
“Walah Yu, rambutmu kenapa?” Ningsih melemparkan pandangan takjub ketika Ayu masuk kamar. Ayu tersenyum canggung memegang ujung rambutnya yang kini dipotong sebahu dan diwarnai higlight. Penampilan baru Ayu membuatnya terlihat sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya, seakan Ayu adalah anak gaul Jakarta yang hobinya keluar masuk salon setiap minggu. Ningsih bangkit dari kasur memegang rambut Ayu. “Siapa kamu? Cantik banget”
“Ih mbak, malu aku.” Ayu menepis tangan Ningsih pelan.
“Pasti kerjaannya Bu Eva?”
“Iya mbak. Katanya biar pelanggan kafe mampir terus kesana, soalnya pegawainya cakep-cakep. Aku mana bisa nolak ya mbak, terpaksa ikut. Rambutku aneh ya?”
Ningsih menggeleng. “Bagus kok Yu, cantik, kayak Sandra Dewi”
“Ah bisa aja Mbak Ningsih”
“Aku enggak heran sih Yu, kalo tiba-tiba kamu diadopsi jadi anak” kekeh Ningsih geli kembali rebahan memeluk guling. Ayu menaruh kantong belanjaannya ke lantai, beberapa kantong diserahkan pada Ningsih yang menyambut gembira. Seharian ini Ayu menemani Eva, mulai dari belanja, spa, sampai ke salon semua itu mereka lakukan dalam sehari.
“Ngomong-ngomong Yu, akhir-akhir ini Mbok Raya minta aku ngerjain kerjaan dia. Kayak pembukuan uang belanja, ngatur ini itu” cerita Ningsih sembari membuka kantong belanja untuknya.
“Pertanda mbak, kekuasaan akan berpindah”
“Kamu kalo ngomong gini di depan Dini wah bisa habis kita berdua. Dini sekarang kalo ngeliat aku bibirnya maju lima senti, sampai kadang nggak mau lihat aku”
“Emang gitu kan orangnya. Jangan takut mbak, Mbak Ningsih kan jago berantem”
“Aku itu bukan takut sama dia Yu, tapi aku takut jadi pengen narik bibirnya lebih maju lagi.”
Ayu tertawa kencang, wajahnya berpaling ketika ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk dari Heru. “Iya Mas gimana?”
[Lu dimana?]
“Rumah”
[Tolong ambilin air dong Yu, haus]
“Iya mas bentar.” Ayu menutup telepon sembari mendumel pelan, ia merapikan barang-barangnya dan mencuci kaki tangan.
“Mas Heru ya?”
“Iya”
“Mas Heru bilang apa?
“Minta diambilin air”
“Mau aku aja Yu? Kayaknya Mas Heru lupa deh kamu udah bukan asisten di rumah ini”
“Nggak papa mbak aku aja. Mas Heru mah gitu, selama aku masih tinggal di sini dia bebas mau nyuruh apa aja” jawab Ayu.
Ayu keluar kamar menuju dapur, ia mengambil nampan menaruh segelas air lengkap dengan teko. Lampu ruang makan sudah dimatikan dan hanya terdengar bunyi jarum jam yang sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Ayu mengetuk pintu kamar Heru pelan.
“Mas....Mas Heru”
“Masuk” perintah Heru membuka pintu. Ayu mengangguk patuh lalu menaruh nampan di atas meja. “Lu baru pulang?”
__ADS_1
“Iya. Saya baru nyampe, belum sempat bernapas udah keburu di telepon Mas Heru”
“Protes mulu Yu....Sini, lu nggak kangen apa nggak ngelihat gue tiga hari? Gue baru balik dari Bali tau.” Tanpa menunggu jawaban Ayu Heru langsung menarik Ayu dan memeluk cewek itu erat.
“Ini mas sengaja kan manggil saya kesini? Pura-pura pengen minum, tau gitu saya ambilin air keran aja tadi” dumel Ayu bercanda. “Udah ah, saya belum mandi”
“Jangan ngerusak suasana Yu, gue lagi kangen sama lu.”
Ayu mendongak dan mencibir pelan. “Apa sih Mas Heru! Baru juga tiga hari enggak ketemu, gayanya kayak udah bertahun-tahun kepisah”
“Elu tuh yang apa-apaan. Rambut lu noh nape? karatan?” goda Heru menahan tawa.
Ayu langsung mendelik. “Norak Mas Heru! Kata Bu Eva ini model highlight, Mbak Ningsih aja suka kok. Udah jangan peluk-peluk, saya mau balik kamar. Itu minumnya dihabisin.”
Heru nyengir melepaskan pelukannya, ia mengambil sesuatu dari meja dan menyerahkan pada Ayu. “Nih.” Sejenak Ayu menatap bingung, ia menerima kotak itu dan membuka perlahan. Mata Ayu membulat tidak percaya saat melihat sebuah kalung putih dengan gantungan berbentuk potongan coklat kecil berada di dalam situ, cantik. “Hadiah karena lu udah berhasil lulus ujian”
“Mas....”
“Kalo lu nggak mau buang aja Yu.”
Ayu mendongak dengan eskpresi haru, ia menyentuh kalung itu dan tangisnya perlahan keluar. Heru jadi bingung dan menghampiri cewek itu. “Yu, kan gue ngasih hadiah, kenapa lu nangis?”
“Mas Heru...” Ayu memeluk Heru erat. Ini adalah hadiah pertama yang ia dapat dari orang lain selain Asih dan Adit. Rasa bahagia sekaligus haru menyeruak masuk memenuhi hati Ayu. Bagi Heru mungkin itu hanya sebuah kalung biasa tapi tetap saja Ayu ingin menangis sekencang mungkin.
“Jangan nangis Yu, ntar dikira kita lagi berantem”
“Makasih ya Mas. Mas Heru baik banget sama saya....saya-” Ayu tidak bisa menyelesaikan perkataannya dan terus sesegukan di pelukan Heru.
Heru tersenyum menepuk-nepuk punggung Ayu pelan. “Iya Yu, gue juga heran kenapa gue bisa baik banget sama lu, apa gue kena jampi-jampi ya?”
...----------------...
“Gimana kak?”
“Enak Yu. Aduh, gara-gara kamu aku jadi gagal diet” jawab Laras saat mencoba strawberry cake buatan Ayu. “Dua tahun udah cukup buat kamu jadi mahir. Apa ini yang dinamakan bakat ya Yu?”
“Makasih Kak Laras, tapi ini riviewnya jujur kan?”
“Jujur banget, dari hati paling dalam Yu.”
Laras menghabiskan potongan kue terakhir lalu bersandar di kursi, ia menghela napas sekilas melirik tumpukan kertas yang dibawanya dari kantor. “Aku capek Yu, kerja capek, nggak kerja butuh uang. Tiap hari depan komputer, pulangnya malam, aku tuh pengen pulang pas matahari masih bersinar cerah” keluh Laras tiba-tiba.
“Apa aku resign terus daftar ke kafe Tante Eva?”
“Mau saya tanyain kak lowongannya?”
Laras menggeleng dengan senyum kecil. “Nggak jadi deh Yu, ngebayangin harus berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda tiap hari juga sama nggak enaknya. Pilihan hidup itu nggak ada yang enak ya?”
”Iya kak setuju, tapi mau gimana lagi ya?”
“Aku pengen deh Yu, duduk diem tapi tiba-tiba kaya”
__ADS_1
“Saya juga pengen. Apa kita ngepet aja? Atau jualan sate gagak ke genderuwo? Ada tutorialnya di kisah tanah Jawa” usul Ayu, Laras ketawa ngakak.
Ting. Bel di atas pintu kafe berbunyi, keduanya sama-sama berpaling, tampak Dano muncul sembari melambaikan tangan menghampiri mereka.
“Halo Dik Ayu, gimana kabarnya?” sapa Dano ramah. Ayu nyengir, ia terakhir kali bertemu Dano setahun lalu dan setelah itu yang Ayu tahu Dano sering berada di luar Jakarta untuk mengurus bisnisnya. Ayu melihat story instagram Dano sedang berada di Kalimantan, Sulawesi, atau minggu kemarin di Bali. Tapi Dano tidak selalu sendirian, sesekali ia terlihat bersama Heru melalang buana mengelilingi Indonesia. “Makin tinggian aja nih Dik Ayu, rajin nyemil paku payung ya?”
Ayu ketawa. “Masih nggak berubah aja Mas Dano candaannya. Mas apa kabar? Pasti dari luar Jakarta ya?”
“Seperti yang dik Ayu lihat, makin ganteng kan gu? Gue dari Bali Yu, sebenernya masih seminggu disana cuman pacar gue yang cantik ini maksa-maksa gue balik, katanya kangen, jadi yaudah gue balik Jakarta”
“Maksa balik? Idih, kan kamu yang tiap malem galau pengen pulang, katanya sepi nggak ada aku” koreksi Laras. Dano nyengir bersandar di bahu cewek itu sejenak.
“Heru udah balik rumah kan kemarin?”
“Iya mas, semalam baru balik”
“Asik dong Yu, bisa lepas kangen. Pelukan nggak?” goda Dano, pipi Ayu langsung merona merah membuat Dano tertawa kencang.
“Kak, pacarnya tolong diusir, menganggu kenyamanan” canda Ayu pura-pura berbisik, ia berdiri menghampiri Artha ketika cewek itu memberikan kode untuk mendekatinya, tampak ada seorang pengunjung cowok berbicara dengan Artha.
“Kenapa kak?”
“Yu, kenalin ini Joji” beritahu Artha tanpa basa-basi.
Joji tersenyum ramah memperkenalkan diri sebagai staff bittersweet, sebuah akun youtube yang membagikan konten jalan-jalan dengan jumlah subscribes lebih dari tiga juta akun. Secara singkat Joji menjelaskan maksud dan tujuan singgah di Rosaria cafe adalah untuk mengajak kerjasama dengan bittersweet.
“Konsep dari kami sederhana mbak, mbak hanya perlu bekerja seperti biasa tapi akan kami rekam”
“Kayak daily vlog ya?” tanya Artha memastikan.
“Betul mbak, tapi kami tidak meminta biaya dan ini bisa menjadi promosi juga untuk cafe.”
Ayu dan Artha berpandangan, keduanya terlihat tertarik mendengar tawaran Joji. “Kami sih mau mas, tapi kami cuman staff biasa disini, pemiliknya lagi pergi, mungkin akan lebih baik kalo mas ngomong ke bos kami” jawab Ayu bijak.
“Kalo gitu saya boleh minta nomor pemilik kafe ini?”
Ayu dan Artha berpandangan lagi. “Lu ada nomornya Bu Eva?” tanya Artha. Ayu menggeleng lugu. “Lah Yu, kan lu tiap hari ketemu beliau”
“Justru karena tiap hari ketemu beliau kak, makanya aku enggak minta nomornya”
“Coba gue tanya Kak Ivanka deh. Mas bentar ya, saya tanya manajer saya dulu.”
Artha mengirimkan pesan pada Ivanka, tapi sampai sepuluh menit tidak ada balasan dari wanita itu. “Mas, belum dibalas, gimana ya?”
“Hmmm....Kalo besok ada kan orangnya?”
“Kalo Kak Ivanka ada mas, tapi Bu Eva enggak yakin deh, cuman Kak Ivanka ada nomornya Bu Eva”
“Oh yaudah mbak, kalo begitu besok saya kesini lagi”
“Boleh mas” angguk Ayu dan Artha serempak. Johi tersenyum setelah berbasa-basi sebentar ia membeli beberapa potong kue dan kemudian pergi dari situ.
__ADS_1
“Siapa Yu?” tanya Laras ketika Ayu kembali.
“Youtubers” jawab Ayu singkat menatap kepergian Joji dari balik jendela kaca bening.