Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 23. Rencana Kedepan


__ADS_3

Suara ketukan dari dinding membuat Ayu dan Ivanka serempak mendongak. Heru bersandar di ambang pintu dapur sembari melambaikan tangan ke arah dua orang itu.


“Haven” panggil Ivanka agak terkejut. “Tumben kamu kesini? Mau ngapain? Eva baru aja balik”


“Halo kak, saya mau ketemu anak di sebelah kakak.”


Ivanka berpaling pada Ayu, senyumnya langsung mengembang lebar membuat Ayu berdehem salah tingkah. “Bentar ya Haven, setengah jam lagi jam kerja Ayu selesai”


“Oke kak, saya tunggu di depan ya.” Heru mengedipkan mata pada Ayu lalu melangkah pergi.


Ivanka pura-pura batuk. “Sejak kapan?”


“Iya kak?”


“Ihhh, sejak kapan pacaran?”


“Kami enggak pacaran kak”


“Berarti Haven yang suka sama kamu?”


Ayu diam kelihatan agak ragu. “Emang Mas Heru suka sama saya ya kak?”


“Aduh Ayu, polos banget kamu, kelihatan banget tau. Emang Haven nggak pernah buat sesuatu yang bikin kamu sadar perasaan dia ke kamu?”


“Mas Heru....” Mendadak terbayang dalam benak Ayu ciuman mereka tempo hari, degup jantungnya terus berdebar kencang setiap kali mengingat kejadian itu. Tapi sayangnya Ayu tidak bisa menyimpulkan perasaan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Apakah Ayu menyukai Heru atau ia hanya terkejut dengan perlakuan cowok itu, dan begitupun sebaliknya Ayu tidak mengerti apa yang dirasakan Heru padanya.


“Pasti udah terjadi sesuatu kan?” goda Ivanka tersenyum penuh makna.


“Enggak kak” dusta Ayu. Sejam setelah itu pekerjaan Ayu selesai ia menuju ke depan menghampiri Heru, tampak Heru duduk di pojok asik bermain game.


“Mas, ngapain kesini?” tegur Ayu.


“Bentar Yu, dikit lagi menang nih.” Ayu menurut, ia menarik kursi duduk di depan Heru, dengan sabar menunggu cowok itu menyelesaikan gamenya. “Kerjaan udah beres?”


“Udah. Mas Heru ngapain kesini?”


“Mau ngajak lu jalan”


“Nggak bisa, udah malem, saya harus pulang”


“Yaelah Yu, kita serumah, pulang telat juga nggak masalah”


“Mas Herunya yang nggak masalah, kalo saya ditungguin Mbak Ningsih.”


Heru berdecak pelan. “Gue senin sidang skripsi, hari ini mau jalan-jalan biar nggak stres belajar. Lu nggak kasihan sama gue Yu?”


Ayu menghela napas. “Yaudah mau kemana? Tapi jangan sampai kemalaman ya, saya ngechat Mbak Ningsih dulu”


“Yang tuan rumah itu gue apa Ningsih sih? Ribet bener mau ngajak lu jalan” dumel Heru.

__ADS_1


“Saya kan tidurnya bareng Mbak Ningsih, jadi saya harus ngasih tau kalo saya pulang telat biar nggak ditungguin. Kecuali kalo saya tidurnya sama Mas Heru baru deh nggak usah minta ijin” jawab Ayu acuh tak acuh mengetik pesan di ponsel.


Mata Heru langsung berbinar. “Yaudah Yu, malam ini tidur di kamar saya aja, biar kita bisa jalan sampai pagi.”


Ayu langsung mencubit pelan lengan Heru. “Sukanya ngasih ide aneh-aneh”


“Ya habis elu sih, mau jalan aja ribet”


“Udah nih mas, chat saya udah dibalas Mbak Ningsih. Sekarang Mas Heru mau kemana?”


“Jalan-jalan. Yuk. Kak Ivanka, saya duluan, bye Tha” pamit Heru menarik Ayu mengikuti dirinya. Mobil Heru melaju pergi menuju ke tempat yang tidak pernah Ayu kunjungi. Sekitar setengah jam kemudian mobil Heru berbelok ke sebuah restoran dengan dinding bambu tidak jauh dari pertigaan jalan.


“Sate disini enak Yu, direkomendasiin sama Laras” beritahu Heru.


“Mas sering kesini?” tanya Ayu setelah mereka selesai memesan.


“Jarang.”


Ayu bersenandung pelan mengikuti alunan lagu dari speaker tempat itu. Matanya memperhatikan sekeliling ruangan, dinding bambu, lampu remang-remang, dan beberapa pigura berisi foto lama. “Saya suka tempatnya, tenang”


“Masukin list Yu, kita bakalan sering berkunjung kesini.”


Ayu tertawa. “Mas Heru itu aneh ya”


“Kenapa?”


“Baik....tapi nggak bisa ditebak.”


“Mungkin saya yang nggak pintar menilai orang, saya kayaknya harus mengenal Mas Heru lebih dalam biar bisa nebak maunya mas apa” balas Ayu bercanda.


Sekilas kedua alis Heru terangkat naik. “Gue nggak bakal larang sih Yu, coba aja kenali gue dan lihat sampai dititik mana lu sadar lu nggak bisa balik.”


Kening Ayu berkerut lalu sedetik kemudian ia tertawa geli. “Tuh kan, Mas Heru kalo ngomong kadang lucu banget tapi tiba-tiba jadi serius sampai saya enggak paham.” Wajah Ayu berpaling melihat pantulan dirinya dari kaca kecil di bagian meja kasir, ia merapikan rambutnya yang berantakan sementara Heru memperhatikan seksama.


“Cantik...” gumam Heru tanpa sadar.


“Hmm? Iya mas?”


“Gue bilang cantik” tunjuk Heru langsung ke atas lampu restoran.


“Betul, lampunya remang-remang kayak di warung kopi” angguk Ayu setuju.


...----------------...


Waktu berjalan terus, selama dua tahun ini banyak hal yang terjadi. Ayu lulus ujian paket C, begitupun dengan Heru yang sudah menyelesaikan sidang dan wisuda. Sekarang Ayu semakin sibuk di kafe, berkat Eva yang berinovasi menjalankan bisnis via online Ayu dan Ivanka akhirnya menambah satu lagi pegawai untuk membantu mereka, Jeje namanya, seorang remaja lulusan SMA yang sedang menunggu waktu perkuliahan dimulai. Heru sendiri juga terlihat sibuk, bulan kemarin ia memutuskan resign dari kantornya dan sekarang malah jarang berada di rumah. Dari cerita Heru Ayu bisa menyimpulkan cowok itu sedang mengurus bisnis bersama Dano.


“Katanya start-up bu” beritahu Ayu pada Eva. Sebenarnya Eva diam-diam memperhatikan Heru, tapi tinggal dua tahun di rumah tidak membuat hubungan keduanya berkembang, meskipun Heru tidak lagi bersikap ketus tapi masih ada batasan tinggi yang dibangun cowok itu untuknya, maka diam-diam Ayu yang menjadi sumber informasi Eva.


“Start-upnya apa Yu?”

__ADS_1


Ayu menggeleng. “Enggak tau bu, saya enggak nanya.” Ayu menscroll layar ponsel melihat maps. Dua tahun ini juga Ayu berhasil mengirimkan uang pada Asih dan Adit untuk memperbaiki rumah, sisanya ia gunakan untuk membeli ponsel. Berkat ponsel itu Ayu bisa video call setiap hari dengan Asih dan Adit. Adit kini sudah berada di kelas tiga, dengan bantuan Eva selama nilai Adit baik anak itu akan didaftarkan untuk menerima beasiswa dari yayasan. Adit yang semula hanya bermimpi memiliki ijazah SMA kini sudah berani bermimpi untuk menjadi dokter.


“Bu, disini tempatnya.” Ayu mendorong pintu merah yang terbuat dari kayu oak, seorang pegawai dengan name tag bertuliskan Rere menyambut mereka ramah.


“Saya kira tempat ini udah tutup mbak” kata Eva ramah.


”Enggak bu, kami hanya libur sementara karena bangunannya di pugar, disebelah soalnya mau buka toko mainan”


“Punyanya ravent ya?”


“Iya bu betul.”


Ayu menatap kagum pada jajaran roti dan cokelat yang terpampang manis di rak kaca, rasanya begitu menggoda membuatnya ingin mencoba semua makanan itu. Setelah memesan mereka duduk tidak jauh dari meja kasir tadi.


“Ibu suka jajanan manis kayak gini ya?”


“Iya Yu, saya sering melalang buana di Jakarta buat nyari tempat-tempat kayak gini. Dulu sama Ivanka, cuman sekarang dia sibuk banget. Untung ada kamu Yu, dan hari ini sekalian ngerayain kamu lulus ujian”


“...Bu makasih ya”


“Buat apa?”


“Karena ibu baik sama saya. Saya enggak tau kebaikan apa yang saya lakuin sampai saya bisa ketemu ibu.”


Eva balas menatap Ayu lekat-lekat, satu yang Ayu tidak ketahui adalah Eva tidak memiliki banyak teman dekat. Sejak memutuskan menikah dengan Henry dan pindah ke Singapura, Eva banyak memutuskan hubungan pertemanannya dengan orang lain, ia tahu benar dari sekian banyak teman yang ia miliki hanya Ivanka seorang yang benar-benar tulus padanya, dan saat pertama kali melihat Ayu Eva merasa anak itu terlalu lugu, membuatnya terus mengingat Lyn. Sedih. Gestur kedua anak itu terasa sama, mereka bahkan menyukai hal yang sama. Membuat Eva sesekali berharap Ayu adalah Lyn. Kehadiran Ayu tanpa sadar menjadi obat rindu Eva terhadap adiknya.


“Sudah takdir Yu kamu ketemu sama saya”


“Tapi makasih banyak ya bu. Seandainya ada kesempatan saya pengen kenalin ibu ke ibu saya, saya pengen kasih tau ibu, siapa sosok yang udah mendukung saya. Ibu Eva itu kayak keajaiban untuk saya”


“Kamu juga Yu....” gumam Eva pelan, terdengar satu tarikan napas panjang. “Sebenarnya saya dulu punya adik Yu, cantik banget dan suka buat kue juga, tapi adik saya udah pergi ke tempat yang jauh. Dalam hidup saya hanya punya adik saya dan setelah adik saya pergi hidup saya hancur, sampai saya ketemu Henry.”


Ayu diam mendengarkan cerita Eva seksama. Kisah hidupnya yang teramat sedih setelah kepergian Lyn, pertemuannya dengan Henry, ketika ia jatuh cinta, rahasia Henry, Ratna, dan Haven. Untuk pertama kalinya Eva menceritakan kisah hidupnya sesingkat mungkin. Entah mengapa hatinya terasa lega bisa bercerita pada Ayu, meskipun cewek itu hanya diam mendengarkannya.


“Kayaknya itu yang buat Haven benci sama saya. Dia selalu berpikir hubungan saya dan Henry itu jadi penyebab kematian Ratna.”


Ayu menepuk-nepuk tangan Eva, ia sama sekali tidak berkomentar apapun, hubungan keluarga itu terlalu rumit untuk dimengerti.


“Nah Yu, sekarang kita bahas hal lain. Kamu mau lanjutin sekolah dimana? Masih minat sekolah pastry kan?” tanya Eva saat pesanan mereka datang.


“Iya bu, tapi saya bingung dimana”


“Hasil tes toefl kamu terakhir berapa?”


Ayu buru-buru mengeluarkan ponsel lalu menunjukan pada Eva. “Berkat tiap hari ngomong Inggris sama Ibu dan Kak Ivanka. Skor saya empat ratus lima puluh.”


Eva bertepuk tangan, terlihat bangga dengan hasil yang dicapai Ayu. Diam-diam Eva berpikir ia seperti ibu Ayu yang ingin menyombongkan hasil belajar anak itu. “Saya yang nyuruh Ivanka buat ngomong Inggris ke kamu, biar kamu terbiasa. Sekarang kamu harus belajar lagi Yu, skornya harus bisa sampai lima ratus. Saya udah milih sekolah yang bagus buat kamu”


“Dimana bu?”

__ADS_1


“Di Inggris.”


Dan saat itu Ayu bisa merasakan degup jantungnya berdetak kencang karena merasa bahagia.


__ADS_2