
Sekarang setiap sore Ayu memiliki jadwal latihan bersama Heru, sudah hampir dua minggu mereka berlatih. Porsi pelatihan Ayu juga semakin bertambah, latihan fisik awalnya dimulai dari lari satu putaran kompleks kini berkembang menjadi lima putaran. Heru ternyata adalah orang paling kompetitif yang pernah Ayu temui, cowok itu serius sekali berlatih seakan mereka akan menghadapi turnamen nasional.
“Si Dano jago main Yu, Laras juga udah curi start latihan dari sebelum Udin cup diadakan. Rada nggak seimbang sih, jadi harus cepat-cepat lu seimbangin” info Heru.
Ayu mendengus lalu berhenti berlari, ia meneguk sebotol air. Keringatnya sudah bercucuran sejak tadi. Meskipun di kampung dulu Ayu terbiasa panas-panasan di sawah, tapi ia bukan atlit. Lari lima putaran tanpa henti sama saja dengan menggarap hampir setengah sawah milik Pak RT. Heru menahan senyum melihat tampang Ayu. Matanya menatap cewek mungil itu dari atas sampai bawah. Dengan kunciran dan seragam olahraga yang dikenakan Ayu membuatnya terlihat seperti bocah baru lulus SMP. Tapi mengenakan seragam olahraga itu lebih mending dibanding tempo hari Ayu hampir memakai rok panjang dan baju panjang dihari pertama mereka latihan, karena Ayu sama sekali tidak memiliki baju olahraga. Kalo dingat-ingat lagi tingkah polos Ayu saat itu berhasil membuat Heru tertawa geli.
“Yu ayo, setengah putaran lagi!” ajak Heru menarik tangan Ayu berlari mengikutinya. Selanjutnya sekitar empat jam lebih keduanya sibuk berlatih di halaman samping dekat garasi mobil. Permainan Ayu mulai meningkat, ia semakin jago memukul bola kesana kemari membuat Heru sedikit kewalahan menghadapi pukulan cewek itu. Satu kekurangan Ayu adalah tubuhnya terlalu pendek untuk berlari cepat saat mengejar bola net dari Heru.
“Kayaknya gue bakal minta Pak Toto buat nyingkirin meja billiard deh. Nanti kita latihannya di ruang billiard aja, disini anginnya suka rada-rada nakal. Kalo perlu gue sewa lapangan badminton, biar kita bisa latihan lebih serius disana. Gimana Yu menurut lu?” gumam Heru saat mereka beristirahat. “Yu, Ayu” teriak Heru mengangetkan ketika menyadari Ayu tidak menanggapi perkataannya, wajah cewek itu berpaling agak linglung.
“Lu dengerin gue nggak?”
“Enggak” geleng Ayu jujur. “Mas, mau jajan bakso nggak?”
Heru mendongak menatap ke arah belakang Ayu. “Lu laper?”
“Iya. Saya nonton di TV, atlet itu makannya harus banyak biar staminanya makin oke.”
Heru tersenyum geli. “Sejak kapan lu jadi atlit? Ada-ada aja lu. Tapi yaudah, yuk, gue traktir”
“Eh, saya nggak minta traktir loh mas, saya cuman mau ijin beli bakso” geleng Ayu menolak halus. Ia bangkit berdiri memesan bakso dan duduk di depan pagar rumah diikuti Heru. Sore-sore begini memang paling enak menikmati semangkok bakso hangat.
“Lu suka bakso ya Yu?” tanya Heru basa-basi. Ayu berpaling lalu berbisik pelan.
“Saya laper.”
Heru nyengir lebar. “Lu tau rumah ini dari mana Yu?”
“Maksudnya?”
“Lu bisa kepikiran daftar kerja di rumah ini gimana? dapat informasi darimana?” jelas Heru.
“Dari Mbak Ningsih. Dulu waktu lebaran Mbak Ningsih pulang kampung, terus saya diajakin kerja disini juga. Katanya gajinya oke dan aman”
__ADS_1
“Terus lu mau?”
“Kalo enggak mau, saya enggak akan duduk di sebelah Mas Heru sambil makan bakso” senyum Ayu geli.
“Kenapa mau?” tanya Heru terdengar bodoh, tapi sejujurnya ia memang ingin tahu. Ayu itu dua tahun lebih muda dari Heru, seharusnya di umur segitu ia masih bermain bersama teman-teman sebayanya.
“Karena saya butuh uang” jawab Ayu lugas. “Adik saya Adit butuh uang untuk sekolah, kalo cuman ngandelin uang ibu, kami nggak akan bisa makan. Saya juga enggak pintar mas, jadi mending Adit aja yang sekolah”
“Lu kangen sama nyokap?”
“Iya. Mas juga kangen nggak?” tanya Ayu keceplosan, selanjutnya ia mengigit bibir dan menunduk menatap ke arah kuah bakso. “Maaf mas saya nggak bermak-”
“Nggak tahu” jawab Heru memotong perkataan Ayu. Wajah Heru mendadak suram, matanya menatap jauh ke arah langit sore. Kapan terakhir kali Heru mambahas mamanya? Setahun lalu Dua tahun lalu? Atau tidak pernah? Heru bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa rindu pada mamanya.
“Saya tiap makan enak kayak gini jadi kangen sama ibu dan Adit. Kira-kira bisa enggak ya saya beliin mereka makanan enak kayak gini. Dulu waktu awal-awal kesini saya sering nangis, kangen sama ibu” kata Ayu buru-buru mengalihkan topik.
“Sekarang udah enggak?”
“Udah mendingan. Saya kangen kalo misalnya Mas Heru marahin-” Ayu langsung membekap mulutnya sendiri, sekali lagi ia hampir keceplosan. Ayu memukul pelan bibirnya. Kebiasaan suka nyerocos seenaknya! batin Ayu menjerit
“Saya nggak ngomong gitu” elak Ayu. Heru menahan senyum.
“Gue galak banget ya Yu?”
“Enggak tau mas, saya sih biasa aja”
“Biasa aja tapi trauma” ledek Heru. Ayu mencibir. “Oh udah bisa mencibir ya sekarang”
“Enggak kok. Mas Heru aja kali yang terlalu sensitif” geleng Ayu memalingkan wajah, perasaannya terasa lebih ringan, diam-diam tanpa sadar sudut bibir Ayu bergerak, menampilkan senyum kecil.
...----------------...
Ayu menempelkan koyo hampir ke sekujur tubuh, ia memijat-mijat kakinya yang terasa pegal lalu berbaring di kasur.
__ADS_1
“Capeknya baru kerasa ya Yu?” tanya Ningsih kasihan.
“Dari kemarin udah kerasa mbak, cuman hari ini kaki aku kayak mau lepas.”
Tubuh Ningsih bergerak menghadap ke arah Ayu. “Setiap hari latihan sama Mas Heru gimana?”
“Sampai hari ini sih masih baik-baik aja mbak, enggak tau deh kalo galaknya kumat, aku bisa dikeplak pake raket kali.”
Ningsih tertawa geli. “Nanti kalo udah tanding aku boleh ikut nonton nggak Yu?”
“Kalo itu aku nggak tau mbak, tadingnya dimana aja aku enggak tau. Makanya aku pengen ini cepat-cepat kelar. Mending aku seharian di dapur daripada lari keliling kompleks lima putaran. Lama-lama kakiku bisa lepas”
“Kalo gitu semisal kamu menang aku mau dibagi hadiahnya.”
Ayu nyengir. “Boro-boro berharap menang, kayaknya mbak harus doain aku enggak dikeplak raket.”
Ningsih mematikan lampu dan menarik selimut. Dari kejauhan lampu rumah keluarga Levronka menerangi kamar mereka melalui jendela kamar yang sengaja dibiarkan terbuka. Ningsih lebih suka angin malam dibanding menyalakan AC.
“Ngomong-ngomong mbak. Mas Heru itu kayak punya dua kepribadian”
“Maksud kamu?”
“Hmm….Mas Heru itu kadang galak banget, tapi kadang baik banget. Sampai aku itu sempat mikir Mas Heru punya saudara kembar. Kalo ngingat Mas Heru dulu pernah ngebentak aku, rasanya orang yang latihan badminton sama aku tiap sore itu bukan orang ya sama” jelas Ayu serius.
“Dulu Mas Heru anaknya baik kok Yu. Cuman setelah Pak Henry nikah, tiba-tiba Mas Heru jadi emosian. Mungkin kaget kali ya Yu punya ibu baru. Mana umurnya sama kayak Mbak Dini. Pantesannya jadi kakak Mas Heru sih” cerita Ningsih. “Dulu waktu pertama kali kerja aku ketemu Bu Eva, baik banget orangnya. Cuman ya itu, anak tirinya mendadak jadi tengil. Suka pulang malam, kadang nggak pulang, bahkan pernah sampai Bu Eva nangis”
“Karena apa mbak?” tanya Ayu tertarik.
“Aku enggak paham banget sih Yu, soalnya berantemnya pake Bahasa Inggris, seru Yu, kayak lagi nonton film barat. Cuman menurut Mbok Raya, Mas Heru menolak pindah ke Singapura. Tapi diam-diam aku bersyukur sih Yu, soalnya kalo Mas Heru pindah, rumah ini bakal dijual. Aku nggak bisa bayangin kalo rumah ini dijual dan kita dipecat”
“Tapi bisa aja kan Mbak, kita kerja sama tuan rumah yang baru”
“Ya kalo baik. Kalo jahat gimana? Lagian Mas Heru itu meskipun galak, dia nggak pernah motong gaji.”
__ADS_1
“Jadi mbak ini benci nggak sama Mas Heru?” goda Ayu iseng.
“Cinta dan benci Yu, kayak lagunya Geisha. Cinta kalo gajian, benci kalo hari-hari biasa haha” kata Ningsih tergelak dalam perkataannya sendiri.