
Hujan selalu turun disaat yang tidak tepat. Laras berdiri di depan pagar tinggi rumah Manda. Entah mengapa tapi kaki Laras justru menuju tempat itu. Laras tidak ingin pulang ke rumah, ia ingin melarikan diri, dan rumah Manda menjadi tempat yang ia inginkan.
Laras menekan bel rumah, ia tidak merasa khawatir karena tahu orang tua Manda jarang berada di rumah kecuali di akhir tahun. Hanya itu yang bisa dipikirkan Laras dan setelahnya bahkan meskipun tubuhnya basah terkena air hujan Laras seperti tidak bisa berpikir jernih.
“Kak Laras?”
Laras mendongak, Marsel membuka pintu pagar dengan payung ditangan, kelihatannya cowok itu hendak pergi keluar.
“Manda ada kan?”
Marsel mengangguk kaku. Mata Marsel menatap Laras heran dari atas sampai bawah. Tangannya kemudian menggeser payung menutup tubuh Laras.
“Kakak kenapa?” tanya Marsel hati-hati.
Laras menunduk tidak menjawab, Marsel melangkah maju, tubuh tingginya membuat Marsel harus sedikit menunduk memperhatikan wajah Laras seksama.
“Siapa yang buat Kak Laras nangis?”
Laras menggeleng, menggigit bibir sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak kembali menangis. Laras tidak ingin menangis di depan Marsel. Tanpa diduga Marsel justru menjatuhkan payungnya lalu menarik Laras ke dalam pelukannya.
“Kasih tau aja kak, biar saya buat dia nyesal udah nyakitin kak Laras.”
Seketika pertahanan Laras runtuh, bukan karena pernyataan Marsel, tapi karena ingatannya bahwa Dano yang menyakitinya.
Sedih, marah, malu, dan kecewa bercampur menjadi satu.
Marsel menepuk-nepuk punggung Laras pelan membiarkan cewek itu menumpahkan tangisnya. Dan keduanya berdiri disana sampai kemudian Marsel merangkul Laras masuk ke dalam rumah.
...*****...
Manda menatap sedih ke arah Laras sedang tertidur lelap. Dua jam lalu ia dikejutkan dengan kedatangan Laras yang basah kuyup dan wajah sembab seperti habis menangis sepanjang hari. Manda tidak bertanya apapun, selain karena kondisi Laras terlihat sangat buruk tatapan tajam Marsel juga membuat Manda memilih bungkam. Manda keluar kamar, ada Marsel baru selesai mandi dan sedang membuat sereal di meja dapur.
“Kak Laras udah tidur?”
“Udah. Makasih ya” angguk Manda lemah. Marsel menarik kursi duduk depan Manda. “Laras sama sekali nggak cerita?”
__ADS_1
Marsel menggeleng. “Kak Amel nggak dikasih tau?”
Manda menepuk jidat, buru-buru mengambil ponsel. Setelah beberapa kali panggilan baru terhubung.
“Dimana lu?”
“Rumah brandon, kenapa?”
“Lu harus ke rumah gue sekarang”
“Nggak bisa, gue lagi sama anak-anak”
“Mel, Laras nangis, tiba-tiba ke rumah gue” kata Manda. Sesaat kemudian suara berisik menghilang, tanda Amel sudah menjauh dari keramaian.
“Laras kenapa?” tanya Amel ulang.
“Nangis, di rumah gue sekarang”
“Laras di rumah lu? Bukannya disini? Tadi terakhir gue lihat sama Dano.”
“Lebay lu kak!” dengus Marsel dari samping.
“Sepuluh menit lagi gue kesitu.”
Dan panggilan telepon di matikan.
...*****...
Pintu rumah Manda diketuk, Amel datang bersama Dano. “Laras mana?” tanya Dano panik tanpa salam.
“Di atas, udah tidur, tadi sempat minum obat tidur gue” jawab Manda. Dano mengacak rambut terlihat frustasi.
“Gue boleh ke atas kan? Bentar doang.”
Kening Manda berkerut langsung mengangkat tangan menahan langkah Dano. “Dari ekspresi lu keliatan jelas lu biang keroknya. Jujur ke gue, lu buat keonaran apalagi sampai Laras nangis?”
__ADS_1
“Ribet Nda, intinya gue brengsek” jawab Dano bingung.
Manda berdecak kurang puas. “Yaudah sana, lima menit aja tapi. Lebih dari itu gue usir keluar.”
Dano buru-buru naik ke atas menuju kamar Manda. Perlahan ia mendorong pintu kamar, Laras sedang tertidur nyenyak dengan mata sembab dari balik selimut membuat hati Dano teriris.
Bodoh. Dasar bodoh! Nggak guna banget lu jadi cowok No! Cewek lu nangis karena lu! Dasar bodoh! batin Dano memaki dirinya sendiri.
Cewek manis yang berhasil mencuri hatinya itu berhasil ia lukai. Niat Dano untuk menyelesaikan urusannya dengan Sera justru membuatnya berada dalam petaka.
“Maafin aku Ra” bisik Dano mengelus pelan rambut Laras.
Dano benar-benar menyesal, sebuah perasaan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan kini kembali datang.
Cukup lama Dano berada disitu menatap Laras sedih sampai kemudian ia turun dengan ekspresi lesu.
“Kalo besok Laras udah bangun, tolong kasih tau gue” pintah Dano. Manda mengangguk dan setelah itu Dano pergi dari situ.
...*****...
Manda marah besar sementara Amel melongo tidak percaya mendengar cerita Laras. Isak pelan Laras kembali membuat amarah Manda semakin meledak-ledak.
“Belum ada yang chat Dano ngasih tau Laras udah bangun kan?” tanya Manda marah. Amel menggeleng ngeri lalu berpaling pada Laras.
“Terus sekarang lu gimana Ra? Dano teman gue, tapi lu sahabat gue dan kelakuan dia udah nggak bisa gue tolerir lagi” ujar Amel hati-hati.
Laras menyeka air matanya. “Enggak tau Mel. Aku nggak mau ngomong atau ketemu Dano. Aku juga enggak mau balik rumah, karena Dano pasti bakal ke rumah” jawab Laras menatap kosong ke arah piringnya.
Amel menghela napas menepuk punggung Laras pelan. Niatnya sudah terkumpul untuk meninju Dano apabila mereka bertemu nanti.
“Untuk sementara waktu lu tinggal disini aja Ra, ntar Marsel sama Amel yang ambil pakaian lu. Kalo ditanya Sri, bilang aja kita lagi buat project 24 jam, jadi harus nginep” usul Manda. “Marsel bilangin Pak Tarno. Rumah kita tertutup untuk cowok bernama Valdano Radja dan antek-anteknya.”
Marsel yang sejak tadi mendengar obrolan ketiga cewek itu dari balik sofa langsung melompat dan berlari keluar.
“Lihat aja, gue bakal buat cowok kurang ajar itu desperate karena nggak bisa ngomong sama lu!” ketus Manda marah.
__ADS_1