
Bisnis Dano Heru berjalan lancar, dengan perencanaan matang dan pembagian tugas yang jelas kedua cowok itu nampaknya mulai menikmati jerih payahnya selama beberapa tahun kebelakang. “PT Mega Borneo. Pemegang saham utama Dano, jadi yang mimpin Dano” cerita Heru saat sedang kencan sore dengan Ayu di tukang bakso depan rumah.
“Kenapa bukan Mas Heru pemegang saham utama?”
“Saya urutan kedua Yu, terus saya juga males mau jadi pimpinan, bisnis farmasi papa di Bandung masih dalam tanggung jawab saya jadi ya gitu daripada repot mending saya minta Dano yang ngatur, cuman saya tetap punya tanggung jawab sendiri”
“Asik nggak punya bisnis kayak gitu? Atau malah pusing?”
“Asiknya ada, pusingnya juga ada, seimbang. Kamu mau bisnis juga Yu? Biar saya modalin.”
Ayu menggeleng. “Belum mau mas, masih belajar. Ngomong-ngomong lihat ini, saya sekarang udah belajar bikin resep sendiri. Ini hasilnya.” Ayu menyodorkan ponsel menunjukan foto berbagai coklat dan kue yang ia buat selama beberapa waktu ini. Heru menepuk kepala cewek itu, Ayu terlihat bangga dengan pencapaiannya sendiri.
”Hebat kamu”
“Tentu aja dong”
“Udah bisa sombong ya sekarang?”
“Iya, kan saya niru Mas Heru” balas Ayu berbisik mengundang tawa geli Heru.
Dan seperti itulah keduanya menghabiskan ehari-hari mereka. Senang, bahagia, tenang.
Tapi tentu saja hanya sebentar.
Badai yang selama ini berada di kejauhan perlahan mendadak datang membuat semuanya menjadi suram.
Badai itu terjadi ketika pada suatu sore Heru mengambil paket dokumen yang diberikan Malih. Paket ditujukan untuk Ayu dengan tanda pengiriman bertuliskan Madame Keningston membuat kening Heru berkerut, ia tahu Madame Keningston adalah sebuah sekolah pastry terkenal di Inggris. Heru lantas membuka dokumen itu, ekspresinya langsung berubah kecewa begitu melihat isi dokumen itu, ia melangkah pergi dan sama sekali tidak melemparkan senyum pada Malih.
“Yu...” panggil Heru, kebetulan saat itu Ayu sedang bersama Eva dan Ningsih di ruang tengah sibuk mengunting batang bunga dan menata rapi ke dalam vas.
“Iya mas?”
Heru menaruh dokumen ke atas meja. “Kok kamu nggak bilang kamu ke Inggris?”
Ekspresi Ayu langsung memucat seperti tertangkap basah sedang melakukan kesalahan. Takut-takut wajahnya mendongak kembali ke arah Heru, Ayu menelan ludah ia tahu benar Heru sedang marah.
__ADS_1
“Saya yang nyuruh Ayu daftar” ujar Eva buka suara. Heru menghela napas kasar, ia menatap Ayu tajam tidak mengindahkan keberadaan Eva dan Ningsih disitu, suasana ruangan mendadak tegang.
“Kalo ditanya tuh jawab!” ketus Heru agak tinggi membuat semua orang terkejut. Ayu menelan ludah, ia takut tapi memaksakan diri untuk menjawab.
“E-eh itu....karena belum pasti saya akan keterima mas” jawab Ayu gugup setengah mati.
“Oh jadi kalo kamu keterima baru kamu cerita, gitu?”
“......”
“Haven...” tegur Eva.
Heru balik badan, ia langsung melangkah pergi meninggalkan Ayu panik. Buru-buru Ayu melepas bunga dan mengejar Heru sampai ke depan kamar cowok itu. “Mas....”
Heru menepis kasar tangan Ayu dilengannya, Ayu terkejut tapi tidak langsung mundur. Ayu tau ia salah tapi ia butuh menjelaskan semuanya pada Heru. Ayu tidak bermaksud untuk menyembunyikan fakta ia mendaftar sekolah di Inggris, tapi ia hanya bingung bagaimana caranya memberitahu Heru, mengingat cowok itu menentang keras Ayu pergi dari sampingnya.
“Mas...”
Heru balik badan, ekspresinya terlihat marah sekaligus kecewa membuat Ayu temangun diam. “Bagus ya Yu, kamu main rahasia-rahasiaan dari saya. Saya kalo ada apa-apa selalu cerita ke kamu, eh kamu malah diem-diem aja kayak gini. Kamu kira saya seneng kamu ke Inggris? Enggak! Saya enggak suka!”
“Tapi mas....”
Bam. Heru membanting pintu kamar kencang. Ayu terpaku di depan kamar, ia mengigit bibir dan menarik napas mencoba menenangkan diri untuk tidak menangis. Tenang Yu, masih ada hari esok buat bicara baik-baik, batin Ayu.
...----------------...
Sejak hari itu hubungan Ayu dan Heru mendadak renggang. Ayu jarang bertemu Heru karena cowok itu jarang berada di rumah, bahkan meskipun bertemu Heru sama sekali menolak berbicara dengan Ayu, ia akan membuang muka dan berjalan lurus tanpa ekspresi seakan tidak mengindahkan usaha Ayu untuk berbicara dengannya.
Ayu pusing, fokusnya mendadak pecah, antara harus mempersiapkan keberangkatannya ke Inggris sebulan lagi atau mencari cara berbaikan dengan Heru. Ayu tidak mau mereka berpisah dalam keadaan masih berseteru, Ayu tidak ingin pergi membawa rasa bersalah, ia ingin berbicara dan meminta maaf pada Heru. Heru mungkin benar, Ayu itu egois, tapi egois untuk mimpinya. Ayu akan meminta maaf karena tidak menceritakan pada Heru lebih dulu tapi ia tidak akan meminta maaf karena mimpinya, Ayu ingin Heru mendukungnya, sama seperti Ayu yang selalu mendukung cowok itu.
“Udah empat hari kak, pusing saya” keluh Ayu pada Laras sembari menopang dagu, pandangannya kosong terlihat tidak bersemangat.
Laras menepuk-nepuk bahu Ayu kasihan. Heru itu hanya umurnya saja yang dewasa tapi sikapnya terkadang masih kekanak-kanakan dan Laras memaklumi. Heru mirip seperti Dano. Anak-anak yang tumbuh dengan selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan cenderung berpikir hal disekitarnya akan selalu berpusat pada dirinya. Dano pun kadang begitu, meskipun semakin kesini Dano mulai bersikap dewasa. Sedangkan Heru? Mungkin ini adalah kali pertama Heru tau segala sesuatu tidak akan berjalan sesuai rencananya, terkadang ada beberapa cabang kecil kehidupan yang mau tidak mau harus kita ikuti, dan Heru jelas saja akan merasa marah terhadap 'cabang kecil' itu.
“Saya itu mau ngomong baik-baik kak, tapi gimana ya anaknya aja enggak mau diajak ngomong. Hawanya itu loh, kayak mau ngajak berantem. Saya suka heran, dulu Ibu Ratna ngidam apa waktu hamil anaknya, kok udah gede gini keras kepala banget” keluh Ayu suram.
__ADS_1
“Aku tahu mau kamu Yu, tapi coba tunggu lagi sampai beberapa hari. Kalo masih enggak mau diajak ngomong juga, yaudah paksa aja, pukulin kepalanya terus iket dikursi biar mau diajak ngobrol” ide Laras tersenyum geli. “Tapi Yu, seperti apapun nanti hubungan kalian akan berjalan, kamu enggak boleh ngerelain mimpi kamu. Kamu harus ke Inggris.”
Ayu mengangguk lemas, ia menarik napas menatap ke luar jendela kafe. Satu persatu lampu luar bangunan dan jalan menyala tanda hari semakin gelap, gelap....ya segelap hati Ayu saat ini.
...----------------...
Hujan turun deras sekali, becek dimana-mana, dingin, dan langit terlihat menghitam. Semua terasa suran, sama seperti Heru. Sejak kemarin wajah cowok itu seperti mendung yang siap mengeluarkan gemuruh kapan saja.
“Penambahan alat beratnya fokusin ke Samarinda aja kali ya? Gue udah minta perhitungan kasar dari hasil kerja beberapa bulan ini, dan menurut Bu Tere revenue bersih kita tahun ini untuk site Banjarmasih udah tiga kali dibanding tahun lalu, penambahan alat berat juga paling di akhir tahun nanti, jadi di awal tahun ini kita bisa fokus ke Samarinda.” Dano melepas wireless saat meeting mereka selesai, ia menyodorkan ipad menunjukan laporan dari Tere, manajer keuangan pusat PT Mega Borneo.
Heru membaca seksama, ia melingkari beberapa bagian. “Gue sarankan jangan beli aset kebanyakan, kita perlu nyediain dana tidak terduga. Bisnis kita baru dua tahun lebih No, gue yakin kedepannya bakalan ada masalah-masalah kecil yang harus kita urus. Ngomong-ngomong, bokap gue setuju ngasih pinjaman”
“Syaratnya?”
“Gue megang bisnis bokap di Bandung”
“Yeuh, itu mah sama aja dia ngasih lu uang jajan. Tapi nggak papa gue nggak nolak, entar gue minta notaris buat ngurus. Terus.....apalagi ya yang mau gue bahas? Hmm.....” Dano menscroll tab membaca ulang catatan kecil dari poin-poin yang ingin ia diskusikan dengan Heru, obrolan mereka semakin panjang membahas tentang rencana selama beberapa bulan ke depan.
“Hmm...kalo pinjaman bank tentu aja butuh laporan audit, lu ada rekomendasi kantor audit nggak? Diluar big four tapi kualitasnya setara” tanya Heru. Dano berpikir sejenak lalu mengangguk.
“Ada, kantor Laras, ravent make auditor kesternal dari KAP Jerman cabang Indonesia. KAP Arya kalo nggak salah, coba nanti gue tanya Laras”
“Bagus?”
“Bagus kok, emang nggak seterkenal big four tapi setau gue pusat pasarnya itu perusahaan Eropa dan baru ngembangin ke pasar ke Asia”
“Oke berarti masalah audit selesai. Ada lagi?”
“Nggak. Belum kepikiran” cengir Dano. “Kenapa muka lu?”
“Pusing” jawab Heru, wajahnya terlihat muram. “Gue bertengkar sama Ayu.”
Dano meneguk es tehnya tenang mendengarkan cerita Heru termasuk unek-unek cowok itu. Sesekali Heru mengomel tapi wajahnya tetap muram tidak bersemangat.
“Ya gimana ya....Kalo Laras kayak gitu gue mungkin bakal ngamuk juga....Tapi, coba lu pikir dari sisi Ayu.” Dano menyalakan rokok, kebiasaan lama yang jarang ia lakukan kecuali di saat-saat penat seperti ini. “Ayu itu nggak seberuntung elu yang bisa bebas milih kuliah dimana aja. Jadi, kalo lu ngelarang Ayu, lu itu egois. Coba lu berdua ngomong baik-baik, lu nggak mau kan pisah dalam keadaan berantem?”
__ADS_1
Heru diam tidak membalas perkataan Dano, dalam hati ia setuju dengan perkataan cowok itu. Tapi kok hatinya masih terasa kesal ya?
Ah Ayu, Bikin pusing aja!