
Waktu berlalu dan Ayu tidak lagi menjadi asisten rumah tangga keluarga Levronka, meskipun sebenarnya ia masih menetap di sana.
Sudah seminggu lebih Ayu bekerja sebagai staff di Rosaria Cake, toko kue sekaligus mini kafe milik Eva. Sejak bekerja disitu keseharian Ayu pun berubah, sekarang sejak pukul delapan pagi ia sudah berkutat di dapur membuat kue dan cokelat bersama Ivanka, manajer kafe sekaligus patner Ayu. Sementara di depan ada Artha seorang mahasiswi semester akhir yang bertugas sebagai kasir.
“Pas valentine kita buat cokelat lagi aja kali ya? Kayak tahun lalu. Ayu udah pernah buat belum?” tanya Ivanka, Ayu menggeleng. “Oh nggak papa, kalo gitu bisa sekalian belajar”
“Enak kan Yu kerja sama Kak Ivanka? Apapun planningnya pasti jadi. Kak Ivanka kan sat set sat set, wihhh semua orang happy.” Artha muncul menaruh kentang goreng di atas meja.
“Mulut kamu Tha, manis banget”
“Harus dong kak! Aku kan kasir kafe, meja kerja aku dikelilingi makanan manis jadi mulutku pasti ikutan manis juga” kekeh Artha. Ayu tersenyum geli. Gaya ceplas-ceplos Artha terkadang mengingatkannya pada sosok Amel, yang membedakan mungkin Amel masih terlihat sedikit lebih feminim dibanding Artha.
“Kakak ngadain rapat dadakan dalam rangka apa nih? Kalo mau ngomongin progres skripsi aku, I'm out! Alergi ngomongin skripsi”
“Pede kamu Tha. Nih.” Ivanka membagikan kertas print berisi foto kue dan cokelat lengkap dengan resep yang ia tulis sendiri. Ayu membaca isi kertas seksama, ini yang membuatnya selalu kagum pada Ivanka. Wanita itu sangat mencintai pekerjaannya, meskipun setiap hari mereka membuat kue dan cokelat, tapi Ivanka tetap memiliki waktu-waktu khusus untuk mengembangkan resep pribadi. Dari cerita Artha, Ivanka dulu adalah lulusan sekolah pastry terkenal di Paris, setelah lulus Ivanka bekerja bersama Eva sampai hari ini.
“Ini rencana menu andalan kita di hari valentine nanti. Untuk promosi... ya kayak biasa kita lakuin dan untuk diskon kita ngikut kayak tahun lalu aja”
“Cantik banget kak bentuknya, saya suka” puji Ayu.
“Kalo nanti semua resep ini berhasil kamu buat, aku yakin banget Yu kamu bakal jatuh cinta sama rasanya. Tuh lihat Artha, hidungnya makin gendut karena sering makan makanan manis” goda Ivanka bercanda.
Artha pura-pura manyun. “Parah ih kak Ivanka, padahal kan aku makan karena dikasih kakak. Lu harus tau Yu, sebelum ada elu, gue itu multitasking. Jadi kasir iya, jadi tukang icip-icip juga iya, gimana nggak makin gendut?”
“Yaudah kalo gitu mulai sekarang Artha enggak usah bantuin nyicip-nyicip lagi takut makin gedut”
“Lah....Enggak bisa dong kak, itu kan tugas aku”
“Kan tadi kamu ngeluh takut makin gendut. Aku sih ikut mau kamu Tha”
__ADS_1
“Aku ngeluh bukan berarti aku nggak suka kak, yang penting kan ngeluh aja dulu” kekeh Artha.
“Artha, Artha...” geleng Ivanka dan Ayu ikutan tersenyum geli.
...----------------...
Pukul sepuluh malam Ayu baru sampai rumah, ditangannya ada bungkusan sisa kue hari ini yang ia bawa khusus untuk Ningsih. Baru saja kaki Ayu menyentuh lantai dapur dan ia mendengar suara ribut.
“Sst Yu...” Ningsih memberikan tanda agar Ayu tidak bersuara. Kening Ayu berkerut bingung, ia mendekat ikut mengintip dari sela-sela pintu, tampak di ruang makan Heru dan Henry sedang bertengkar. Ayu tidak bisa menangkap apa yang sedang dipertengkarkan karena kedua orang itu sama-sama berteriak menggunakan Bahasa Inggris, tapi terlihat jelas Eva juga berada disana menangis sembari ditenangkan Raya.
“Duh bisa gila aku tinggal disini” gumam Dini menatap ngeri, pertengkaran di dalam sana membuat aksi mogok bicaranya usai begitu saja.
“Mereka berantem kenapa mbak?”
“Aku enggak paham Yu, Bahasa Inggris aku enggak bagus, tapi yang aku tangkep masalah rumah. Cuman enggak tau rumahnya kenapa” jawab Dini.
Plak!
Suara tamparan membuat mata Ayu membulat kaget. Henry menampar Heru, sepertinya ia baru pertama kali melakukan hal itu karena selanjutnya Henry mematung terkejut seperti baru menyadari perbuatannya. Untuk beberapa detik suasana mendadak hening, sampai kemudian terdengar tawa Heru, setelah itu tanpa banyak bicara Heru balik badan dan melangkah pergi keluar rumah.
“Wah, kayaknya rumah bakal kayak neraka nih, cuman iblisnya lebih dari satu” kata Ningsih disambut anggukan setuju Dini.
...----------------...
Amel mendorong pintu apartemen dan terkejut mendapati Samuel duduk di depan Tv memegang stik PS. “Sammmmm...gue kira lu maling! Untung belum gue gebug!” ujar Amel menghampiri, Samuel hanya mendongak lalu kembali fokus bermain.
“Maaf, gue tadi laper, jadi kesini”
“Lu kira apart gue rumah makan? Sekalian aja lu menetap di sini dan gue tidur di emperan.....Telur mau nggak? Biar gue gorengin?” omel Amel tapi tetap menawari makanan.
__ADS_1
“Gue udah makan.” Samuel menunjuk kotak pizza di atas meja.
“Nyaman banget Sam, berasa rumah sendiri ya.”
Amel masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai ia keluar dan duduk di sofa sementara Samuel masih tetap di lantai dalam posisi sama memegang stik PS. Sebulan lalu Amel diterima kerja di sebuah perusahaan accounting, sembari menyelesaikan skripsi Amel memutuskan untuk pindah di sebuah apartemen kecil dekat tempat kerjanya.
“Kayaknya gue harus ganti password pintu deh, sekarang elu, bisa-bisa bulan depan apart gue udah jadi markas lu berempat.”
Amel rebahan di sofa, ia menscroll ponsel. Hanya suara game Samuel yang terdengar. Selama kepindahan Amel tanpa disadari Samuel jadi semakin sering bersama dengannya. Awalnya hanya datang merayakan kepindahan, sesekali berkunjung, dan kemudian PS cowok itu sudah menetap di apartemen Amel. Merasa mengantuk Amel memejamkan mata, ia tertidur lelap sampai tidak mendengar Samuel memanggil namanya.
Samuel menaruh stik PS dan balik badan ke arah Amel. Bibirnya menarik senyum kecil mengelus rambut Amel pelan. Sentuhan Samuel membuat Amel terjaga dari tidur, matanya terbuka dan saat itu keduanya bertatapan. Tangan Samuel masih berada di kepala Amel tapi tidak ditepis cewek itu.
“Bab lima gue udah kelar, seandainya di acc, gue bisa langsung sidang.” Amel diam mendengarkan Samuel. Cowok itu tidak tersenyum, ia justru terlihat sedih seolah sidang skripsi nanti adalah hari dimana Samuel akan mati. “Setelah lulus sidang, gue sekeluarga pindah Swiss.”
Amel tercekat. “Wisuda lu gimana?”
“Gue nggak wisuda”
“K-kenapa?”
Samuel tidak menjawab, jemarinya menelusuri wajah Amel. Perasaan sayang bisa tergambar jelas dari tatapan mata Samuel. Samuel pertama kali bertemu Amel beberapa tahun lalu saat ospek kampus, ia hanya tahu cewek yang dihukum jalan jongkok dengannya karena telat bernama Amel dan selanjutnya setelah masa ospek selesai kehidupan Samuel berjalan seperti biasa. Tapi, saat bergabung di srikandi Samuel justru semakin sering bertemu Amel. Dengan tatto, rokok, pearching, dan gaya bicara blak-blakan Samuel tidak menyangka ia akan menaruh hati pada Amel. Cewek yang hanya sekedar menarik perhatiannya kini juga menarik hatinya.
“Kalo gue hitung kita mungkin hanya punya waktu sekitar dua bulan lebih sampai gue berangkat”
“Lu balik ke Indonesia kapan?”
“Nggak tau.....Lu mau nggak nemenin gue sepanjang waktu itu?”
Amel tertegun. Samuel bukan didiagnosa akan meninggal dalam waktu dua bulan, ia hanya pindah keluar negeri. Dengan bantuan teknologi mereka masih bisa berhubungan melalui sosial media, tapi kenapa Amel ingin menangis? Sedih ya? Tubuh Amel bergerak menarik Samuel ke dalam pelukannya. Samuel terkejut tapi tidak mengatakan apapun, sebagai ganti tangan Samuel menepuk-nepuk pelan punggung Amel, dan saat itu ia bisa mendengarkan isakan cewek itu dari dalam pelukannya.
__ADS_1