Ms. Norak

Ms. Norak
S2: Airplane


__ADS_3

”Cantik kan mas?” tanya Ayu menunjuk potongan kue yang telah selesai ia hias, Heru mengangguk merangkul cewek itu erat. “Mau coba nggak?”


Heru melahap sepotong kecil, ia bergumam lalu mengangguk. “Enak. Kayaknya boleh nih kalo resepnya kamu patenkan, biar enggak ada yang pake.”


Ayu tertawa membantu memasang apron di tubuh Heru. Hari ini setelah kafe tutup Heru dan Ayu berkencan di dapur, mereka menghabiskan waktu berdua sebelum keberangkatan Ayu besok. Ayu sering membayangkan bagaimana rasanya jika ia bersama Heru seharian di dapur membuat kue dan hari ini bayangan itu terjadi, melihat heru dengan apron dan kesusahan memisahkan kuning telur membuat senyum Ayu mengembang lebar. Sejak pertengkaran mereka selesai tempo hari, hubungan Ayu dan Heru berubah menjadi lebih 'tenang.' Tidak ada protes atapun amarah dari Heru dan mereka terus menghabiskan hari bersama-sama. Sepertinya Heru sekarang lebih memilih untuk menciptakan momen manis dibanding bertengkar.


“Yu, kalo putihnya kecampur dikit, tetap jadi kue nggak? Ini nggak sengaja kecampur”


“Tetap jadi mas. Tapi lebih baik kalo enggak kecampur, sini mas aku pisahin pake sedok.”


Heru memperhatikan Ayu seksama, cewek itu jauh lebih telaten dibanding Heru yang sangat hati-hati, bahkan memecahkan telur saja lama. “Yu, kamu nggak mau alih porfesi jadi tukang nasi goreng aja? Saya lebih pinter motong bawang dibanding misahin telur gini.”


Ayu mendongak lalu tertawa geli. “Ada-ada aja idenya. Udah nih, tolong dibuat ya masku yang ganteng.”


Heru bekerja, tapi hanya sebentar, karena setelah itu Heru melepas kocokan telurnya dengan wajah cemberut. “Nggak bisa Yu, saya jadi konsumen aja. Susah.”


Ayu berpaling, ia menggeleng dengan senyum geli. Heru memang lebih cocok mengerjakan pekerjaan yang bisa jalan kesana kemari dibandingkan berdiri disatu tempat. Terbukti karena setelah Heru melepaskan pekerjaannya begitu saja ia langsung mondar-mandir membuka isi lemari dapur kafe. Mendadak jiwa penasarannya muncul membaca jenis-jenis panci disitu.


“Yu, barang-barang kamu udah disiapain buat besok?” tanya Heru penasaraan.


“Udah”


“Yakin enggak ada yang lupa?”


“Yakin. Saya udah nyiapin dari jauh-jauh hari”


“Kayaknya semangat banget mau pergi ninggalin saya”


“Mas....” tegur Ayu. Heru nyengir langsung menghampiri Ayu dan memeluknya dari belakang. “Mas Heru udah janji loh mau ngedukung saya”


“Iya Yu, tapi saya kan lagi mau sedih. Lagi kayak ngerasa ditinggalin sama ibu, biar kamu perginya pake ngerasa bersalah terus cepat-cepat deh balik ke Indonesia” gumam Heru memejamkan mata dan menyandarkan dagunya di bahu Ayu. “Kita teleponan ya tiap hari”


“Iya”


“Bahkan meskipun kamu lagi sibuk banget, kita harus teleponan”


“Iya. Aku janji” angguk Ayu. “Sebenarnya mas juga bisa kan kesana?”


“Kalo itu mah udah ada dalam daftar rencana saya Yu, saya mau sering datang biar kamu nggak lupa pacar kamu siapa. Kalo perlu jidat kamu saya tato pake nama saya, biar nggak yang berani dekatin kamu.”


Ayu melepas adonannya dan tergelak geli. “Ya ampun mas, emang siapa yang kurang kerjaan mau dekatin saya? Kalo saya secakep Kak Manda, nggak papa mas khawatir begitu.”


Heru diam sejenak, ia mengecup leher Ayu lalu membalikan tubuh cewek itu pelan. “Kamu tahu nggak? Kamu yang nggak sadar tentang diri kamu, itu justru yang jadi daya tarik kamu. Kalo kamu pemikirannya kayak gitu saya jadi makin khawatir mau ngelepas kamu.”


Ayu berjinjit mengecup bibir Heru pelan, suatu kebiasaan yang akan ia lakukan jika tidak ingin memperpanjang argumennya melawan Heru. “Sebenarnya saya juga khawatir mas saya yang ganteng ini diambil cewek lain. Apa di kening Mas Heru saya tato nama saya aja ya?”


Gantian Heru yang tertawa geli. Tangannya terangkat menyentuh kedua pipi Ayu dan wajah Heru menunduk mencium bibir cewek itu. Manis, sedih, khawatir, semua perasaan itu berbaur menjadi satu dalam ciuman Heru.


“Saya cinta sama kamu Yu” kata Heru saat mereka selesai berciuman. Ayu menatap mata Heru lekat-lekat, cowok itu serius, sangat serius, tidak nampak ada keraguan atau sekedar kalimat yang datang karena suasana manis diantara mereka. Heru benar-benar mengutarkan isi hatinya.

__ADS_1


“Saya juga”


“Saya mau nunggu kamu sampai kuliah kamu selesai Yu”


“Dan setelah itu?”


Heru menunduk memeluk Ayu. “Mungkin ada beberapa harapan yang pengen saya dapetin, tapi sama kamu.”


Pelukan Heru semakin erat, tarikan napasnya terdengar seakan ingin melahap Ayu dari aroma cewek itu. Tangan Ayu menepuk-nepuk punggung Heru pelan, sesaat setelah itu Ayu bisa mendengar isakan Heru. Dari dalam pelukan Ayu Heru menangis, ia menyembunyikan wajahnya dalam-dalam seolah tidak ingin ada yang mengetahui rasa sedihnya.


“Jangan nangis mas, saya masih disini”


“Tapi besok udah berangkat” rajuk Heru tidak ingin melepas pelukannya.


Ayu menahan tawa geli, ia merasa sedih tapi tingkah Heru juga berhasil membuat Ayu merasa lucu sendiri. “Biar Mas Heru nggak sedih-sedih banget, sekarang terserah mas mau ngapain, saya temenin”


“Bener nih?” Heru spontan menarik diri menatap Ayu lekat-lekat.


“Mas mau apa?”


“Tidur bareng.”


Ayu langsung mencubit lengan Heru pelan. “Dasar genit” kata Ayu sementara Heru tertawa geli lalu kembali menunduk mencium Ayu.


...----------------...


Laras bersandar di mobil sembari menyesap kopi, tangannya melambai ke atas ketika melihat sebuah pesawat melintas pergi. “Itu pasti pesawatnya Ayu” kata Laras riang. Sejam lalu ia baru saja mengantar Ayu dan setelah itu lebih dulu pulang untuk membiarkan Ayu berduaan bersama Heru yang sejak pagi terlihat muram.


“Enggak sih. Tapi siapa tau pilotnya ngelihat kan? terus bilang 'eh siapa tuh cewek cakep yang lagi dadadada kesini?'” jawab Laras kalem. Dano mencibir ikut bersandar di mobil.


“Si Heru pasti habis ini bakalan suram banget ngalahin suramnya kuburan umum”


“Pasti dong, ditinggal pacarnya gitu. Emang kamu enggak sedih kalo diposisi Heru?”


“Saya? Enggaklah. Untuk apa sedih? Kamu pergi ke Inggris, saya ikut. Nggak usah dibuat repot, kamu mau ke belahan dunia manapun saya bakalan ngekorin kamu”


“Sudah habit kamu emang ngekorin aku kemana-mana” ujar Laras masuk ke mobil diikuti Dano. Laras mengeluarkan ponsel mengecek maps, setelah ini keduanya memutuskan akan pergi makan.


“Ra...”


“Iya?”


“......”


Laras mendongak ketika Dano tidak mengatakan apapun, ekspresi cowok itu tiba-tiba terlihat bersemu kemerahan. “Kenapa? Kamu pengen ke toilet? Buruan sana aku tungguin.”


Dano nyengir dan menggeleng pelan. “Bukan itu....Kak Della pengen ketemu kamu.”


Kening Laras berkerut, siapa? Della? Kakak Dano? Ekspresi Laras langsung berubah tidak percaya. “Aku? Kapan?”

__ADS_1


“Secepatnya, kalo bisa sekarang juga enggak papa”


“Kok gitu?” Laras menatap curiga. “Kamu ngomong apa ke Kak Della sampai kakak kamu pengen ketemu aku secepatnya?”


“Itu....” Dano terlihat agak ragu. “Tapi jangan marah ya”


“Iya kenapa?”


“Janji?”


“Iya....” angguk Laras serius.


“Jadi ada kenalannya Kak Della yang pengen ngenalin saya ke adiknya, tapi saya nggak mau, cuman kayaknya anaknya rada ngotot karena ngerasa saya belum nikah.”


Laras langsung mendengus dan mencibir pelan, tipe cewek yang paling Laras benci sepanjang masa adalah cewek yang merasa ketika belum ada cincin melingkar di jari seorang cowok itu berarti si cowok masih menjadi milik umum. Dikira mempertahankan sebuah hubungan itu gampang apa?


“Saya berani sumpah Ra, saya udah mati-matian nolak, sumpah, nggak bohong, mana berani saya macam-macam di belakang kamu.” Dano mengangkat kedua jarinya tinggi-tinggi.


“Iya aku percaya sama kamu. Terus gimana?”


“Ya gitu, karena sering dipaksa-paksa saya bilang aja saya udah ngehamilin kamu.”


Laras langsung melongo, mulutnya terbuka tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Dano. Cowok itu garuk-garuk kepala dengan tampang salah tingkah.


“Sejak saat itu saya udah enggak dipaksa-paksa lagi, tapi kayaknya berita itu udah nyampe ke Kak Della. Jadi ya........”


“Valdano Radja......” gumam Laras masih terkejut, entah harus marah atau kesal Laras tidak tahu.


“Kamu tadi udah janji loh Ra buat enggak marah ke saya”


“Iya...tapi....” Laras mencubit lengan Dano sampai cowok itu memekik kesakitan. Dano cengegsan geli mengusap lengannya. “Kalo aku ketemu kakak kamu aku harus gimana? Masa pura-pura hamil?”


“.....Ra, itu berarti kamu nggak nolak punya anak sama saya?”


Laras memukul pelan lengan Dano. “Bukan itu poinnya Valdano. Aku ketemu kakak kamu harus ngomong apa? Kakak kamu pasti mau ketemu aku karena mikir aku hamil kan?”


Dano garuk-garuk kepala. “Itu bisa saya urus si Ra, tapi masalahnya sebenernya adalah kalo Kak Della nanya kamu mau nikah sama saya kamu mau jawab apa?”


Laras termangun. Pertanyaan tadi kok seperti lamaran singkat dari Dano ya? Laras langsung menggelengkan kepala. “Kamu mau aku jawab apa?”


“Iya, mau nikah sama Dano, gitu. Biar Kakak Della bisa tenang dikit” kata Dano, Laras menghela napas lalu mengangguk pasrah. “Tapi Ra, kalo kamu mau hamil sekarang juga nggak papa, saya udah siap.”


Mata Laras langsung membulat melotot membuat Dano tertawa geli. “Canda Ra canda....galak banget..... Tapi Ra, kamu cukup bilang, yuk Dano nikah, saya pastiin semuanya langsung beres.”


Sekali lagi Laras termangun, ia tahu benar, Dano baru saja melamarnya. Duh Laras harus gimana sekarang?


...----------------...


__ADS_1


See you in next chapter....


-Eden.


__ADS_2