
Meja bundar berwarna putih menjadi pembatas di antara Laras dan Angga. Setelah tidak pernah saling sapa, kini keduanya duduk berhadapan di Eleven, sebuah coffee shop yang pertama kali Laras kunjungi bersama Angga di Jakarta.
Tempat itu sama sekali tidak berubah. Tata letak, pencahayaan lampu, dan bahkan staff masih sama seperti dulu, padahal sudah berapa tahun berlalu.
Laras ingat, ia dulu mengenakan jeans, baju bermotif aneh, rambut diikat berantakan, sepatu kets terang benderang. Penampilan yang Laras pikir sangat sopan sampai ia terkejut melihat banyak cewek cantik berada disitu hanya untuk sekedar meneguk segelas kopi.
Sekarang Laras berbeda. Dress putih pendek dengan sandal bunga cantik, anting, makeup tipis, dan rambut digerai membuat Angga tidak bisa berhenti menatap cewek itu. Di mata Angga Laras terlihat sangat cantik.
“Selama kamu bisa menyelesaikan hubungan kita dengan baik di depan keluarga besar, aku nggak akan buka mulut tentang perselingkuhan kamu” kata Laras tenang.
Angga melemparkan tatapan sendu. “Kamu benar-benar nggak akan kasih aku kesempatan?”
“Enggak. Karena yang pertama kali buang aku adalah kamu” geleng Laras.
“Maafin aku Ra”
“Aku maafin kamu, tapi bukan berarti aku ngasih kamu kesempatan kedua.”
Angga diam, pupus sudah angan-angannya untuk kembali pada Laras. Hati cewek itu sudah terlanjur membeku dan tidak akan pernah mencair karena dirinya.
“Apa ini karena ada Dano?”
Laras tersenyum lalu menggeleng. “Ada atau enggak ada Dano, tetap aja aku nggak akan kembali ke kamu. Kembali ke orang yang pernah selingkuh dari aku adalah salah satu perbuatan bodoh yang seharusnya enggak boleh aku lakukan. Aku juga sadar, aku enggak cinta kamu. Semakin kamu ingin menarik aku mendekat, saat itu juga aku semakin ingin menjauh dari kamu” jawab Laras jujur.
Angga memaksakan diri tersenyum. Keduanya sama-sama terdiam cukup lama menatap satu sama lain. Hati Angga terasa sakit, ia baru menyadari seberapa besar rasa sukanya untuk Laras justru ketika cewek itu tidak lagi bersamanya. Memang benar, sesuatu akan terlihat berharga ketika sudah tidak lagi menjadi milik kita.
“Oke Ra kalo gitu mau kamu…..tapi Ra….kapanpun kamu mau kembali, aku siap menerima kamu”
“Bahkan meskipun kamu udah punya yg lain?”
Angga mengangguk.
“Aku nggak akan pernah kembali, jadi kamu nikmatin aja hidup kamu. Semoga kedepannya nggak ada lagi Laras kedua atau ketiga. Karena baik aku ataupun kamu, pasti akan ngerasa sakit kalo dihianati”
“Aku menyesal Ra. Kamu adalah cewek terbaik yang pernah aku punya”
“Tapi kamu yang ngelepas aku”
“Iya aku tahu. aku memang bodoh”
“Sangat”
__ADS_1
“Terima kasih Ra” bisik Angga sedih.
...*****...
Teh manis di tangan Laras terasa hambar, sama seperti ekspresi keluarga besarnya ketika mendengar pengakuan Angga.
“Kamu bilang apa Angga?”
“Batalin pertunangan ma. Angga enggak mau nikah sama Laras” kata Angga.
Laras memejamkan mata. Selanjutnya ia bisa mendengar jelas pengakuan Angga, kemarahan Marinah, kecanggungan, dan segala hal terjadi di ruangan itu menandakan akhir dari hubungan Laras dan Angga.
Laras menghela napas, Marinah terlihat sangat marah sekali. Ratih berusaha membujuk Marinah yang menangis, sementara Angga sendiri sudah pergi keluar. Buru-buru Laras berdiri, ia ingin keluar dari kekacauan dan kecanggungan di ruangan itu.
“Angga! Angga!” teriak Laras berlari menahan Angga hendak masuk ke mobil.
“Kenapa kamu jujur? Deal-dealan kita kan untuk jaga nama baik kamu”
“Percuma Ra, karena aku juga nggak bisa dapetin kamu. Aku udah hancur, sekalian aja aku hancur sampai berkeping-keping” balas Angga masuk ke mobil dan tanpa berpamitan ia melaju pergi entah kemana.
Semudah itu hubungan aku selesai? Laras bengong. Ia berpaling ketika melihat Marinah keluar dari rumah bersama Ratih.
“Laras, maafin mama ya, karena mama nggak bisa ngajarin Angga dengan benar.” Marinah memegang tangan Laras erat, wanita itu menangis terlihat sangat terpukul dengan pengakuan Angga. Laras mengangguk-angguk tidak mendengar perkataan Marinah, ia terlalu asik melamun mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
...*****...
“Ibu marah?” tanya Laras mendekati Ratih. Keduanya duduk di atas kursi bambu ketika hari sudah menggelap. Sejak tadi Laras sudah cukup kenyang mendengar omelan Susanto, namun hardikan Ratih membuat Laras paham, dalam kondisi tertentu pemegang kekuasaan tertinggi berada ditangan Ratih. Mungkin karena wanita itu agak sensitif takut Laras akan pergi lagi seperti waktu itu.
“Pokoknya kalo sampai Angga ngajak kamu balikan jangan mau. Enak aja, dikira anak aku nggak bisa dapat yang lebih baik apa?” dengus Susanto dari dalam.
“Bapak, udah cukup, ayam di dapur tolong dipotong” pintah Ratih membuat Susanto buru-buru ke belakang. Laras nyengir, sosok Angga sebagai mantu ideal jelas sudah runtuh dimata Susanto.
“Ibu nggak marah” kata Ratih akhirnya menjawab pertanyaan Laras.
“Habis ibu diam. Aku jadi nggak bisa nebak perasaan ibu gimana, sedih atau marah”
“Harusnya ibu yang khawatirin perasaan kamu. Sedih atau marah” senyum Ratih. “Ibu udah tau Mas Angga selingkuh, tapi ibu nggak bisa ngomong apa-apa karena ibu nunggu keputusan kamu. Hati orang mudah berubah, ibu pikir kamu mau maafin Mas Angga makanya ibu diam aja.”
Laras berpaling, matanya membulat terkejut. “Sejak kapan?”
“Sejak kamu menghilang, ibu sudah tahu” jawab Ratih tenang, ia memegang tangan Laras lembut. “Ra, sekarang apapun yang kamu mau ibu dukung, selama itu buat kamu bahagia. Laras mau kuliah sampai S2, S3, mau kerja di Jakarta, mau nikah, atau enggak nikah ibu tetap dukung. Selama ibu nggak kehilangan Laras.”
__ADS_1
Laras menggigit bibir, ia memeluk Ratih erat dan menangis.
“Untuk urusan bapak, biar ibu yang urus. Kamu baik-baik di Jakarta dan selesaikan kuliah kamu”
“Bu…..” Laras terisak. Cukup lama ia memeluk Ratih.
Ratih tertawa geli mencubit pipi Laras. “Kamu itu sekarang cantik. Pantes Bu Marinah sedih nggak bisa dapat mantu kayak kamu”
“Ah ibu bisa aja” tawa Laras. “Tapi bu…. ibu tau Angga selingkuh dari mana”
“Mas Dano” jawab Ratih membuat batin Laras menjerit.
Laras tahu Dano pernah ke Surabaya menemui Ratih, tapi ia tidak tahu Dano bisa semudah itu mengendalikan Ratih untuk tutup mulut mengenai hubungan Laras dan Angga.
“Ra, jangan bengong” tegur Ratih.
“A-aku…aku beneran nggak nyangka Dano seniat itu buat nyelamatin aku dari perjodohan ini” gumam Laras pelan.
“Menurut ibu, Mas Dano itu teman yang baik. Dia berhari-hari ngerayu ibu biar mendukung kamu nggak nikah muda. Katanya sayang, kamu pintar kesayangan dosen”
“Dano bilang gitu?”
Ratih mengangguk lugu.
“Dan ibu setuju?”
“Iya. Ibu rasa nggak ada salahnya percaya sama Mas Dano. Mas Dano itu anak organisasi kampus yang bertugas membantu dosen untuk menyelesaikan masalah mahasiswa kan? Kalo nggak salah Mas Dano bilang nama organisasinya srikandi.”
Laras bengong.
“Lagipula Mas Dano diutus dosen pembimbing kamu untuk ngurus kamu waktu hilang. Mana bisa ibu enggak setuju? Ah, ibu jadi ngerasa bersalah udah ngerepotin Mas Dano.”
Laras makin bengong. Srikandi ngurus masalah mahasiswa? Bukannya justru kadang mereka sumber masalah kampus? batin Laras.
“Mas Dano seminggu disini. Tuh mainnya sama bapak kamu. Ibu sampai bertengkar sama bapak, karena setelah Mas Dano pergi, bapakmu mau tatoan kayak Mas Dano”
“Terus Dano cerita semuanya ke ibu?”
Ratih mengangguk. “Intinya Mas Dano bilang kalo Laras itu ngerasa tertekan karena masalah ini, tapi nggak berani ngomong. Saat itu ibu ngelarang Mas Dano buat ngomong ke bapak, jadi ya gitu, tiap malam mereka main karambol.”
Laras tertawa. Tingkah Dano benar-benar diluar dugaan Laras.
__ADS_1
Dasar cowok aneh, gumam Laras senyum-senyum sendiri.