
Sepanjang jalan Ayu tidak berhenti bercerita tentang kelasnya, ia terlihat semangat sekali membahas pelajaran apa yang sudah ia dapat. Sesekali Heru membalas perkataan Ayu lalu kemudian berusaha keras menahan senyumnya. Dimomen-momen tertentu Ayu itu bisa dua kali lebih cerewet.
“Saya didukung Kak Laras, Kak Amel, dan Kak Manda buat masuk sekolah pastry. Mereka baik banget kan? Saya tuh kadang suka kagum sama persahabatan mereka. Mas Heru punya sahabat dekat nggak?”
“Itu empat cowok yang sering lu lihat, mereka sahabat gue”
“Mas Heru kenal dimana?”
“Dano Samuel gue kenal dari TK, Brandon Udin gue kenal pas ospek kampus. Lu sendiri punya sahabat dekat nggak?”
“Mbak Ningsih, dia kakak sekaligus teman saya”
“Hanya itu?”
“Iya. Emang sahabat harus banyak ya mas?” tanya Ayu polos. Heru menggeleng, matanya melirik Ayu, cewek itu bergumam ikut menyanyikan lagu yang terdengar dari radio mobil.
Heru merasa ada yang salah dari dirinya, akhir-akhir ini sering memikirkan Ayu, apa yang Ayu lakukan sepanjang hari, apa yang Ayu dengarkan di kelas, semua itu ingin Heru ketahui.
Ayu pendiam tapi ia bisa juga bebas bercerita semau mungkin ketika berdua bersama Heru. Ekspresinya selalu riang terkadang membuat Heru merasa heran. Apa Ayu tidak pernah bersedih? Heru penasaran seperti apa sisi lain Ayu. Cewek itu mungkin pernah marah, mengomel, atau menangis tapi tidak di depan Heru, dan itu justru membuat Heru ingin melihat sendiri. Kata teman yang sejak dulu menjadi judul dari hubungan Heru dan Ayu perlahan mulai bergeser membuat Heru bimbang setengah mati.
“Gue udah gila...” gumam Heru pelan sekali.
“Iya mas?”
“Hmm?”
“Tadi Mas Heru ada ngomong sesuatu ya sama saya?”
Heru berdehem kikuk. “Gue bilang selesaiin aja sekolah lu baik-baik, urusan kuliah belakangan.”
Ayu mengangguk patuh. Mobil Heru berbelok masuk ke dalam gerbang rumah. Tangan Heru terjulur menyodorkan voucher makan hadiah dari pertandingan. Mata Ayu membulat dengan senyum bahagia. “Ini semua untuk saya mas?” tanya Ayu tidak percaya. Heru mengangguk singkat. “Terus untuk Mas Heru gimana?”
“Gue bisa kapan aja kesitu Yu. Udah nih lu pake, ajak Ningsih”
“Makasih Mas Heru” kata Ayu berbinar mengambil voucher itu. Hanya selembar kertas tapi mampu membuat perasaan Ayu meletup-letup bahagia.
__ADS_1
“Yu....” panggil Heru. Ayu mendongak, senyum manis masih terukir diwajahnya membuat degup jantung Heru perlahan mulai berdetak kencang.
“Iya mas?”
“Maafin gue...”
Ayu menatap bingung tapi setelah itu ia terkejut karena Heru menariknya masuk ke dalam pelukan cowok itu. Tubuh Ayu menjadi kaku tidak tahu harus melakukan apa.
“M-mas Heru....” gumam Ayu memanggil.
“Makasih udah menang” kata Heru melepas pelukannya. Ayu menelan ludah masih terkejut, ia mengangguk lalu buru-buru berpamitan turun. Kepala Heru bersadar di kursi sementara matanya memperhatikan Ayu pergi dari kaca spion. Ketika Ayu sudah menghilang dari balik halaman samping Heru memegang dadanya dan saat itu ia tahu benar, ia menyukai Ayu.
...----------------...
Suara seseorang memanggil nama Brandon membuat Manda ikut mendongak, tampak seorang cewek cantik melambaikan tangan tanpa ragu menghampiri mereka.
“Hai, ngapain lu disini?” tanya Brandon kelihatan agak kikuk.
“Habis shopping, kamu ngapain?” balas cewek itu bertanya dengan gestur yang terkesan akrab sekali.
Manda menyambut uluran tangan Elle dengan senyum yang dibuat seramah mungkin, ia kembali pura-pura menatap layar laptop seperti sedang berpikir keras. Manda tahu siapa Elle, mantan Brandon yang paling lama berpacaran dengan cowok itu. Lima tahun, selama itu hubungan mereka, tapi Manda tidak mengerti apa penyebab mereka putus, yang ia dengar hanyalah Elle adalah satu-satunya cewek yang berhasil membuat Brandon merasa frustasi setelah putus.
“Lu kesini sama siapa?”
“Mami, tapi lagi di toilet. Eh aku boleh duduk nggak? Capek tau berdiri” kekeh Elle. Brandon mengangguk menyingkirkan tasnya dari kursi samping.
“Aneh banget kamu ngerjain skripsi di mall”
“Biar nggak stres. Kuliah lu gimana?”
“Aku udah lulus tahun kemarin, lagi mau istirahat dulu sebelum nyari kerja” jawab Elle. Selanjutnya kedua orang itu mengobrol, sesekali Elle bertanya pada Manda dan dijawab dengan sesingkat mungkin. Ada perasaan aneh merambat naik memenuhi hati Manda ketika melihat Elle, gestur cewek itu jelas ingin menunjukan pada Manda bahwa ia pernah memiliki hubungan spesial dengan Brandon. Manda dan Elle mungkin tersenyum ramah tapi disaat bersamaan kedua cewek itu saling mengawasi satu sama lain.
“Kapan-kapan makan yuk, kamu itu ganti nomor ya? Aku chat nggak pernah dibalas”
“Iya gue ganti, ponsel gue yang lama hilang” dusta Brandon, padahal ia sengaja mengganti nomornya karena berusaha keras untuk move on dari Elle.
__ADS_1
Elle menjulurkan ponsel meminta nomor Brandon. “Si Arini sekarang udah buka kafe kecil-kecilan, kapan-kapan berdua yuk kesana. Tempatnya enak, aku dulu ngerjain skripsi disitu”
“Boleh, nanti kasih tau aja kapan biar gue ajak temen-temen gue kesana, hitung-hitung bantu promosi kan?” angguk Brandon.
Elle tersenyum senang cowok itu tidak berubah, membuat Elle tiba-tiba merasa yakin perasaan cowok itu masih ada untuknya. Beruntung sekali Elle bisa bertemu Brandon di tempat ini, setelah dua tahun ini Brandon tidak mengacuhkannya.
“Eh itu mami, yuk Bran ketemu mami aku”
“Hah? Gue lagi ngerjain skripsi”
“Udah bentaran aja. Manda temannya aku pinjem dulu ya bentar” kata Elle. Manda mengangguk kikuk berusaha tersenyum selebar mungkin.
“Bentar ya Nda” bisik Brandon lalu mengikuti Elle.
“Babi...” maki Manda pelan, kata favorit Amel kini berhasil keluar dari bibirnya. Mata Manda melirik Brandon menyapa mamanya Elle, tampak anak gadis wanita itu tidak malu-malu mengamit lengan Brandon. Mereka tampak akrab sekali membuat Manda merasa ditinggalkan sendirian.
“Nda sorry” kata Brandon terlihat tidak enak hati saat kembali. Manda mendongak lalu mendengus singkat. “Elle itu-”
“Mantan lu, gue udah tau. Nih, mending lu baca kalimat yang gue tulis udah bener atau belum.” Manda tanpa basa-basi mengeser laptopnya, ia menopang dagu memberikan tanda pada Brandon untuk melihat isi skripsinya. Keduanya beratatapan dalam diam. Sesaat kening Brandon berkerut lalu senyum kecilnya muncul. “Kenapa lu senyum-senyum gitu?”
”Nggak papa, emang nggak boleh gue senyum ke elu?”
“Nggak boleh, nggak suka gue lihatnya.”
Senyum Brandon semakin lebar ia ikut menopang dagu membuat Manda salah tingkah. “Ih Brandon apa sih?”
“Lu kenapa?”
“Apanya yang kenapa?”
“Lu jadi jutek gini setelah Elle muncul. Kenapa lu? Keganggu sama Elle?”
Manda mau mengangguk tapi gengsinya setinggi langit. Manda ingin bilang ia tidak suka cara Brandon berinteraksi dengan Elle. Meskipun mereka pernah punya sejarah panjang, tapi tetap saja kecentilan Elle membuat Manda merasa terganggu, apalagi Brandon terlihat tidak menolak. Tapi siapa Manda sampai berani mengungkapkan perasaannya? Mereka kan hanya teman biasa.
“Mending lu ngecek tulisan gue deh, daripada lu mikir yang enggak-enggak” kata Manda lalu berlagak berpaling memperhatikan orang yang berlalu lalang. Manda bisa merasakan pipinya memanas karena malu, matanya melirik Brandon, beruntung cowok itu tidak bertanya lagi dan kini mulai membaca tulisan Manda, meskipun terlihat jelas ada sebuah senyum kecil yang masih terukir dibibir cowok itu.
__ADS_1