
Laras berlari di sepanjang koridor kampus, tangannya memeluk setumpuk kertas erat menuju sekre srikandi mencari manusia bernama Heru, tampak cowok itu sedang rebahan dengan laptop di perut, ekspresinya terlihat serius memikirkan rangkaian kata demi kata untuk membentuk kalimat skripsi.
“Ru, dicari istrinya Dano” teriak seorang anak srikandi dari luar membuat Laras manyun.
Heru menoleh sekilas dan berkata pede “kenapa Ra? Mau nyontek skripsi? Sorry nggak dulu”
“Pede banget kamu. Nih...”
“Apa?” Heru membaca selebaran kertas berisi promosi bazar. “Masih lama kan? Semangat amat mau nyari dana”
“Ih bukan ituuuuu....” geleng Laras. “Tolong kasihin ke Ayu. Aku kesini mau minta ijin kamu, biar si Ayu bisa gabung sama aku dan Manda di bazar nanti”
“Kenapa Ayu? Emang Manda nggak punya pembantu di rumah?”
“Ck...Si Ayu pernah cerita dia suka buat kue makanya mau aku ajakin. Boleh ya Ru?”
Heru langsung menggeleng menolak. “Nggak bisa, Ayu sibuk”
“Ih Heru kamu mah gitu. Boleh ya? Manda udah oke kok. Emang kamu nggak kasihan Ayu harus terjebak sama kamu terus di rumah? Kan Ayu butuh teman ngobrol yang sebaya...Boleh ya?” rayu Laras berusaha tersenyum semanis mungkin.
“Percuma lu senyum gitu, nggak bakal buat gue luluh.”
Laras mendengus langsung berlalu pergi.
Tapi Laras bukan tipe yang mudah menyerah, terbukti sore hari sepulang dari kampus ia sudah berada di rumah Heru mengobrol bersama Raya dan Ayu di ruang makan, membuat Heru yang baru pulang kampus sampai terheran-heran.
“Ngapain lu?”
“Mau minta nomornya papa kamu di Mbok Raya. Aku mau minta ijin papamu biar bisa ngijinin Ayu bantuin kami buat kue untuk acara bazar nanti”
“Nggak usah dikasih mbok, ngerepotin” larang Heru lalu balik badan menuju kamar. Laras spontan memberikan kode pada Ayu untuk mengikuti Heru.
“T-tapi kak..”
“Udah Yu, percaya sama aku, dia pasti bakal iyain kalo kamu yang minta langsung. Buruan” kata Laras terlihat yakin sekali. Sejenak Ayu merasa ragu, tapi ia ingin ikut Laras dan Manda. Ayu lantas berdiri dan setengah berlari menuju kamar Heru di lantai atas, ia menarik napas lalu mengetuk pintu pelan.
“Kenapa?” tanya Heru membuka pintu, ia bersandar dan menatap Ayu tajam. Ayu menelan ludah, posisi ini membuatnya teringat kejadian lampau ketika Heru memarahinya habis-habisan.
“Itu mas....saya boleh nggak-”
“Nggak” potong Heru langsung.
“Sekaliii aja mas. Saya janji pekerjaan saya akan beres dan nggak terganggu sama sekali, kamarnya Mas Heru akan selalu bersih. Boleh ya mas?”Ekspresi Ayu berubah memelas, ia menguatkan hatinya untuk balas menatap Heru. Cowok itu menatap Ayu dengan pandangan menilai, ada sesuatu yang menganjal pikiran Heru dan ia harus tau jawabannya dari Ayu.
“Gue mau nanya sesuatu” kata Heru akhirnya buka suara.
“Iya mas gimana?”
“Kenapa lu ngehindarin gue?”
“Kapan?” tanya Ayu berusaha mengendalikan raut wajahnya agar terlihat kebingungan.
“Pagi ini, kemarin, kemarinnya lagi, tiga hari lalu, seminggu lalu. Lu kenapa?”
__ADS_1
“Saya enggak ngehindarin Mas Heru” geleng Ayu berbohong. Heru menundukan kepala mendekati Ayu membuat cewek itu spontan mundur ke belakang. Matanya menatap wajah Ayu lekat-lekat sementara Ayu berdiri dengan perasaan tidak nyaman. Tanpa diduga jemari kanan Heru naik menyentuh bibir Ayu lembut, mata Ayu membulat langsung menepis tangan Heru. Degup jantung Ayu berdetak kencang, ia merasa gugup sekali.
“Itu bukan mimpi kan?” gumam Heru bertanya. Ayu menelan ludah, ia tidak bisa menebak maksud Heru tapi pikirannya mendadak memberikan gambaran jelas ciuman mereka di malam itu.
“Heruuuu, boleh ya? Kalo enggak aku telepon papa kamu nih” teriak Laras dari bawah membuat Heru menjauhkan wajahnya dari Ayu.
“Iya terserah” balas Heru berteriak, tedengar Laras bersorak senang dari bawah. Heru tersenyum lalu menepuk puncak kepala Ayu pelan. “Sana balik, jangan berantem sama Manda, anaknya agak rese.”
Heru menutup pintu kamar membuat Ayu bengong sejenak. Tadi itu apa? Heru sedang kerasukan ya?
...----------------...
Ayu tidak pernah menduga bahwa membuat kue adalah hal yang paling ia sukai. Melihat adonan matang di oven, memotong kue menjadi beberapa bagian, menghias dengan bentuk-bentuk cantik, semua itu Ayu lakukan sepanjang hari. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum bahkan meskipun kue buatnya baru menjadi latihan percobaan.
“Yu enak, cuman terlalu manis, kayaknya kita harus kurangin gulanya deh” kata Laras saat mencicipi kue buatan Ayu. Ayu mengangguk langsung menulis keatas catatan kecilnya.
“Yu lihat, cantik kan? Sini foto bertiga, sekalian promosi.” Manda menunjukan hasil potretnya dan kemudian mengambol selfie mereka bertiga.
“Instagram lu apa Yu?”
“Itu apa kak?” tanya Ayu polos.
“Media sosial, tempat buat pamer, kebetulan gue orangnya suka pamer jadi sering main itu” jelas Manda sembarangan.
“Saya nggak punya kak”
“Yaudah nggak papa, nanti gue kirim ke lu, sini nomor lu”
“Eh tapi hp saya enggak bisa kirim begituan”
“Kenapa?” tanya Marsel, wajahnya agak tertekuk karena terganggu dengan interupsi Manda tapi tetap turun ke bawah saat disuruh.
“Cobain nih dan kasih penilaian lu sejujur-jujurnya buat bahan evaluasi kita” pintah Manda. Marsel mengambil beberapa potong kue, ia menguyah perlahan terlihat berpikir, lalu mengambil beberapa potong lagi, dan mengambil terus sampai dihentikan Manda.
“Gue nyuruh lu menilai, bukan ngabisin”
“Ya biar gue bisa menilai dengan benar dong, gimana sih” dengus Marsel menelan potongan terakhir ditangannya. “Agak manis, cuman gue suka, hiasannya juga bagus. Ini siapa yang buat?”
“Gue” kata Manda.
Marsel mencibir. “Kalo cuman bertugas nyiapin alat, nggak usah ngerasa spesial”
“Iye iye, Ayu sama Laras yang buat.” Marsel mengangkat dua jempolnya, ia mengambil sepotong lagi lalu kembali ke kamar.
“Minta orang lain aja deh yang nilai. Marsel mah kalo lapar bangkai juga bakal dikunyah sama dia” kata Manda, kedua temannya tertawa ngakak.
“Ini potongan yang masih ada boleh saya bawa enggak kak? Buat Mbak Ningsih di rumah”
“Boleh Yu, bagi dua sama aku. Mau aku bawain ke Sri biar bisa dinilai sama dia”
“Bentar ya gue cari kotak dulu” kata Manda lalu sibuk mencari kotak di rak kue. Pintu terbuka, mereka berpaling dan tampak Jessi, mama Manda muncul dari halaman samping, ia baru selesai lari sore dan agak terkejut melihat dapurnya mendadak berubah menjadi semi kapal pecah.
“Halo, ini Ayu ya? Teman barunya Manda?” sapa Jessi ramah, Ayu mengangguk sopan.
__ADS_1
“Tante mau coba enggak? Buatan aku sama Ayu nih, tadi Marsel udah coba katanya enak, cuman penilaian Marsel kurang meyakinkan” tawar Laras langsung.
“Dikit aja ya, tante lagi diet.” Jessi mengambil sepotong kecil, kepalanya mengangguk-angguk mencoba menilai kombinasi rasa yang menyentuh lidahnya.
“Agak kemanisan sih, tapi manisnya enggak bikin eneg. Kalian sekolah pastry aja, udah cocok nih”
“Ah tante bisa aja” kekeh Laras senang.
“Kalian lanjutin aja kerjaannya, jangan lupa diberesin ya” kata Jessi kemudian masuk ke dalam.
“Sekolah pastry itu apa Kak Laras?”
“Hmm...secara garis besar itu sekolah khusus untuk kamu kalo suka buat kue. Kamu bakal diajari sedetail mungkin tentang dunia kuliner khususnya kue” jelas Laras, Ayu mengangguk-angguk paham. Ponsel Laras berbunyi, ada panggilan masuk dari Heru.
“Halo?”
[Staff rumah gue mana? Mau gue jemput pulang, udah jam tujuh malam nih] kata Heru tanpa basa-basi. Laras mencibir pelan.
“Kalo mau kamu jemput, nelepon orangnya, jangan nelepon aku”
[Gue nggak ada nomornya Ayu]
“Ih aneh kamu! Aku aja ada”
[Hari ini gue minta. Sepuluh menit lagi gue nyampe] Sambungan teleponpun terputus.
“Bapak kamu aneh banget Yu” kata Laras, Ayu mendongak bingung.
“Bapak saya udah nggak ada kak” balas Ayu polos. Laras mengigit bibirnya sementara Manda buru-buru menahan tawa geli.
“Maaf Yu, aku nggak tau....Maksud aku itu si Heru, bapak angkat kamu”
“Ooohhh... Mas Heru kenapa kak?”
“Mau jemput kamu, katanya udah malam, lagi otw kesini. Heru itu bisa protektif juga ya kayak bapak-bapak” beritahu Laras tersenyum penuh makna.
“Aneh tuh orang. Maklum Yu, waktu kecil sering nguyah bekicot makanya tingkahnya suka rada-rada” tambah Manda julid.
...----------------...
Ayu melambaikan tangan pada Manda dan Laras sebelum masuk mobil.
“Hati-hati ya Yu, sampai ketemu sabtu” kata Manda balas melambaikan tangan.
“Pak supir nyetirnya jangan balap-balap ya” goda Laras. Heru nyengir menaikan kaca mobil dan melaju pergi.
“Kayaknya Heru suka Ayu” kata Manda dan Laras serempak, keduanya bertatapan lalu tertawa geli.
“Ya ampun Ra, lu ngerasa juga?”
“Iya, aku pernah ngasih tau Dano, tapi katanya nggak mungkin, mungkin karena Heru masih sama Danella. Aku merhatiin dari cara Heru natap Ayu, agak lain”
“Gue juga Ra, cuman gue nggak yakin. Tapi waktu kita makan-makan setelah pertandingan pertama, Heru perhatian banget ke Ayu. Bahkan seinget gue Heru nggak pernah seperhatian itu sama Riska” jelas Manda mengebu-gebu.
__ADS_1
“Kita diem-diem perhatiin aja ya Nda. Aku yakin cepat atau lambat akan ada kejadian menarik dari mereka” kata Laras. Keduanya tertawa geli dan setelah itu masuk ke dalam rumah.