
Perkataan Marinah ternyata bukan sekedar guyonan belaka. Tidak lama setelah Marina kembali ke Singapura keluarga Laras mendadak membicarakan soal pernikahan. Awalnya hanya sekedar guyonan, namun lama-kelamaan semakin serius, terutama ketika Laras menerima telepon dari Susanto, bapaknya.
[Bapak rasa menikah dengan Angga bukan pilihan yang buruk. Kamu bisa tetap menyalurkan kepintaran kamu untuk mengajari anak-anakmu kelak dan menjadi ibu rumah tangga yang baik] kata Susanto dari ujung telepon.
“Berarti bapak mau Laras nggak kerja gitu? Laras kan pengen kerja kantoran kayak orang lain”
[Untuk apa? Toh pada akhirnya kamu akan keluar untuk ngurusin anakmu]
“Laras nggak mau pak, Laras masih punya mimpi”
[Mimpimu itu bisa didukung suamimu dan Angga adalah pilihan terbaik untuk kamu.]
Ah seandainya bapak tahu apa yang sudah Angga lakukan, apa bapak masih berani mengatakan Angga yang terbaik? Dia itu brengsek pak! batin Laras berteriak
[Laras dengar, bapak nggak ngelarang kamu. Tapi kamu harus dengerin bapak. Anak yang berbakti itu yang mau dengerin perkataan orang tuanya. Hidup anak kayak gitu akan bahagia.]
Dan Laras hanya bisa cemberut jengkel. Rencana pernikahan itu semakin serius ketika Laras dan Angga diminta pergi ke kampung untuk meminta restu nenek.
“Laras nggak mau Bu. Laras nggak mau nikah muda, Laras mau kerja,” protes Laras pada ibunya
[Laras ibu ngerti mau kamu. Tapi coba saat ini kamu nurut bapakmu, toh cuman sekedar minta restu mbah. Setelah itu kamu bisa kuliah atau kerja, ibu dukung kalo Laras mau kerja, tapi yang penting urus dulu rencana nikah. Ibu yakin Mas Angga juga nggak akan ngelarang Laras buat kerja] balas Ratih tenang.
Dan Laras semakin stres!
...*****...
Mendengar bunyi dering ponsel sekarang menjadi momok mencekam bagi Laras. Setiap kali ada notifikasi pesan, panggilan masuk, atau bahkan hanya bunyi alarm membuat Laras benar-benar ketakutan. Ia jadi sering mematikan ponsel dan bersikap was-was takut kalau ada anggota keluarga yang nekat datang ke kampus.
“Ra, kasihan banget sih lu” ujar Manda iba melihat tampang lesu Laras. Dalam beberapa hari cewek itu terlihat seperti mayat hidup tanpa tujuan hidup.
“Lu kalo bisa gue adopsi jadi anak, gue adopsi dah Ra” tambah Amel menepuk-nepuk bahu Laras.
Laras tersenyum kecil bersandar di bahu Manda. Rasa lelah batin sejak hari kemarin membuat semangat hidupnya merosot jauh. Laras jadi malas makan, malas kuliah, malas mandi, dan lebih parah lagi seandainya Laras bisa berhenti bernapas mungkin akan ia lakukan. Hidup dengan masalah itu tidak enak, apalagi masalahnya berasal dari orang lain.
“Terus habis ini lu mau gimana Ra?”
“Mau menghindar ngomong sama bapak ibu”
“Sampai kapan?”
Laras diam. Benar, mau sampai kapan ia terus menerus menghindar? Laras ingin semua masalahnya selesai, ia ingin keluarganya tahu hubungannya dengan Angga sudah berakhir, Laras ingin memutuskan sendiri seperti apa masa depannya, Laras ingin memiliki pilihan dalam hidup. Tapi, Laras belum berani mengambil resiko. Laras ingin kebebasan, tapi di sisi lain ia takut gagal. Laras pernah mendengar bahwa keluarga adalah tempat bersandar terbaik dari segala masalah hidup, tapi bagaimana jika keluarganya juga justru menjadi sumber masalah hidupnya? Ketika Laras rapuh, sedih, dan lemah kemana ia akan bersandar?
Keluarga yang lengkap dan terlihat harmonis bukan berarti tidak bisa memberikan masalah. Anak bukan pusat ekspektasi orang tua, semua dilahirkan dan hidup dalam takdir masing-masing.
__ADS_1
Laras hanya ingin disupport. Toh ia tidak pernah melawan, lantas mengapa ketika ia mengungkapkan keinginannya justru disebut pembangkang?
Tidak semua ekspektasi anak pada orang tua bisa tercapai dan begitu juga sebaliknya. Lantas mengapa harus menyusahkan diri untuk membangun ekspektasi pada orang lain? Mengapa manusia tidak hidup tenang? Toh belum tentu juga akan hidup dihari esok.
“Ra!”
Laras tersentak, tepukan Manda membuyarkan lamunannya.
“Kelas yuk. Lima menit lagi udah mulai”
“Duduknya paling belakang ya” pintah Laras lemah kemudian mengikuti kedua sahabatnya melangkah pergi.
...*****...
“Ra, ponsel kamu kok nggak aktif? Ibu nyariin kamu, aku sampai harus bohong bilang kamu lagi kelas tambahan” kata Angga ketika Laras baru selesai kelas malam.
“Ibu bilang apa?”
“Khawatir, kirain kamu hilang.”
Laras mengangguk lemah. “Makasi udah ngasih tahu” ujar Laras melangkah pergi. Angga berlari mengejar langkah cewek itu, ia tahu belakangan ini Laras terlihat muram karena masalah pernikahan mereka yang mendadak hendak dipercepat. Angga bingung harus bersikap seperti apa, menolak pernikahan itu sama saja dengan melepas Laras pergi darinya dan Angga tidak memiliki jalan keluar lain untuk kembali bersama Laras.
“Ibu kamu minta kita secepatnya ke Surabaya” kata Angga membuat langkah Laras terhenti.
“Dua hari lagi. Kamu aku jemput.”
Laras mengangguk lalu tanpa mengatakan apapun ia melangkah pergi meninggalkan Angga yang keheranan dengan sikapnya.
...*****...
Dano menaruh stik di atas drum ketika mendengar panggilan masuk dari Laras. Tumben, karena biasanya cewek itu hanya akan mengirim pesan dan jarang mau menelepon.
“Bentar cewek gue nelpon” kekeh Dano. “Gimana sayang?”
[Kamu dimana?]
“Sekre, udah selesai kelas? sini”
[Oke]
Dano melanjutkan latihannya, sekitar dua lagu kemudian matanya menangkap sosok Laras duduk di bangku taman dekat sekre srikandi. “Gue duluan ya, mau mesra-mesraan” kekeh Dano buru-buru kabur.
“Woi lagu berikutnya gimana?” teriak Abel keki.
__ADS_1
“Udah lu nabuh gendang aja” jawab Dano cuek kemudian melangkah pergi tidak memperdulikan teriakan Abel.
“Kenapa muka kamu?” Kening Dano berkerut melihat wajah Laras, mata cewek itu memerah sembab terlihat baru habis menangis.
“Kamu ada kegiatan apa habis ini?” tanya Laras tidak menjawab pertanyaan Dano.
“Enggak ada” geleng Dano buru-buru. Sebenarnya ada tugas mengerjakan makalah bersama Heru, tapi tampang Laras membuat Dano memilih membebankan tugas itu pada Heru. Toh setiap kali Heru berantem dengan mantannya dulu, Dano secara sukarela akan mengerjakan semua tugas kelompok mereka.
“Aku mau main sama kubis boleh? Kangen”
“Sama saya enggak?”
“Kan aku ketemu kamu hampir tiap hari” senyum Laras. Dano mengangguk merangkul Laras pergi.
Sepanjang hari Laras bersama Kubis, ia tertawa tapi tidak lepas seperti biasanya. Laras lebih sering melamun memperhatikan Kubis berlari kesana kemari. Cewek itu seperti tenggelam dalam dunianya sendiri dengan raut wajah muram menahan sedih.
“Kamu kenapa Ra?” tanya Dano berbaring di halaman tepat di dekat Laras.
“Aku diminta nikah” kata Laras lemah. Air matanya bergulir menceritakan semua masalahnya. Dano bangkit duduk memperhatikan Laras seksama, kini ia mengerti alasan dibalik muramnya wajah Laras. Dalam hati Dano mengutuk Angga yang sampai akhir tetap memilih bersikap seperti bajingan.
“Berangkatnya besok” kata Laras pelan semakin menunduk. Dano menepuk-nepuk punggung Laras pelan, cewek itu sedang menunjukan sisi paling rapuh dari dirinya. Dano memeluk Laras erat, ia ingin melindungi cewek itu dengan cara apapun. Laras terluka dan Dano tidak ingin diam saja.
“Kalo kamu nggak mau ke Surabaya, saya ada disini nunggu kamu. Besok, apapun keputusan kamu, saya terima” bisik Dano pelan.
...*****...
Pukul satu siang Laras menarik kopernya keluar kamar. Tiga puluh menit lagi mobil Angga akan sampai untuk menjemputnya. Laras menatap detik jarum jam yang terus bergerak, ia duduk di sofa dengan mata berkaca-kaca, harus kah Laras merelakan mimpinya untuk menjadi wanita karir dan melepas masa mudanya dengan hidup bersama lelaki yang tidak ia cintai?
Pikiran Laras menjadi kalut, degup jantungnya berdetak tidak karuan karena emosi yang tidak bisa disalurkan dengan baik.
“Ra kenapa? Sakit?” tegur Sri khawatir melihat perubahan drastis Laras sejak rencana pernikahan itu dibahas.
“Aku mau beli obat bentar” kata Laras melangkah pergi. Kakinya melangkah terus melewati apotek di ujung gang rumah, entah kemana, tapi rasa sesak di dada membuat Laras ingin melarikan diri, pergi ke tempat dimana tidak ada satupun yang mengenal dirinya.
Tangan Laras menghentikan taksi di depan kompleks rumah, ia memutuskan untuk pergi menuju rumah besar bercat putih, tempat dimana Dano menunggunya. Tepat ketika Laras berlari masuk ke dalam, matanya melihat Dano sedang memberi makan Kubis di halaman samping.
“Ra” panggil Dano agak terkejut, ia pikir Laras sudah berangkat ke Surabaya karena tidak ada tanda-tanda cewek itu akan datang. Kehadiran Laras di depannya tanpa sadar membuat Dano menarik nafas lega.
Laras melangkah mendekat, air matanya jatuh menatap Dano lekat-lekat. Suara Laras terdengar serak dan pelan. “Dano…aku kayaknya sakit. Aku enggak mau ngelakuin apapun, aku ngerasa ngantuk, aku ngerasa lelah, dan sakit disini.” Tangan Laras menunjuk ke arah bagian luar dari jantungnya.
“Aku merasa beberapa bagian dari aku udah rusak dan ada sesuatu yang ngebuat aku ngerasa sesak. Kadang juga rasanya terlalu nakutin untuk bangun dan bernafas setiap hari. Aku merasa frustasi dan itu buat aku sedih. Aku harus gimana?”
Tangis Laras pecah, jauh lebih memilukan dibandingkan hari kemarin. Dano menarik Laras masuk ke dalam pelukannya, membiarkan cewek itu menangis sepuasnya disana. Laras benar-benar rapuh, ia merasa sakit dan sedih.
__ADS_1
“Sekarang saya akan melindungi kamu dengan cara saya sendiri” bisik Dano memeluk Laras erat.