
Perkataan Manda terjadi, setelah kejadian hari itu tidak ada lagi kesempatan bagi Dano untuk berbicara dengan Laras. Kemanapun Laras pergi selalu ada Manda, bahkan meskipun Manda tidak memiliki jadwal kuliah ia akan tetap berada di samping Laras. Seakan 24/7 adalah waktu bagi Manda bersama Laras.
“Udah No, Manda kalo ngamuk seram. Jangan dipaksa, entar lu ditonjok” nasehat Amel suatu hari ketika Dano mengeluh mengenai keberadaan Manda disekitar Laras.
“Gue juga sebel sama lu No. Jadi jangan coba-coba minta bantuan gue!” dengus Amel kejam. Sebenarnya ia kasihan melihat tampang Dano, tapi cowok itu memang patut diberi pelajaran, bahkan jika Dano harus dilempar ke api neraka Amel dengan senang hati akan menjadi orang pertama yang melempar Dano.
“Ada masalah apa sih? Kok tiba-tiba lu kayak virus gitu di depan mata Manda? Gue sampe ngeri lihat tatapan Manda ke elu, ketus membuat teriris-iris” tanya Heru lebay.
Dano menghela napas panjang.
“Intinya, temen lu ini kalo berdiri sebelah tai, taian dia” ujar Amel mengambil bukunya dan melangkah pergi meninggalkan Dano dan Heru.
...*****...
Sudah hampir sebulan sejak insiden rahasia Dano terungkap dan Laras mulai agak tenang. Ia masih marah pada Dano tapi tidak separah dulu ketika Laras mendadak membenci Dano, membuatnya tidak ingin bertemu cowok itu. Di momen ini Laras baru tahu bahwa puncak tertinggi dari amarah seseorang adalah ketika ia merasa benci namun tidak marah, melainkan memalingkan wajah tidak ingin melihat orang tersebut.
Dan Laras merasakan hal itu.
Tapi hanya sampai di hari kemarin. Akhir-akhir ini wajah putus asa Dano justru membuat Laras tersenyum geli. Dano tentu saja tidak bisa berbuat banyak karena Manda, cewek itu jelas tidak akan segan-segan untuk membuat keributan ketika Dano berani mendekati mereka.
“Buku ini ada di lantai tiga” beritahu petugas perpustakaan.
“Makasih bu” balas Laras sopan lalu naik ke lantai tiga. Sunyi. Karena hanya ada dirinya dan penjaga lantai tiga yang duduk di balik meja komputer. Laras menyusuri rak paling ujung, buku yang ia cari ada di rak paling atas. Dengan bantuan tangga beroda Laras mengambil buku yang ia inginkan.
“Ra.”
Tubuh Laras tersentak terkejut, buku di tangannya jatuh ke bawah ketika seseorang membalik tubuhnya tanpa permisi dan membekap mulut Laras agar tidak berteriak.
“Ini saya.”
Mata Laras membulat makin terkejut. Dano melepas tudung hoodie lalu melepas tangannya dari mulut Laras.
“Ngapain kamu disini?”
“Mau ketemu kamu?”
“Kamu ngikutin aku?”
Dano mengangguk membuat Laras melongo.
__ADS_1
“Sahabat kamu itu merepotkan, jadi saya harus sembunyi-sembunyi kayak gini” gerutu Dano kesal. Kedua tangannya memegang tangga mengunci pergerakan Laras.
“Minggir kamu aku mau turun!”
“Enggak mau. Nanti kamu kabur, saya mau ngomong sama kamu”
“Mau ngomong apa lagi? Mau nyakitin aku lagi? Mending kamu diem aja, aku udah capek” ketus Laras. Dano diam tapi tidak beranjak pergi, matanya sedikit salah tingkah menatap Laras, mungkin karena baru pertama kali menghadapi amarah seorang cewek.
“Dengerin penjelasan saya dulu Ra” mohon Dano.
“Nggak mau!”
Dano menghela napas. Seharusnya sekalian saja ia menculik Laras dan mengikat cewek itu di kursi agar bisa diam mendengar penjelasan Dano. Laras yang keras kepala benar-benar menguras energi Dano. Keduanya terdiam cukup lama sampai kemudian Dan mendongak menatap Laras serius.
“Kasih saya kesempatan sekali Ra. Biar saya jelasin semuanya dan setelah itu kalo kamu mau marah atau nonjok saya juga boleh” kata Dano memohon. Kening Laras berkerut, ia kesal tapi hatinya merasa tidak tega melihat ekspresi Dano.
“Aku…”
“Urusan nonjok elu biar gue yang wakilin Laras!”
Laras dan Dano berpaling, entah dari mana, Manda muncul bersama Amel.
Dano tersentak melepas pegangannya dari tangga dan terjatuh ke bawah. Manda meninju wajahnya kencang membuat Amel dan Laras ikut terkejut. Manda berjongkok di depan Dano, ekspresi terlihat sangat marah.
“Sampe lu ajak Laras ngomong lagi, gue bakar kepala lu! Ayo Ra udah gue bilang kan ke perpusnya bareng.”
Manda mengomel menarik Laras pergi. Dano berdecak jengkel hendak berdiri menarik Manda namun ditahan Amel.
“Kalem No kalem. Cewek itu. Kejantanan lu hilang kalo lu nonjok cewek” tahan Amel cengengesan geli.
“Temen lu tuh makan apa sih? Kuat banget pukulannya” tukas Dano merasakan perih menjalar di pipinya. Amel ketawa geli.
“Gue iket temen lu lama-lama biar nggak ikut campur!”
“Lu udah putus asa banget ya?” goda Amel geli.
“Gue sebel karena dari kemarin Laras gak mau dengerin penjelasan gue. Gara-gara temen lu nongol mulu dimana-mana” dumel Dano jengkel setengah mati. “Gue balik ya mau latihan. Sampai besok temen lu masih disekitar Laras. Gue culik Laras!”
Amel geleng-geleng, untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apapun. Awalnya mungkin adalah pertengkaran Laras dan Dano, tapi semakin kesini justru perang Dano melawan Manda.
__ADS_1
“Harusnya Laras lebih dari satu, biar nggak jadi sengketa kayak gini” tawa Amel geli.
...*****...
“Sorry telat habis remidi” kata Amel saat duduk di kantin, wajahnya terlihat lelah setelah berlarian di koridor kampus.
“Remedi apa? Kan ujian belum mulai”
“Bahasa Indo. Dosen gue gitu, remedi dulu baru ujian. Katanya udah tau mahasiswanya bego-bego.”
Laras dan Manda ketawa geli menyeruput es teh. Kelas Laras berikutnya jam empat sore dan seperti biasa Manda bersikeras mengikutinya, bahkan meskipun akhir-akhir ini tidak terlihat usaha Dano untuk mendekati Laras. Sepertinya cowok itu benar-benar kapok setelah mendapat tinju Manda tempo hari.
“Nda musuh lu tuh” tunjuk Amel. Manda langsung pasang tampang siaga begitu melihat Dano masuk area kantin bersama Heru dan Brandon.
“Selow Nda, Laras aja santai gitu” ujar Amel menahan tawa, Manda terlihat seperti petarung sejati.
“Woi Mel!” Heru pertama kali menyapa Amel dan setelah itu mereka duduk agak jauh dari situ.
“Dano udah nyerah kayaknya. Tuh dia kelihatan nggak peduli. Sakit hati sama tinju lu”
“Biarin! biar mampus!” ketus Manda tidak peduli.
Laras sebagai sumber sengketa Manda dan Dano hanya diam menyeruput es jeruk. Ia sempat melirik Dano dan cowok itu sama sekali tidak menatapnya, benar kata Amel, Dano terlihat sudah menyerah untuk berbicara dengan Laras.
Sepertinya Laras sudah mulai bisa bernapas lega karena ia tidak perlu lagi kemana-mana pergi bersama Manda. Meskipun menyenangkan, tapi tetap saja Laras terkadang butuh waktu sendiri, dan juga Laras mungkin bisa pulang ke rumah. Kasihan Sri, sudah hampir sebulan Laras tinggalkan sendiri.
Ponsel Laras bergetar ada pesan masuk dari Ratih.
“Sabtu besok aku ke Surabaya' beritahu Laras.
“Ngapain? Kan belum libur semester”
“Mau ngurus pertunanganku sama Angga.”
Manda dan Amel langsung melemparkan tatapan kasihan. Benar, Laras masih memiliki urusan lain dengan cowok brengsek bernama Angga.
“Kasihan banget sih kamu Ra, dikelilingi manusia-manusia bajingan” ujar Manda iba. Laras tertawa. Pahit memang, tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi Laras.
“Tenang aja Nda, kali ini aku yang bakal menyingkirkan manusia-manusia bajingan ini satu persatu” balas Laras tersenyum lebar.
__ADS_1