
Amel dan Manda mendadak hobi bermain badminton. Akibat sepanjang sore menonton turnamen badminton, sekarang setiap selesai kelas kedua cewek itu sibuk menenteng raket menuju klub badminton kampus, ditambah Laras yang sering dipaksa ikut meskipun hanya sekedar menjadi pemandu sorak.
“Gaya lu Mel, udah mau ngalahin Susi Susanti!” ledek Heru ketika Amel buru-buru mengambil raketnya di sekre srikandi. Amel menjulurkan lidah lalu menarik Laras dan Manda pergi.
“Berisik lu, sana lanjut senam rakyat” balas Amel cuek. Heru tertawa ngakak.
“Pacar gue jangan dibawa mulu” dengus Dano sirik karena tidak bisa ikut bergabung. Hobi baru Amel dan Manda membuat Dano lebih sulit untuk berduaan dengan Laras. Hampir setiap hari pacarnya ‘diculik’ oleh dua cewek itu untuk ikut menonton mereka bermain badminton.
“Gerah nih gue lama-lama, berasa Laras pacarnya dua kunyuk itu” keluh Dano sembari mencomot pisang goreng milik Heru.
“Biarin aja, yang bawa pacar lu masih berjenis kelamin cewek. Kecuali kalo Laras perginya sama Brandon baru lu belingsatan. Paling dikit lagi juga bosen” jawab Heru cuek. Dano makin keki.
Tapi dugaan Heru ternyata salah besar. Kegilaan Manda dan Amel pada badminton semakin menjadi-jadi, bahkan kini Laras tidak lagi menonton melainkan sesekali ikut bermain.
Jangkauan permainan mereka juga semakin luas, awalnya hanya di klub badminton kampus, tapi mendadak dua minggu lalu ketiga cewek itu ikut bertanding di piala RT badminton kompleks rumah Laras, minggu kemarinnya juga ikut pertandingan di kompleks rumah Amel, bahkan sekarang ketiga cewek itu berencana untuk ikut seleksi djarum foundation guna menjadi calon atlit badminton meneruskan perjuangan Susi Susanti. Dano makin terpojok, waktunya bersama Laras semakin sedikit, pacarnya itu mulai rajin berlatih. Setiap sore ketiganya bahkan sudah asik nongkrong bersama anak badminton kampus.
“Wah nggak bisa nih, kalo gini terus Laras bisa lupa siapa pacarnya!” koar Dano. Teman-temannya menatap geli. Dano dulu terkenal sebagai cowok paling cool dan menjadi banyak incaran kaum hawa, kegantengannya sering membuat banyak cewek menggila. Tapi sejak berpacaran dengan Laras Dano mendadak idiot setengah mati, ia sering kali bertingkah aneh hanya karena seorang Laras, seakan cewek itu adalah orang yang bisa menaik turunkan mood seorang Valdano Radja.
“Cuman badminton No, bukan bangun rumah tangga sama orang lain” kekeh Udin geli. Dano makin manyun.
“Justru itu yang gue takut. Tiba-tiba Laras bangun rumah tangga sama anak badminton kan ngeri”
“Lebay lu No!” geleng Heru tidak setuju.
“Kalo lu segelisah itu kenapa nggak buat pertandingan sendiri aja sih? Setim sama cewek lu, biar bisa latihan tiap hari” usul Udin.
Mata Dano langsung membulat berbinar. “Pinter lu Udin! Kok gue nggak kepikiran ya? Aiii Udin pinter banget, nyokap lu dulu ngidam apa sih? Punya anak kok pinter banget, heran” puji Dano girang lalu mengambil tasnya dan melangkah pergi menuju kelas, meninggalkan Udin yang menatapnya keheranan.
Dasar aneh.
__ADS_1
...----------------...
Udin Cup dimulai. Badminton turnamen yang memperebutkan piala Udin secara resmi diselenggarakan Dano, hadiahnya tidak main-main voucher makan gratis sebulan di salah satu restoran milik kakaknya Dano. Hadiah ini tentu saja disambut baik semua orang, termasuk Udin yang berperan menjadi piala karena langsung auto mendapat voucher makan. Lumayan bisa hemat sebulan, makan enak lagi!Tim pun dibuat; Dano Laras, Samuel Amel, Brandon Manda, dan terakhir Heru yang dipaksa untuk mencari timnya sendiri. Mau tidak mau harus mau!
“Ajak Danella aja, biar sekalian lu kenalin ke kita” usul Amel. Heru nyengir, ide yang bagus.
Tapi sayangnya Danella tidak tertarik. Cewek itu bukan penggemar olahraga yang harus berlari kesana-kemari, Danella lebih suka berolahraga dalam diam dan berada disatu tempat saja.
“Maunya lomba meditasi No atau nggak pilates” kata Heru pada suatu hari saat mereka sedang menunggu kelas berikutnya. Teman-temannya cekikikan geli.
“Kalo gitu lu sama Udin aja, tapi dipakein wig sama rok mini” usul Dano. Udin jelas sewot langsung menolak mentah-mentah usul itu.
“Ajak Ayu aja Ru” usul Brandon tiba-tiba. “Lagian kalo disejajarin, mereka berempat tingginya mirip-mirip. Tinggian Amel dikit sih, karena emosinya tinggi”
“Eh iya ya, ajak aja Ayu. Lumayan kalo menang vouchernya bisa dipake buat ngajakin makan orang serumah” angguk Dano setuju. Heru berpikir sejenak menimang-nimang. Ia memang suka berolahraga, tapi kalo lawannya bocah-bocah yang baru belajar badminton, sepertinya sih cukup membuang-buang waktu.
“Sebenarnya gue nggak peduli hadiahnya No. Taruhan gue disini pride sih” kata Samuel sengaja memanas-manasi. “Gue cowok tapi masa nggak bisa menang lawan kalian.”
“Kalo lu gimana Ru?” kejar Udin. Ketiganya lantas menatap Heru, cowok itu mendongak lalu akhirnya mengangguk pasrah.
“Oke, dengan ini saya saya selaku piala bergilir membuka perlombaan ini. Tok, tok” kata Udin sok resmi. Teman-temannya menatap geli.
“Dih piala bergilir, bahasa lu dijaga!” dengus Samuel disambut tertawaan Udin.
...----------------...
Sepulang kampus Heru bergegas mencari Ayu, tubuhnya mendadak muncul dari balik pintu dapur mendapati cewek mungil itu sedang membantu Raya dan Ningsih menyiapkan makan siang. “Yu..Yu…Ayu” panggil Heru tanpa salam.
“Mas mau makan sekarang?” tanya Raya.
__ADS_1
Heru menggeleng menunjuk Ayu. “Lu bisa badminton nggak?” tanyanya tanpa basa-basi.
Kening Ayu berkerut bingung. “Bulu tangkis?”
“Iya itu”
“Bisa mas dikit-dikit.”
Heru mengangguk paham, wajahnya berpaling pada Raya. “Mbok, mulai besok Ayu kerjaannya setengah hari aja, sisanya latihan bulu tangkis sama saya”
“E-eh? gimana mas?” Ayu tercekat.
“Lu setim sama gue Yu. Kita ikut Udin cup turnamen”
“Tapi saya nggak jago mas, dulu juga mainnya cuman sesekali kalo yang punya raket lagi istirahat main” kata Ayu mencoba menolak halus.
“Ya itu makanya kita latihan, yang penting lu ada basic”
“Tapi Mas-”
“Ah udah Yu, pokoknya lu ikut gue. Ukuran baju lu apa?”
“M”
“Oke. Inget Yu kita harus menang, pride gue dipertaruhkan disini” kata Heru cuek langsung melangkah pergi. Ayu bengong, wajahnya berpaling pada Raya, tanpa diduga wanita itu tertawa geli lalu kembali menyiapkan makan siang.
“Mbok, tapi kerjaan saya gimana nanti?” kata Ayu hati-hati. Membayangkan akan bersama Heru sepanjang hari sama saja dengan simulasi masuk neraka, belum lagi tuntutannya harus menang, pasti tekanan dari cowok itu akan dua kali lipat. Ayu bergidik ngeri tidak bisa membayangkan seperti apa interaksi mereka nanti, padahal Ayu sudah berusaha mati-matian agar tidak terlalu sering bertemu cowok itu.
“Nggak papa Yu, nanti dibantu Ningsih dan Dini. Kamu ikut aja maunya Mas Heru” kata Raya santai. Ayu langsung lemas, tidak lagi semangat menggoreng ikan. Bibirnya mengerucut sebal. Perkataan cowok itu lama-kelamaan seperti perintah tidak terbantahkan yang harus Ayu patuhi.
__ADS_1
“Udah Yu ikut aja, siapa tau bisa jadi atlit beneran” kekeh Ningsih tertawa geli.