Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 27. Whistle


__ADS_3

Sudah hampir setengah bulan sejak Ayu mengumpulkan berkas dan ia belum menerima kabar apapun. Ayu yang tidak begitu berharap mulai mencari beberapa sekolah pastry di Indonesia, meskipun Eva sendiri masih ngotot agar Ayu bersekolah di luar negeri.


“Kamu itu dibiayain Yu, harus manfaatin sekolahnya di luar. Kalo cuman di Indonesia mending kamu les aja sama Ivanka. Jadi orang jangan pesimis gitu dong” omel Eva disambut anggukan setuju Ningsih. Ayu tersenyum geli, Bahasa Indonesia Eva patut diancungi jempol. Setiap hari berinteraksi dengan Ningsih yang cuek bebek menggunakan Bahasa Indonesia membuat Eva perlahan tapi pasti semakin lancar berbahasa Indonesia.


“Dimana kamu berpijak disitu langit dijunjung. Artinya karena kita di Indonesia kita harus bisa bahasa Indonesia, kalo beliau enggak ngerti ya paksa sampai ngerti” ujar Ningsih kalem sembari mengenakan masker wajah. Ayu tertawa geli, ia asik melingkari jawaban soal dari tes TOEFL. Ponsel Ayu bergetar, ada pesan masuk dari Heru. Ayu lantas menaruh bukunya dan melangkah pergi.


“Mainnya jangan kemaleman”


“Ih, cuman mau ngambil titipan. Oleh-olehnya Mbak Ningsih nggak mau aku ambilin?”


“Yaudah, main aja sampai malam” angguk Ningsih. Ayu nyengir menuju halaman depan. Ada Heru disana sedang menurunkan barang dari bagasi mobil dibantu Toto. Heru baru saja kembali dari Kalimantan menyelesaikan tahap akhir dari urusan bisnisnya dengan Dano.


“Bisnis kontraktor Yu. Tapi buat tambang batu bara” cerita Heru saat rebahan di kamar. Ayu duduk di lantai asik mencomot cemilan yang dibawa cowok itu.


“Mas Dano sama Mas Heru beli tanah dong?”


“Enggak beli Yu, perusahaan kami cuman ngejual jasa buat nambang, jadi entar hasil tambangnya dikasih ke perusahaan pemilik tambang buat diolah”


“Oh kirain beli tanah juga kayak diberita-berita”


“Enggak Yu, ribet, kalo kayak gitu enggak ada jaminan sampai kapan sumber dayanya akan ada. Tapi kalo jasa kontraktor kan bisa dipakai dimana aja dan buat jenis tambang apa aja” jelas Heru. Ayu mendengarkan seksama, ia tidak begitu mengerti tapi mendengarkan Heru menceritakan apa yang ia lakukan terasa menyenangkan bagi Ayu. “Tahun lalu saya sama Dano coba dengan skala kecil atau kayak ngambil bagian berapa persen gitu, tapi sekarang udah bisa untuk skala besar”


”Skala besar maksudnya satu area tambang dikuasi itu?”


“Iya betul. Pinter banget sih.” Heru menjulurkan tangan mengelus rambut Ayu pelan. “Area tambang yang lagi kami kerjain milik PT Braun Coal di Banjarmasin dan bulan depan kalo nggak ada halangan kami mau tanda tangan kontrak dengan PT LiniMasa, tapi di daerah Samarinda”


“Amin, semoga aman ya mas enggak ada halangan. Mas bakalan sering bolak-balik Kalimantan dong?”


“Sekarang mungkin iya Yu, karena meskipun kantor pusat kita di Jakarta tapi Dano maunya semua orang pusat harus ngerti medan di Kalimantan. Bahkan Dano udah ada planning buat rotasi staff setiap berapa tahun, jadi dimulai dari jadi staff di Kalimantan terus ditarik ke pusat”


“Mas Dano itu pinter juga ya?”


“Iya Yu, pinter ngantur rencana tapi yang eksekusi saya. Jadi mending kamu muji saya yang capek bolak-balik mastiin rencana Dano berjalan mulus”


“Nggak mau ngalah banget” tawa Ayu geli.


“Ngomong-ngomong kuliah kamu gimana? Udah ketemu sekolah yang kamu mau? Saya denger dari Tante Eva kamu mau kuliah.”

__ADS_1


Ayu mengangguk, agak gugup mendengar pertanyaan Heru. “Masih nyari.”


Heru mengangguk dan memejamkan mata. “Carinya di Jakarta aja, banyak yang bagus. Kamu jangan jauh-jauh dari saya”


“Kenapa nggak boleh jauh?”


Mata Heru terbuka, tubuhnya bergerak berbaring miring ke arah Ayu. “Karena saya bisa stress kalo pacar saya jauh dari saya”


“Tapi misalnya sekolah yang bagus ada di luar gimana? Tetap nggak boleh?” tanya Ayu hati-hati.


“Iya, nggak boleh. Sekolah di Jakarta banyak yang bagus. Kamu nggak usah kemana-mana, cukup disamping saya aja dan nemenin saya.”


Ayu menelan ludah, Heru keras kepala, dan jelas perkataan cowok itu akan menjadi awal dari konflik mereka nanti seandainya Ayu diterima. Hati Ayu mendadak gundah, ia tidak ingin berkonflik dengan Heru tapi ia juga ingin pergi ke Inggris, bahkan meskipun belum ada kepastiaan Ayu akan diterima atau tidak tapi otaknya mulai mengeluarkan satu pertanyaan mengerikan.


Ayu harus merelakan yang mana? Mimpi atau cintanya?


...----------------...


Dano berbaring di dekat Laras, ia menghitung jumlah uang monopoli sembari menunggu cewek itu selesai mengetik pesan di ponsel. “Hah! saya beli hotel di Beijing! Noh!”


“Giliran aku sekarang.” Laras melempar dadu, ia bertepuk tangan lega ketika angka dadunya melewati tanah milik Dano. Setelah tadi menjemput Laras dari kantor, kedua orang itu memutuskan untuk menghabiskan akhir jumat mereka dengan bermain monopoli di gazebo belakang rumah Dano.


“Penjara, penjara, penjara” ujar Dano senang melihat dadu Laras mengarah ke penjara, itu berarti ia berhak bermain satu putaran sendirian.


“Kamu ke Kalimantan lagi kapan?” tanya Laras sembari meneguk es lemon.


“Bulan depan paling”


“Sama Heru?”


“Iya. Tapi beda site. Heru ke site biasa, nah saya ke site baru yang di Samarinda. Kamu mau nemenin?”


“Enggak, sibuk kerja”


“Ambil cuti aja, dua minggu kek. Nanti empat hari ke Kalimantan, sisanya kita ke Bali. Mau nggak?”


“Aku pikir-pikir dulu”

__ADS_1


“Kamu mah kalo mikir lama, sampai tahun depan. Susah ngajak kamu liburan, sibuk banget kamu kayak lagi ngurus negara” balas Dano cemberut, Laras tertawa menyentil pelan kening cowok itu.


“Kamu itu berarti mulai bulan depan dan seterusnya ada visit terus ke Kalimantan?”


“Iya Ra, rencana saya sampai dua tahun saya rutin visit. Saya bener-bener mau mastiin semua SOP yang udah dibuat beneran dilaksanakan sesuai alur dan sebaik mungkin. Saya mau punya perusahaan yang orang-orangnya disiplin Ra, apalagi jenis pekerjaan yang saya ambil ini resikonya tinggi. Saya nggak mau ada staff kecelakaan karena enggak pake seatbelt waktu berlalu lalang di daerah tambang”


“Jujur, aku suka cara kamu ngerencanain bisnis kamu, bahkan rencana kamu itu sampai ke detail terkecil”


“Harus dong, biar gini-gini kinerja otak saya masih oke” canda Dano.


“Kamu belajar semua itu darimana?”


“Papa, Kak Della, Heru, kamu”


”Saya?”


“Kamu sering nyeritain kerjaan kamu sebagai akuntan, ngeluhin kerjaan kamu, itu buat saya ngerti alur kerja kamu dan saya praktekin ke bagian akuntan saya. Cerita kamu tentang aturan kantor kamu itu juga termasuk bahan evaluasi saya Ra. Terus kalo dari papa, saya itu diajarin mending returnnya enggak gede-gede banget tapi stabil dengan resiko kecil dibanding return gede tapi resikonya tinggi. Karena kalo return kamu gede, suatu saat ketika resiko terjadi kamu harus bayar gede juga. Nah saya enggak mau itu terjadi”


“Kamu kalo ngomong serius gini kayak bukan Dano” ujar Laras tersenyum lebar.


“Terus kayak apa? Pangeran berkuda putih?”


“Kaya bapak-bapak. Tapi bapak-bapak ganteng” goda Laras.


Dano bangkit duduk melempar dadu terakhir dan bergerak maju menuju tanah kosong, ia mengeluarkan beberapa lembaran uang dan menaruh tanda rumah biasa di atas tanah itu.


“Ra coba siul” pintah Dano random.


“Siul?”


“Iya, kayak gini” praktek Dano.


Laras menurut, ia memajukan bibirnya mengeluarkan siulan, tidak ada suara yang keluar tapi Dano malah maju mengecup bibir Laras.


“Ih!”


Dano cengegesan. “Ya salah kamu sih, pake majuin bibir gitu, kan saya kira kamu mau saya cium” ujar Dano kalem langsung mendapat cubitan Laras.

__ADS_1


__ADS_2