Ms. Norak

Ms. Norak
Inikah Akhir Cerita Cinta?


__ADS_3

Ujian akhir semester resmi berakhir, beberapa nilai sudah keluar menyambut datangnya libur panjang semester. Laras patut sujud syukur karena semua kejadian di semester ini tidak mempengaruhi nilainya.


“Berarti lu tinggal skripsi kan Ra?” tanya Manda, Laras mengangguk senang. Keduanya bertos ria tanda hanya akan menghadapi satu neraka terakhir disemeter depan.


“Gue juga”


“Gue enggak! Ngulang kelas logika, brengsek!” dengus Amel memperhatikan nilainya kebayankan C, B, dan D pada kelas logika tanda ia harus mengulang semester depan.


“Nyusahin gue aja!”


“Ya, siapa suruh lu sering cabut?”


“Salah dosennya lah. Tidak bisa membuat kelas menjadi hidup!” ketus Amel dongkol.


Laras ketawa geli. “Aku ke perpustakaan dulu ya, mau balikin buku”


“Jangan lama-lama Ra. Habis ini kita jalan-jalan keliling Jakarta. Lu berdua harus menghibur gue yang nggak lulus kelas logika.”


Laras melemparkan jempol lalu berlari menyusup masuk ke dalam lift menuju lantai bawah.


“Hai Ra.”


Laras berpaling, ada Sera menyapanya di dalam lift. Senyum Laras muncul balas menyapa.


“Hasil ujian aman?”


“Aman. Kamu sendiri gimana?”


“Aman juga. Semester depan sisa skripsi”


“Sama. Semoga kita nggak dapat dosen pembimbing yang killer” ujar Laras tersenyum manis. Entah sejak kapan, tapi kejadian tempo dulu membuat Laras sedikit bersimpati pada Sera. Meskipun masih ada sedikit rasa kesal Laras pada cewek itu, tapi Laras tidak bisa membenci Sera seperti dulu.


Sekali lagi, pengakuan Dano tentang Claudia membuat pandangan Laras berubah. Laras dan Sera adalah dua orang cewek yang sebenarnya tidak tahu apapun dan harus ikut terseret.


“Ra, kapan-kapan makan yuk. Aku traktir” ajak Sera tiba-tiba, kelihatan sekali ia ingin membangun pertemanan dengan Laras.


“Kabarin aja Ser, kalo ada waktu luang aku mau” angguk Laras. “Aku duluan ya” lanjut Laras melambaikan tangan lalu melangkah keluar ketika lift terbuka.


Di perpustakaan setelah mengisi form pengembalian buku, Laras menuju lantai dua. Matanya mencari seksama rak bertuliskan A20. Saat melangkah di pojokan, Laras mendengar suara berisik dari seberang, awalnya ia tidak terlalu peduli, tapi ketika mendengar nama Dano disebut Laras jadi tertarik untuk mencuri dengar.


“Pokoknya malam ini gue mau ngungkapin perasaan gue ke Kak Dano” ujar suara yang bisa Laras kenal sebagai Rita.


“Lu yakin? Gue dengar Kak Dano bucin banget sama mantannya…siapa sih namanya?”


“Laras?”


“Iya itu”


“Emang kalo bucin kenapa?”


“Orang bucin kan susah move on.”


Sesaat Rita ragu, tapi dengan cepat tekadnya kembali. “Gue nggak pernah lihat Kak Dano berinteraksi dengan mantannya, dan juga Kak Brandon bilang Kak Dano emang lagi kosong dan nyari pengganti si Laras itu. Kak Brandon dukung gue kok buat deketin Kak Dano.”


Brandon bajingan, penghianat! batin Laras keki.


“Rit, gue dukung sih lu sama Kak Dano. Di sekre dia care banget sama lu” ujar teman Rita yang lain.

__ADS_1


“Gue lihat foto Laras, mukanya biasa aja. Lu jauh lebih cakep dari dia Rit. Gas aja deketin Kak Dano”


“Sama, gue pernah lihat langsung malah. Orangnya biasanya aja, nggak tau deh kenapa Kak Dano bisa nyantol”


“Gosipnya sih pakai pelet.”


Asu! Dikira aku nggak beragama apa mainnya pelet? dengus Laras mencak-mencak, sampai jadi mantan Dano pun predikat Laras sebagai tukang pelet tidak akan hilang.


“Kalo yang mukanya biasanya aja bisa nyantol, apalagi yang cantik?” ujar Rita lalu mereka tertawa-tawa geli sibuk merencanakan momen apa yang paling cocok bagi Rita untuk mengungkapkan perasaannya pada Dano.


Laras berdecak, ia buru-buru menaruh bukunya dan melangkah pergi dari situ, dalam hati ia berdoa semoga dijalan nanti Rita menginjak tai ayam!


...*****...


Hati Laras mendadak semakin rumit. Sudah tiga hari sejak Laras mencuri dengar rencana Rita. Apa cewek itu sudah mengungkapkan perasaannya pada Dano? Apa mereka sudah jadian? Secepat itu Dano melupakan Laras?


Laras belum mendengar gosip apapun, namun ia semakin gelisah. Ditambah lagi besok adalah hari terakhir kampus. Laras ingin bertanya pada Amel, namun gengsinya tinggi.


“Mel, nggak ada cerita apa gitu? Bosen nih, ngobrolin apa kek” pancing Laras siang hari setelah nilai ujian terakhir keluar.


Amel menggeleng, tampangnya agak tertekuk karena masih dendam dengan nilai mata kuliah logika.


“Gue ada Ra. Tau Bu indra tetangga nyokap gue yang resek nggak? Masa kemarin beli mobil terus parkir di pinggir jalan, di protes warga kompleks lah, eh malah nyolot, sampai adu mulut. Uh seru banget ngeliatnya!” cerita Manda semangat. Laras pura-pura tertarik, padahal bukan itu gosip yang ingin ia dengar.


“Lu nggak ikut berantem Nda?”


“Nggak. Ngapain? Berantem sama orang resek itu melelahkan. Ngalah aja, udah sekompleks ngewakilin emosi gue tiap mau keluar kudu muter jalan”


“Hmm…..” Laras mengangguk-angguk, pura-pura menanyakan hal lain sampai kemudian berpindah topik ke kampus. “Eh kalo di kampus kita nggak ada drama apa gitu? Kok kayak anteng-anteng aja?”


“Drama kampus kan udah dirapel sama lu Ra awal semester kemarin” tawa Manda geli, Laras manyun.


“Apa?” Laras langsung semangat.


“Cika, anak ekonomi ketahuan jiplak skripsi orang, disuruh ganti judul lah, dikira dosen kita bego-bego apa? Duh amit-amit deh kalo sampai itu terjadi ke gue.”


Bukan gosip kayak gitu. Gosip tentang Dano! batin Laras menjerit.


“Samuel mana Mel? Tumben nggak muncul jam segini?” tanya Laras setelah gosip tentang Cika selesai.


Amel mendengus. “Tau tuh, mati kali!”


“Nggak usah ditanya Ra. Mereka lagi berantem” beritahu Manda.


“Oh, kenapa?”


“Samuel dijodohin, sama anak teman bisnis papanya. Katanya udah tuker cincin dari mereka masih bayi. Biasalah Ra, persahabatan tapi sebenarnya motif ekonomi.”


Laras menyemburkan air esnya. Kok dejavu? Cowok sekaya Samuel bisa dijodohkan karena alasan persahabatan? Apa jangan-jangan Samuel dan Laras masih saudaraan?


“Terus gimana?”


“Ya pasti kita bakal putus. Samuel bilang mau berjuang untuk gue, tapi gue yakin kita nggak jodoh”


“Kok pesimis gitu Mel? Takdir nggak ada yang tau” hibur Laras kasihan, Amel menggeleng keras.


“Gue udah lihat ceweknya Ra, beda seratus delapan puluh derajat sama gue. Cantik”

__ADS_1


“Kamu juga cantik”


“Kalem”


“Kamu…ya petakilan dikit sih Mel”


“Dan overall, dia emang pantes buat Samuel” ujar Amel, mulutnya mendadak asam ingin merokok.


“Gue cuman cewek tatoan yang hobi rokoan dan ngeclub buat senang-senang. Sementara jodoh Samuel adalah cewek cantik, lembut, keibuan, dan cocok jadi mantu keluarga. Ibarat list, gue udah ada dipilihan paling akhir. Lagian gue juga mikir, kalo gue maksa sama Samuel dengan ending nggak ketebak, buang-buang waktu namanya dan justru memperbesar patah hati gue nanti. Mending gue nyari yang lain.”


Laras dan Manda kompak menatap Amel kasihan. Cewek itu ternyata bisa pesimis dan insecure juga. Selama ini Amel terlalu banyak tertawa, membuat mereka berpikir cewek itu selamanya akan memiliki hidup paling anteng dan bahagia diantara mereka.


“Mau hujan…” gumam Amel membuat Laras dan Manda ikut mendongak. Benar, langit mulai menggelap.


“Pada bawa payung kan?”


Payung? Laras menepuk jidatnya kuat-kuat. Benar! Laras kan masih menyimpan payung dari Dano.


“Nggak usah lebay Ra, kalo nggak ada payung tinggal lari ke parkiran” kata Manda salah sangka. Laras nyengir, kini ada satu alasan bagi Laras untuk menemui Dano.


...*****...


Laras mengurungkan niat untuk menemui Dano tepat ketika mata Laras menangkap sosok Dano bersama Rita duduk di kantin. Laras tahu ia sudah kehilangan cowok itu. Memang sih bukan hanya Dano dan Rita disitu, ada Brandon dan beberapa teman Rita. Tapi tetap saja, melihat Rita bersikap manja pada Dano membuat Laras merasa gerah.


“Loh kok disini? Nggak gabung?”


Laras, Manda, dan Amel serempak memalingkan wajah. Heru muncul bersama Samuel. Amel lantas buang muka sementara Samuel terlihat salah tingkah menghadapi amarah cewek itu.


“Nggak Ru, lagi mau ngobrol bertiga. Sana pergi, ntar lu denger lagi”


“Yaelah Nda, sok rahasia banget kayak kunci jawaban. Amel, ada apa sih mukanya ketekuk gitu? Mamak lu lupa ngasih makan? Sini gue suap. Eh jangan ding, entar gue digebug Samuel”


“Jangan diganggu Ru, lagi stres harus ngulang logika semester depan” geleng Manda dengan tatapan mengusir. Heru malah ketawa.


“Lah sama dong ngulang. Tenang Mel, ntar bareng gue. Kalo lu mau ngulang lagi, gue temenin. Gue kan setia kawan. Sampai tujuh tahun ngulang logika sama lu, gue siap”


“Makasih ya, inisiatif lu bagus banget. Cocok jadi pacar gue!” balas Amel. Heru ngakak, langsung ditarik Samuel menjauh.


“Duluan ya” kata Samuel kikuk.


“Persetan cinta. Gue mau *** bebas!” dengus Amel ketika kedua cowok itu menjauh.


“Dosa Mel” geleng Laras. Amel manyun mengaduk-aduk es teh yang sudah lama mencair.


“Main yuk di PI” ajak Manda mencoba menghibur Amel.


“Bosen, mau lihat apa? Itu-itu doang barangnya”


“Nongkrong di Seno? Makan?”


“Gambarnya doang yang fancy, yang enak cuman sebiji dua biji”


“Ke dufan?”


“Ngapain? Bayar mahal-mahal cuman buat ngerusak kinerja jantung” tolak Amel mentah-mentah, patah hatin membuat semua tempat mendadak tidak menarik lagi bagi Amel.


“Terus kemana? Di Jakarta tempat nongkrong cuman itu-itu doang”

__ADS_1


“Pulang aja yuk Nda, tidur” ajak Laras disambut anggukan lemas Amel.


Laras mengambil tasnya, untuk terakhir kali ia mendongak mencuri pandang ke arah Dano. Pandangan Laras tertegun, Dano terang-terangan sedang menatapnya. Cowok itu tidak tersenyum, hanya menatap diam membuat Laras cepat-cepat memalingkan wajah dan beranjak pergi dari situ.


__ADS_2