Ms. Norak

Ms. Norak
Hampa


__ADS_3

Hidup Laras kembali seperti semula, tanpa Dano yang mengikutinya, tanpa Angga, dan tanpa drama pertengkaran Dano dan Angga yang menyeret Laras ketengah lingkaran setan mereka.


Beberapa bulan setelah pertemuan Laras dan Dano, kini ia disibukkan dengan ujian akhir semester. Hidup Laras sekarang seperti mahasiswa kupu-kupu, alis kuliah-pulang kuliah-pulang. Bahkan terkadang juga kunang-kunang, kuliah-nangis kuliah-nangis, nangis karena tugas dosen.


Tapi Laras tetaplah makhluk manis ciptaan Tuhan yang paling aneh. Di tengah kesibukannya itu Laras masih merasa hampa teramat sangat, hidupnya menjadi kosong. Keberadaan Dano di sekitar Laras ternyata cukup memberikan pengaruh besar bagi cewek itu.


Sesekali Laras mencoba mengobati rasa hampanya dengan menerima ajakan Rakai. Tapi kemanapun mereka pergi tetap saja Laras merasa ada yang kurang. Laras tanpa sadar membandingkan Rakai dengan Dano, merindukan Dano sampai menangis sedih, dan kemudian galau hanya karena melihat deretan baju di dalam lemari bajunya. Sepertinya Laras perlahan menjadi tidak waras karena Dano.


Laras sering mendengarkan lagi Noah yang berjudul menghapus jejakmu, tujuannya sih sebagai motivasi untuk move on, tapi tiap malam Laras tetap merasa sedih. Satu-satunya yang berhasil dari usaha move on Laras hanya ketika ia tidak mengambil ponsel dan menelepon Dano.


“Ingat ya, kembali ke mantan adalah sebuah perbuatan bodoh karena cinta!” ujar Manda pada suatu hari.


Laras mesam-mesem menyeruput es teh. Eh, emang aku sama Dano udah putus? Siapa yang mutusin? batin Laras baru teringat status hubungannya yang mendadak abu-abu.


 


...*****...


“Bengong mulu Ra, ada apa sih? Mikirin tatanan tata surya ya?” tegur Heru menepuk pundak Laras. Cewek itu mendongak dengan tampang masam ketika Heru, Dano, dan Brandon duduk di tempat mereka.


“Laras jangan diganggu, lagi stres soal pajak susah, tadi cuman bisa jawab setengah” jelas Amel.


“Tenang aja Ra, masih bisa ngulang tahun depan”


“Iya, kamu yang bayar uang kuliahku tapi” balas Laras sewot. Heru ketawa mencomot gorengan milik Manda.


Mereka asik mengobrol, kecuali Laras yang memilih diam. Selain karena frustasi dengan soal pajak tadi, kehadiran Dano disitu membuat Laras mati kutu. Padahal sudah lama sejak pengakuan Dano namun Laras masih tidak bisa menyembunyikan perasaannya setiap kali melihat cowok itu. Laras merasa sedih.


“No, Rita kirim salam” lapor Brandon tiba-tiba menunjukan isi chat grup.


Kening Dano berkerut bingung. “Rita siapa?”


“Anak baru srikandi. Itu loh yang jadi vokalis baru bandnya Udin”


“Cewek kecil mungil itu?”


“Yoi. Kecil, mungil, cakep…jadi salam balik nggak nih?”

__ADS_1


Dano mengangguk membuat teman-temannya bersorak.


“Yaelah Dano, lepas dari Laras langsung buka hati. Ra lihat tuh kelakuan mantan lu” tawa Heru sengaja ingin memancing reaksi Laras.


“Lagian Laras, apa sih yang kurang dari Dano? Kok ditinggal? Kan kasihan” tambah Brandon.


“Temen lu kurang waras!” ujar Manda sadar tampang Laras kurang nyaman mendengar candaan Heru dan Brandon, matanya melotot pada Amel yang ikut tertawa, sepertinya cewek itu berada di pihak Dano sekarang.


“Mel, acara Samuel kemarin gimana? Gue dengar Yohan nggak mabuk?” tanya Manda mengalihkan pembicaraan, beruntung pembahasan berganti mengenai Yohan.


Wajah Laras berpaling, matanya menangkap basah Dano sedang menopang dagu memperhatikan dirinya. Cowok itu tersenyum tipis dan setelah itu memalingkan wajah ke arah Heru.


Laras menelan ludah. Jadi kita beneran udah putus ya? batin Laras dan entah mengapa ia ingin menangis.


...*****...


Gosip baru tentang Dano beredar di Srikandi, namun kali ini bukan karena Laras. Dano digosipkan sedang PDKT dengan seorang anak baru srikandi, Rita namanya. Laras yang sering menjadi buah bibir setiap kali membicarakan Dano mendadak menjadi terlupakan.


Laras bersyukur, karena tidak ada lagi cerita-cerita aneh mengenai dirinya. Tapi tetap saja ada yang membuatnya jengah. Heru dan Brandon kompak menggoda Laras setiap kali ada gosip baru mengenai Dano dan Rita.


“Dano kurang apa Ra? Cakep iya, populer iya, tajir iya. Sayang dibuang, coba deh buka hatinya dikit aja, kali aja muat juga sama Brandon masuk situ” ledek Samuel membuat Laras buru-buru angkat kaki.


“Yang sabar Ra, nanti juga pada bosen” hibur Manda kasihan. 


Dugaan Manda jelas salah besar. Tingkah Heru dkk semakin menjadi-jadi, bukan hanya sekedae ledekan atau godaan, mereka sekarang berani mengirim foto Dano. Entah apapun kegiatan cowok itu saat bersama mereka, Laras pasti akan menerima berpuluh-puluh foto candid Dano.


“Bisa gila aku!” ujar Laras mengomel melihat isi pesan Heru. 


Heru: Ini Ra, jadwal kegiatan Dano hari ini. Kali-kali aja mau nyuri kesempatan buat ketemu.


Mau tidak mau Manda ikut tertawa geli melihat pesan Heru. “Udah Ra, cuekin aja. Orang gila kalo di tanggapin makin gila.”


Kedua cewek itu kemudian melangkah pergi menuju gedung fakultas psikologi, sempat melewati sekre srikandi dan disajikan pemandangan menyebalkan Rita mengejar Dano.


“Kak Dano tungguuuu, tali sepatuku belum nih” ujar Rita buru-buru berlari mengejar Dano.


“Buruan, telat nih”

__ADS_1


“Nempel mulu kayak perangko..Eh! Ada Laras! Halo Laras, ngapain natap kesini? Lihat Dano ya?” ujar Brandon pura-pura pasang tampang terkejut ketika melihat Laras. Dano berpaling lalu terkekeh geli, ia menepuk pundak Brandon dan melangkah pergi bersama Rita.


Brandon mendekati Laras dan Manda, langkahnya dipercepat untuk menyimbangi langkah Laras. Wajah cewek itu sudah bersemu kemerahan karena teriakan Brandon tadi.


“Itu namanya Rita Ra. Cakepan lu, nyamannya Dano juga di elu. Tapi enggak tau deh kalo lama dibuang hati Dano bisa pindah” ujar Brandon lalu nyelonong pergi.


Laras bengong. “Cerewet!” ujar Laras jengkel.


*****


Hujan turun lebat di sore hari. Laras bersandar di dinding gedung fakultas psikologi. Akibat kelas logika dipindahkan ke gedung psikologi, Laras terpaksa berteduh di lobi gedung menunggu hujan redah. Laras merutuki dirinya yang lupa membawa payung, padahal ia terbiasa untuk menaruh payung di dalam tas.


“Sialan!” gumam Laras menggigit keras permen karetnya yang mulai terasa pahit. Beberapa hari ini semua hal berjalan kacau untuk Laras.


Laras melangkah mendekati tong sampah membuang permen karet, perutnya terasa lapar dan udara dingin mulai menusuk kulit.


Kenapa nggak hujannya pas aku di rumah sih? biar aku bisa tidur, sialan emang! rutuk Laras kesal.


Halte busway berada di depan, tapi tidak ada jaminan laptop Laras akan tetap kering terhindar hujan. Laras menjulurkan tangan merasakan jatuhnya air hujan dari atap gedung.


“Ra..”


Laras tersentak, ia balik badan dan menemukan Dano berdiri di belakangnya, cowok itu menjulurkan payung seakan paham mengapa Laras berdiri disitu.


“Ngapain kamu disini?”


“Mau latihan. Kamu mau balik kan? Sana pergi, pake payung saya.”


Laras mengangguk, mengambil payung dari tangan Dano. Hati-hati ia melangkah turun dari tangga. Tepat saat berada di bawah langkah Laras terhenti, hatinya kembali terasa perih, ia lantas balik badan mendongak menatap Dano yang masih memperhatikannya.


Laras diam, sesuatu dalam dirinya memanas. Melihat Dano berdiri disana membuatnya ingin menangis. Kenapa cowok itu terlihat sangat kesepian? Sama seperti Laras, Dano juga terluka. Mereka sama-sama pernah menjadi korban perselingkuhan, sama-sama kehilangan orang yang pernah menjadi pusat dari dunia mereka.


Namun tentu saja kisah Dano jauh lebih tragis dari Laras. Sampai detik ini Laras masih bisa melihat Angga kapanpun ia mau, tapi Dano berbeda. Dano kehilangan Claudia di tempat dimana ia tidak bisa menemui cewek itu lagi.


Tanpa sadar air mata Laras jatuh. Ia baru menyadari seberapa besar perasaan sukanya untuk Dano dan seberapa sedih kehilangan cowok itu. Laras terlambat sadar, dan kini cowok iti sudah pergi lebih dulu.


Laras menundukan wajah, tidak ingin berdiri lebih lama Laras segera berpaling meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2