
Sudah tiga minggu Ayu bekerja di rumah keluarga Levronka. Diawal kedatangannya dulu Ayu sering menangis sendirian karena rindu setengah mati pada Asih dan Adit, terutama di momen ketika Ayu merasa lelah bekerja seharian, rasanya ia ingin pulang saja ke rumah. Tapi berkat kecerewetan Ningsih, keramahan Raya, dan joget ngebor Toto bapak paruh baya pengurus kebun, perlahan Ayu mulai melupakan kerinduannya dan semakin terbiasa tinggal disitu.
Selain mereka berempat ada lima orang lagi yang bekerja di rumah itu. Malih satpam depan rumah, Dini si tukang masak, dan tiga orang yang membantu Raya mengurus laundry.
Ayu senang mengobrol dengan semua orang kecuali Malih, pria paruh baya itu hobi menggoda Ayu dan Ningsih saat lewat depan rumah. Awalnya Ayu cukup kaget mendengar godaan Malih karena terkesan menjerumus ke hal-hal dewasa, tapi lama-lama ia menjadi lebih terbiasa dan tidak lagi mengacuhkan keberadaan Malih.
“Selama cuman siulan, cuekin aja Yu, kalo nyosor baru kita hajar pake pot bunga” ujar Ningsih cuek bebek ketika melewati Malih sibuk bersiul-siul ria.
“Ponsel kamu baru Ning?” tanya Dini menengok sekilas ketika mereka sedang menyiapkan makan siang.
“Iya Din, ponsel lamaku aku jual ke Ayu, biar bisa nelepon ibunya di rumah”
“Berapa kamu beli?”
“Lumayan, sejuta lima ratus”
“Cuman segitu? Harusnya lebih mahal loh Ning, ponakan aku beli ponsel persis kayak punya kamu harganya dua juta lebih. Jangan-jangan punya kamu barang bekas lagi” kata Dini seperti biasa nyinyir. Begitu adatnya kalau melihat ada orang pakai barang baru, sirik.
“Aku beli langsung di toko resmi, jangan-jangan ponakanmu Din yang kena tipu, barang bekas tapi dijual seperti masih baru” balas Ningsih tidak mau kalah.
Dini mendengus pura-pura sibuk mengupas bawang. “Kamu enggak mau beli ponsel juga Yu? Ponsel kamu nggak bisa pake internetan kan?” tanya Dini usil. Dibanding Ningsih Ayu memang jauh lebih pendiam dan tidak melawan saat dikomentari apapun.
“Belum mau mbak, uangnya belum ada. Ponsel dari Mbak Ningsih juga masih bagus”
“Nabung aja Yu. Aku juga lagi nabung mau beli ponsel, tapi bukan kayak punya Ningsih, aku lebih suka yang kameranya banyak biar makin jernih fotonya. Kamu tau nggak Yu? Dulu di kampung, aku itu sering jadi model posyandu, suka dibayar buat foto-foto iklan”
“Kenapa enggak lanjut mbak?”
__ADS_1
“Aku nggak betah hidup lama di kampung, enak di kota gini Yu, apa-apa ada. Lagian kayaknya aku emang lebih cocok tinggal disini. Kamu kapan-kapan jalan sama aku Yu, aku beliin kamu boba, di kampungmu nggak ada kan?”
Ayu menggeleng lugu. “Itu apa mbak?”
“Minuman. Ada puding. Enak pokoknya. Kapan-kapan kamu aku ajak jalan-jalan” jawab Dini lalu ke depan ketika mendengar panggilan Raya
“Sama-sama dari kampung aja sombong bener" dengus Ningsih keki. “Jangan terlalu dekat sama dia Yu, mulutnya nggak bisa direm.” Ya, Dini memang begitu. Segala hal disekitarnya akan ia komentari sampai dirinya bosan sendiri.
Menjelang malam setelah pekerjaan selesai, Ayu dan Ningsih duduk di bawah pohon jambu dekat gerbang samping. Rumah keluarga Levronka sangat asri, banyak pohon dan bunga tumbuh di halaman rumah. Ayu sendiri lebih suka duduk di bawah pohon jambu, selain lampunya remang-remang, sekarang musim jambu dan buah yang ada di pohon sedang ranum-ranumnya, tinggal petik langsung masuk ke dalam mulut.
“Yu lihat” Ningsih menyodorkan ponsel. “Aku lagi suka ngelihat orang ngehias kue. Nonton sambil makan rasanya lebih makyus lagi.”
Ayu menengok tertarik. Tampak seorang wanita sedang menghias kue tart sembari berbicara dalam bahasa asing. Darah Ayu berdesir, ia jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat hasil akhir kue itu, sederhana tapi cantik sekali. “Aku jadi pengen coba mbak”
“Kumpul uang yang banyak Yu, biar bisa beli, bahan-bahannya mahal.”
Ah benar, seandainya Ayu punya banyak uang pasti dengan mudahnya ia membeli apa yang ia mau. Sejak hari itu kesukaan Ayu adalah ketika diajak Ningsih nonton youtube bersama, meskipun hanya sekedar melihat orang membuat kue tapi Ayu sangat antusias. Bahkan Ayu ikut mencatat resep yang disebutkan atau sesekali menggambar acak-acakan hasil akhir dari kue-kue itu. Entah kapan akan Ayu gunakan tapi ia cukup puas setiap kali membaca buku kecilnya.
“Amin Yu. Nanti aku bantu kamu jualan, door to door haha.”
Wajah Ayu berpaling ketika samar-samar ujung matanya melihat sosok seorang cowok naik ke atas tangga.
“Mas Heru udah balik ya? Kita nyiapain makan malam dulu” ajak Ningsih ternyata menyadari kedatangan Heru, ia buru-buru menarik Ayu kembali ke dapur.
“Mas Heru dari mana mbak? Kenapa baru muncul?”
Sudah tiga minggu lebih bekerja di rumah ini dan ini pertama kalinya Ayu melihat sosok putra tunggal keluarga Laveronka, meskipun hanya melihat punggung cowok itu.
__ADS_1
“Liburan di Bandung. Ayo Yu buruan. Masa damai kita udah selesai.”
Sekilas Ayu menatap tangga menuju lantai dua tempat dimana kamar Heru berada. Dari bawah Ayu bisa merasakan suasana suram di atas sana, tubuhnya lantas bergidik ngeri. Takut Heru tiba-tiba muncul Ayu lantas melangkahkan kaki lebih cepat dari biasa. Entah mengapa, tapi perkataan asisten rumah tangga keluarga Levronka cukup membuatnya merasa was-was dengan keberadaan Heru.
...----------------...
Raya menatap satu persatu belanjaan dan nota ditangan, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal kepalanya mengangguk pada Dini. “Yu, mulai besok sampai Pak Toto balik dari kampung, kamu bertugas nyiram tanaman di depan ya, sekalian dirapiin. Tau cara ngerawatnya kan?”
”Iya mbok, aku sering bantuin Pak Toto” angguk Ayu menyanggupi. Selanjutnya seperti biasa Ayu membantu Raya dan Dini memasukan semua bahan makan ke dalam kulkas. Selain ponsel Ningsih, kulkas adalah benda yang paling Ayu sukai di kediaman Levronka, isinya selalu penuh dan yang paling penting Ayu boleh memakan apapun yang ia mau.
“Mbok Raya, air.”
Pintu dapur bergeser membuat Ayu berpaling, matanya terpaku menatap seorang cowok berdiri disana menyodorkan gelas air pada Raya.
Cowok itu tinggi, kulitnya berwarna kecoklatan tanda terlalu sering beraktivitas di bawah matahari, rambutnya gondrong sebahu dan diikat setengah, garis wajahnya tegas dengan sorot mata tajam dan hidung mancung. Ayu menelan ludah. Siapa gerangan cowok tampan di depannya ini?
“Mas Heru kenapa nggak panggil aja? Aduh, jadi repot kesini” kata Raya buru-buru menggambil air untuk Heru.
“Siapa nih? Anaknya Mbok?” tanya Heru saat menegak airnya, matanya menatap Ayu penuh penilaian dari atas sampai bawah.
“Ini Ayu, asisten rumah tangga baru, tugasnya sekarang ngurus kamar Mas Heru” beritahu Raya.
Ayu menunduk kikuk, degup jantungnya berdetak tidak karuan saat menatap wajah Heru.
“Semangat ya. Ini rumah emang gede, jadi kudu pake hati ngebersihinnya” senyum Heru menaruh gelas di atas meja. Ayu mengangguk, mulutnya masih tertutup rapat.
“Mbok, aku mau keluar. Nanti Dano sama Brandon nginap, kamar mereka tolong dibersihiin” pintah Heru. “Oh iya, partitur di atas keyboard gue jangan disentuh, biarin aja letaknya kayak gitu” lanjut Heru pada Ayu dan setelah itu ia melangkah pergi. Ayu menghela napas panjang. Untuk semenit Ayu sempat melupakan deskripsi buruk tentang Heru, dimatanya cowok itu terlihat baik seperti manusia normal.
__ADS_1
“Yu, ruang makan tolong dibereskan” pintah Raya.
“Baik Mbok” jawab Ayu buru-buru ke depan, diam-diam ia berharap bisa melihat Heru lagi, tapi sepertinya cowok itu sudah lebih dulu pergi, karena ketika berada di ruang makan Ayu hanya mendapati dirinya berada disitu sendirian.