
Hubungan Laras dan Angga resmi berakhir. Susanto marah dan melarang Laras untuk kembali pada Angga, apapun bentuk permintaan maaf cowok itu harus ditolak! Begitu perintah Susanto langsung disanggupi oleh Laras.
Setelah itu Laras kembali ke Jakarta, kembali pada rutinitasnya sebagai mahasiswa yang akan menghadapi ujian semester. Laras juga kembali ke rumah, tidak ada Dano yang dikhawatirkan datang mengunjunginya. Cowok itu juga perlahan mulai menghilang sama seperti Angga menghilang dari kehidupan Laras.
Manda tidak lagi bersama Laras 24/7 seperti dulu, Laras merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua masalahnya mendadak menghilang seperti angin, Laras kini sedang mencoba menata hidupnya yang sempat kacau. Kuliah, toko buku, pulang rumah, kegiatan membosankan namun terasa lebih cocok untuk Laras dibanding kelayapan dari club ke club.
“Ah seger banget.” Laras menarik napas panjang menikmati udara pagi kampus.
“Segar apanya? Polusi semua ini!” dengus Amel manyun. Manda terkikik geli berjalan di samping kedua orang itu.
“Mel!” Heru mengangkat tangan menyapa dari kejauhan, ia berjalan bersama Dano yang sekilas melihat ke arah mereka dan kemudian buang muka.
“Lihat pewaris Radja, tampangnya kayak nemu kutu di rambut” tawa Amel.
“Jadi sekarang lu mau membuka hati dong Ra? Kan udah bebas dari bajingan-bajingan tengik yang mengganggu hidup lu?” tanya Manda ketika mereka berada di lift. Laras angkat bahu.
“Buka hatinya masih lama, sekarang aku mau fokus buat ujian”
“Gaya lu Ra. Tapi selamat ya udah bebas” balas Manda nyengir.
Laras merenggangkan tubuh, pagi ini adalah pagi terbaik yang pernah ia jalani. Laras merasa lega, seakan tidak ada beban lagi. Padahal tanpa Laras sadar ada ancaman yang sedang memperhatikan dirinya diam-diam.
Ancaman dari seseorang yang sedang tersenyum senang ketika melihat Laras seorang diri tanpa Manda ataupun Amel di sampingnya.
...*****...
Kelas pajak di hari Jumat mendadak batal, Laras dan Manda terpaksa pulang dengan wajah tertekuk setelah mendapat pesan dari ketua kelas.
“Kemana kita? Kalo pulang sayang banget nih, kapan lagi bisa keluar kelas saat matahari masih bersinar?”
“Terserah kamu”
“Hmmm…..CP aja kali ya? Tapi apa yang mau dilihat? Fx? Sama aja…monas? Panas”
“Makan aja yuk”
“Dimana?”
Laras angkat bahu.
“Wisata kuliner aja. Kita jalan, kalo ada tempat yang bagus, kita turun, makan disitu”
“Kalo rasa makanannya nggak enak gimana?”
“Nangis lah. Duit udah keluar tapi nggak enak.”
Manda nyengir. Keduanya berjalan menuju parkiran gedung hukum.
“Kamu parkir jauh banget Nda, nggak sekalian di gedung sebelah”
“Maaf. Gue kesiangan, nggak dapat parkiran” jawab Manda. Ponsel cewek itu berbunyi, ada telepon masuk dari Ahmad anggota Hima.
“Kenapa Mad?” tanya Manda, keningnya berkerut bingung lalu mengangguk paham.“Oke bentar, gue kesitu.”
Manda menutup sambungan telepon sembari berpaling pada Laras. “Gue balik ke sekre dulu, ada urusan bentar sama Ahmad. Nggak lama Ra, sepuluh menit doang”
“Oke. Aku tunggu disini.”
Laras memilih duduk di pembatas belakang mobil Manda, tubuhnya sedikit ia rapatkan untuk menghindari sengatan sinar matahari.
__ADS_1
Sebuah jeep wrangler berwarna hitam berhenti di belakang Laras. Pintu mobil terbuka dan seseorang melangkah melompati taman mendekati Laras.
“Ra, ayuk!”
Laras mendongak, Dano tanpa basa-basi menarik tangannya dengan ekspresi panik.
“Buruan Ra, kalo telat bisa gawat?”
“Hah? Kenapa-kenapa?” Laras bingung.
“Cepat Ra, ayok!” ujar Dano malah terlihat semakin panik, tingkahnya membuat Laras ikutan panik sampai tanpa sadar mengikuti cowok itu masuk ke mobil, sesaat ia lupa sedang menunggu Manda sampai kemudian Dano duduk di kemudi dan tancap gas.
“Ada apa sih? Ada yang meninggal? Kok kamu panik? Ada apa?” tanya Laras bertubi-tubi. Dano diam, setelah jarak mereka cukup jauh dari kampus dan mobil berhenti di perempatan lampu merah ekspresi cowok itu berubah tenang.
“Nggak ada apa-apa. Saya mau nyulik kamu” jawab Dano kalem mengeluarkan tali langsung mengikat kedua tangan Laras erat.
Laras melotot dalam hati mengeluarkan sumpah serapah. Padahal baru kemarin ia berpikir Dano sudah menyerah, namun nyatanya sekarang cowok itu melakukan hal gila. Tangan Laras diikat, ponselnya disita, Laras resmi menjadi tawanan Dano.
Ponsel Laras berbunyi, ada panggilan masuk dari Manda. Tepat ketika suara Dano terdengar saat mengangkat panggilan itu amarah Manda langsung meledak.
“Brengsek! Lu berani-beraninya nyuruh Ahmad nipu gue! Dimana Laras?! Kasih tau nggak?!”
“Laras lagi sama Dano pacarnya, mau kawin lari. Udah lu nggak usah berisik” jawab Dano seenaknya langsung mematikan ponsel.
Laras meringis. “Ini kita mau kemana sih? Tangan aku pake diiket-iket segala”
“Ke tempat yang jauh dari sahabat kamu Ra. Saya mau ngomong berdua sama kamu”
“Apa lagi yang mau kamu omongin? Mau bohongi aku lagi?”
Dano terdiam membuat Laras mendengus. Mata Laras menatap Dano lekat-lekat, namun karena tidak ada jawaban keluar dari bibir cowok itu Laras menghempaskan punggungnya kasar dan setelah itu keduanya sama-sama diam tanpa suara.
Jeep Dano berhenti di sebuah basemen apartemen. Kepala Laras celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar. Deretan mobil mewah yang terparkir di situ membuat Laras langsung tahu, tempat ini bukan tempat tinggal untuk orang-orang seperti dirinya.
“Ini dimana?”
“Apartemen Claudia. Saya jarang kesini, cuman masih ada akses masuk karena sekarang apartemen Claudia udah jadi milik saya” jelas Dano. “Haus nggak Ra?”
Dano menyodorkan sebotol air mineral. Laras menatap curiga. “Nggak kamu campur apa-apa kan?”
“Ra, kita baru berantem sekali, masa saya tega ngeracunin kamu” ujar Dano membantu Laras meneguk air.
“Lagi?”
“Enggak makasih…. tangan aku boleh dilepas nggak? Aku nggak bakalan kabur. Lagian aku nggak tahu ini dimana dan ponsel aku juga ada di kamu” pintah Laras. Dano menimang-nimbang lalu membuka ikatan tangan cewek itu.
“Sebenarnya saya nggak ada rencana buat ngiket kamu Ra, saya cuman takut kamu loncat dari mobil”
“Aku nggak segila itu”
“Cewek marah nyeremin Ra. Kamu kalo marah nyeremin, saya takut kamu meledak di momen yang enggak tepat”
“Aneh kamu!”
“Iya, emang” angguk Dano setuju. Mereka terdiam sesaat sampai kemudian Dano menghela nafas panjang.
“Saya mau ngomong sama kamu, tapi kesempatannya nggak pernah ada.”
Dano menyandarkan kepalanya di stir mobil sembari menatap Laras lekat-lekat. Rambut Laras sudah lebih panjang, ia mengenakan make up tipis, lip tin, kaos hitam, jeans, dan sepatu kets. Sejak hari-hari kemarin Laras tidak lagi mengenakan baju sesuai anjuran Dano. Laras kembali seperti dulu. Kaos, jeans, sepatu kets, dan jaket hitam layaknya anak kuliah biasa, meskipun warnanya tidak lagi mencolok. Sepertinya Laras berniat untuk menghapus Dano dari kehidupannya, bahkan sampai ke detail terkecil sekalipun.
__ADS_1
Tangan Dano terangkat memainkan ujung rambut Laras, sebuah kegiatan yang tanpa sadar menjadi kebiasaan favoritnya.
“Kamu kalo mau ngomong, ngomong sekarang” ujar Laras membuyarkan lamunan Dano.
“Oke Ra, tapi jangan potong perkataan saya”
“Iya.”
Sekali lagi Dano menghela napas, rasanya berat sekali untuk melontarkan sebuah kata, padahal sudah berhari-hari ia berlatih sembari meyakinkan diri untuk menceritakan semua rahasianya pada Laras.
“Saya dulu punya pacar, namanya Claudia.”
Baru kalimat pembuka dan Laras langsung paham siapa Claudia bekas pemilik apartemen ini.
“Claudia itu cantik, baik, dan selalu jadi urutan pertama dalam hati saya. Bagi saya, Claudia itu dunia saya. Hubungan kami berjalan baik dan saya pikir akan selamanya seperti itu, sampai kemudian saya tau Claudia hamil.”
Perasaan Laras berubah tidak enak, benaknya mendadak mencatat sebuah nama yang Laras harap tidak akan pernah terucap dari mulut Dano.
“Mungkin kamu bisa tebak siapa orang yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Claudia….. Angga, mantan tunangan kamu.”
Hati Laras menjerit, tebakannya benar. Angga sekarang tiga kali lipat terlihat sangat buruk dimata Laras.
“Saya marah karena Angga sahabat saya dan Claudia pacar saya. Tapi saya berusaha untuk tetap tenang saat itu karena saya cinta sama Claudia. Tapi Claudia keguguran dan meninggal akibat pil aborsi, dan tentu saja itu ide Angga. Nggak lama setelah itu Angga kembali ke Indonesia, bersikap seolah nggak pernah terjadi apapun.”
Pernyataan Dano membuat segalanya menjadi jelas, alasan Dano dan Angga saling membenci. Permusuhan mereka bukan sekedar memperebutkan seorang cewek, tapi karena ada nyawa yang hilang.
“Saya benci dan dendam. Tapi lucunya saat saya datang kesini, saya ngeliat hidup Angga bahagia. Dia punya kamu. Saya enggak terima Ra. Saya pengen Angga ngerasain apa yang saya rasakan. Sakit ditinggal orang yang dicinta.
Karena itu saya nyuruh Sera deketin Angga sampai akhirnya Sera jadi selingkuhan Angga. Saat itu juga saya deketin kamu, mengubah kamu, harapan saya adalah Angga akan menyesal karena udah ninggalin kamu dan penyesalan itu harus sampai di momen dia ngemis buat balikan sama kamu, tapi nggak bisa karena kamu milik saya. Saya pengen dia merasa frustasi, putus asa, dan bahkan mungkin mati karena nggak bisa kembali ke orang yang dia mau
Itu rencana saya Ra. Tapi gagal, karena kamu udah tanpa ijin masuk ke dunia saya, mengambil hati saya tanpa ijin. Saya senang kamu nyatain perasaan kamu waktu itu, tapi saat itu saya ngerasa bimbang sama hati saya sendiri dan juga setelah itu kamu bersikap seakan nggak pernah ngomong apapun ke saya.
Saya benci cara kamu ngacak-ngacak perasaan saya. Bahkan hari ini ketika saya ngomong gini ke kamu karena takut kamu ninggalin saya.”
Laras diam, itu adalah kalimat paling panjang yang pernah di utarkan Dano padanya. Ekspresi cowok itu terlihat sangat muram.
“Kalo kamu mau marah, nampar, atau teriak ke saya, saya siap seka-”
Perkataan Dano terpotong, Laras baru saja menarik masuk cowok itu ke dalam pelukannya.
“Ra…maaf udah nyeret kamu ke masalah saya. Saya emang brengsek Ra”
“Sssttt.” Laras menepuk-nepuk punggung Dano menenangkan.
“Kamu memang brengsek, tapi aku tetap mau peluk kamu.”
Hening.
Laras bisa merasakan tangan Dano balas memeluknya erat, wajahnya terbenam di bahu Laras. Dano sedang menunjukan sisi paling rapuh dari hidupnya. Tarikan napas cowok itu terdengar begitu menyesakan hati Laras.
“Kamu kalo mau marah nggak papa Ra, saya siap. Tapi jangan tinggalin saya” pintah Dano memelas.
“Saya nggak mungkin ninggalin kamu. Kamu teman saya” jawab Laras pelan.
Dano semakin memeluk Laras erat. Hatinya terasa sakit. Laras jelas membangun tembok baru diantara mereka.
Teman.
Tapi kontradiktif dengan pelukan Laras untuknya. Dan Dano benar-benar berharap Laras tidak pernah mengatakan hal itu.
__ADS_1