Ms. Norak

Ms. Norak
Bad Romance


__ADS_3

Pukul delapan malam Laras selesai dengan semua kegiatannya untuk mengurangi dekil. Lulur, masker, mandi, dan makeup semua dilakukan Laras sepenuh hati. Dress hitam yang dibeli Dano kemarin kini sudah terpaut manis di tubuhnya. Laras terlihat sangat seksi dan menawan, ditambah lipstik merah di bibir memberikan kesan ia adalah seorang cewek yang akan membuat semua orang terpesona namun tidak ada satupun yang bisa memilikinya.


“Ra dicariin Dano” teriak Sri masuk ke kamar, matanya membulat takjub melihat penampilan Laras. “Kamu siapa? Cantik banget!!!”


“Aneh nggak?”


“Enggak, cakep kok, seksi. Wah udah dewasa anaknya Bapak Susanto”


“Ih Sri, malu tau.”


Sri tertawa geli lalu melangkah keluar. “No, kata Laras masuk aja, aku mau nonton drama”


“Aku enggak bilang gitu” koreksi Laras namun Dano sudah terlebih dahulu muncul di depan pintu kamarnya. Dano mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan kaos putih, rambutnya ia pangkas rapi membuat tato malaikat bersayap di leher semakin terlihat jelas. Tidak ada lagi piercing di alis Dano namun itu justru membuatnya terlihat dua kali lebih tampan. Laras menelan ludah, sadar terpesona pada Dano.


“Udah selesai Ra?”


“E-eh? B-belum….Katanya kamu mau datang jam setengah sembilan? Masih dua puluh menit lagi loh” kata Laras canggung melirik jam weker.


“Saya mau bawaiin ini.”


Dano berjongkok membuka box sepatu yang ia bawa sejak tadi. “Daripada kamu pakai sepatu kets kamu, mending kamu pakai ini.”


Mata Laras langsung berbinar, high heels tali berwarna merah tua terpasang manis di kakinya. “Kamu tahu ukuran kaki aku dari mana?”


“Saya ngukur pake penggaris” jawab Dano asal, ia mendongak menatap Laras yang masih berbinar melihat sepatunya.


“Makasih” gumam Laras.


“Yuk Ra.”


Laras mengikuti Dano, cowok itu membuka pintu mobil membiarkan Laras masuk. Sekitar tiga puluh menit mobil mereka berhenti di sebuah mini bar Jepang, beberapa mobil sudah terparkir di situ. “Barnya disewa seharian?”


“Iya, jadi kamu bebas mau ngapain aja.”


Laras menelan ludah, ia tidak pernah merasa segugup ini.


“Ra, bentar ada yang kurang.”


Laras berpaling, Dano mendekat dan memasangkan sesuatu, bau parfum Dano tercium jelas membuat Laras seperti ingin meleleh.


“Cantik” kata Dano. Laras menunduk menatap kalung dengan ujung berbentuk kunci. “Ini sebenarnya replika kunci gudang sekolah saya” canda Dano lalu setelah itu mereka keluar mobil. Laras melongo, ruangan pesta ulang tahun itu terlihat lebih mirip acara mini konser. Beberapa band srikandi tampil sementara pelayan pesta mondar-mandir membawa minuman di nampan.


“Laras!!!” Laras berpaling, Amel berlari ke arahnya dan memeluk Laras erat. “Anjing! Seksi banget lu Ra, cakep!” puji Amel geleng-geleng. Laras tersenyum canggung, sejak tadi ia berpikir penampilannya terlalu heboh, tapi melihat Amel dan cewek srikandi lain Laras langsung tahu bahwa dressnya masih meding.


“Iya dong cakep, hasil karya Valdano nih” ujar Dano sombong dari samping.


“Ra, kita harus foto, gue mau pamer ke Manda, biar nyesal dia nggak mau ikut. Sam, tolong fotoin” kata Amel menyerahkan ponselnya pada Samuel, setelah mengambil beberapa foto Amel kemudian mengajak Laras berkeliling dan memperkenalkan Laras pada anak srikandi. Laras bisa merasakan pandangan semua orang tertuju padanya, ia yang tidak pernah mendapat perhatian orang kini harus tersenyum kikuk pada barisan cowok srikandi yang secara terang-terangan mengajak berkenalan.


“Siapa nih? Weh Laras ya?” Heru muncul dengan sebotol jack daniels di tangan, ia menaruh di atas meja kemudian menatap Laras dari atas sampai bawah, sedikit membuat Laras merasa risih. “Sama siapa Ra? Amel?”


“Gue.” Suara Dano terdengar, ia memeluk Laras dari belakang dan mengecup pelan bahu Laras. Gestur dan tatapan tajam Dano jelas menunjukan pada semua orang bahwa Laras adalah miliknya. Beberapa cowok yang tadi ribut-ribut ingin meminta nomor Laras perlahan mundur satu persatu. Dano tersenyum senang, tidak memperdulikan wajah merona Laras. Jantung cewek itu hampir melompat karena tingkahnya tadi.


“Oh elu, lu diapain Ra sama Dano? Sampai jadi kayak gini” tawa Heru geli.


“Aneh ya penampilan aku?”


“Enggak Ra, cuman beda aja, gue kira lu cuman suka pakai baju warna-warni kayak pelangi” geleng Heru.


“Udah ya, gue mau ngajak Laras kenalan sama Alea. Yuk Ra, kenalan sama pemilik pesta, kalian cowok-cowok pergi sana jauh-jauh” usir Amel menarik Laras pergi. “Alea, happy birthday! Ini kado dari gue dan Laras. Kado dari Dano dan Samuel masih pending, lu minta emas antam aja” cerocos Amel memeluk Alea.


Alea tertawa ngakak, ia satu-satunya di ruangan itu yang mengenakan dress berwarna merah. “Oh lu ya yang namanya Laras? Gue Alea.”


Laras menyambut kikuk uluran tangan Alea. “Laras”


“Pantas Dano bertekuk lutut, lu cakep banget” senyum Alea lalu melambaikan tangan pada anak srikandi lain yang memanggilnya. “Lu berdua nikamatin pestanya ya, jangan pulang cepat malam ini ada penampilan DJ Ali. Kita joget sampai pagi”


“Terbaik Alea! Umur lu panjang sampai ratusan” seru Amel girang setengah mati. “Ra minum”


“Nggak. Aku maunya air putih” geleng Laras ketika Alea pergi meninggalkan mereka.


Amel meneguk sendiri alkohol yang ia tawarkan. “Ih, lu jauh-jauh kesini minum air, sana tuh di luar ada air kolam renang, minum aja.” 


Laras nyengir memilih mengambil es sirup, lampu perlahan mulai diredupkan dan suasana semakin ramai. Lagu selamat ulang tahun milik Jamrud terdengar dan sebuah kue besar berada di tengah ruangan. Semua bernyanyi gembira mengiringi Alea yang terlihat bahagia di tengah mereka. Laras juga ikut larut dalam euforia kebahagian itu, wajahnya berpaling mencari Dano berniat untuk meminta cowok itu 'mencuri' beberapa potong kue. Namun, bukan sosok Dano yang ia dapatkan, Laras justru melihat Angga berdiri tidak jauh darinya, tampak di sebelah Angga ada Sera menggamit mesra lengannya. Tatapan mereka bertemu, Laras menelan ludah merasa gugup, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Angga sejak pertengkaran mereka terakhir kali. Angga terlihat tidak melepas pandangannya dari Laras. Ada siratan bingung dan aneh yang terpancar dari mata Angga. Tentu saja cowok itu pasti merasa terkejut ketika melihat mantannya berdiri tidak jauh darinya dengan penampilan berbeda. Laras yang dulu selalu mengenakan celana serta baju warna-warni, rambut acak-acakan, tanpa make up, terlihat agak kusam, dan sama sekali tidak menarik kini berdiri dengan penampilan berubah seratus delapan puluh derajat.


Ditengah kegugupannya, padangan Laras pada Angga terhalang Dano yang datang bersama Samuel. “Kamu dari mana?”


“Belakang bareng anak-anak” jawab Dano.


Laras berpaling, senyumnya menghilang, Laras yang awalnya merasa senang kini ingin pergi dari tempat itu setelah melihat Angga. Aneh, seharusnya Laras merasa senang karena Angga terlihat jelas terkejut dengan penampilannya. Tapi yang terjadi Laras justru merasa marah saat melihat Angga, terutama dengan keberadaan Sera di sebelah cowok itu.


“Kenapa Ra?” bisik Dano bertanya.


“Enggak papa” jawab Laras menggeleng, Dano memalingkan wajah ke arah pandang Laras tadi, hanya sebentar karena setelah itu tanpa mengatakan apapun Dano langsung merangkul mesra bahu Laras.


...----------------...


Menjelang tengah malam suasana pesta Alea semakin ramai, DJ Ali yang sejak tadi dibanggakan Alea mulai mempertontonkan keahliannya. Beberapa orang menari gila-gilaan, seakan mereka sedang clubbing dan bukan berada di pesta ulang tahun. Laras sendiri duduk bergabung bersama Dano dan teman-temannya, mereka duduk di sofa dengan rokok dan alkohol di atas meja.


“Mel udah mabuk tuh” kata Heru tertawa ketika melihat mata Samuel mulai terpejam.


“Biarin, entar kalo nggak bisa jalan gue kirim balik ke rumahnya pake go send” jawab Amel cuek temannya tertawa geli.


“Nggak minum Ra? Dikit aja, nggak bakal buat lu tepar kayak Samuel” tawar Heru. Laras menggeleng lebih memilih meneguk habis es sirup yang sudah bolak-balik ia ambil sejak tadi.


“Udah Ru, Laras masih dibawah umur, sini buat gue aja.” Brandon mengambil gelas dari tangan Heru.


“Masih dibawah umur tapi seksi banget” celetuk Heru keceplosan.


“Ru hati-hati kalo ngomong, kamu nggak lihat pawangnya? Protektif kayak bapaknya Laras” kata Riska pacar Heru menunjuk Dano, mereka sama-sama tertawa geli.


Dano duduk di sebelah Laras sembari menghisap rokok, tubuhnya bersandar di sofa dan tangannya langsung terangkat naik mengelus punggung Laras ketika cewek itu hendak mengambil potongan kecil kue milik Amel. Bulu kuduk Laras merinding, wajahnya berpaling mendapati Dano menatapnya, ia tidak mengatakan apapun tapi tangannya tidak lepas dari Laras.


“Ra, hati-hati, udah pengen tuh mukanya. Entar pulang bareng gue aja, takut lu diapa-apain” goda Brandon terkekeh geli

__ADS_1


“Halah nyari kesempatan aja lu, sana nganterin Eris pulang” balas Amel menunjuk ke arah seorang cewek yang sedang menari di tengah ruangan.


“Idih amit-amit mending gue bantu sapu ruangan setelah pesta dibanding harus nganter dia pulang” tolak Brandon mentah-mentah.


“Kenapa sih lu nolak? Dia nggak jelek-jelek banget kok”


“Emang nggak jelek, tapi alay, apa coba maksudnya buat caption mellow pake inisial nama gue? Dikira gue abg apa?” dumel Brandon muak setengah mati.


“Yaelah gitu doang, lu jangan nolak Bran, bapaknya pemilik kebun teh loh”


“Terus?”


“Ya siapa tahu lu bisa dapat pucuk daun teh terbaik setiap pagi” ledek Heru. Teman-temannya tertawa ngakak asik meledek Brandon. Laras juga, namun sentuhan intens di punggungnya membuat wajah Laras kembali berpaling, Dano nyengir lebar.


“Kamu mabuk ya?” Kening Laras berkerut mencium bau alkohol dari mulut Dano.


“Hmm…aku ngantuk.” Dano menyandarkan dagunya di atas bahu Laras, ia bergumam tidak jelas. Laras meringis, bukan hanya Dano, Samuel juga terlihat sudah memejamkan mata sembari menyenandungkan sesuatu.


“Wah nyanyi nih.” Amel tertawa geli. Teman-temannya lantas mencondongkan tubuh mendengar gumaman Samuel, cowok itu sedang menyanyikan lagu bangun pemuda pemudi ciptaan Alfred Simanjuntak, nasionalismenya memang selalu muncul berlebihan ketika sedang berada diambang batas kesadaran.


“Lucu banget” kekeh Laras geli.


“Ini belum seberapa Ra, entar kalo Heru udah ngomongin teori Darwin dan Brandon ngomongin kisah nabi, itu tandanya kita harus pulang.” Heru dan Brandon langsung mencibir mengelak perkataan Amel.


“Ra….Laras…” gumam Dano memanggil.


“Iya? Kenapa?”


“Cantik banget sih Ra, saya suka” racau Dano menggigit bahu Laras pelan.


“Iya makasih. Aku mau ke toilet” kata Laras geleng-geleng melihat tingkah Dano. Ia melangkah pergi, sejenak melepaskan diri dari cengkraman Dano. Laras duduk di bilik toilet sembari mengecek ulang make upnya, sesaat ketika hendak melangkah keluar suara beberapa orang yang sedang membahas dirinya membuat Laras memilih tetap di dalam bilik.


“Gila ya Dano, kemana-mana sendiri kayak pertapa, sekalinya muncul bawa cewek seksi banget”


“Kayaknya tipe Dano itu yang mungil dan seksi deh”


“Eh tapi cewek itu namanya Laras? Kok beda ya? Gue pernah lihat dia sekali, dan tampangnya biasa aja”


“Itulah gue bilang, langit malam itu punya kekuatannya sendiri. Orang yang biasa aja selama siang, malamnya jadi cinderella”


“Ah anjing, gue kira di srikandi gue yang paling seksi”


“Kan udah bilang Sa, tete lu kurang maju lima senti”


“Idih lu kira tete gue pinokio? Eh, tapi gue nggak mau nyerah, cewek itu kan belum secara resmi dikenalkan sebagai pacar. Selama janur kuning belum melengkung berarti gue masih ada kesempatan.”


Mereka tertawa geli, terdengar sekali ingin tahu mengenai sosok Laras yang begitu misterius. Setelah itu sekitar beberapa menit mereka keluar dan toilet kembali sunyi. Laras mengintip, setelah memastikan tidak ada orang ia kemudian berdiri di wastafel dan memperbaiki lipstiknya lagi. Setelah selesai Laras keluar, ia terkejut bukan main ketika melihat Angga berdiri di depan pintu toilet.


“Ra, aku mau ngomong” kata Angga tanpa basa-basi menarik paksa Laras keluar,  mereka berdiri di taman belakang tidak jauh dari kolam renang bar.


“Lepasin!” Laras menghempas tangan Angga kasar, ia bisa menangkap siratan marah dari pancaran wajah Angga. “Apa sih mau kamu?”


“Harusnya aku yang tanya gitu? Kamu ngapain kesini? Pakai baju kayak gini, kalo ada yang lecehin kamu gimana?!”


Laras bengong sejenak, ia menelan ludah berusaha menguatkan diri untuk melawan Angga. Tenang Ra, ini cowok yang selingkuhin kamu, bukan tukang bunuh orang, batin Laras. “Aku datang sama Dano karena dia diundang dan bukan aku doang yang pakai baju kayak gini. Cewek kamu juga” balas Laras sewot.


“Aku udah pernah bilang aku nggak suka kamu dekat sama Dano, kamu nggak lihat pergaulan dia kayak gimana? Dan tadi apa? Dia meluk-meluk kamu kayak gitu, kamu nggak malu apa dilihatin banyak orang?”


Laras menggigit bibir, ia merasa kesal. Ingin rasanya berteriak pada Angga dan mengatakan bahwa semua orang di ruangan itu juga tidak malu-malu untuk memeluk pasangannya, bahkan dibeberapa sudut tadi ada yang berciuman. Toh Sera juga memeluk Angga, jadi apa masalahnya? Kenapa cowok itu justru menyalahkan Laras seolah ia baru saja melakukan perbuatan tercela? Harusnya Angga berkaca!


“Bukan urusan kamu” balas Laras gondok setengah mati tapi hanya itu kalimat yang bisa keluar dari bibirnya.


“Urusan aku. Kamu tunangan aku!” balas Angga mulai emosi, ingin rasanya menarik Laras pergi dari tempat ini dan menyelesaikan masalah mereka.


“Emang kamu lihat ada cincin di tangan aku? Enggak kan? Denger ya, aku kesini sama Dano, kamu sama Sera, kita udah enggak ada hubungan. Sekarang masalahnya dimana?” seru Laras kesal setengah mati. Angga bungkam, emosinya saat melihat Laras bersama Dano membuat logikanya mendadak mati. Angga berusaha menepis keras bahwa emosinya ini tercipta bukan karena cemburu, tapi karena Dano yang mengandeng tangan Laras. Angga tidak rela miliknya menjadi milik cowok itu.


“Kamu harus tahu batas. Kita itu sekarang cuman dua orang yang nggak punya hubungan” tambah Laras, ia hendak melangkah pergi namun Angga dengan cepat meraih tangannya menahan langkah Laras. “Apa sih? Lepasin!”


“Kita pulang sekarang Ra, urusan kita belum selesai”


“Aku nggak merasa punya urusan sama kamu!” teriak Laras mencoba melepas genggaman Angga, tapi cowok itu jauh lebih kuat. Dalam sekali tarik Laras sudah masuk dalam pelukannya.


“Aku nggak peduli, tapi aku nggak bisa ngelepasin kamu gitu aja, apalagi ke Dano”


“Kamu gila!” Laras berusaha sekuat tenaga mendorong Angga, tapi cowok itu tidak bergeming. Laras hampir menangis, kalau saja ia tidak mendengar suara Dano memanggil dari arah belakang Angga.


“Laras.”


Laras mendongak. Dano menghampiri mereka dan dengan santai menarik Laras dari Angga. Laras meringis, pergelangannya memerah.


“Ngapain lu bawa Laras kesini?”


“Bukan urusan lu, nggak usah ikut campur!” ketus Angga tidak senang dengan interupsi Dano.


“Urusan gue dong. Lu baru aja bawa pacar gue keluar tanpa permisi ke gue.”


Angga melongo. “Pacar?….” gumam Angga menatap Laras penuh makna. “Jadi ini alasan kamu bisa segampang itu buat mutusin hubungan kita?”


“Yoi, sama gampangnya kayak lu selingkuh, tapi thanks ya, kalo lu nggak selingkuh, Laras mungkin nggak bakal mau nerima gue. Lu mempermudah jalan gue buat dapetin Laras.” .Dano menepuk bahu Angga tenang, ekspresinya terlihat jelas sedang mengejek Angga. Dano merasa menang telak.


Disisi lain Laras menatap kedua orang itu ngeri, wajah Angga memerah tanda ia siap apabila harus berkelahi dengan Dano di tempat ini, tinggal menunggu siapa yang lebih dulu melancarkan tinju dan bisa dipastikan perkelahian akan terjadi.


Dano menunduk seakan ingin berbisik pada Angga. “Ini peringatan buat lu, jangan pernah lu coba-coba nyentuh cewek gue, atau lu bakal habis ditangan gue.”


Laras menelan ludah. “Dano ayo masuk, disini dingin.” Dano mabuk dan Angga emosi. Kedua orang itu bukan kombinasi interaksi sosial yang tepat di situasi ini dan harus dipisahkan sejauh mungkin. “Jangan berantem di pesta orang” tegur Laras ketika mereka masuk ke dalam. Dano tertawa, ia memeluk Laras erat dari belakang dan keduanya berjalan masuk melewati orang-orang yang sedang bersenang-senang. “Kok nggak balik?” tanya Laras ketika Dano justru menuntun langkah mereka menjauh dari sofa Amel. Dano diam tapi tidak kunjung melepas pelukannya, sesekali ia membalas sapaan teman-temannya.


“Siapa nih No? Lu bawa dari mana? Mungil banget kayak boneka” goda salah seorang teman Dano ketika melihat Laras. Matanya menatap Laras takjub seolah cewek itu adalah satwa langkah yang sedang diselamatkan Dano.


“Istri gue” jawab Dano asal. Dano baru melepas pelukannya ketika mereka berada di pojokan, agak jauh dari orang yang sedang menari gila-gilaan. “Mau Ra?” tanya Dano ketika mengambil segelas kecil alkohol. Laras menggeleng, sampai akhir ia konsisten tidak ingin menyentuh minuman itu. Laras pernah mencoba sekali ketika berada di kamar Amel dan rasa alkohol pahit bukan main. Laras tidak mengerti, apa enaknya alkohol sampai harus menghabiskan berbotol-botol? Dano mengangguk menaruh gelasnya di pagar pembatas speaker besar.


“Tadi kenapa kamu bisa diluar?” tanya Laras agak berteriak karena suara musik yang terlalu kencang.


Dano menunduk menarik Laras mendekat. “Saya ngeliat Angga selalu ngelirik kamu dan pas kamu pergi ke toilet saya ngeliat dia ngikutin kamu”

__ADS_1


“Oh karena itu kamu dari tadi dekat-dekat terus sama aku? Aku kira kamu emang udah mabuk. Kamu mau buat Angga cemburu kan? Kamu berhasil, diluar tadi Angga marah-marah, nyuruh aku pulang” balas Laras tersenyum senang.


Dano menghisap rokoknya dan menghembuskan pelan ke arah bahu Laras sebelum mengecup pelan. Laras merinding, tingkah Dano kadang suka membuat kinerja jantungnya bereaksi berlebihan.


“Makasih ya” kata Laras serius.


“Untuk apa?”


“Karena aku ngerasa senang malam ini. Aku pakai dress yang belum pernah aku pake, sepatu cantik, kalung cantik, ketemu teman-teman yang lucu, dan menikmati waktu di acara kayak gini. Aku senang” jelas Laras jujur. “Aku seperti Cinderella yang lagi kena mantra sihir.” Laras menatap Dano lekat-lekat, cowok itu balas menatapnya tenang.


“Kamu tau kan mantra Cinderella itu cuman sampai jam dua belas malam? Ini udah mau jam setengah dua pagi Ra, dan matra kamu masih ada, bahkan mungkin sampai besok dan seterusnya”


“Iya, kamu benar, mantra aku ada terus karena kamu ibu perinya selalu ngikutin aku kemana-mana, jadi efeknya susah hilang” balas Laras tersenyum.


Dano menarik Laras mengelus punggungnya pelan, ia menunduk dan berbisik. “Ra, lihat ke belakang kamu. Ke arah sofa dekat meja bar.”


Laras berpaling ke arah yang ditunjukan Dano, matanya menangkap sosok Angga sedang duduk disitu bersama Sera dan teman-temannya, namun cowok itu menatap Laras dan Dano dengan sikap mengawasi. Laras mendengus langsung memalingkan wajah. “Ihs, aku kira ada apa. Sebel lihat mukanya” gerutu Laras.


Dano menghisap rokok dan membuang puntungnya kebawah lalu menginjak sampai mati, ia mengambil gelas alkoholnya tadi dan sekilas menatap ke arah Angga.


“Udah nggak usah diliatin, cuekin aja” tegur Laras.


“Ra….Cinderella juga nggak bisa ngelakuin ini.”


Dano meneguk alkoholnya dan menarik wajah Laras mendekat. Tubuh Laras menegang, bibir Dano kembali menyentuh bibirnya, namun bukan hanya sekedar kecupan biasa seperti beberapa waktu lalu. Ciuman Dano kali ini lebih menuntut. Dano menggigit bibir Laras membuat cewek itu merintih, dan saat itu ketika bibir Laras terbuka ia bisa merasakan kecapan alkohol bercampur nikotin menyusup masuk ke dalam bibirnya. Sensasi pahit sekaligus manis membuat tubuh Laras ingin meleleh. Pikiran Laras menjadi kacau, karena bukan hanya ciuman, namun tangan Dano juga tidak berhenti mengelus punggungnya. Tangan Laras mendorong Dano pelan, ia tidak bisa bernapas dengan baik.


“Kalo ciuman jangan tahan nafas Ra, kamu nggak lagi di kolam renang” kekeh Dano santai. Laras menunduk, rona wajahnya berubah kemerahan. Ciuman Dano tadi berhasil membuatnya tidak bisa melakukan apapun.


Suara letusan dari party popper confetti menambah sorakan dimalam panjang itu. Laras mendongak tapi hanya sebentar, ia bisa merasakan pipinya memanas. Entah karena ciuman, alkohol, atau Dano yang sedang menatapnya tenang.


“Ayo balik Ra, pertunjukannya udah selesai” bisik Dano untuk terakhir kalinya mengecup kening Laras. Dano melepas jaketnya menutup tubuh Laras dan setelah itu sembari merangkul Laras, mereka melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


...----------------...


Pukul sembilan pagi Laras baru terjaga dari tidur, setelah sempat kebingungan karena intensitas cahaya matahari yang masuk ke kamar lebih besar dibanding biasanya, Laras baru menyadari ia sedang berada di rumah Dano. Laras merenggangkan tubuh, semalam setelah dari pesta Alea, Laras berdebat dengan Dano. Cowok itu berada dibawah pengaruh alkohol dan Laras tidak mau Dano menyetir, karena itu berarti Laras secara sukarela menyerahkan nyawanya pada maut. Setelah berdebat panjang akhirnya keputusan akhir Dano dan Laras balik menggunakan taksi, namun ke rumah Dano, karena tidak mungkin Laras membawa cowok iu menginap di rumahnya. Mau tidur dimana nanti Dano? Kandang Apin? Laras berdiri dari kasur, ia terkejut ketika melihat pantulan dirinya di kaca. Apa yang terjadi semalam kini terlihat dengan jelas. Bekas bibir Dano pada area leher dan bahunya terlihat jelas. Laras menyentuh pelan, ia meringis, sedikit terasa sakit.


“Dasar cowok kurang ajar. Ini aku nutupnya gimana? Masa tiap hari pakai turtle neck ke kampus? Lama-lama aku cabe bibirnya” dengus Laras marah-marah. Laras akhirnya memutuskan untuk keluar, ia membutuhkan baju karena tidak mungkin Laras berkeliaran dengan dress ini sepanjang hari.


“Aduh Neng Laras kok nggak pakai sandal rumah? Entar kakinya kotor loh” tegur Yanti membuat Laras terkejut hampir tersandung di tangga.


“Halo mbak, selamat pagi” sapa Laras kikuk.


“Pagi juga Neng Laras, maaf ya saya nggak bangunin, soalnya kata Mas Dano biarin Neng Laras bangun sendiri. Ayo neng makan dulu, pasti lapar ya?”


“Terima kasih mbak, tapi Dano mana ya?”


“Tuh.”


Laras berpaling, Dano muncul sembari memutar-mutar kunci mobil. Sepertinya ia baru mengambil mobilnya yang ditinggal semalam di parkiran ulang tahun Alea.


“No, pinjem baju” kata Laras tanpa basa-basi menghampiri Dano. Dano termangu menatap Laras, matanya memperhatikan Laras dari atas sampai bawah lalu mengangguk singkat.


“Mbak masak apa?”


“Ikan pepes kesukaannya Mas Dano. Neng Laras nginep lagi enggak?”


“Enggak mbak, saya pulang dikit lagi”


“Aduh jangan dikit lagi, entaran aja. Makan dulu ya. Saya udah capek-capek masak nih demi Neng Laras”


“Iya Mbak Yanti, saya ganti baju dulu ya. Yuk No, masa aku seharian make baju kayak gini” kata Laras lalu mengikuti Dano. Mereka menggunakan lift naik ke lantai dua menuju kamar Dano yang terletak di ujung lorong.


“Aku boleh masuk?” tanya Laras kikuk.


“Kalo kamu suka ganti baju di lorong nggak papa” jawab Dano kalem.


Laras masuk, ekspresinya berubah kagum melihat kamar Dano. Tidak seperti kamar cowok pada umumnya, kamar Dano terlihat sangat rapi. Isi kamar Dano juga cukup membuat Laras melongo. Cat dinding kamar dominan berwarna putih dan abu-abu, di pojokan ada rak kaca berisi mainan mahal milik Dano, kemudian TV dan PS 5 tergeletak di lantai, kasur berukuran besar, dan yang paling menarik adalah sebuah lukisan besar rumah yang tergantung di dinding. Laras menatap lukisan itu lama, ia berdecak kagum ketika melihat nama Dano tergores diujung lukisan.


“Ini kamu yang lukis?” tanya Laras berpaling. Dano tidak menjawab ia malah melempar baju miliknya pada Laras.


“Buruan ganti Ra, saya laper mau makan” kata Dano. Laras mengangguk dan secepat kilat menghilang ke kamar mandi, sekali lagi Laras berdecak kagum, ukuran kamar mandi Dano hampir sebesar kamarnya.


“No, numpang cuci muka” teriak Laras dari dalam kamar mandi.


Dano diam, ia malah merebahkan diri di kasur dan menarik nafas panjang. “Gue bisa gila” gumam Dano. Bagaimana bisa Laras begitu berani keluar dengan dress itu, tanpa alas kaki, dan wajah yang terlihat baru bangun tidur? Aneh, karena penampilan acak-acakan Laras justru membuat hasrat Dano bangkit, hampir saja ia tidak bisa menahan dirinya di depan Yanti. “Dress sialan!” rutuk Dano bergumam.


...----------------...


Seminggu setelah itu, hidup Laras berubah. Ia yang dulu tidak dikenal siapapun perlahan mulai menjadi pusat perhatian beberapa orang. Pesta ulang tahun Alea membuat Laras mendadak menjadi lebih populer, instagramnya yang semula hanya diikuti beberapa orang mendadak menjadi lebih banyak. Beberapa cewek yang penasaran dengan Laras menfollownya untuk melihat apa yang menarik dari cewek itu sehingga membuat Dano seakan bertekuk lutut dihadapannya. Sementara itu beberapa cowok yang jelas-jelas menaruh perhatian pada Laras di malam itu nekat untuk memfollow dan menDM cewek itu untuk sekedar mengatakan hai, meskipun sudah jelas bahwa Dano adalah ‘pawang’ dari Laras tapi mereka tidak peduli. Selama Dano belum memposting foto Laras di instagram, itu artinya mereka masih memiliki kesempatan, begitu kilah mereka. Padahal Dano kan memang tidak memiliki akun instagram.


“Ra, ada salam dari Michael. Katanya jangan lupa main-main ke sekre srikandi” lapor Heru di suatu siang ketika mereka selesai kuliah jam pertama. Manda dan Amel langsung bersiul menggoda.


“Emang ya cewek kalo habis putus aura cakepnya langsung keluar. Mas Anggamu itu pasti sedang menyesal di pojokan” kata Amel seperti biasa menyempatkan diri untuk nyinyir.


“Lu ya Mel, kalo ada lomba membenci Angga, lu juara satu” tawa Manda geli, Amel nyengir.


“Iya dong harus. Hobi sampingan gue sekarang adalah membenci Angga dengan segenap jiwa raga. Lihat Laras sekarang, udah cakep, nggak ada bau-bau Angga lagi”


“Angga kayak kambing ya sampai ada baunya.” Manda geleng-geleng. “Tapi serius Ra, style lu akhir-akhir ini bagus. Gue suka”


“Makasih” balas Laras nyengir, ia hanya mengenakan ripped jeans, kaos berwarna abu-abu, jacket hitam, anting tindik, dan make up tipis. Lipstik coklat ombre di bibir memberikan kesan seksi pada wajah manisnya. Berkat majalah milik Dano, kini penampilan kampus Laras mulai bisa terselamatkan.


“Ru, Dano nggak ngampus ya?”


“Skip kelas, lagi latihan buat lomba di dufan. Kenapa Ra kangen? Udah kalo kangen telepon aja, kasih semangat atau kecupan mesra”


“Ih, aku kan cuman nanya,” Laras cemberut. Heru ketawa, menggoda Laras adalah hobi sampingannya.


“Lomba di dufan? Lomba apa?”


“Lomba naik komidi putar Mel, yang ekspresinya paling bahagia yang menang” jawab Heru sarkas.


“Gue serius” pelotot Amel sewot.

__ADS_1


“Ya menurut lu aja anak srikandi kalo ikut lomba, lombanya apa? Masa baca puisi?”


“Ya siapa tau lomba renang sambil gitaran” balas Amel tidak mau kalah. Laras dan Manda tertawa geli, melihat kedua orang itu ribut adalah hiburan gratis yang menyenangkan. Laras menggigit kerupuk, ia mendongak menatap sekumpulan anak berlari keluar dari kantin, sepertinya sih telat masuk mata kuliah berikutnya. Saat itu tanpa sengaja mata Laras bertabrakan dengan Sera, cewek itu duduk di seberang dan terlihat mencuri pandang ke arah Laras. Ketika tatapan mereka bertemu ekspresi Sera terlihat menegang. Tanpa disangka Laras tersenyum dan setelah itu ia berpaling tidak memperdulikan apapun.


__ADS_2