
Menurur cerita Joji, ia sudah bekerja sebagai konten kreator selama hampir dua tahun. Joji memutuskan untuk mengejar passionnya setelah beberapa tahun berkutat dalam ruangan berkaca sibuk mengurus laporan keuangan. Joji memiliki sifat yang ramah dan menyenangkan, ia suka bercanda melemparkan lelucon lucu yang membuat staff cafe tertawa geli, bahkan tanpa terasa sudah tiga hari Joji berada di situ merekam kegiatan staff kafe.
“Wah gue harus nyiapin tanda tangan yang kece nih, takutnya pas terkenal banyak yang minta tanda tangan” canda Artha.
“Harus rajin catokan juga Tha” tambah Ivanka. Mereka berempat duduk menikmati suasana sore hari sembari mengomentari hasil rekaman di hari itu.
“Ih Yu, cantik. Harusnya lu bilang hai gaess, kita lagi mau buat kue nich. Biar kayak youtubers” ujar Artha.
“Aku ngomong gitu entar malah pada enggak mau kesini”
“Pasti mau Yu, kita kan cantik”
“Artha kalo ada kejuaraan pede, dia jadi juara utama”
“Tapi emang cantik kan kak?”
“Iya, Artha cantik banget, kalo enggak cantik gue ngerekamnya dikit-dikit aja” jawab Joji, Artha mengibas-ngibas rambutnya sengaja sampai Ayu menggeleng dengan tawa geli.
Sejak hari itu, Joji makin sering ke kafe, sesekali ia membawa temannya dan menghabiskan sepanjang hari bekerja disitu. Lama kelamaan Joji seperti teman sekaligus marketing kafe, tidak jarang ia mempromosikan kafe secara gratis lewat postingan media sosial. Ayu sendiri jadi belajar sedikit-sedikit tentang kamera. Selain ramah Joji juga pandai untuk mengajari orang, bahkan sesekali ia atau Artha menjadi model dadakan Joji.
“Jangan cinta-cintaan Yu, entar nggak jadi sekolah loh” goda Ningsih ketika Ayu menceritakan Joji.
“Ah mbak bisa aja. Ya nggak mungkin dong, aku itu suka aja berteman sama Mas Joji, supel banget anaknya”
“Kenalin ke aku aja Yu, siapa tau obrolannya nyambung”
“Tumben mbak mau nyari pacar, aku kira mbak mau fokus menjadi kaya raya”
“Fokusku masih sama sih Yu, cuman akhir-akhir ini keganggu sama Dini. Tuh dia ada pacar, kerjaannya tiap hari ngomongin pacaranya mulu, kan jadi pengen. Aku juga mau pamer ke Dini” cerita Ningsih, Ayu tertawa geli.
Tapi ya begitulah cerita tentang Joji, cowok baik yang masih sering singgah di kafe. Setiap hari ada saja tingkah dan candaan lucu Joji yang selalu Ayu bagikan pada orang rumah, sama seperti Ayu mereka juga ikut tertawa geli dan kemudian menjadi penasaran dengan sosok cowok itu.
Emm tapi, bukan mereka, hanya sebagian, karena tentu saja cerita Ayu tentang Joji tidak menarik bagi satu orang. Ya, benar, Heru. Heru sama sekali tidak terpengaruh, reaksinya yang datar dan terkesan tidak acuh membuat Ayu memutuskan berhenti bercerita tentang Joji. Mungkin karena sedang merencanakan bisnisnya yang memusingkan jadi semua hal terasa tidak lucu lagi bagi Heru, pikir Ayu.
“Mas perginya berapa lama?” tanya Ayu sembari menata pakaian Heru ke dalam koper, malam ini Heru akan berangkat ke Kalimantan bersama Dano.
“Seminggu doang” jawab Heru masuk kamar mandi.
Ayu memeriksa lagi semua barang, memastikan tidak ada yang tertinggal. Ponsel Ayu berbunyi, ada pesan masuk dari Joji mengirimkan link video hasil rekaman tempo hari. Mata Ayu berbinar senang menonton vlog promosi kafe mereka, ia larut dalam video itu sampai tidak menyadari kehadiran Heru.
“Nonton apa?”
Ayu mendongak sekilas menunjukan video. “Ini hasil rekaman Mas Joji, keren kan mas? Lihat ini Artha sama saya lucu banget, eh Mas Heru, ini yang namanya Mas Joji” beritahu Ayu semangat, Seperti biasa Heru melemparkan tatapan acuh tidak acuh. Belum selesai videonya ditonton, ponsel Ayu berdering lagi. Ada panggilan masuk dari Joji. “Halo mas gimana?”
[Videonya udah dilihat Yu?]
“Lagi saya tonton mas, baru setengah, bagus banget mas entar mau saya tunjukin ke orang rumah” jawab Ayu riang.
__ADS_1
[Kapan-kapan buat lagi mau nggak Yu? Bareng Artha, tapi video pendek aja, untuk instagram]
“Emang boleh mas?”
[Boleh dong, kan kalian berdua udah latihan jadi model waktu rekaman kemarin]
“Ah Mas Joji bisa aja” tawa Ayu geli, sesaat ia lupa seseorang berdiri di belakang menatapnya dengan ekspresi tidak senang.
“Sayangggg, jam tangan aku mana?”
Ayu berpaling, agak terkejut mendengar pertanyaan Heru. Dari seberang Joji juga mendadak diam, ia tentu saja mendengar jelas suara Heru. “Iya mas gimana?”
“Jam tangan aku mana?
“Hah?...Eh, iya mas bentar saya ambilin. Mas Joji udah ya” kata Ayu seperti tersengat lebah.
[Oke Yu, lagi sibuk banget ya kayaknya. Yaudah, nanti aja kita ngobrol lagi di kafe] jawab Joji terdengar agak kecewa, setelah itu sambungan telepon dimatikan dan Ayu berdiri mengambil jam tangan Heru dari laci lemari.
“Mas Heru mau yang mana?” tanya Ayu menatap berbagai jenis jam tertata rapi disitu.
“Sini gue aja.”
Ayu melongo, Heru kembali dengan mode datar seperti biasa saat sedang kesal pada sesuatu. Heru mengambil kotak jam tangan berwarna hitam. Batin Ayu menjerit, kalau bisa ambil sendiri kenapa harus nyuruh? “Mas kenapa?”
“Nggak papa.”
“Iya. Lu siang ketemu Joji, malam teleponan. Itu si Joji nggak ada kerjaan apa? Kayak luang banget waktunya.” Ayu tercekat, ia hampir saja tertawa kencang ketika melihat perubahaan ekspresi Heru. Mas Heru cemburu ya? batin Ayu heran “Kalo dia nggak ada kerjaan sini gue bantuin nyari kerja, biar nggak main terus”
“Mas Heru”
“Apa?”
“Maaf ya, saya enggak tau Mas Heru keganggu sama Mas Joji, saya janji enggak lagi ngebahas Mas Joji”
“Gue bukan keganggu, cuman heran aja dia bisa seluang itu waktunya buat main terus ke kafe” elak Heru tidak ingin harga dirinya tercoreng karena Joji, padahal sebenarnya hatinya cemburu habis-habisan.
“Iya apapun alasannya, saya minta maaf.”
Karena tidak ada tanggapan dari Heru Ayu memilih menutup koper cowok itu, ia tahu Heru ngambek dan mungkin besok baru mood cowok itu akan kembali baik, seperti biasa Ayu memilih untuk diam dan mengalah menghadapi tingkah Heru. Ayu mendorong koper ke pinggiran tempat tidur agar tidak menghalangi jalan, ia baru saja akan berbalik tapi tertahan karena Heru memeluknya dari belakang.
“Di Kalimantan hati-hati, jangan lupa makan, kerja jangan sampai nggak inget waktu.” Ayu mengelus lingkaran tangan Heru lembut.
“Lu ikut aja mau nggak? Nemenin gue?”
“Nggak bisa, saya kerja, biar gini-gini saya bukan pengangguran” kekeh Ayu.
“Saya....aku...kamu” gumam Heru pelan. “Mas Heru....Mbak Ayu...”
__ADS_1
“Mas Heru”
“Iya?”
Ayu balik badan mendongak menatap cowok itu. “Mas Heru udah nggak marah kan?”
“Saya enggak marah, cuman masih kesel sama kamu”
“Mas ngomong pake saya-kamu gitu lucu banget”
“Terus maunya apa? adinda kakanda?”
“Ih geli!” geleng Ayu tertawa.
Heru menunduk menarik wajah Ayu dan mendaratkan ciuman manis di wajah cewek itu. Awalnya hanya ciuman biasa lama kelamaan semua berubah, Heru menuntun langkah Ayu sampai cewek itu terjepit di antara dirinya ada pinggiran kasur, ia mendorong Ayu pelan dengan kedua tangan menahan tubuh Ayu agar bisa berbaring di kasur sementara dirinya tetap berada di atas Ayu.
“Mas?” panggil Ayu ketika Heru melepaskan ciumannya dan memainkan ujung rambut Ayu.
“Kalo saya ke Kalimantan terus enggak ada sinyal gimana? Kamu beneran nggak mau ikut?”
“Kan udah saya bilang Mas, saya bukan pengangguran” geleng Ayu. Heru menghela napas kecewa, ia berbaring di samping Ayu sembari memeluk tubuh Ayu erat.
“Yu...”
“Hmm?”
“Pacaran aja yuk, kamu nggak bosen hubungan kita gini-gini aja? Kalo saya jadi pacar kamu Yu, kamu bebas mau apa-apain saya.”
Ayu berpaling terkejut. Benar , hubungan Heru dan Ayu sudah berlangsung lama tapi Ayu baru menyadari tidak ada kata yang tepat untuk menjelaskan hubungan mereka. Sepertinya eksistensi Heru di hidup Ayu membuat dirinya merasa terlalu nyaman, lucu, padahal dulu Ayu stres setengah mati setiap kali berhadapan dengan Heru yang hobinya marah-marah.
“Kenapa tiba-tiba mas?”
“Nggak tiba-tiba kok, ini udah pake perencanaan matang” jawab Heru agak salah tingkah ditatap Ayu.
“Kalo saya enggak mau?”
“Kamu saya paku di dinding kamar” balas Heru sembarangan.
Ayu tertawa tangannya menyentuh pipi Heru. “Mas yakin mau sama saya?”
“Emang kamu kenapa Yu? Kalo tengah malam berubah jadi siluman ular?”
“Ih bukan itu. Maksud saya Mas Heru yakin? Saya itu nggak punya apa-apa mas, cantik enggak, pinter enggak, dan juga saya cuman pembantu di sini” kata Ayu pelan tapi terlihat murung.
“Yu, biar saya meluruskan. Pertama, kamu itu udah bukan pembantu, kamu tinggal disini tapi kerja di tempat lain, jadi kamu itu seharusnya disebut anak kosan. Kedua, kalo kamu enggak ngerasa cantik dan pinter yaudah terserah kamu, tapi saya enggak ngerasa begitu. Saya suka kamu apa adanya Yu.”
Ayu diam menepuk-nepuk lembut pipi Heru. “Yaudah kalo gitu, ayo pacaran, saya enggak mau dipaku di dinding.”
__ADS_1
Heru ketawa geli. “Nah kan Yu? Daripada kamu dipaku di dinding, mending kamu dipaku di hati saya aja.”