Ms. Norak

Ms. Norak
Badai Yang Akan Datang


__ADS_3

“Ra bangun, entar jadi kebo loh.”


Laras mengerjapkan mata, berpaling ke arah suara di samping. Mata Laras membulat terkejut, Dano sedang berbaring sambil memutar lagu lingsir wengi. Kinerja tubuh Laras bekerja dua kali lebih cepat, tangannya melayang memukul lengan Dano kencang.


“Kamu ngapain sih?!”


“Bangunin kamu, habis dari tadi dibangunin Manda kamu nggak bangun-bangun”


“Mana Manda sama Amel?”


“Sarapan di bawah, dari setengah jam lalu”


“Jadi dari tadi kamu disini?!” mata Laras membulat jengkel. Dano cengengesan tapi tetap berbaring sampai Laras gemas sendiri dan melempar cowok itu dengan bantal.


“Buruan Ra, biar bisa nyusul sarapan di bawah”


“Menu sarapannya apa?” Laras bangkir dari kasur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar.


“Fried rice with egg and cooled water with some ice, tea, and sugar.”


Laras bengong sejenak lalu mencak-mencak. “Bilang aja nasi goreng telur sama es teh!” teriak Laras dari kamar mandi, Dano ketawa.


Setelah itu keduanya turun ke bawah, anak-anak sudah selesai sarapan tapi masih duduk disitu ditemani rokok dan petikan gitar Heru yang entah ia pinjam dari mana.


“Selamat pagi tuan putri” sapa Amel paling pertama. Laras nyengir menarik kursi sementara Dano mengambil sarapan mereka.


“Kok kalian nggak bangunin?”


“Dilarang Dano. Katanya biarin lu tidur, biar jadi kebo.”


Laras mendengus lalu mencubit Dano gemas ketika menarik kursi duduk di sampingnya.


“Inilah gambaran rumah tangga gue dimasa depan nanti, banyak KDRT” ujar Dano cuek. Teman-temannya ketawa ngakak sementara Laras mencibir.


“Kalian pacaran?” tanya Reni buka suara. Laras mendongak, sekilas ia bisa merasakan pancaran tidak suka dari Reni untuknya.


“Udah mau nikah, soalnya Dano gatal kalo lagi dekat-dekat Laras” jawab Manda lugas, teman-temannya ketawa lagi dan sepanjang sarapan itu Laras hanya bisa mendengus sambil mengunyah makanannya mendengar godaan teman-temannya.


“Gue duluan ya sama Reni, entar kalian nyusul aja” kata Alisa mengajak Reni pergi. Ekspresi Reni terlihat tidak bersemangat saat mengikuti Alisa. Heru melemparkan tatapan penuh makna pada Dano yang angkat bahu.


“Gue ganteng sih” ujar Dano kalem langsung kena sabit kulit kacang.


“Cowok lu tuh Ra. Ajarin yang bener” kata Brandon.


“Hmm, iya iya. Nanti aku masukin paud” balas Laras cuek.


Heru mematikan puntung rokok di asbak, wajahnya mendongak dan dalam sekejap ekspresinya berubah terpana ketika melihat seorang cewek datang bersama anjing kecil.


“Tolong bilang kalo ini bukan surga” gumam Heru membuat teman-temannya berpaling. Brandon bersiul pelan, Samuel pura-pura tidak tertarik, sementara Dano malah lebih sibuk menopang dagu sembari menganggu Laras makan.


“Sekarang saatnya gue jadi gembala anjing” kata Heru tanpa ragu berdiri mendekati cewek itu. Teman-temannya hanya melihat gerak-gerik Heru dari kejauhan, Heru seperti terhipnotis dengan kecantikan cewek itu.


Setelah beberapa saat Heru kembali, tampangnya bahagia. “Namanya Olivia, liburan disini, kuliah di Inggris”


“Nama anjingnya?”


“Nggak tahu, gue nggak nanya” jawab Heru langsung kena timpuk sendok.


“Itu cewek emang cantik, dari awal kita kesini gue udah terpesona sama dia” ujar Amel ikut memperhatikan gerak-gerik Olivia dari balik meja bar kafe.


“Ketemu lagi, gue mau minta kontaknya” kata Heru optimis. Manda nyengir lalu menunjuk dengan dagu.


“Kubur mimpi lu.”


Heru berpaling, tatapannya berubah kecewa ketika melihat seorang cowok datang mendekati Olivia. Mereka terlihat sangat akrab dan jelas menunjukan bahwa ada sesuatu di antara mereka.


“Udeh lu fokus aja sama adek Alisa. Masih segar gitu” ejek Manda puas. Heru mendengus lalu setelah itu senyumnya mengembang lebar.


“Atau gue fokusnya ke elu aja Nda?”


“Idih nggak mau!”


“Loh kenapa? Hati gue lebar loh, muat buat nampung elu”


“Nggak mau najis. Cuih cuih” tolak Manda mentah-mentah, Heru nyengir.


“Entar malam box ikannya jangan lupa. Kata staff penginapan, boxnya dititip di kafe, tinggal diambil” kata Samuel membaca pesan di ponsel.


“Acara apa?” tanya Laras.


“Bakar-bakar ngerayain sunatan Dano, cuman kali ini bentuknya dibuat zigzag” jawab Brandon sembarangan langsung kena lempar asbak oleh Dano, sementara Laras hanya bisa melongo melihat teman-temannya tertawa ngakak.


...*****...


Laras bertugas mengembalikan box, meskipun hanya satu box tapi itu cukup kuat membuatnya misuh-misuh karena kalah suit dari Brandon.


“Vibe dua botol ya Ra, yang rasa leci” teriak Brandon melambaikan tangan. Laras melengos melangkah pergi menuju kafe.

__ADS_1


“Hai Johan” sapa Laras.


“Ya ampun biarin aja di atas, nanti aku yang ambil” kata Johan menerima box dari Laras.


“Nggak papa. Sekalian mau ngambil Vibe, dua ya, yang leci, ditambahin garam di dalamnya juga nggak papa, biar pada kena darah tinggi.”


Johan ketawa mengambil pesanan Laras.


“Kamu sendirian disini? Teman-teman kamu mana?”


“Lagi di dalam ngebersihin rumah”


“Di dalam situ rumah?”


“Iya, jadi ini kan dapur. Nah dari dapur masuk ke tempat tinggal teman-temanku” jelas Johan menunjuk tirai merah di sampingnya. Laras mengangguk-angguk paham.


“Pacar kamu tuh.”


Laras berpaling melihat Dano masuk ke dalam kafe.


“Bukan pacar aku”


“Oh kirain, habis kelihatan protektif” cengir Johan menyerahkan uang kembalian yang ia terima dari Laras.


“Enggak, enggak. Emang tingkah lakunya suka aneh” bisik Laras nyengir.


“Hai, tolong sampoerna tiga bungkus” kata Dano menyodorkan beberapa puluh ribu.


“Aku kira kamu udah betah ngevape”


“Buat Brandon, katanya mau buat sesajen” kata Dano, setelah itu mereka berdua kembali ke pesta kecil-kecilan tadi. Laras duduk di antara Manda dan Dano.


“Main game 'ya benar' yuk, bosen nih nunggu ikan matang” ajak Brandon melirik ke arah Samuel dan Amel sibuk membolak-balikan ikan.


“Mainnya gimana?” tanya Manda.


“Jadi lu atau lawan lu bebas mau ngomong apa aja dan harus dijawab ya benar, tapi kalo nggak dijawab itu berarti kalah”


“Meskipun lawan ngomong bullshit?” tanya Laras. Brandon mengangguk.


“Gue contohin ya, sini Her.” Brandon dan Heru menggenggam tangan satu sama lain dan berhadapan.


“Gue duluan. Lu pengen jadi nanas kan?” kata Heru pertama kali, teman-temannya cekikikan geli langsung tertarik.


“Ya benar. Lu mirip umbi-umbian kan?”


“Ya benar. Tatto lu mirip daki kan?”


“Ya benar. Lu kelihatan tinggi karena kepala lu gede kan?”


“Ya benar. Selain tinggi, lu sebenarnya nggak lebih cakep dari gue kan?”


“Ya benar.” Heru tersenyum sumringah, ambisinya untuk menang mulai terlihat. “Lu putus sama Elle, karena dia jatuh cinta sama gue kan?”


Brandon mulai goyah, Elle mantannya selalu menjadi topik sensitif untuknya. Karena meskipun Brandon mengejar Manda, tapi tetap saja Elle tidak bisa tergantikan dihatinya. “Ya benar…..lu nyesel putus dari Riska kan?”


“Ya benar. Lu belum bisa move on dari Elle kan?”


Brandon langsung melepas genggamannya. “Anjing lu Her!”


Heru ketawa ngakak, kemenangannya mutlak sementara Brandon mencak-mencak.


“Gue mau coba dong.” Manda bersemangat langsung menarik tangan Laras.


“Kamu mulai ada rasa suka sama Brandon kan?” tembak Laras tanpa basa-basi. Manda langsung melepas tangannya dengan ekspresi menggerutu, teman-temannya ketawa ngakak.


“Wah Bran, kelihatannya pelet lu udah mulai bekerja” kekeh Dano, Manda melotot wajahnya memerah sementara Brandon hanya senyum-senyum sendiri.


“Sini Ra, lawan saya.” Dano menarik tangan Laras, senyum tengilnya muncul tanda ia sudah memiliki sejuta ide untuk mengalahkan Laras.


“Kamu pecicilan karena suka makan kadal kan?” Laras memulai. 


Dano tersenyum geli. “Ya benar, tapi kamu suka saya kan?”


“Ya benar. Kamu nyebelin kan?”


“Ya benar. Kamu tiap malam mimpiin saya kan?”


“Ya benar. Kamu berisik kan?”


“Ya benar. Kamu kangen saya tiap hari kan?”


Perlahan pipi Laras memerah, ini hanya sekedar game tapi jantungnya berdetak agak tidak karuan. “Ya benar. Kamu hanya ingin main game ini kan?”


“Ya benar. Kamu mau jadi pacar saya kan?”


Sorak sorai terdengar menggoda Laras. Tawa Heru dan Brandon paling kencang. “Ra, kalo lu jawab iya berarti beneran jadian” kata Heru.

__ADS_1


“Iyain aja Ra, sikat” tambah Amel sejak tadi memperhatikan game itu dari balik panggangan.


Laras makin merona, tapi keinginannya untuk menang tetap kuat. “Ya benar.”


Tawa semakin menggelegar, Brandon dan Heru spontan berdiri menyalami Dano.


“Kamu mau kita putus kan?” lanjut Laras. Dano menggeleng dan melepaskan tangannya.


“Gue mundur, mending kalah dibanding putus.”


Laras melongo melihat Dano terlihat puas dengan permainannya sendiri. Tangannya mengacak-acak rambut Laras dan memeluk Laras gemas.


“Pacar gue nih” ujar Dano disambut sorak-sorai geli.


Laras melepas pelukan Dano dan mencubitnya pelan, ia kemudian pura-pura meneguk sedikit alkohol di gelas. Wajah Laras memerah bukan main, tapi entah mengapa hati Laras justru merasa senang, ia malah sedikit berharap perkataan tadi bukan sekedar permainan belaka.


Deg.


Laras menggelengkan kepala mengusir pemikiran dan perasaan aneh pada dirinya. Ah siapa Laras sampai berani bermimpi untuk memiliki Valdano Radja? Lagipula sejak awal hubungan mereka dimulai murni karena Laras ingin balas dendam.


...*****...


   


Pukul setengah sebelas malam Laras melangkah sendirian menyusuri pantai, berkas–berkas cahaya dari lampu penginapan dan kafe menemani langkah Olivia. Dari kejauhan nampak teman-temannya satu persatu sudah mulai membubarkan diri menyisakan Dano dan Brandon masih betah merokok di situ. Laras menarik nafas panjang, angin malam yang segar. Ia kemudian memilih duduk sebentar di bawah pohon sebelum kembali ke penginapan.


Langkah kaki terdengar mendekati Laras membuatnya berpaling. Olivia, cewek cantik yang akhir-akhir ini menarik perhatian Laras Cs datang menghampirinya.


“Kamu sendiri? Aku boleh duduk disini?” tanya Olivia ramah. Laras terpana, kecantikan cewek itu seakan menyihirnya sehingga tanpa sadar mengangguk.


“Ini sebenarnya tempat kesukaan aku untuk duduk sendirian” kata Olivia. Laras mengangguk-angguk berlagak melihat ke arah ombak pantai, padahal matanya sesekali mencuri pandang ke arah Olivia. Cewek itu cantik sekali, kalau ada yang mengatakan Olivia adalah malaikat maka Laras akan langsung percaya.


“Aku Olivia”


“Laras.”


Selanjutnya obrolan ringan dimulai. Banyak hal yang mereka bicarakan, cuaca, Jogja, pantai, kuliah. Laras tidak bisa menahan senyum setiap kali berbicara dengan Olivia. Cara ia berbicara, mendengarkan, dan tersenyum selalu berhasil menarik perhatian Laras.


“Kamu disini berapa lama?” tanya Olivia.


“Besok udah balik Jakarta, kalo kamu?”


“Entah. Aku masih ada beberapa urusan disini. Itu cowok kamu?”


Laras berpaling ke arah belakang, nampak Dano memperhatikan mereka dengan kening berkerut.


“Bukan, dia teman aku, namanya Dano”


“Tapi kamu suka dia.”


Laras terkejut. “Kok kamu tahu?”


Olivia tertawa geli. “Aku cuman nebak, soalnya muka kamu kelihatan berseri pas lihat dia.”


“Iya aku suka dia, tapi sepertinya dia enggak, hubungan kami dimulai dari hal yang rumit” angguk Laras jujur, untuk pertama kalinya ia berani mengungkapkan isi hatinya pada seseorang. Tapi Laras tidak peduli, toh besok ia sudah pergi dan Olivia pasti akan melupakan ceritanya bahkan juga mungkin Laras.


“Kenapa kamu suka dia?”


“Aku enggak tahu. Mungkin karena dia Dano.” Sebuah jawaban klasik yang sering terdengar dimana-mana, tapi itu yang bisa Laras katakan.


Dano tampan? iya benar, tapi Samuel tidak kalah tampan.


Dano seru? iya benar, tapi Heru jauh lebih seru.


Dano nakal? iya benar, tapi Brandon dua kali lebih nakal.


Semua yang ada pada Dano bisa dibandingkan dengan orang lain, tapi anehnya Laras tetap menyukai Dano.


“Aku juga punya seseorang yang aku suka disini.”


Laras berpaling dengan tampang tertarik. Siapa cowok beruntung yang ketiban durian disukai cewek secantik ini?


“Tapi sekarang aku bingung apakah aku ini benar-benar suka atau aku benci”


“Kenapa kamu ngerasa begitu?”


Olivia tersenyum menatap jauh ke arah garis pantai, ada pancaran kecewa sekaligus sedih dari dalam tatapan matanya. Laras langsung tahu bahwa cewek itu sedang menyembunyikan luka, entah karena apa dan entah pada siapa.


“Kamu harus hati-hati sama cinta. Karena terkadang cinta kamu itu justru bisa jadi patah hati terbesar kamu” kata Olivia pelan.


...*****...


“Jam berapa ini sayang?” kekeh Dano menyambut Laras datang. Laras mendengus menendang kaki cowok itu pelan.


“Tadi ngobrol apa? Kelihatan serius banget saya lihat dari sini”


“Bahas anggaran daerah” jawab Laras cuek. Dano nyengir lebar merangkul Laras dan sempat memeluk cewek itu gemas.

__ADS_1


Ponsel Laras berbunyi sebuah notifikasi pesan masuk, dari Angga. Laras membuka pesan itu dan setelah itu wajahnya berubah merah padam tanda kesal.


Angga : Lusa mamiku datang dari Aussie, seminggu, mau ketemu kamu.


__ADS_2