Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 8. Party


__ADS_3

Sejak subuh asisten rumah tangga keluarga Levronka sudah sibuk kesana-kemari mengatur tempat di halaman belakang rumah. Berkat Toto, meja hitam berisi peralatan DJ tertata rapi di panggung kecil dekat kolam renang.


“Mas Heru tiba-tiba mau ngadain acara Yu, enggak tau dalam rangka apa” beritahu Ningsih membawa taplak meja ke depan.


“Padahal udah tiga bulan adem ayem, kok tiba-tiba penyakitnya kumat. Aduh pasti besok badan kita bakalan dua kali lebih pegel harus ngeberesin ini semua” keluh Ningsih tidak bersemangat. Ayu membantu Ningsih mengatur meja panjang agar tertata rapi setelah itu ia mondar-mandir mengambil pesanan kue, minuman, dan berbagai perlengkapan untuk acara nanti malam.


“Yu, jam setengah tujuh semua makanan dan minuman ditaruh di depan ya” pintah Raya sembari mencatat sesuatu di atas buku kecilnya. Wanita itu menatap teliti semua makanan dan minuman di atas meja memastikan tidak ada yang kurang. “Makan siang Mas Heru tolong disiapin Yu” kata Raya melirik ke arah jam dinding.


Ayu langsung menuju dapur dan bergegas menyiapkan makan siang untuk Heru. Tepat saat Ayu menaruh makan siang di atas meja makan Heru muncul, cowok itu mengenakan celana pendek dan kaus singlet, rambutnya acak-acakan terlihat jelas baru bangun tidur. Tanpa basa-basi Heru menarik kursi dan duduk.


“Masak apa?” tanya Heru melirik sekilas, keningnya berkerut melihat gulai ikan. “Gue mau pesan pizza deh Yu.”


Wajah Ayu mendongak. “Apa mas?”


“Gue mau pesan pizza.”


Mata Ayu hampir membulat. Sejak tadi Ayu sibuk dan buru-buru menyiapkan makan siang tapi Heru malah terlihat tidak peduli. Tau begitu mending Ayu tidak usah masak! “Terus makan siangnya gimana mas?”


“Lu aja yang makan” jawab Heru kalem. Ayu melongo, ia menahan bibirnya agar tidak mendumel melihat eskpresi Heru. “Kenapa lu?” tanya Heru saat mendongak dan mendapati Ayu menatapnya diam.


“Ini seriusan nggak mau dimakan mas?” tanya Ayu lagi.


Heru menopang dagu. “Gue pengen makan yang lain.”


Ayu menghela napas pelan, kalo cowok ini bukan majikannya mungkin Ayu akan menimpuk kepalanya dengan piring. “Yaudah saya balikin ke belakang”


“Kenapa enggak lu aja yang makan?”


“Saya udah makan mas, udah dari jam dua belas tadi. Mas Heru telat bangun” jawab Ayu mengontrol nada suaranya agar tetap terdengar tenang. “Mas Heru semalam begadang ya?” lanjut Ayu basa-basi.


“Iya, ngerjain skripsi. Saya capek banget Yu”


“Jangan capek mas, tuh udah mau kelar, entar nggak jadi lagi acaranya” tunjuk Ayu ke halaman luar. Heru berpaling sekilas lalu menahan senyum.


“Lu nyindir gue ya? Dendam banget kayaknya”


Ayu menggeleng. “Perasaan mas aja”


“Sini deh gue makan, tapi lu disini, gue malas makan sendiri”


“Saya harus bantuin Mbok Raya”


“Mbooookkk” teriak Heru memanggil. Tidak berapa lama Raya muncul dari pintu dapur.


“Ada apa mas?”

__ADS_1


“Saya pinjem Ayu bentar, mau ngobrol buat badminton. Enggak papa kan?”


“Ya ampun Mas Heru, mbok kira ada apa” kata Raya mengangguk singkat lalu pergi. Sekali lagi Ayu melongo, dimomen ini Ayu memberikan nilai minus satu untuk tingkat kesopanan Heru.


“Udah kan? Nah duduk” ujar Heru santai. Ayu tidak melawan, ia menarik kursi duduk di depan Heru.


“Mas ini kok hobi banget teriak-teriak? Tenggorokannya enggak sakit ya?” tanya Ayu. Heru angkat bahu santai menguyah makanannya.


“Yaudah mulai besok gue manggilnya pakai bisik-bisik.”


Ayu mencibir pelan. “Mas Heru ngadain acara buat apa?”


“Biar rumah nggak sepi-sepi banget Yu”


“Di dapur selalu rame kok Mas. Coba sekali-kali main ke belakang”


“Nanti kalo gue gabung lu malah nggak fokus kerja” jawab Heru. “Ini kayaknya terakhir gue buat acara disini”


“Besok-besok enggak lagi?”


“Besok-besok gue mau buat pesta olahraga” jawab Heru sembarangan membuat Ayu melongo.


...----------------...


Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam namun kediaman Levronka terlihat masih ramai, bahkan lebih ramai dari sebelumnya. Sayup-sayup terdengar suara musik kencang mengiringi kerumunan orang yang menari di dekat kolam renang. Ayu mengintip dari dapur, ia penasaran tapi tidak berani mendekat. Selain dilarang Ningsih, kerumunan itu juga bukan untuk Ayu. Sejak tadi yang bisa mendekat hanya Dini dan Ningsih karena membantu mengangkat gelas kotor, Ayu sendiri bertugas mencuci piring di dapur.


“Sampai mereka bosen Yu. Nanti kamu tidur duluan aja, biar aku sama Ningsih yang nungguin, tapi besok pagi kamu bangun duluan ya” jawab Dini menaruh gelas kotor di atas wastafel.


Ayu mengangguk menyelesaikan cuciannya. Samar-samar lagu yang dimainkan terdengar sampai dapur, tapi Ayu tidak mengerti lagu apa itu, selain terlalu berisik lagu itu juga terdengar aneh, tapi sepertinya orang-orang disana tidak peduli dan malah semakin gila-gilan mengoyangkan tubuh. Sekitar tiga puluh menit kemudian pekerjaan Ayu selesai. Setelah memastikan tidak ada lagi piring kotor Ayu mematikan lampu lalu kembali ke kamarnya.


Jarak kamar Ayu dengan rumah utama Levronka agak sedikit jauh karena letaknya kamarnya di dekat halaman samping.


Kaki Ayu melangkah hati-hati melewati jalan setapak. Remang-remang cahaya yang berasal dari lampu kolam ikan mengiringi langkah Ayu.


Saat hendak masuk kamar, telinga Ayu menangkap suara bisik-bisik dari samping. Penasaran, Ayu memutuskan untuk mendekat. Ia melihat ada dua orang berada disitu, semakin dekat dan mata Ayu bisa menangkap jelas siapa disana.


Heru bersama seorang cewek.


Tubuh cewek itu membelakangi Ayu membuat Ayu hanya bisa melihat Heru. Mereka sedang berbicara namun tidak begitu terdengar jelas.


Bukannya kembali ke kamar Ayu malah diam-diam memperhatikan mereka.


Heru berdiri disana mengenakan celana pendek dan kaos putih, ekspresinya terlihat serius mendengar perkataan lawan bicaranya.


Dress hijau toska kerlap-kerlip mini dengan punggung terbuka membuat Ayu bisa melihat jelas pergerakan tangan Heru yang mengelus punggung cewek itu.

__ADS_1


Mata Ayu mendadak membulat terkejut ketika melihat Heru menunduk mencium bibir cewek itu. Tubuh Ayu membeku saat menyaksikan adegan itu. Cahaya remang-remang seakan tidak menjadi penghalang bagi Ayu untuk merekam jelas gerak-gerik Heru. Cowok itu terlihat berbeda. Senyum yang Heru tampilkan selama beberapa minggu ini mendadak menghilang dari benak Ayu. Degup jantung Ayu berdetak kencang, ada sebuah perasaan tidak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan alasannya.


“Ke kamar aja yuk” kata cewek itu mendorong Heru pelan lalu memeluknya erat.


Heru mengangguk, wajahnya mendongak dan saat itu juga matanya bertatapan dengan Ayu yang masih mematung.


Cukup lama Heru menatap Ayu. Perlahan senyumnya mengembang membuat Ayu tersadar dari lamunannya. Bulu kuduk Ayu berdiri, itu bukan senyuman ramah yang selalu ditunjukan Heru. Senyuman itu memiliki makna yang tidak Ayu mengerti namun membuat perutnya berputar tidak nyaman. Kepala Ayu menggeleng, matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali mencoba mengusir kejadian tadi dari otaknya. Setelah itu tanpa berkata apapun Ayu balik badan dan melangkah pergi dari situ.


“Nggak waras!” umpat Ayu pelan masuk kamar.


...----------------...


Pagi-pagi sekali Ayu sudah kembali beraktivitas, mulai dari menyiapakan sarapan sampai membantu Toto membersihkan halaman. Acara semalam ternyata menyisahkan banyak sampah berserakan.


“Duh Yu, pengen berhenti kerja aku. Tapi aku butuh uang” bisik Ningsih mengomel, ia baru saja selesai membersihkan toilet di lantai satu.


Tanpa perlu dijelaskan Ayu bisa menebak sehancur apa kekacuan yang harus Ningsih bereskan di sana.


“Semalam mbak tidur jam berapa?”


“Dua Yu, itupun acaranya belum selesai. Aku nggak kuat, untung ada Mbak Dini. Tapi kayaknya itu akal-akalan dia aja biar bisa bangun siang. Tau gitu mending aku aja yang begadang” gerutu Ningsih.


“Mbak duduk aja disitu, biar aku yang bersihin” kata Ayu. Ningsih menurut duduk di dekat pot besar, tampangnya terlihat lelah karena kurang tidur.


“Untung aku nggak sekolah ya Yu, kalo enggak aku mungkin kayak gitu juga”


“Kayak gitu kalo mbak punya uang” tambah Ayu membuat Ningsih tertawa. Ayu mengambil plastik besar membersihkan sampah rokok di antara pot bunga. Dalam hati ia mengumpatin orang-orang yang membuang sampah sembarangan disitu, untung bunganya tidak mati. Suara pintu dibuka membuat Ayu mendongak, tampak Heru bersandar di pintu memperhatikan Ayu bekerja.


“Pagi Mas Heru, mau sarapan?” tanya Ningsih pertama kali menyapa. Heru menganggguk singkat.


“Ngapain lu Yu?” tanya Heru iseng. Ayu mendongak lagi, kali ini dengan satu alis terangkat, melihat Heru sepagi ini mendadak membuat Ayu merasa kesal tanpa sebab. Bibir Ayu mengerucut singkat tidak menjawab pertanyaan Heru.


“Sayang, aku balik duluan, mau ke salon sama mami entar siang.” Suara cewek dari belakang Heru membuat wajah Ayu langsung berpaling ke arah lain, ia tidak ingin melihat dua sejoli yang baru saja menorehkan adegan dewasa padanya tadi malam. Rasanya canggung sekali.


“Oke. Aku anterin”


“Mbak duluan ya” pamit cewek itu sebelum melangkah pergi, hanya Ningsih dan Toto yang balas menyapa sementara Ayu pura-pura fokus mencari sisa puntung rokok dari antara pot bunga.


“ADUH!!” Ayu menjerit saat tubuhnya nyungsep ke antara bunga. Ia langsung mendongak dengan tampang jengkel karena Heru baru saja sengaja mendorong tubuh Ayu. Tanpa meminta maaf ia langsung masuk dan menutup pintu dengan tawa kencang.


“Kenapa sayang?”


“Nggak papa. asisten aku jatuh tadi” kekeh Heru merangkul cewek itu santai lalu melangkah pergi.


“Uh sialan!” maki Ayu saat Heru sudah menjauh.

__ADS_1


Ningsih geleng-geleng kepala. “Kadang aku lupa Yu kalo kamu sama Mas Heru seumuran.”


__ADS_2