Ms. Norak

Ms. Norak
Rahasia Dano


__ADS_3

Klakson mobil Dano berbunyi, ia melambaikan tangan pada Sri yang memeluk Apin. Mata Dano melirik Laras minat.  Laras mengenakan Dress merah sedikit menunjuk punggung seksinya, high heels hitam, messy hair, dan make up tipis namun lipstik merahnya menonjol membuat Dano tidak sabar ingin mendaratkan sebuah ciuman diatas sana.


“Pacar saya cakep banget sih” kata Dano membuat Laras nyengir. Ia menggenggam tangan Laras erat. Dano seperti tidak berniat untuk melepas Laras, sepanjang pesta berlangsung ia terus mengikuti Laras dan memeluk cewek itu dari belakang. Laras sendiri tidak ingin menjauh atau lepas dari Dano, keberadaan cowok itu disisinya membuat kesenangan Laras dimalam itu bertambah dua kali lipat. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta.


“Sayang banget Manda nggak ikut” kata Laras setengah berteriak pada Amel, cewek itu mengangguk-angguk tidak begitu mendengar, ia terlalu senang untuk melompat-lompat bersama Heru mengikuti alunan musik sementara Samuel bersiap siaga di belakang Amel.


Semakin malam pesta semakin ramai, Laras minum tanpa henti, ia memeluk lengan Dano erat dengan tampang bangga seakan ingin menunjukan pada semua orang siapa pemilik hati dari cowok yang sering menjadi impian kaum hawa. Pengaruh alkohol membuat Laras perlahan kehilangan kontrol atas dirinya.


“Ra sini” bisik Dano menarik Laras menjauh, cowok itu tidak minum sebanyak Laras, sejak tadi ia hanya memperhatikan Laras menikmati pesta itu. Dano menuntun dirinya dan Laras menjauh dari keramaian. Ketika berada di ujung yang agak sepi Dano menunduk mencium Laras, ia melangkah terus sampai masuk ke dalam toilet.


“Dano….” bisik Laras ketika ciuman Dano turun ke leher dan bahunya. Laras memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Dano. Alkohol, kecupan, dan nafas Dano menderu membuat Laras perlahan kehilangan akal.


Tok! Tok!


“Woi buka! Urgent!” gedoran seseorang dari luar membuat Dano dan Laras berhenti. Dano berdecak sementara Laras buru-buru merapikan pakaiannya, ia nyengir lebar ketika Dano mengumpat jengkel membuka pintu sedikit.


“Minggir lu No, cewek gue mau muntah!” seru cowok itu menyeruak masuk. Dano menarik Laras keluar.


“Kenapa sih Ra?” kening Dano berkerut melihat tawa Laras.


“Kamu kalo kecewa lucu banget” tawa Laras memeluk Dano erat.


...******...


Pukul dua belas malam, Laras bergabung bersama Amel di pojok ruangan. Sejak tadi hanya mereka berdua disitu sementara Samuel dan Dano entah berada dimana. Amel sesekali meracau tidak jelas, akibat banyaknya gelas alkohol yang ia teguk. Laras sendiri terlihat mulai bosan, tanpa Dano rasanya seperti berada di ruang hampa.


“Mel, minum nih. Lu juga Ra, minum” kata Samuel entah muncul dari mana membawa sebotol air mineral. Amel mengangguk memperbaiki posisi duduknya.


“Dano mana?”

__ADS_1


“Di belakang, lagi ngomong sama Sera” jelas Samuel acuh tak acuh sibuk menepuk-nepuk punggung Amel. “Kan udah aku bilang kalo minum jangan banyak-banyak” omel Samuel.


Laras mematung. Sera? Dano ngobrol dengan Sera? Sedang membicarakan apa? Spontan Laras langsung berdiri menyusul Dano. Setiap kali nama Sera disebut, sel motorik Laras akan bekerja tanpa perintah, seakan nama cewek itu adalah momok mencekam bagi Laras.


“Hai Ra” sapa seorang cowok yang tidak begitu Laras kenal. Laras tersenyum tipis melangkah terus ke arah belakang. Tangannya mendorong pintu mencari sosok Dano di antara beberapa anak srikandi yang berada di halaman belakang.


Apa di samping? Batin Laras lalu melangkah ke samping, agak gelap karena hanya ada satu cahaya kuning yang menerangi tempat itu.


Benar.


Tidak jauh dari pot besar di ujung, tampak Dano dan Sera sedang berdiri membicarakan sesuatu, tampang mereka sama-sama serius. Laras mendekat, sengaja berjinjit dan bersembunyi di balik pot bunga. Tangannya menggenggam erat botol di tangannya mendengar suara Sera yang terdengar agak emosi.


Kata brengsek, mengacau, menyesal keluar dari mulut Sera. Laras terus diam mencoba untuk tetap mencuri dengar.


“Kalo bukan karena lu, hidup gue nggak akan sekacau ini! Lu kira Laras akan diam aja pas tau apa yang lu lakuin hah?!”


Hati Laras seakan ingin lepas mendengar namanya disebut.


“Kenapa?! Lu takut sekarang? Takut Laras tau kelakuan lu?!” uajr Sera marah.


Laras semakin penasaran. Kelakuan apa? Apa yang sudah Dano lakukan sampai ia takut ketahuan Laras? Selingkuhan? Mendadak Laras takut hal yang sama terjadi lagi.


Menyesal, menyesal, dan menyesal. Tiga kata itu terus menerus keluar dari mulut Sera saat membicarakan Laras. Di momen itu Laras sadar kedua orang itu bukan sekedar teman sekre, mereka saling mengenal dengan baik. Bahkan mungkin Sera jauh lebih mengenal Dano dibanding Laras.


Dano hanya diam seribu basah, ia terlihat tidak senang tapi tidak berkutik menghadapi protes sekaligus amarah Sera.


 “Harusnya lu sadar, lu itu penyebab semua masalah ini. Lu harusnya mundur ketika pertunangan Angga udah hancur, bukannya lu malah pacaran sama Laras! Lu kira gue bakal terima sama kelakuan lu apa? Semua orang mikir gue penyebabnya, tapi lu! Lu otaknya!” balas Sera marah.


Brak.

__ADS_1


Kedua orang itu balik badan, mata Dano membulat terkejut begitu melihat sosok Laras berdiri disitu. Botol air ditangannya jatuh ke bawah sementara tubuh Laras mendadak kaku.


“Ra….” Dano langsung mendekat, ekspresinya berubah tidak karuan, tangannya hendak menyentuh bahu Laras namun dengan cepat ditepis cewek itu. Laras mendekati Sera.


“Sera…jelasin semuanya ke aku” pintah Laras.


Sera menelan ludah, amarahnya mendadak menghilang begitu melihat Laras berdiri di depannya. Sera memang marah pada Dano, tapi Laras yang memergoki percakapan keduanya membuat tubuh Sera seakan tersengat listrik.


“Ra, aku bisa jelasin-”


“Diam kamu!” bentak Laras membuat Dano terkejut. Cewek itu terus menatap Sera dengan ekspresi memohon.


“Gue….” Sera terlihat ragu, tapi gengaman Laras ditangannya membuat ia menarik napas. Mungkin Dano memiliki kendali atas dirinya, tapi wajah pucat cewek di depannya ini membuat Sera salah tingkah.


“Apapun penjelasan kamu, aku nggak akan marah, aku janji” kata Laras pelan terdengar memelas.


“D-dano…. Dano nyuruh gue deketin Angga. Awalnya hanya pura-pura, tapi gue berakhir jatuh cinta sama Angga. Gue jadi ingin ngerebut cowok lu, tapi emang pada akhirnya gue yang kalah” jelas Sera sesingkat mungkin, matanya menatap Dano takut-takut.


Laras mematung, wajahnya berpaling ke arah Dano dengan tatapan ngeri. Mendadak semua perasaan suka Laras pada Dano menguap begitu saja. Cowok yang selalu tersenyum dan memeluknya dalam sedetik menjadi cowok paling jahat yang pernah Laras temui.


Dano nyuruh gue, kalimat Sera terus berputar di benak Laras.


“Jadi, ini alasan kenapa kamu bilang kamu senang aku ada di dunia kamu? Karena kamu bisa sepuasnya mainin aku?”


“Ra, enggak gitu-”


Plak.


Laras menampar Dano keras lalu tanpa mengatakan apapun ia pergi. Laras melangkah cepat keluar dari tempat itu, sembarangan ia menyetop taksi yang lewat. Di dalam mobil pertahanan Laras runtuh, air matanya meleleh turun.

__ADS_1


Sesuatu meninju hati Laras. Ia menyukai Dano, terlalu suka sampai membuatnya tidak menyadari bahwa kesenangan malam ini dan dunia cowok itu bukan untuknya. Laras melangkah terlalu jauh.


__ADS_2