
Acara penyambutan ulang tahun kampus dimulai. Tanggal ulang tahun yang jatuh dihari jumat membuat suasana ramai sudah terasa dari hari senin. Berbagai lomba diadakan untuk memeriahkan acara. Mulai dari lomba nyanyi solo dan grup, dance, menggambar, sampai lomba membaca puisi sudah digelar, hadiahnya berupa uang tunai senilai beberapa juta rupiah, meskipun sempat ada peserta yang mengusulkan hadiah utama adalah nilai A gratis untuk satu semeter, tentu saja usulan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh panitia. Tidak hanya lomba, berbagai tenda bazar juga didirikan di halaman luas kampus. Ada sekitar tiga puluh bazar berdiri, dari bazar makanan sampai bazar ramal tarot. Bazar terakhir itu dipersembahkan khusus oleh sekre srikandi. Aneh. Kelompok musik tapi malah menyediakan jasa baca keberuntungan.
“Siapa yang jadi aki-aki peramal sekarang?” tanya Laras penasaran mengintip dari stand kue HIMA yang berada tepat di samping stand srikandi.
“Ucup. Tapi ngeramal sembarangan. Si Yohan diramal bakal naik haji tahun depan, padahal kan Yohan kristen. Aneh-aneh aja” cerita Manda tertawa geli. “Lu tau nggak apa yang lebih ngeselin? Semua orang juga tau stand mereka isinya tipu muslihat, tapi lihat tuh banyak yang ngantri”
“Kak lihat saya dapat apa." Belum selesai cerita Manda, Ayu tiba-tiba muncul membawa tiga photocard hadiah dari srikandi. Ada muka Ucup lengkap dengan tanda tangan cowok itu. “Kata Mas Brandon ini kita bagi tiga aja” jelas Ayu lugu. Laras bengong menatap photocard itu, Ucup mengenakan kostum akatsuki dengan gaya merapalkan jurus seribu bayangan.
“Ini apa?”
Manda langsung ketawa ngakak. ”Ini sovenir mereka Ra, setelah berkunjung bakalan dapat ini, tadi gue mau dikasih cuman gue nolak. Eh, malah dititipin ke Ayu”
“Lumayan kak, buat pembatas buku”
“Idih, ogah Yu, bisa mimpi buruk gue tiap lihat buku ada muka Ucup” geleng Manda bergidik.
Tapi ternyata ramenya stand srikandi membawa berkah bagi stand HIMA. Dalam sekejap kue dan cookies yang dijual habis tanpa sisa, beberapa anak bahkan memesan secara pribadi karena tidak kebagian.
“Ngapain kamu?” tanya Laras saat Manda sibuk memotret setiap sudut ruangan.
“Timnya Kiki mau minta foto ruangan secara detail, mereka besok mau jualan donat.”
Di depan stand Ayu menarik kotak beroda dan mengatur rapi barang-barang ke dalam situ. Sepanjang hari ini perasaan Ayu meletup-letup bahagia. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di area bangunan besar yang disebut kampus, mengenakan seragam staff lucu bersama Laras dan Manda, berjualan cake sembari sesekali jalan-jalan ke stand lain.
“Halo Dik Ayu. Udah mampir ke stand kami?”
Ayu mendongak lalu tertawa geli melihat begitu melihat Dano muncul.
“Dik, saya mau nawarin adik ke stand kami, lumayan bisa diramal”
“Saya udah dari situ mas" jawab Ayu disela-sela tawanya. “Standnya mas ini konsepnya apa?” Mata Ayu menatap Dano dari atas sampai bawah, cowok itu mengenakan kostum pikachu lengkap dengan boneka poke ball besar yang ia tenteng.
“Dano apaan sih? Sok imut lu!” semprot Manda ketika keluar dari stand. “Ra, lihat pacar lu nih!”
Laras berpaling melongo lalu menutup wajah dan tertawa geli. Dano mencibir mendekati cewek itu, ia berbisik pelan. “Biar gini-gini sambaran petir saya dasyat banget, bisa buat hati kamu gosong.”
Tangan Laras melayang memukul bahu Dano. “Tuh lihat Ayu sampai nangis” tunjuk Laras ketika Ayu melap air matanya karena terlalu banyak tertawa.
“Kalian tuh konsepnya apa sih? Stand ngeramal tarot, tapi yang ngeramal isinya ampas semua, terus sekarang tiba-tiba muncul kumpulan pokemon” ujar Manda heran, ia geleng-geleng ketika melihat Heru muncul.
“Pokemon jenis apa lu?”
“Squirtle.” Heru mengoyang-goyangkan ekornya cuek, saat itu juga di area srikandi sudah mulai bermunculan berbagi jenis pokemon gadungan yang memaksa orang lewat masuk ke stand mereka.
“Mau foto bareng dong” kata Laras menatap gemas dua pokemon nyasar itu.
“Bayar goceng Ra, semua orang yang mau foto sama pokemon kudu bayar buat mengaji para peramal” geleng Heru
“Oh itu toh tujuannya, saya kira cuman buat lucu-lucuan” tawa Ayu. Ah seandainya Ningsih bisa melihat pemandangan ini juga, batin Ayu gemas.
__ADS_1
Heru menghampiri Ayu. “Jalan yuk, keliling”
“Tadi udah ke stand srikandi sama beli rujak disana”
“Tapi sama gue kan belum, yuk Yu, kapan lagi bisa jalan sama pokemon. Ra, staffnya gue pinjem bentar”
“Tumben minta ijin. Sana pergi, jangan lama-lama, aku mau ajak Ayu makan” angguk Laras.
“Protektif lu kayak nyokapnya Ayu” balas Heru lalu menarik Ayu pergi. Laras dan Manda saling berpandangan, keduanya lantas tersenyum simpul dengan makna yang sama.
“Tinggal nunggu waktu aja” gumam Laras, Manda mengangguk setuju.
“Waktu apa?” tanya Dano mau tahu.
“Kepo lu kayak ibu-ibu” ujar Manda.
Dano menjulurkan lidah. “Gue nanya pacar gue...Ra, emang waktu apa?”
“Maaf sayang, kali ini aku setuju sama Manda”
“Mampus!” tawa Manda puas sementara Dano langsung pasang tampang cemberut.
...----------------...
“Saya hari ini lagi senang banget” kata Ayu. “Adit keterima di SMA negeri, dapat beasiswa”
“Pasti dong, saya hampir tiap malam belajar, ngalahin jam belajar Mas Heru yang senin kamis” canda Ayu, wajahnya celingak-celinguk memperhatikan orang-orang disekitarnya. Paling menyenangkan saat melewati stand organisasi pecinta Jepang, beberapa staffnya mengenakan kostum lucu dengan pedang, bahkan ada juga kapal bajak laut mini dibangun disitu. “Saya senang bisa main kesini, rasanya kayak mimpi....Ngomong-ngomong Mas Heru udah cobain kue stand kami belum?”
“Nggak sempat Yu, tadi gue konsul skripsi, kelar langsung make kostum ginian”
“Yaa...sayang banget” ujar Ayu agak kecewa.
Heru menatap Ayu, tanpa sadar ia tersenyum lebar. Santai, Heru menaruh tangannya di atas kepala Ayu saat mereka sedang mengantri telur gulung. Ayu mendongak sekilas lalu pura-pura cemberut.
“Makin hambat pertumbuhan saya Mas, kalo diteken dari atas kayak gitu”
“Biarin. Biar kalo kita berantem lu bisa langsung dikarungin” jawab Heru kalem. Setelah membeli telur gulung, keduanya berkeliling lagi. Masih dalam balutan kostum pokemon Heru santai melenggang melewati orang banyak, bahkan sesekali ia memamerkan ekornya pada beberapa anak yang mengenal dirinya.
“Ru sapa nih? Kecil banget, adek lu ya? Sekolah di SMP mana dek?” tegur salah seorang teman Heru sok akrab, Ayu langsung cemberut, mentang-mentang badannya mungil seenaknya saja dikira anak SMP, minimal SMA lah!
“Baru lulus paud. Nih, kunjungi stand gue, ada peramal handal yang bisa ngeramal masa depan lu” jawab Heru menyodorkan brosur.
“Kata nyokap gue percaya ginian bisa masuk neraka. Parah anak srikandi, menyediakan kegiatan yang memperluas kesempatan masuk neraka”
“Yaudah sini balikin” ketus Herus galak. Cowok itu tertawa geli membiarkan Heru pergi. Heru dan Ayu lanjut berkeliling, setelah sejam lebih mereka baru kembali ke stand srikandi, tampak di bagian depan sudah ada kursi meja yang diduduki Udin dan Dano, dua pokemon itu terlihat kelelahan setelah diajak foto-foto oleh pengunjung stand srikandi.
“Halo Dik Ayu,gimana jalan-jalannya? Asik kan?” tanya Dano masih sempat-sempatnya menggoda Ayu.
“Mas Dano mending diem aja bentar, mas make kostum gitu kayak satwa liar lepas” balas Ayu datar tapi langsung mengundang tawa. Manda tertawa paling kencang, ia terlihat puas dan mengangkat kedua jempolnya untuk Ayu.
__ADS_1
“Bagus Yu” puji Manda.
“Ajaran lu ya Ru? kok Dik Ayu makin pinter aja ngatain orang” tuduh Dano. Heru menunjuk Manda dan Laras.
“Kebanyakan main sama Laras Manda. Gue nggak bisa bayangin kalo Ayu bestien sama Amel, bisa dibakar kali gue kalo lagi iseng. Yu, mulai hari ini lu gue larang dekat-dekat sama Laras Manda”
“Dih! Siapa lu ngelarang-ngelarang Ayu?”
“Bapaknya Ayu. Mau apa lu?”
“Mau ngajak lu berantem” balas Manda tidak mau kalah. Heru nyengir iseng menarik kuncir rambut Manda. Cewek itu langsung memekik berusaha mengambil kembali kuncirnya. Heru menjulurkan lidah sembari bersembunyi di belakang Ayu, tangannya menarik Ayu menjadi penghalang dirinya dari Manda. Ayu menarik napas terlihat pasrah dengan kelakuan Heru.
“Sialan lu Her!” maki Manda saat berhasil mengambil kuncir rambutnya. Masih dengan kedua tangannya dibahu Ayu, Heru menunduk dan tertawa terbahak-bahak. “Gue nggak nyatok hari ini, kalo sampe dilihat jodoh gue gimana? Bisa-bisa ilfil beliau sebelum hubungan kami berlanjut!” gerutu Manda merapikan rambutnya.
“Udah lu sama Brandon aja, mau lu botak Brandon tetap cinta kok” goda Heru disambut kor setuju Udin dan Dano, Manda mendelik sewot ke arah mereka.
“Ru, mantan... ” guman Udin tiba-tiba. “Wah kesini.” Heru berpaling, Danella bersama seorang temannya datang menghampiri stand HIMA. Cewek itu tidak tersenyum dan langsung menghampiri Laras.
“Ra, pesanan gue udah kan? Sorry agak telat ngambil, gue masih kelas tadi” tanya Danella tanpa basa-basi. Laras mengangguk mengeluarkan sekotak kue pesanan Danella.
“Kelas apa lu La? Sampe malam gini?” tegur Dano basa-basi tidak peduli ada kecanggungan diantara Heru dan Danella.
“Iya nih No, kelas penggantinya Pak Pagaribuan. Berapa Ra?”
“Enam puluh ribu, duh bentar aku nyari kembalian dulu” kata Laras saat menerima uang seratus ribu.
“Kasihan lu sampe malam, ada yang anterin nggak? Nih Udin siap nganterin. Iya kan Din?” tembak Dano iseng, Udin mengangguk acuh tak acuh mengambil minumannya
“Wah makasih Din, perhatian banget lu sama gue, cocok jadi pacar” balas Danella santai. Dano ketawa sementara Udin hampir keselek air.
“Gue duluan ya. Makasih semua dan....” Danella menatap Ayu lekat-lekat membuat cewek itu agak salah tingkah.
“Ayu” jawab Ayu buru-buru. Danella tersenyum lalu setelah itu melangkah pergi.
Mata Ayu menatap kepergian Danella. Tidak salah lagi cewek itu yang bertengkar dengan Heru tempo lalu dan mungkin juga yang berciuman dengan Heru. Ayu hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Danella, cewek itu cantik sekali. Kulitnya putih bersih tanpa cacat, rambutnya hitam panjang, dari atas sampai bawah tidak ada satupun kekurangan Danella, bisa dipastikan setiap kaum adam tidak mungkin tidak melirik cewek itu. Lamunan Ayu buyar saat cengkraman Heru dibahunya semakin erat, Ayu mendongak, cowok itu juga terlihat seperti sedang melamun.
“Mas!” Ayu mengoyangkan bahunya sekali membuat Heru menatapnya.
“Apa?”
“Ngelamunin apa? Nanti bahu saya lepas kalo dicengkram kuat-kuat” tegur Ayu halus. Heru baru sadar lalu menurunkan tangannya.
“Heru sekarang jadi kayak sad boy ya. Kasihan. Yu, Heru kalo malam-malam suka nangis nggak? Galau, nggak mau makan, bawaannya pengen loncat dari genteng rumah” ejek Manda. Dano dan Udin tertawa geli.
“Jangan didengerin Yu, setan semua itu.” Heru langsung menutup kedua telinga Ayu, dalam sekejap ia sudah kembali seperti semula.
“Coba kalo sore-sore perhatiin matanya Yu, biasanya ada bekas air mata” tambah Udin.
“Udah Yu, tutup kuping” kata Heru. Ayu menarik napas dan sekali lagi ia hanya bisa pasrah dengan kelakuan Heru.
__ADS_1