Ms. Norak

Ms. Norak
Seperti Coklat yang Meleleh


__ADS_3

Mata Laras mengerjap merasakan berkas sinar matahari masuk melewati sela-sela tirai. Tubuh Laras bergerak malas, ia bisa merasakan tangan Dano masih memeluknya erat dari belakang. Semalam mereka menghabiskan waktu sampai subuh untuk duduk mengobrol di gazebo belakang.


Laras balik badan ke arah Dano yang masih tertidur pulas. Laras tidak bisa berhenti tersenyum. Semalam rasanya seperti ia sedang berada di puncak kebahagiaannya. Cinta Laras yang sempat terombang-ambing pada akhirnya berhasil mendarat di hati Dano.


Tangan Laras terjulur menyentuh wajah Dano. Cowok itu tampan sekali dan sekarang jauh lebih tampan dari hari-hari biasa. Dano tanpa kaos, terlelap memeluk Laras membuatnya terlihat sangat seksi. Laras menelan ludah, cowok ini adalah pacarnya.


Perlahan Laras mendekat, memberikan kecupan manis di bibir Dano lalu turun ke lantai bawah, tampak Yanti sedang sibuk mengupas bawang.


“Pagi Mbak Yanti”


“Pagi Neng Laras, cakep amat baru bangun” balas Yanti senyam senyum, sepertinya mood wanita itu sedang bagus.


“Ah bisa aja Mbak Yanti. Masak apa mbak?” Laras melongok.


“Ini bubur buat Mas Dano, katanya akhir-akhir ini perutnya lagi nggak enak kalo sarapan nasi, maunya yang lembut-lembut. Katanya kalo bisa saking lembutnya sampai nggak perlu dikunyah tau-tau udah masuk perut aja, aneh. Padahal dulu kalo tiap pagi saya nggak siapin nasi ngedumel. Sekarang aja ngeluh, ginjalnya sakit lah, jantungnya disko lah, perutnya pindah, banyak pokoknya, saya sampai heran!” curhat Yanti. Laras nyengir kemudian membantu wanita itu, cukup lama mereka berkutat di dapur. Iringan pelan tembang Jawa dari radio ponsel Yanti dan sesekali omelannya membuat Laras terhibur.


Laras menaruh makanan matang di atas meja dan saat itu terdengar pintu lift terbuka. Dano turun tanpa mengenakan kaos, hanya celana futsal dan rambutnya acak-acakan terlihat jelas baru bangun tidur.


“Tumben bangun Mas Dano? Biasanya jam segini masih pingsan” tegur Yanti, Dano cengengesan menghampiri Laras.


“Masak apa Ra?” Dano mencium pipi Laras dan memeluk cewek itu dari belakang.


“Tumis kembang melati. Mau?” jawab Laras.


“Masih pagi udah ngelawak, kayaknya semangat banget buat menjalani hari”


“Iya dong, harus. Udah kamu duduk aja, nggak usah peluk-peluk, aku masih mau bantu Mbak Yanti”


“Aduh kasihan Mas Dano, pelukan hangatnya ditolak, sana mas ke depan peluk Pak Rudi” ledek Yanti.


“Aduh, Mbak Yanti kalo mau saya peluk bilang aja. Sini Mbak, dada saya masih muat buat nampung Mbak” ujar Dano merentangkan tangan lebar-lebar. Mbak Yanti menjulurkan lidah lalu pergi ke belakang mengurus cucian.


“Enak?” tanya Laras, Dano mengangguk.


“Oh jelas sih, aku sama Mbak Yanti masaknya pake cinta” ujar Laras bangga.


Dano tersenyum. “Terus cinta siapa yang lebih besar?”


“Aku dong. Kan ikut kamu, sampai tumpah-tumpah!”


“Dasar cewek, gombal” ujar Dano mencubit pelan pipi Laras.


Selesai sarapan Dano bertugas membantu Laras mencuci piring. Yanti tersenyum girang, kalau Laras datang ke rumah Dano mendadak rajin bukan main.


“Patut dicontoh Mas Dafa nanti, rajinnya mas-mas yang lagi jatuh cinta” celetuk Yanti membawa tumpukan selimut ke cucian belakang


“Sirik aja sih ibu-ibu” tawa Dano.


“Ini cokelat punya kamu?” tanya Laras ketika membuka pintu kulkas bagian atas. “Bagi yah” pintah Laras. Cokelat rasa madu terbungkus kertas cantik berwarna kuning.


“Beli dimana ini?”


“Nggak beli, dikasih Clara. Inget Clara kan? tunangannya Rian” jelas Dano. Laras mengangguk-angguk menggigit cokelat, rasanya jauh lebih enak dibanding semua coklat yang pernah Laras makan.


“Enak?” tanya Dano mendekat, Laras mengangguk menyodorkan sepotong kecil.


“Mau?”


Dano mengangguk menunduk dan dengan cepat mengecup bibir Laras. Tangan Laras lantas terangkat naik langsung memukul bahu Dano pelan. Sekali lagi Dano mengecup bibir Laras.


“Dano-”


Satu kecupan.


“Ihs!”


Satu kecupan.


“IH!”


Satu kecupan lagi dan Dano terkekeh geli.


“Kalo dilihat Mbak Yanti gimana?” pelotot Laras, dasar Dano sukanya mencuri kesempatan!


“Ya paling Mbak Yanti sirik nggak bisa cium kamu” jawab Dano kalem. Ia kembali memeluk Laras erat dan mencium puncak kepala cewek itu.

__ADS_1


“Saya suka meluk kamu kayak gini, kalo bisa saya ikat kamu biar nggak kemana-mana”


“Kayak penculik” geleng Laras.


“Ra, seandainya suatu saat nanti kamu bosan sama saya kamu bilang ya”


“Kalo aku bilang, terus apa?”


“Terus saya bakal nyari cara biar kamu nggak bosen sama saya”


“Dasar”


“Dan juga kalo suatu saat nanti kamu ngerasa saya bukan seperti Dano yang kamu kenal, kamu boleh marah atau nampar saya Ra, tapi kamu nggak boleh ninggalin saya.”


Kening Laras berkerut bingung. “Iya, aku janji” angguk Laras ketika melihat Dano menatapnya serius. Senyum manis Dano mengembang lebar terlihat puas mendengar jawaban Laras.


“Duile masih pagi betah amat pelukan” ujar Yanti saat masuk dapur. Dano lantas memeluknya semakin erat tidak membiarkan Laras menarik diri, salah satu tangannya terangkat ke arah Yanti. 


“Sini Mbak saya peluk juga”


“Nggak mau, mending Mbak peluk kabel listrik di depan, getaran romantisnya lebih terasa” geleng Yanti disambut tawa Laras dan Dano.


...*****...


Laras berlari menaiki tangga membawa sekardus air mineral. Napasnya terengah-engah sembari memaki lift yang penuh sejak tadi sementara ketua konsumsi menyuruhnya untuk membawa air mineral secepat mungkin.


“Dari mana Ra?” tanya Mamat kalem. Laras melotot lalu mendengus, mengambil air kan harusnya tugas Mamat! Sejak tadi cowok itu mendadak genit berkenalan dengan peserta student award.


“Sini gue bantuin” tawar Mamat. Dalam hati Laras mencak-mencak tapi tidak mengatakan apapun.


“Ra, lu ngapain disitu? Anak dokumentasi di meja luar” tegur Amel. Laras mengangguk.


“Mat kerjain kerjaan lu, masa dibackup divisi lain, cewek lagi”


“Iya Mel iya, tadi keenakan bersosialisasi” jawab Mamat cuek.


Amel dan Laras melangkah keluar duduk di kursi tamu, sudah banyak yang berdatangan. Beberapa petinggi kampus, dekan, dosen, keluarga para nominasi student award, bahkan ada mahasiswa yang datang hanya untuk sekedar meramaikan suasana dan mendapat kotak makan gratis.


“Udah penuh?” tanya Laras. Adi mengintip ke dalam lalu mengangguk.


“Gue masuk ya, ntar kalo udah selesai masuk aja duduk di belakang, biar anak keamanan yang jaga disini” kata Adi mengambil kamera lalu melangkah masuk. Laras dan Amel serempak mengangguk lalu sibuk membereskan buku tamu.


Laras mendongak. Bima, ketua divisi keamanan mendekat tampangnya terlihat sedang lapar berat.


“Belum. Tapi nih ada roti”


“Wih, baik banget Ra. Udah cakep, baik budi dan luhurnya” puji Bima menyambar roti dari tangan Laras, ia menarik kursi duduk di depan cewek itu.


“Staf keamanan lain mana?” tanya Amel.


“Lagi nyebat di bawah. Entar juga naik”


“Bukannya jagain keamanan malah nyebat”


“Yaelah Mel, ada gue disini udah cukup. Lagian acara kayak gini mana ada rusuhnya sih?”


“Siapa tau ada peserta yang nggak terima kalah”


“Peserta student award rata-rata cewek semua. Kalo berantem paling cakar-cakaran, mentok ada yang ditimpuk piala” jawab Bima cuek, ia berpaling ketika gerombolan Dano datang.


“Sorry nggak ada tempat di dalam. Kecuali kalian mau bayar uang masuk. Seorang dua puluh ribu, bekal beli rokok” tahan Bima langsung. Dano meninju pelan perut Bima lalu mendekati Laras.


“Kamu nggak foto-foto? Seksi dokumentasi kan?”


“Itu tugasnya Rudi. Aku sama Amel di hari H cuman ngurus meja regis sama PIC mc. Mcnya selebgram terkenal tahu, coba entar lihat deh, dilobi Amel” beritahu Laras bangga.


Dano mengeluarkan ponsel dan tanpa ijin memotret Laras. “Aku udah ada instagram” ujar Dano malah pamer akun instagramnya. Laras cekikan.


“Follow aku”


“Ya sebentar…..Cara follow gini kan?” tanya Dano menunjuk layar ponsel. Laras geleng-geleng heran. Cakep-cakep gaptek, untung sayang, batin Laras.


“Loh, kok dipost?” tanya Laras ketika melihat Dano memposting fotonya tadi.


“Nggak papa, fotonya bagus”

__ADS_1


“Ih, muka aku berminyak, mbok yo dikasih tau dulu, biar siap-siap” protes Laras menatap foto dirinya. Baru beberapa menit dan postingan itu sudah dibanjiri banyak komen.


“Jadi official nih?” tanya Heru dari samping menunjuk layar ponsel. Dano tersenyum manis merangkul Laras.


“Kenalin Laras, pacarnya Valdano Radja” kata Dano langsung mendapat sorakan teman-temannya. Wajah Laras merona merah mencubit Dano pelan.


“Wah Ra, lu harus tau gelisahnya Dano waktu lu dekat sama Rakai. Jadi malas mandi beliau” kekeh Heru.


“Ember!” dengus Dano.


“Eh masuk yuk, Sekarang udah di sesi tanya jawab finalis student award” ajak Amel menunjuk pesan dari Adi.


...*****...


Laras menatap Sera  melangkah ke arah mereka. Benar kata Amel, diluar urusan cinta pesona Sera tidak main-main. Cantik, seksi, pintar, dan sekarang menjadi juara satu student award. Harus Laras akui diluar skandal perselingkuhannya, Sera itu hampir mendekati kata sempurna.


“Wahhhh selamat Sera!!! Mulai besok muka lu gue pajang di pintu masuk srikandi. Bangga gue ada anak srikandi bisa positif diluar narkoba” kekeh Heru menyerahkan buket bunga. Sera tersenyum manis.


“Makasih ya. Tapi mending lu hapus aja tulisan di samping sekre”


“Kalau itu gue setuju” celetuk Amel langsung kena jitak Heru.


“Ini berarti pas lulus lu kerja di kementerian ristekdikti?”


“Iya, tapi hanya setahun setelah itu bebas mau lanjut atau enggak” jawab Sera.


“Eh jadi calon student award gimana? Kasih tau dong, tahun depan gue mau ikut biar kelihatan berprestasi juga” tanya Brandon.


“Udeh lu mending bantuin Dano ngurus sound sana” tunjuk Heru ke arah Dano sibuk membereskan alat musik bersama junior srikandi.


Brandon ngedumel tapi masih tetap disitu. Hanya Brandon dan Heru terlihat santai mengobrol dengan Sera sementara Laras diam-diam merasa canggung. Laras ingin pergi tapi Amel terlihat tidak begitu menggubris kehadiran Sera karena sibuk memindahkan isi memori kamera ke laptop Adi.


“Hai Ra” sapa Sera tiba-tiba. Laras tersenyum kikuk.


“Selamat ya”


“Iya makasih. Kerja panitia kalian keren banget.”


Heru dan Brandon lirik-lirikan lalu tersenyum simpul. “Kalo gitu perayaannya kita makan-makan diluar. Gue yang traktir” ajak Heru.


“Nggak bisa Ru, aku mau bantu ngeberesin ruangan”


“Nggak usah, ntar gue minta ijin ke ketua panitia lu. Mau nggak Mel?”


Amel mendongak agak kurang fokus. “Ya terserah, gue ikut tapi habis nyelesaiin ini. Gue malas mau beresin ruangan.”


Ah Amel! Nggak peka banget! batin Laras.


“Nggak papa kan Ra makan bareng? Nggak sampai malam kok” senyum Sera manis.


Laras bimbang, ia mau ikut tapi berinteraksi dengan Sera membuat Laras ingin menghilang karena canggung. Laras bisa menangkap ada sedikit rasa gugup yang Sera pancarkan dari tatapannya untuk Laras. Mungkin ia memang ingin berteman?


“B-boleh” angguk Laras akhirnya. “Tapi jangan sampai tengah malam ya, gue besok ada kuis”


“Tenang Ra, kita cuman makan, bukan kerja bakti, jadi nggak bakal lama” angguk Heru meyakinkan.


“Ra, cabut yuk” bisik Dano datang melingkari tangannya di pinggang Laras. “Saya udah bilang ketua panitia kamu mau ke klinik. Udah diiyain”


“Klinik? Ngapain aku ke klinik?”


“Mau ngambil Kubis. Hari ini Kubis saya titip di klinik, sekalian mau vaksin” jelas Dano. Laras mengangguk paham.


“Tapi aku-”


“Gue sama Laras duluan ya” potong Dano.


“Lah kemana? Laras mau makan bareng kita”


“Ngurus Kubis. Laras bisa makan kapan-kapan”


“Alah bilang aja lu mau mesra-mesraan sama Laras”


“Iya sekalian itu juga. Yuk sayang, biarin aja mereka makan-makan sendiri” kata Dano cuek menarik Laras pergi.


“Mereka pacaran?” tanya Sera ketika Laras dan Dano menjauh. Brandon mengangguk.

__ADS_1


“Lihat aja tuh mukanya bahagia banget.”


Sera diam sejenak menatap bunga dipelukannya lalu kembali pada Dano dan Laras, ada siratan penuh kecewa terpancar dari matanya yang entah ia tunjukan untuk Laras atau Dano.


__ADS_2