Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 22. Just The Way You Are


__ADS_3

Hari ini Ayu sibuk sekali, cafe menerima seratus pesanan cup cake untuk acara ulang tahun seorang anak kenalan Eva yang akan diadakan sore nanti. Sejak subuh Ayu dan Ivanka sudah berkutat di dapur, dibantu Eva yang baru datang disiang hari. Mereka bekerja serius dan cekatan tidak ingin membuang-buang waktu, tapi tetap saja sesekali ada gelak tawa ketika Ivanka melemparkan lelucon.


Kesibukan hari ini membuat Ayu tahu hubungan Eva dan Ivanka lebih dari sekedar teman sekolah, sejak kecil mereka adalah sahabat dekat dengan hobi dan karakter yang mirip. Ayu sering tertawa geli mendengar candaan Ivanka pada Eva begitupun ketika Eva membalas. Saat bercanda dan tertawa Eva tidak nampak seperti wanita nomor satu di keluarga Levronka, gestur wibawa yang cenderung kaku langsung menghilang begitu saja saat Eva berada di dapur dan beriteraksi dengan Ivanka.


“Dulu Eva punya adik, seusia kamu Yu, tapi meninggal. Kecelakaan. Namanya Lyn” cerita Ivanka tiba-tiba saat Eva pergi ke depan menyusun cup cake ke dalam kotak dibantu Artha. “Lyn pengen punya toko kue, makanya dia sekolah pastry, tapi sayang cita-citanya nggak kegapai. Jadi sebenarnya toko ini dibangun Eva karena Lyn.” Ayu diam dan mendengarkan seksama sambil terus menghias sisa cup cake yang masih ada. “Eva nemu catetan Lyn, semua mimpi dia termasuk nama toko yang Lyn rencanakan..... Aku tau Eva kangen Lyn, tapi dia pura-pura tegar. Kelihatan banget dari cara Eva natap kamu Yu. Eva pasti mikir kamu itu seperti sosok Lyn”


“Mungkin Bu Eva baik Kak, saya hanya mantan pembantu di rumah, nggak pantes disandingin sama mendiang adiknya Bu Eva...” tepis Ayu pelan.


Ivanka menggeleng. “Aku itu udah kenal Eva lama dan aku tau semua gerak gerik dia. Eva itu sepanjang hidupnya selalu berduka Yu, sampai kamu datang, dan jujur ini pertama kalinya aku lihat Eva buat kue tanpa nangis-nangis sedih.” Ayu diam, matanya mencuri pandang ke arah Eva, wanita itu terlihat sedang tertawa karena Artha. “Kita nggak akan pernah tau sesedih apa kehidupan seseorang sampai kita sendiri yang jadi orang itu Yu” gumam Ivanka lagi.


...----------------...


Ayu membuka bumbu mie dan menuang ke dalam panci, matanya melirik ke arah jam dinding dapur, pukul dua belas kurang. Sejak tadi perutnya mendadak lapar minta diisi, mungkin karena ia terus beraktivitas sepanjang hari dan hanya makan dalam porsi sedikit.


“Ngapain lu?”


Ayu balik badan terkejut, Heru muncul membawa botol minum kosong. “Mas Heru ngapain malam-malam disini?


“Kalo lu lupa, ini rumah gue, jadi gue bebas dong mau berkeliaran jam berapa aja.”


Heru mendekati Ayu. “Tolong buatin satu dong buat gue.”


Ayu mengambil satu bungkus mie sementara Heru menarik kursi duduk di belakang Ayu. Heru menopang dagu memperhatikan Ayu bekerja, akhir-akhir ini Heru jarang bertemu Ayu, ia tahu cewek itu tidak lagi bekerja di rumah dan Heru juga sibuk mengurus skripsinya yang akan memasuki bab akhir. Tapi memperhatikan Ayu di depannya membuat Heru sadar, ada beberapa perubahan dari cewek itu. Ayu tidak lagi mengikat rambutnya dengan model ekor kuda kaku, ia juga tidak berpenampilan membosankan dengan rok atau baju lengan panjang bermotif bunga-bunga aneh. Ayu sekarang terlihat lebih suka mengenakan celana rumahan panjang, kaos, dan rambutnya diikat cepol ke atas, meskipun agak berantakan tapi anehnya Heru merasa lebih suka saat Ayu menunjukan area lehernya dengan cara seperti itu. Manis. Menarik. Heru penasaran, seperti apa rasanya ketika giginya mengigit area leher Ayu? Ia ingin tahu reaksi cewek itu. Apakah Ayu akan marah atau tetap tersenyum manis seperti biasa?


“Mas, jangan melamun, nanti kalo kerasukan saya nggak bisa bantu nyembuhin” tegur Ayu menaruh dua mangkuk mie di atas meja.


“Makasih. Kafe gimana?” tanya Heru, mengengam erat sumpitnya sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak menyentuh rambut Ayu.


“Banyak yang datang, hari ini kami nyelesaiin pesanan cup cake temannya Bu Eva” jawab Ayu.


Sembari menikmati mie, Ayu bercerita panjang lebar tentang hari-harinya. Heru mendengarkan cewek itu seksama. “Kata Bu Eva, seandainya kelas saya selesai saya bisa daftar di sekolah pastry. Saya nggak mau berharap banyak, tapi saya senang ngedengar rencana Bu Eva untuk saya”


“....Gue nggak tau lu berdua bisa sedekat itu” gumam Heru agak muram. Ayu diam, seharusnya ia tidak bercerita sedetail itu. Sering berinteraksi dengan Eva dan mendengar kisahnya membuat Ayu sejenak lupa hubungan renggang antara Heru dan Eva.


“Mas mau es krim? Punyanya Mbak Ningsih, tapi kita colong aja, besok pagi baru aku ngaku dosa ke Mbak Ningsih” tawar Ayu setelah selesai makan, ia mengambil dua buah es krim dari kulkas.

__ADS_1


“Mas Heru skripsinya gimana?”


“Udah bab empat”


“Wah nggak kerasa ya, kayak baru kemarin gitu Mas Heru jahil luar biasa diawal ngerjain skripsi. Eh tau-tau sekarang udah mau bab empat aja. Semoga lulusnya cepat ya mas.”


Heru tersenyum geli. “Jadi ceritanya lu masih kesel nih?”


“Enggak mas, saya cuman keinget aja” elak Ayu.


“Sebenarnya gue masih pengen ngusilin lu Yu, cuman lu jarang di rumah”


“Ya Mas Heru datang ke kafe dong, eh tapi ngapain juga ya Mas Heru datang buat ngusilin saya? Mending Mas Heru datang buat ngerjain skripsi, lumayan loh mas, kami menyediakan berbagai makanan manis yang bisa membantu kinerja otak untuk merangkai kata” kicau Ayu seperti sales marketing.


“Nggak mau, entar gue nggak fokus karena ada lu”


“Orang saya di dapur kok" cibir Ayu membawa mangkok bekas makan ke wastafel. “Sebenarnya saya itu sering di rumah, Mas Heru aja yang sukanya pergi terus, berhari-hari tidur di luar, padahal ada rumahnya sendiri”


“Yang penting pulang Yu”


“....Lu juga khawatir Yu?”


Ayu balik badan, sejenak berkacak pinggang lalu kembali membilas mangkok dan menaruh di atas rak piring. “Saya kalo enggak khawatir sama Mas Heru saya nggak akan ingetin Mas Heru untuk pulang cepat.”


Klik. Lampu dapur dimatikan. Ayu mendongak dan balik badan. Heru yang mematikan lampu, ia melangkah mendekati Ayu. “Mas, iseng banget-”


“Yu, maafin gue.”


Heru menarik wajah Ayu dan mencium bibir cewek itu. Mata Ayu membulat terkejut merasakan tangan Heru terangkat naik memeluk dan mengelus punggungnya. Ayu perlahan menjadi lebih rileks, matanya terpejam, dan bibirnya sedikit terbuka untuk memberikan akses bagi Heru mengeksplorasi miliknya lebih jauh. Ayu tidak pintar berciuman, tapi instingnya menyuruh begitu. Bibir Heru bergerak menyapu rasa manis es krim dari bibir Ayu, ia tersenyum ketika menyadari Ayu tidak menolaknya. Heru melangkah maju lalu menghentikan ciumannya, tangannya berada di kanan kiri wastafel mengunci pergerakan Ayu agar tidak pergi. Dalam ruangan yang hanya bercahayakan remang-remang lampu dari ruang makan, Heru bisa melihat Ayu tersipu malu, cewek itu lantas menunduk tidak berani menatapnya.


“Eh!” Ayu tersentak saat Heru menunduk mengigit bahu kanannya pelan.


Heru tertawa geli. “Gue selalu penasaran dengan bagian ini, tapi sekarang gue udah tau, rasanya manis sama kayak bibir lu.”


Ayu mengigit bibir, mendengar Heru mengatakan hal seerotis itu membuat pipinya memanas. “Mas Heru...udah malam”

__ADS_1


“Terus?”


“Sana tidur.”


Heru tertawa geli sampai Ayu buru-buru menutup mulutnya. “Ih, jangan keras-keras, kalo ada yang kesini ntar kita dituduh habis ngapa-ngapain”


“Lah, emang kita kan habis ngapa-ngapain Yu. Kalo lu lupa gue habis nyium lu tadi” balas Heru kalem. Ayu meringis langsung mencubit lengan cowok itu.


“Agh! Sakit tau!”


“Biarin!” dengus Ayu sebal lalu melangkah pergi meninggalkan Heru tersenyum geli melihat tingkahnya.


...----------------...


“Ngapa lu senyun-senyum? Habis nonton porno ya?” tegur Udin.


“Habis nonton porno mah jadi bego Din, bukan bahagia” balas Heru sewot. Udin duduk di sampingnya sembari mengeluarkan laptop.


“Lu bimbingan jam berapa?”


“Dua puluh menit lagi, cuman gue mau meriksa dulu kalimat-kalimat gue masih ada yang salah atau enggak.”


Udin langsung melemparkan tatapan takjub. “Kesambet apa lu? Biasanya juga langsung bimbingan aja”


“Kesambet cintanya Ayu” jawab Heru cuek.


Mata Udin membulat, tangannya menutup kedua mulutnya seakan ada fakta mencengangkan yang baru saja menggemparkan dunia. “Lu jadian sama Ayu?”


“Nggak perlu jadian, Ayu itu udah milik gue.”


Udin menggeleng. “Nggak semua hal di dunia ini bisa lu miliki dengan mudah.”


Heru menutup laptopnya dengan tampang santai. “Simpan nasehat itu buat diri lu sendiri. Gue cabut duluan, mau bimbingan. Bye!”


Udin tersenyum kecut menatap kepergian Heru, sekali lagi kepalanya menggeleng melihat kepedeaan Heru, wajar, cowok itu memang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan semudah membalikkan tangan. “Dasar aneh” gumam Udin lalu lanjut mengetik.

__ADS_1


__ADS_2