iya, Laras sama gue puas lu berdua? Laras lagi bobo, nggak bisa diganggu. Sekarang lu berdua pergi dari rumah gue sebelum gue minta polisi ngangkut lu berdua”
[Justru elu yang bakal gue laporin polisi, berani-beraninya nyulik anak orang]
“Laras yang datang ke gue dan kita lagi simulasi kawin lari” balas Dano cuek.
[Sinting lu!]
“Udah lu berdua berisik. Sampai orang rumah gue kenapa-napa, habis lu berdua” ancam Dano lalu memutuskan sambungan telepon dan mematikan ponsel tidak ingin diganggu lagi. Dano berdecak, hari ini jadwal kelasnya dimulai pukul setengah tiga sore dan pastinya dua cecunguk itu akan mengikuti dirinya seharian sampai mereka bertemu Laras.
Dano menatap Laras yang masih menggeliat di bawah pelukannya. Dano mencium kening Laras lembut kemudian melangkah keluar.
“Masak apa mbak?” tanya Dano menyapa Ius dari balik meja dapur.
“Ini mas, beling dari tetangga mau ditumis” jawab Ius cuek, Dano nyengir mengambil segelas air. “Mas balik Jakarta jam berapa?”
“Enggak mau balik, saya mau nyusahin Mbak Ius disini” balas Dano menarik kursi duduk memperhatikan Mbak Ius. Suara pintu kamar terdengar, Laras keluar dengan wajah mengantuk.
“Pagi Mbak” sapa Laras langsung berdiri dekat Ius. “Ada yang bisa aku bantu nggak mbak?”
“Nggak usah non, udah mau selesai. Tidurnya enak non?”
“Iya Mbak”
“Mbak Ius aja nih? Saya dianggurin?” ujar Dano dari belakang, Laras berpaling dengan senyum cerah mendekati Dano. Otomasi cowok itu memeluk Laras.
“Duh, kalo mau mesra-mesraan jangan disini dong. Mbak kan alergi lihat orang pacaran, hati mbak masih sensitif” sindir Ius bercanda. Dano semakin memeluk Laras erat.
“Dano…” tegur Laras.
“Biarin Ra, orang sirik itu tempatnya di pojokan neraka”
“Non, yuk makan, porsinya hanya untuk Non Laras.”
Dano tertawa ngakak kembali berpaling ke Laras. “Manda dan Amel tahu kamu sama saya” ujar Dano lalu bercerita penyanderaan dadakan di rumahnya, tanpa diduga Laras tertawa geli.
“Ya ampun, mereka lucu banget”
__ADS_1
“Tahu tuh! Kalo sampai rumah saya dibakar, saya sandera kamu disini selamanya” balas Dano.
“Terus habis ini kamu mau gimana?”
“Sebisa mungkin akan saya hindari.”
Laras menggeleng geli. “Nggak bisa, Manda dan Amel nekatan.”
Dano menghela napas, ia yakin sekali hari ini akan menjadi hari yang melelahkan baginya.
...*****...
Dugaan Dano benar, sepanjang hari ia terus diteror Manda dan Amel. Kemanapun Dano pergi kedua cewek itu selalu mengikuti. Sekre srikandi, kelas, dan bahkan di toilet keduanya rela menunggu Dano di luar. Lebih menyebalkan lagi baik Manda atau Amel sama-sama tidak menanyakan apapun, mereka benar-benar berniat untuk membuat Dano merasa terganggu dan buka mulut sendiri.
“Dua selir lu tuh ngikutin mulu. Ada utang darah ya lu?” korek Heru melihat Manda dan Amel duduk di luar sekre srikandi. Dano mendengus menabuh drumnya kencang-kencang tanda kesal. Sejak tadi Dano memilih menutup mulutnya rapat-rapat, tapi tetap saja keberadaan dua makhluk itu sangat mengganggu.
Selesai latihan Dano sengaja berlama-lama di sekre, tidak tanggung-tanggung sampai jam kampus hampir tutup. Tapi Dano justru makin keki ketika melihat Manda dan Amel masih berada disitu, bahkan mereka tampak asik menikmati makan bersama Udin, bendahara Srikandi.
“Yuk No pulang” senyum Amel sok baik. Dano mendelik sewot mengangkat tasnya dan melangkah pergi.
“Mau ngapain lu?” tanya Dano ketika Manda membuka pintu mobil depan.
“Ikut lu. Gue sama Amel mau nginep di rumah lu. Tenang aja lu nggak bakal repot. Kita bawa baju ganti sendiri, bahan makan, sama kompor listrik”
“Idih yang ngebolehin siapa?”
“Nggak ada. Tapi lu bawa Laras juga tanpa ijin kita”
“Itu kan maunya Laras. Kalo lu pada nggak senang, protes aja sana ke Laras”
“Nah itu masalahnya, kita mau protes tapi nggak tahu Laras dimana” balas Manda kalem. Dano berdecak melempar tasnya ke belakang, ia semakin sewot melihat Amel sudah duduk manis di kursi penumpang.
“Cielah Dano, enggak ada Laras sekarang mainnya sama sahabat Laras. Rasanya mirip-mirip ya?” tawa Brandon dan Heru. Dano mengumpat jengkel, ia baru akan masuk mobil tapi sosok Angga datang menghampiri membuat Dano berhenti.
“Apa?” tanya Dano ketus, moodnya sudah jongkok, alias jengkel berkepanjangan.
“Gue mau ngomong”
“Disini aja. Nggak ada yang peduli sama omongan lu juga.”
Angga melirik sekitar Dano. Heru dan Brandon tidak jadi masuk mobil sementara Manda dan Amel berdiri bersebelahan di samping mobil.
“Laras mana?”
“Nggak tahu, emang gue bapaknya apa sampai gue harus tahu Laras dimana?”
“Gue serius! Gue tau elu yang nyembunyiin Laras.”
Dano tersenyum sinis. “Mending lu minggir, gue laper”
“Lu jangan main-main No. Orang tua Laras panik nggak bisa tidur mikirin anaknya dimana”
“Ya salah lu, ngapain juga lu cari gara-gara nyusahin hidup Laras?” balas Dano sewot.
Angga menatap marah, ia yakin sekali feelingnya benar. Angga mengenal Dano cukup lama, setengah dari hidupnya ia habiskan bersama cowok itu dan Angga hampir mengenal karakter Dano luar dalam, begitupun sebaliknya. Mereka sama-sama brengsek, kurang ajar, nekat, dan keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu. Karena itu mereka bersahabat dekat, ah tidak, lebih tepatnya adalah pernah bersahabat dekat.
“Gue nggak main-main, lu mending nggak usah ikut campur atau-”
“Atau apa?” Dano membanting pintu mobil kencang, emosinya mulai terpancing. Begitupun dengan Angga. Sifat sumbu pendek keduanya selalu muncul mendadak setiap kali bertemu satu sama lain membuat teman-teman Dano merasa was-was, bahkan Brandon dan Heru sudah bergerak maju mengantisipasi adanya perkelahian.
“Gue peringatin lu ya No, jangan ikut campur urusan gue sama Laras”
“Terserah gue lah, cewek yang lu paksa-paksa nikah itu pacar gue. Gue berhak ikut campur!”
Brandon dan Heru spontan melongo menatap satu sama lain, kini jelas sudah mengapa Laras tiba-tiba menghilang, Amel dan Manda mendadak aneh mengikuti Dano, dan amarah Dano pada Angga.
“Sebelum Laras jadi cewek lu, dia tunangan gue”
“Tapi lu berdua udah putus! Lu selingkuh, gue jadian sama Laras. Bagian mana dari perkataan gue yang kurang jelas ditelinga lu?!”
“Lu kira semudah itu hubungan kita selesai? Urusannya ke keluarga besar. Lu tuh nggak ngerti!”
“Gue nggak peduli, mau keluarga besar kek, negara kek, bumi kek. Laras cewek gue dan gue berhak ngelindungin cewek gue dari cowok brengsek kayak elu!”
Angga menarik baju Dano emosi, rahangnya mengeras siap menghajar cowok itu sampai mati.
“Lu mau ngajak gue ribut? Yaudah ayuk” ketus Dano tidak senang.
“Gue nggak tau apa yang ada dalam pikiran lu, tapi lu harus ingat Laras itu bukan Claudia” ujar Angga pelan namun terdengar emosi.
Mata Dano melotot marah, perkataan Angga membuat amarah Dano meledak, tinjunya melayang membuat Angga mundur dan terjatuh. Tidak menunggu lama Angga langsung berdiri dan balas memukul Dano. Mereka saling meninju, menendang, dan membanting. Angga dan Dano pernah menjadi juara bela diri saat berada di bangku sekolah dan itu membuat Heru serta Brandon sedikit kebingungan bagaimana mengambil posisi tepat untuk melerai kedua orang itu, salah langkah wajah keduanya bisa menjadi sasaran tinju nyasar.
Suara teriakan Amel dan Manda tidak membuat keduanya berhenti. Baik Dano maupun Angga sama-sama seperti sedang kerasukan setan. Darah serta lebam muncul di wajah keduanya, bahkan hidung Dano mengeluarkan darah segar terkena tinju Angga. Dano mengumpat marah, ia meludah dan kembali menyerang Angga, tubuh Dano yang sedikit lebih tinggi membuatnya mendapat keuntungan, ia menyepak kaki Angga sampai tubuh cowok itu terjatuh lalu ia kemudian duduk diatas tubuh Angga dan meninjunya membabi buta.
“Woi! Lu berdua gila ya!” bentak Heru menyeruak masuk menarik paksa Dano sementara Brandon menahan Angga.
“Kalo lu sayang Laras, harusnya lu tau maunya Laras apa, bukan ikutan neken dia buat nikah sama lu! Lu kira ini tahun delapan puluhan apa?! Sinting!” teriak Dano lalu meludah ia tahu Angga tidak akan bangun dalam beberapa menit ke depan, wajah cowok itu sama sekali tidak berbentuk. Dano menepis Heru kasar, ia maju menendang perut Angga lalu menuju mobilnya.
“Mending lu minggirin nih orang sebelum gue gilas pake mobil” ketus Dano. Brandon buru-buru menarik Angga menyingkir dari situ. Dano berpaling pada Amel dan Manda.
“Masuk buruan. Lu yang nyetir!” ketus Dano pada Manda yang menatapnya ngeri.
“Buruan Nda, sebelum makin ngamuk” dorong Heru. Manda menelan ludah akhirnya masuk ke kursi kemudi bersama Amel di depan sementara Dano duduk di belakang membersihkan darah.
“Sini ponsel lu.” Dano menarik ponsel Amel mengetik Villa Radja pada maps. “Sebelum ini anterin gue ke bandara, lu berdua temani Laras. Sampai Angga tahu Laras dimana lu berdua habis ditangan gue”
“Iya tenang aja. Yuk Nda” balas Amel santai, hanya ia yang terlihat santai menghadapi Dano, berbeda dengan Manda yang gemetar berusaha keras menahan tangis.
__ADS_1
Dano yang marah benar-benar terlihat sangat mengerikan.