
“Ingat ya Heru, skripsi yang baik itu adalah skripsi yang selesai” nasehat Hamadi, dosen pembimbing skripsi. Heru mengangguk patuh, setelah itu ia berpamitan keluar dari ruang Hamadi dengan senyum sumringah. Judul skripsi Heru baru saja diterima dan itu berarti ia sudah bisa mulai mengerjakan bab satu. Kaki Heru melangkah riang menyusuri koridor menuju ruang Srikandi.
“Heru!” Wajah Heru berpaling, senyumnya makin mengembang lebar ketika melihat Danella datang menghampiri, cewek berdarah Belanda itu tanpa canggung merangkul Heru. Aroma manis menyeruak dari tubuh Danella. Ini yang Heru suka dari Danella, mau sepadat apa jadwal kuliah mereka, Danella pasti akan tiba di kampus dengan dandanan cantik yang menyejukan mata.
“Mau ke sekre srikandi ya?” tanya Danella tersenyum manis.
“Iya. Kamu sendiri mau kemana?”
“Ada urusan sama anggota senat, rapat, tapi di burger king. Aneh ya?”
“Pasti ide Erwin. Kamu pergi sama siapa? Mau aku anterin? Kelas aku udah kelar”
“Aduh, aku udah janji pergi bareng Jeje”
“Yaaa, sayang banget, udah semangat nih aku mau nganterin kamu kemana aja.”
Danella tertawa. “Yaudah sebagai gantinya aku nemenin kamu sampai ke sekre, mobil aku diparkir di parkiran dekat sekre.”
Heru mengangguk merangkul Danella mesra. Sudah hampir sebulan setelah putus dan kini Heru mendekati Danella, cewek cantik sekaligus model lepasan yang terkenal sulit ditaklukan banyak kaum Adam. Dulu Danella digosipkan dekat dengan Dano, tapi hanya sebentar dan setelah itu gosip itu menghilang digantikan topik Laras-Dano yang sempat menjadi topik hangat di kalangan anak srikandi selama hampir dua semester. Namun kini, dalam sekejap, entah bagaimana caranya Danella jatuh ke pelukan Heru. Masih menjadi misteri pesona apa yang Heru miliki sampai membuat Danella seakan tidak bisa lepas dari Heru.
“Aku lihat postingan Laras, kemarin kalian surprisein Laras ya?”
“Iya. Itu si Dano ngotot mau nyiapin sesuatu yang spesial untuk pacarnya. Katanya biar keinget terus”
“Dano bisa bucin juga ya ternyata” kekeh Danella.
“Aku juga bisa.”
Salah satu alis Danella terangkat, tangannya menepuk-nepuk punggung Heru pelan. “Masa sih? Aku nggak percaya”
“Nanti aku tunjukin” kata Heru. Senyum Danella langsung mengembang lebar. Dimata Heru Danella itu cewek tercantik yang pernah ia lihat. Ya, setidaknya tercantik setelah putus dari Riska. Banyak cowok rela mengantre demi bisa menjadi pasangan Danella, tapi dari antara semua orang hanya Heru seorang yang bisa dengan bangga merangkul bahu Danella berjalan di antara orang berlalu lalang.
“Aku duluan ya” kata Danella melambaikan tangan lalu berbelok ke arah parkiran.
“Napa lu cemberut?” tanya Heru ketika melihat Manda duduk di depan sekre srikandi dengan tampang kusut. Amel langsung mendelik memberikan tanda agar Heru menutup mulutnya rapat. Bukannya menurut senyum tengil Heru langsung muncul.
“Ada gerangan apa sih adinda? Mengapa terlihat bermuram durjan begitu?”
__ADS_1
“Gue sepak pala lu Ru!” ancam Amel. Heru cekikikan senang. “Teman lagi ditimpa musibah bukannya dihibur malah digodain”
“Lah tadi kan gue nanya ada apa, malah makin cemberut. Yaudah mau apa? es krim? coklat? permen? atau mau gue gendong keliling kampus?” Heru menopang dagu menatap Manda lekat-lekat.
“Iiihhh diem gue lagi sebel!” teriak Manda jengkel.
“Judul skripsi Manda ditolak, disuruh ganti sampai sore besok, harus udah dapat jurnal pendukungnya sekalian” cerita Amel.
“Terus ngapain disini? Sana nyari judul baru”
“Gue mau menenangkan diri, masih dongkol judul gue ditolak, padahal jurnal pendukung gue keren semua, dari perpustakan online kampus luar negeri! Sebel! Gue kan udah niat banget mau ngerjain skripsi. Kalo kayak gini gue malas! Apa gue DO aja? Bapaknya Dano suruh bangun universitas deh, biar gue kuliah disitu! Kambing! Bikin gue kesusahan aja! Gue kan mau lulus!” omel Manda kesal setengah mati.
Heru dan Amel mengangguk-angguk. Selanjutnya hampir sejam lebih mereka hanya duduk mendengarkan omelan kesal Manda. Bagi Heru melihat Manda marah-marah seperti hiburan gratis, jarang-jarang ia bisa melihat cewek kalem itu mendengus dengan tampang bete.
“Gue bilangin ya Mel, sekarang standar kesabaran gue dalam menghadapi skripsi adalah Laras” bisik Heru.
“Maksudnya?”
“Manda kan kalem tapi udah marah-marah padahal skripsi belum mulai. Nah, Laras jauh lebih sabar dari Manda. Tapi kalo misalnya Laras marah pas lagi ngerjain skripsi, itu tandanya dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja” jelas Heru panjang lebar. Amel mangut-mangut.
“Aneh-aneh aja lu Ru”
“Apa nih?”
“Titip buat Ayu, bilangin dari gue sebagai ucapan makasih”
“Lu kasih aja sendiri, gue bukan bapaknya Ayu”
“Kan lu serumah babi! Pelit banget cuman ngeluarin tenaga doang” semprot Dano.
Heru mendengus mengambil bungkusan itu. “Iye, iye, cerewet lu!”
“Lu kelas jam berapa?” tanya Manda pada Dano.
“Jam dua”
“Rajin amat lu datang jam segini”
__ADS_1
“Mau ketemu cewek gue”
“Dasar bucin!” ledek Heru. Dano langsung korek-korek kuping tidak peduli. Sekarang ini cinta Dano Laras memang lagi mekar-mekarnya kayak bunga taman.
“Entar kalo lu yang bucin gue ludahin muka lu” kata Manda membela Dano.
Heru mencibir. “Nggak bakal! Gue itu cowok sejati, nggak akan pernah jadi budak cewek gue sendiri. Cowok itu terbiasa memimpin”
“Nda lu rekam omongan dia, kita lihat aja berapa bulan lagi” kata Dano gantian mencibir.
...----------------...
Heru masuk ke dalam kamar mendapati Ayu baru selesai membersihkan toilet. Cewek itu mendongak membawa ember berisi sikat dan pembersih lantai.
“Maaf mas baru dibersihin sekarang, tadi selang pipa airnya bocor dikit jadi dibenerin dulu sama Pak Toto” jelas Ayu buru-buru sebelum diomeli Heru. Heru mengangguk singkat. “Kalo gitu saya permisi dulu ya mas” pamit Ayu tidak ingin tinggal disitu lebih lama. Berada di kamar Heru bersama pemiliknya membuat Ayu mendadak mendapat gangguan kecemasan, takut akan ada hal kecil yang bisa memicu amarah Heru seperti tempo hari.
“Yu” panggil Heru saat Ayu sudah berada di luar kamar. Cewek itu berpaling dengan ekspresi gugup, takut ada kesalahan yang ia buat. Heru nyengir menyadari perubahaan wajah Ayu. “Nih dari Dano, katanya makasih udah dibantuin.”
Ayu menaruh embernya di lantai dan menerima bungkusan dari Heru. Dengan hati-hati ia membuka isinya, sebuah red velvet cake berukuran sedang terbungkus manis disitu. “Ini beneran buat saya mas?”
“Iya”
“Makasih ya Mas” kata Ayu pelan, Mata Ayu berbinar senang, kue itu cantik sekali. Tanpa sadar Heru ikut tersenyum manis, ia berdehem salah tingkah ketika Ayu mendongakan wajah. “Tolong bilang ke Mas Dano makasih”
“Iya” angguk Heru. “Eh Yu” panggil Heru lagi ketika Ayu akan pergi.
“Iya Mas?”
“Lu bisa main PS?”
Kening Ayu berkerut, ia menggeleng pelan. “Apa itu mas?”
Heru tertawa. “Enggak jadi Yu, udah sana balik, gue mau tidur”
“Nggak makan siang mas?”
“Entar kalo lapar.”
__ADS_1
Ayu tidak bertanya lagi, ia mengambil embernya dan melangkah pergi. Heru bersandar di ambang pintu, matanya tidak lepas dari Ayu yang melangkah pergi. Senyum Heru muncul. Heru pernah menerima hadiah mobil di hari ulang tahunnya tapi tampang Heru tidak secerah Ayu yang hanya menerima sepotong kue.
“Dasar cewek aneh” gumam Heru lalu masuk ke dalam kamar.