Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 12. Si Tukang Usil


__ADS_3

Pertandingan kedua yang dilakukan minggu kemarin membuahkan hasil tim Dano Laras keluar sebagai pemenang. Begitu juga dengan pertandingan antar tim yang kalah, tim Samuel Amel menang mutlak membuat tim Brandon Manda dijuliki tim paling bapuk se-Jakarta. Sayangnya final badminton yang akan diadakan minggu ini mendadak diundur karena pesertanya sibuk mengurus revisi dari pembimbing masing-masing. Ayu yang tidak memiliki kepentingan di bangku kuliah terlihat paling senang karena bisa kembali ke dapur dan bekerja seperti biasa.


“Rasanya bahagia mbak nggak harus lari-lari keliling kompleks” ujar Ayu girang pada Ningsih.


Namun kebahagiaan Ayu itu tidak berlangsung lama. Revisi Heru membuat cowok itu mendadak stres berkali-kali lipat, setiap hari harus mengetik dan berpikir membuat wajah Heru kusut bagai keset. Mendadak Heru menjadi usil, korbannya tentu saja adalah Ayu, orang paling muda dan paling asik untuk dijaili di rumah. Ayu mendadak seperti diikuti jin usil dan harus merasa was-was setiap kali ada Heru. Pernah suaru sore saat Ayu sedang membantu Toto menyiram bunga di halaman samping Heru muncul, cowok itu terlihat santai memutar kunci mobil dan bersiul pelan.


“Sore mas” sapa Ayu seperti biasa. Heru tidak menjawab, ia melewati Ayu seakan cewek itu adalah makhluk tidak kasat mata. Ayu mencibir dan lanjut bekerja, tapi mendadak slang air berhenti bekerja. Karena kebingungan, Ayu lantas mengintip ke dalam selang takut ada sesuatu menghalang dan saat itu juga ia berteriak ketika air mendadak keluar membasahi wajahnya.


“HAHAHAHAHA...”


Wajah Ayu berpaling, ternyata Heru iseng sengaja menginjak slang air. Heru tertawa kencang sampai menarik perhatian Toto, kemudian tanpa berkata apapun cowok itu masuk ke rumah, membiarkan Ayu mengomel kesal karena keusilannya. Pernah juga di lain hari Ayu sedang mengangkat jemuran baju, saat itu Ayu dipanggil Ningsih untuk membantunya memindahkan meja ke dalam. Ketika kembali keranjang pakaian mendadak lenyap, Ayu panik. Selama dua jam lebih ia mencari keranjang itu dan pencariannya berakhir ketika menemukan keranjang pakaian sudah berpindah ke atas genteng lantai satu.


“Mas Heruuuuu!!!!!” teriak Ayu frustasi langsung tau siapa pelakunya. Heru muncul dari balik jendela meja makan dengan tawa geli. “Usil banget sih!” ujar Ayu keki terpaksa memanjat pagar untuk mengambil keranjang pakaian. Ayu makin keki ketika melihat Mbok Raya ikut tertawa melihat kejadian itu sementara Heru tetap asik menyantap makan siang.


“Ayu.”


Ayu mendongak, Heru muncul dari pintu dapur. Tampang Ayu langsung berubah was-was. “Kenapa mas? saya masih kerja, kalo mau usil nanti aja” tegur Ayu langsung.


Heru nyengir menyodorkan tehnya. “Ini kok rasanya aneh Yu? Ini temulawak ya?”


Kening Ayu berkerut. “Masa sih? Tadi aku buat teh kok, kalo nggak percaya tanya aja Mbak Ningsih”


“Ini kayak temulawak Yu, rasain deh. Lu salah masukin kali.”


Ayu berdiri menghampiri Heru, ia mengambil gelas itu dan berdiri agak jauh, takut diusili. Ayu mencoba mencium bau minuman itu, baunya seperti teh.


“Lu coba aja kalo nggak percaya” kata Heru lalu masuk ke dalam. Sesaat sebelum langkahnya melewati meja makan ia mendengar teriakan Ayu dari dapur.


“Mas Heruuuuu!!! Ihh!!!!”


“HUAHAHAHAHA.....” tawa Heru meledak membuat Mbok Raya yang sedang melap sendok melemparkan tatapan heran.


“Ada apa?”


“Nggak papa mbok, itu si Ayu minum teh garem” jawab Heru kalem lalu melangkah pergi.


...----------------...


Amel keluar dari ruang dosen dengan wajah muram, ia bersandar di dinding lift dengan pikiran kosong menatap skripsinya. Revisi sana-sini, padahal Amel bergadang beberapa hari untuk menulis karya ilmiah yang menurutnya tidak berguna untuk orang sekitar. Pintu lift terbuka, Amel mendongak melihat Samuel masuk menenteng gitar.

__ADS_1


“Dari mana lu?”


“Latihan bareng paduan suara buat wisuda S2 minggu depan” jawab Samuel. “Habis bimbingan?”


“Iya”


“Aman?”


“Aman banget sampai pengen gue bakar nih gedung kampus.”


Samuel ketawa geli. Pintu lift terbuka dan Samuel memberikan kode pada Amel untuk mengikutinya.


“Mau kemana?” tahan Amel saat mereka berada di dekat area ruang admisi kampus.


“Makan. Tapi lu yang traktir”


“Lah, yang stres kan gue, kenapa jadi gue yang keluar duit?”


“Karena lu kan nggak mau kalo gue yang bayarin. Anggep aja bayaran gue untuk menghibur hati lu, sebagai seorang teman” jelas Samuel. Amel menimang-nimang sejenak, ia menatap Samuel dan skripsinya bergantian. Ah, Amel memang sedang butuh teman untuk mendengarkan keluhannya, sepertinya pergi bersama Samuel sebentar juga bukan hal yang buruk.


“Yaudah. Ayuk, tapi gue yang tentuin makannya dimana” angguk Amel akhirnya. Mereka kemudian melangkah pergi menuju parkiran, diam-diam Samuel tersenyum, meluluhkan hati Amel memang sulit tapi tidak ada salahnya kan untuk dicoba?


...----------------...


“Banyak nih, dicoret-coret kayak ngelukis abstrak, padahal gue ngerjainnya udah niat banget” dumel Amel membuka skripsinya. “Skripsi lu emang aman?”


“Belum gue naikin, minggu depan paling” jawab Samuel mengambil makanan yang dibawa waitress.


“Lu mau ngerjain revisian kapan? bareng yuk sama anak-anak” tembak Samuel langsung, Amel menggeleng.


“Nggak mau, nanti yang ada malah main. Ntar nggak selesai skripsi gue.”


Samuel mengangguk tidak memaksa, mereka lanjut makan sembari mengobrol, topik yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari skripsi dan kuliah.


Wajah Amel mendongak, ia mengangkat tangan membuat Samuel berpaling, tampak Udin masuk dengan tampang suram menghampiri mereka.


“Revisian ya?” tebak Amel langsung. Udin mengangguk tanpa basa-basi menarik kursi duduk di antara dua orang itu.


“Dosen pembimbing lu siapa?” tanya Samuel.

__ADS_1


“Pak Yanto”


“Sama dong kayak Amel”


“Emang sama. Revisian kita juga mirip-mirip. Revisian lu banyak nggak?”


“Banyak dong, kalo enggak banyak mah bukan Pak Yanto namanya. Punya lu gimana?”


“Hampir semua kena coret, kalo bisa dipilox bakal dipiloxin juga kali sama beliau” dumel Udin keki.


“Udah sana lu pesan makan, biar lebih kalem” kata Samuel.


“Gue emosi, bukan laper!” dengus Udin tapi kemudian berdiri memesan makan. Samuel dan Amel kompak cekikikan geli. Udin duduk lagi tanpa permisi menyambar es teh Samuel. “Proposal udah jadi nih, lu mau cek nggak? Atau langsung gue kasih ke Dano?”


“Gue cek dulu, tolong kirim ke email gue Din. Nanti kalo udah oke, gue ngasihnya barengan sama Laras, biar langsung di approve sama si kunyuk” jawab Amel.


Udin ketawa. “Strategi lu mateng ya”


“Harus dong! Itu bocah pelit banget, tapi kalo sama Laras langsung nurut. Lama-lama gue nyuruh Laras minta tanah sekalian”


“Proposal apa sih?” tanya Samuel penasaran.


“Proposal bantuan buat yayasan. Gue sama Udin lagi magang di yayasan panti kasih”


“Yayasan anak terlantar?”


“Iya betul. Nah yayasan itu butuh bantuan dana untuk beli kebutuhan anak-anak ini, apalagi kebutuhan bayi. Lu tau kan popok dan susu bayi itu mahal. Terus gue ngide buat nyari dana, kebetulan gue punya teman yang kaya raya jadi gue manfaatin lah” jelas Amel panjang lebar.


“Lu mau nyumbang juga nggak? Kakak lu kan punya saham di pabrik susu” todong Udin langsung.


Samuel mengangguk. “Kasih aja proposalnya nanti gue kasih ke kakak gue.”


Amel dan Udin langsung menatap girang. “Hari ini juga gue kirim proposalnya ke elu” ujar Amel semangat. “Nah sebagai ucapan makasih, gue beliin es teh dan gorengan. Mau yang mana? Lu boleh tunjuk.” Amel bangkit berdiri buru-buru memesan es teh dan mengambil kertas menu sebelum Samuel berubah pikiran. Samuel menatap Amel lekat-lekat, bibirnya tersenyum kecil memperhatikan gerak-gerik cewek itu.


“Masih sayang?” korek Udin iseng.


Samuel mengangguk. “Itu alasan gue nggak bisa ngelepas Amel begitu aja Din. Amel itu cuman penampilan luarnya yang kelihatan sangar dan nggak bisa diatur, tapi aslinya dia jauh lebih lembut dan dewasa”


“Lu kayaknya kenal Amel banget”

__ADS_1


“Jujur, kadang gue pikir gue kenal Amel lebih dari pada dia ngenal dirinya sendiri” jawab Samuel menghela napas dengan ekspresi sendu.


__ADS_2