
Besok Laras akan berulang tahun, sejak kemarin Manda dan Amel sudah merencanakan pesta kecil-kecilan, Brandon dan Samuel menitipkan doa paling indah, Heru pun awalnya begitu tapi mendadak ia menjadi si paling repot harus menyiapkan ini itu karena Dano ingin memberikan surprise terbaik untuk Laras.
“Gue mau buat kue”
“Kenapa nggak beli aja sih?”
“Kalo cinta pake usaha, kalo cuman sekedar ngeluarin duit mah semua orang bisa” ujar Dano seenaknya.
“Tapi cinta lu nyusahin gue!” Terpaksa Heru harus merelakan ruang makan rumahnya menjadi dapur dadakan Dano untuk menciptakan mahakaryanya. Apalagi setelah Dano tau Raya pandai membuat kue, sejak pagi cowok itu sudah ribut kesana-kemari mencari bahan kue dibantu Ayu dan Ningsih.
”Padahal tinggal beli beres” dumel Heru duduk di depan Dano dan Raya sembari bermain game.
Dano mencibir. “Emang gitu mbok kalo nggak punya cinta, dengkinya tinggi.”
Sekitar beberapa jam kemudian kue Dano jadi, awalnya ia berencana membuat kue tiga tingkat tapi ditolak mentah-mentah oleh Raya, dan kemudian berakhir Dano memotong kuenya menjadi dua bagian berukuran sedang
“Mas Heru permisi mau naruh makan malam” kata Ningsih hati-hati menaruh menu makan malam di antara alat pembuat kue yang berserakan di atas meja.
“Ning, ini dibawa ke belakang aja, biar enggak berserakan” pintah Mbok Raya.
“Mbok ini makenya gimana?” tanya Dano agak kikuk memegang whipped cream.
“Begini Mas, nanti ngehiasnya muter aja, terus dihalusin pake ini” jelas Mbok Raya.
“Mbok, mau dibantuin enggak? Itu si Ayu suka ngehias kue” bisik Ningsih tanpa ditanya.
“Oh iya? Panggil aja kesini, biar bisa bantuin Mas Dano.”
Ningsih buru-buru membawa semua peralatan kue ke belakang. “Yu, dicari Mbok Raya, mau minta tolong ngehias kue”
“Hah aku? Tapi aku belum-”
“Ssst, kapan lagi Yu kamu bisa ngerasain jadi Chef Athena. Udah buruan” dorong Ningsih memaksa, akhirnya Ayu pergi ke depan.
“Mbok nyari saya?”
“Ini Yu tolong dibantu hias.”
Dengan hati-hati Ayu mengambil pisau palet dan plastik segitiga. Awalnya Ayu sedikit kikuk tapi rasa percaya dirinya muncul begitu whipped cream keluar dari plastik. Bibir Ayu tidak bisa berhenti tersenyum, hanya menghias sebuah kue tapi rasanya seperti ingin terbang ke langit. Dalam hati ia berterima kasih pada Ningsih.
“Mau dihiasnya kayak gimana Mas Dano?”
Dano mendongak. “Sesuka lu Yu, yang penting bagus.”
Ayu mengambil whipped cream dan mencampur dengan warna merah muda. Perlahan di atas kuenya yang sudah dilapisi whipped cream putih Ayu membuat bentuk melingkar naik turun menjadi bunga mawar berwarna merah muda dan menaruh bulatan kecil berwarna putih di tengah bunga. Setelah selesai Ayu menghias bagian samping dengan pita merah muda. Sesederhana itu tapi membuat Raya menatap takjub.
“Yu, cantik sekali, kamu belajar dimana?” puji Raya.
“Dari nonton Chef Athena di ponselnya mbak Ningsih”
“Wah Yu, bakat itu namanya!” ujar Dano senang melihat hasil karya Ayu. “Sini Yu gue fotoin, biar nanti gue kasih tau ke Laras siapa yang buat kue ini.” Ayu langsung tersenyum sumgringah mengangkat kuenya.
“Ru, minggir lu” usir Dano. Tanpa diduga Heru malah berdiri di belakang Ayu, tubuhnya yang tinggi membuat Heru seenaknya menaruh tangan kirinya di atas kepala Ayu dan ikut tersenyum lebar ke arah kamera.
“Satu, dua, tiga…Coba gaya bahagia, oke. Satu, dua, tiga..nah sekarang gaya putus asa” canda Dano. Ayu tersenyum manis melihat hasil fotonya. Ah sayang sekali, seandainya ponsel Ayu bisa digunakan untuk mengirim foto seperti milik Ningsih, sudah pasti Ayu akan mengirimkan foto itu kepada Asih dan Adit.
“Yu tolong bungkusin ya, hati-hati biar enggak rusak hiasan kamu” perintah Raya. Ayu mengangguk menatap seksama hasil karya pertamanya. Hari ini Ayu merasa keren sekali.
...----------------...
Perayaan ulang tahun Laras dirayakan sederhana, hanya potong tumpeng buatan Sri dan acara makan-makan kecil, setelah itu dilanjutkan cipika cipiki dan buka kado.
__ADS_1
“Ini hadiah istimewa dari kita” kekeh Amel semangat. Mata Laras menatap haru pada satu set alat gambar dan buku sketsa yang dibungkus kotak coklat.
“Untuk mendukung Ibu Laras yang lagi hobi-hobinya menggambar” ujar Manda. Laras memeluk teman-temannya satu persatu.
“Makasih banyak ya. Aku sayang banget sama kalian”
“Panas Ra!” kata Amel mendorong Laras menjauh.
“Ih Amel malu-malu” goda Sri.
“Gue geli dipeluk cewek lama-lama”
“Berarti maunya kalo dipeluk cowok lama-lama dong?” tanya Sri, Amel nyengir lebar.
“Ngomong-ngomong mana nih pacar lu? Kok belum muncul batang hidungnya? Kemarin aja merengek pengen gabung kita, sekarang malah nggak muncul” tanya Amel.
Laras angkat bahu. “Tadi pagi sih udah ngucapain happy birthday terus katanya mau main ke rumah Heru. Mungkin entar siangan baru datang.” Dugaan Laras meleset, sampai pukul lima sore tidak nampak batang hidung Dano muncul, cowok itu juga tidak mengirim pesan seperti biasa. Keempat cewek itu menunggu bosan, terutama Amel yang ingin sekali menghabiskan jatah nasi kuning Dano.
Laras: Kamu nggak datang, jatah nasi kuning kamu aku kasih ke Amel.
Laras menekan tombol kirim lalu kembali menatap ke arah layar TV, menonton acara sinetron kesukaan Sri yang terkadang jalan ceritanya diluar nalar.
“Ra jajan mie ayam yu, dibayarin Manda” colek Amel.
“Idih yang bilang mau traktir siapa?” protes Manda.
“Yuk jajan, aku aja yang bayarin. Yuk Sri” kekeh Laras. Selanjutnya keempat cewek itu asik nongkrong di depan rumah. Menghabiskan waktu mengobrol dengan penjual mie ayam sembari sesekali iseng mengomentari gaya ibu-ibu kompleks mau senam sore di balai RT dekat persimpangan jalan.
“Ra, masker muka lu minta dikit” kata Amel memakai masker Laras. Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam dan kini keempatnya sudah berpindah duduk di ruang tamu yang dijadikan spa dadakan. Suara pintu diketuk membuat wajah Laras berpaling.
“Ada yang mesan food online?”
“Mesan barang online?”
“Enggak juga”
“Yaudah cuekin aja”
“Ih Laras kebiasaan!” geleng Sri langsung berdiri membuka pintu.
“Happy–HAAAHHH!!” Dano, Heru, dan Brandon kompak berteriak histeris saat melihat wajah hitam Sri karena masker. Amel mendongak kaget lalu tertawa kencang menyadari apa yang sedang terjadi, sementara Manda muncul terburu-buru dari belakang, dikira ada maling masuk.
“Kenapa sih teriak-teriak, udah malam tau” ujar Sri kalem.
“Elu yang kenapa. Muka lu noh, habis kena azab?” dengus Heru keki.
“Ngapain kalian kesini? Kalo mau merayakan ulang tahun Ibu Laras dari pintu aja” kata Manda.
Dano cuek tanpa permisi masuk menghampiri Laras. “Selamat ulang tahun pacarnya Dano, meskipun muka kamu sekarang nggak tau kenapa hitam begitu tapi saya tetap sayang.” Laras menahan diri untuk tidak tertawa karena takut maskernya retak, sebagai ganti ia memeluk Dano erat lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
“Samuel mana?” tanya Manda celingak-celinguk.
“Ada acara keluarga. Nih dititipin Samuel, gue yang beli sih tapi pake uang dia” jawab Brandon menyerahkan sekotak besar pizza.
“Ra, ini kue buat kamu, saya yang buat sendiri loh. Enggak sendiri sih, dibantu orang rumahnya Heru” pamer Dano membuka box berisi dua buah kue.
“Cantik banget, ini serius kamu yang buat?”
“Yang ini aku yang buat, terus yang ini dibuat Ayu”
“Ayu? Siapa tuh?”
__ADS_1
“Nih anaknya.” Dano langsung menunjukan foto Ayu dan Heru yang diambil kemarin. Teman-temannya cekikikan geli, cara Dano berinteraksi dengan Laras persis seperti bocah TK baru pulang sekolah dan semangat menceritakan hari-harinya.
“Siapa nih Ru? Mungil banget. Lu udah bosan ya sama Danella? atau ini cuman ban serep kesekian?” tuduh Amel.
“Asisten rumah tangga gue” dengus Heru mengambil satu potong pizza.
“Punya Ayu cantik, tolong ucapain makasih ya”
“Punya saya gimana Ra?”
“Cantik juga. Makasih ya pacarnya Laras.”
Amel meringis. “Nggak usah lu mesra-mesraan depan gue, jijik gue lihatnya”
“Iya bener. Lagian apa sih Dano, mau banget dipuji Laras, kayak nggak pernah dipuji bapaknya” tambah Manda setuju.
Dano menjulurkan lidah dengan tampang belagu “Sayang lihat itu teman-teman kamu, sirik banget, kamu mending ganti teman deh”
“Eh kunyuk, kalo harus ngeganti orang di hidup Laras, lu ada di list paling pertama” balas Amel sengit.
Dano mencibir. “Halah, sirik. Eh ngapain lu? Laras aja belum nyoba, seenaknya lu mau ngambil.” Dano memukul tangan Brandon, cowok itu meringis.
“Pelit banget lu!”
“Biarin!”
“Nih aku udah ambil, kamu ambi aja Bran” kata Laras geli. Tanpa dikomando dua kali kue dari Dano langsung disikat anak-anak sampai habis tidak bersisa. Dano bengong, kan niatnya spesial untuk Laras.
“Anak-anak babi” maki Dano, tau begitu mending ia membawa Laras pergi berdua dengan dirinya biar tidak ada yang menganggu.
“Wih Dano pinter banget buat kue. Laras sering-seringlah ulang tahun, biar tiap hari makan kue” seru Sri, Dano mendengus tapi tetap pasang tampang bangga.
“Dibantuin Ayu aja bangga lu” cibir Heru.
“By the way, si Ayu lucu banget deh, gara-gara diomelin lu jadi rajin belajar bahasa Inggris” cerita Brandon tiba-tiba.
Heru berpaling. “Oh iya?”
“Makanya jangan marah-marah mulu. Tumbuh kembang orang rumah juga harus diperhatikan” kekeh Brandon menceritakan kejadian bersama Ayu tempo lalu.
Manda tertawa geli. “Polos banget anaknya. Lu ternyata bisa jahat juga ya Ru”
“Emang gue jahat. Di rumah suka makan orang” jawab Heru santai.
“Gue tuh tiap kali ngelihat Ayu berasa lihat Mickey kucing adik gue. Rasanya pengen gue peluk dengan penuh kasih sayang”
“Gatal lu Bran!” maki Amel.
“Lah gue kosong, bebas dong mau peluk siapapun.”
Heru dan Dano spontan tertawa ngakak langsung berpaling pada Manda. “Tuh Nda, buruan diisi, biar nggak bisa peluk sana sini”
“Apaan sih lu Her, bercanda mulu kerjanya” dengus Manda, mendadak pipinya memerah karena malu. Heru cekikikan geli, puas rasanya meledek Manda yang sedang tarik ulur dengan Brandon sampai sekarang.
“Ru, si Ayu suka apa? Mau gue beliin sesuatu sebagai rasa terima kasih” bisik Dano bertanya.
Heru angkat bahu. “Coba lu tanya bapaknya, beliau yang lebih tau. Ayu bukan anak gue jadi gue nggak tau”
“Si anjing jawabannya” keplak Dano gemas.
“Eh sini, foto dulu…buruan” kata Laras sembari mengeluarkan ponsel menghentikan niat Heru untuk membalas jitakan Dano.
__ADS_1