
Hubungan Laras dan Angga selesai, meskipun tidak benar-benar berakhir karena keluarga besar belum tahu, tapi Laras tetap merasa senang. Tampangnya seperti baru melepas beban berkilo-kilo dari punggung, hati Laras kini plong bagai ruang kosong.
Tapi Laras tetaplah Laras. Makhluk cantik ciptaan Tuhan yang selalu kepikiran pada apapun yang telah ia lakukan. Ketika matahari bersinar cerah Laras terlihat sangat bahagia, namun di malam hari ia tiba-tiba merasa galau. Laras berpikir apa ia terlalu kasar pada Angga? Sampai mengusir cowok itu dan tidak mendengarkan penjelasannya? Apa seharusnya Laras tidak marah? Dan pemikiran itu baru berhenti ketika Laras terlelap. Tapi kembali di waktu pagi Laras akan membuka jendela kamar sambil berteriak kencang. “Selamat pagi dunia…akhirnya aku terbebas dari jeratan kisah Siti Nurbaya dan omong kosong lelaki pembohong!!! Oh indahnya dunia ini.”
Sri yang menyaksikan kejadian itu dari meja makan hanya bisa geleng-geleng sembari berharap Laras tidak mendadak gila.
“Ra!” Dano menepuk pundak Laras keras.
“Patah No, kamu mau ganti sendi tulangku kalo ada yang bergeser?”
“Lebay Ra. Saya nepuknya pake tangan bukan balok.” Dano duduk di samping Laras. Sekarang waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore, kampus sudah mulai sepi karena tidak terlalu banyak mahasiswa yang mengambil jadwal kuliah diakhir pekan.
“Kok belum pulang Ra?”
“Nunggu macet”
“Sambil ngelamun sendiri?”
“Kamu mau ngelamun berdua? Ayuk” balas Laras cuek. Dano ketawa geli.
“Aku putus” beritahu Laras. Terdengar suara tepuk tangan Dano. Berbeda dengan Laras yang mulai memasuki jam galau, Dano justru terlihat senang bukan main. “Angga nuduh aku nyium kamu. Emang aku kayak dia apa? nyium cewek sembarangan! Udah gitu marah-marah lagi, kayak aku senang aja jadi bahan gosip kampus. Aku sebel! Aku usir keluar, aku lempar cincin kita, tau deh jatuh kemana. Dikira dia aja apa yang bisa marah? Aku juga bisa. Dasar Sapi!”
Dano nyengir. “Kok sapi Ra?”
“Nggak tahu, itu yang kepikiran dikepalaku….Ih, kenapa kamu malah fokus kesitu? Ini gara-gara kamu tahu, nyium orang sembarangan! Bibir kamu tuh harus di sekolahin, biar nggak nyosor sembarangan!” sungut Laras mencubit lengan Dano gemas. Dano meringis kesakitan, tapi Laras tidak peduli Dano harus diberi pelajaran.
“Ra sakit!” Dano menangkap kedua tangan Laras dan memegang erat.
“Lepasin, malu dilihat orang”
“Nggak mau, entar kamu nampar saya. Cewek mungil kalo ngamuk serem” geleng Dano menolak. “Kamu harus berterima kasih sama saya, karena berkat saya kamu sama Angga putus. Kan kamu emang pengen putus”
“Ya tapi nggak pakai nyium juga, ada cara lain”
“Apa contohnya? Nari tor-tor di depan Angga? Atau atraksi sapi loncat api?”
“Nggak lucu” dengus Laras. Dano nyengir.
“Ra denger ya, adegan paling bagus buat dijadikan bahan omongan ya kayak gitu, lagian juga ada Sera, kan makin mantap tuh laporan yang masuk ke Angga”
“Maksud kamu? Sera yang ngasih tau ke Angga?”
“Mungkin” jawab Dano angkat bahu. “Apa yang kamu harapkan dari saya sih Ra? Meluk kamu? Nggak mau, emang teletubbies?”
“Lain kali jangan gitu lagi. Aku nggak suka, kaget tau, dan malu dilihat orang”
“Ya ampun Ra, disitu cuman ada anak srikandi, mereka nggak bakal peduli”
“Nggak bakal peduli tapi aku digosipin ngasih kamu pelet” dengus Laras jengkel.
“Iya Ra iya, maaf ya, jangan marah dong, anggap aja kamu habis dicium anjing, jadi yang kamu inget cuman ciuman-ciuman manis kamu sebelumnya.”
Mata Laras melotot tapi hanya sebentar. Dano lantas termangu dan setelah itu menunduk sedikit menatap Laras lekat-lekat. “Ra jangan bilang itu yang pertama buat kamu?”
Laras diam, wajahnya menunduk dengan rona merah. Dano melongo lalu tertawa terbahak-bahak. “Tenang Ra, ciuman selanjutnya saya buat lebih romantis” kata Dano disela tawanya. Laras lantas menggigit tangan Dano jengkel. “Ra! Sakit!” kata Dano spontan melepas genggamannya. “Sukanya gigit-gigit ya, pernah jadi anjing apa gimana Ra?....Loh, loh mau kemana Ra? macetnya masih panjang tuh sampai ke Tangerang.” Dano buru-buru berdiri dan mengejar Laras yang terlebih dahulu melangkah pergi. “Ra, jangan ngambek dong”
“Aku nggak ngambek”
“Terus kenapa pergi?”
“Karena kalo aku lebih lama duduk sama kamu, kamu mau aku makan” dengus Laras. Dano nyengir mengikuti langkah Laras, sesaat ketika mereka berada di tangga bawah koridor ekonomi Laras berhenti dan balik badan ke arah Dano.
“Kamu ke kampus tiap hari?”
“Enggak, kenapa?”
“Karena aku selalu ngeliat kamu dan kalau kamu sadar kamu selalu ngikutin aku setiap kali aku ke kampus, aku nggak yakin jadwal kelas kita sama”
“Oh itu berarti benar gosipnya”
“Maksud kamu?”
“Pelet kamu ke saya kuat, makanya saya nggak mau jauh-jauh dari kamu” kekeh Dano menggoda.
“Ih, serius tauk! Udah ah, aku mau pergi”
“Kemana sih? Buru-buru banget? Ada kerja bakti kompleks?”
“Ck, aku mau potong rambut, mau buang sial, Udah sana kamu jauh-jauh dari aku. Seratus meter kebelakang” usir Laras lalu melangkah pergi, tanpa diduga Dano meraih tangannya dan sedikit memaksa Laras mengikuti langkahnya.
“Saya punya kenalan yang pinter motong rambut, model apa aja bisa, dan dijamin leher kamu nggak akan ikut kepotong” kata Dano. Laras menghela nafas tidak ada tenaga lagi untuk beradu argumen dengan Dano, akhirnya ia hanya mengangguk pasrah mengikuti cowok itu.
...----------------...
__ADS_1
Papan nama bertuliskan Ms. hairbosss dengan lambang gunting dan sebuah tulisan; Thor pernah smoothing disini! membuat kening Laras berkerut tanda tidak yakin. Ini pertama kalinya Laras menginjakan kaki dan melihat salon di daerah situ. Batin Laras mendumel, padahal ia sudah merelakan sebagian uangnya agar bisa duduk manis di kursi Johnny Andrean.
“Valdano!!! Aduh, makin ganteng kamu, lihat pantat aku, makin berisi kan? Iyalah, produk Thailand ini, bukan kaleng-kaleng.”
Laras melongo ketika melihat seorang mas, bukan lebih tepatnya Mr. Mbak memeluk Dano erat. Penampilannya seksi bukan main ditambah alis tebal dan lipstik merah menyala. Cantik, tapi disaat bersamaan juga ada aura pejantan tangguh yang terdengar dari suaranya.
“Aduh Bang, sesak nih” kata Dano ketawa.
“Siapa nih? Pacar? Istri? Anak? Emak? Atau simpanan? hahaha, aku bercanda. Kenalian Silvia.”
Laras menyambut kikuk uluran tangan Silvia. “Laras”
“Ra, ini Bang Slamet, pemilik salon sini, hasil guntingnya bagus, mama saya sering kesini”
“Slamet, Slamet, ngasal kamu! Aku kalo matahari cerah gini panggilnya Silvia aja ya” kedip Silvia genit. “Nah sekarang, cantik mau diapain rambutnya? Potong? Warna? Atau dibakar? Kami bisa semua disini”
“Dipotong aja Mbak, potong pendek segini” kata Laras menunjuk atas bahu. Silvia mengamati rambut Laras lalu mengangguk-angguk paham.
“Oke deh, aku ngerti. Cuci rambutnya dulu ya.”
Laras mengangguk mengikuti Silvia.
“Bang Peter sama Mbak Eri dimana?”
“Lagi belanja barang salon, maklum seharian ini rame jadi baru sempat sekarang. Untung kamu datangnya sekarang, coba kalo sorean, aku nggak bisa”
“Mau pergi juga?”
“Iya dong, mau ketemu ayang. Biar gini-gini aku kembang desa sini. Banyak yang ngantri mau jadi pacarku, cuman ya aku masih nyari yang sesuai tipe idealku”
“Tipe ideal Mbak Silvia kayak gimana?” tanya Laras tersenyum geli.
“Yang kayak Dano lah. Ganteng, tajir, dan staminanya kuat. Eh Dano kalo kamu mau sama aku juga nggak papa. Aku mungkin nggak bisa kasih kamu anak, tapi aku bisa kasih kamu yang lain” kedip Silvia manja.
“Pait, pait” balas Dano merinding. Laras dan Silvia tertawa geli. Tingkah Silvia cukup mengundang tawa Laras, terutama ketika ia menggoda Dano. Dano sendiri hanya mendengus sibuk rebahan di dua kursi, ia sepertinya sudah terbiasa dengan candaan Silvia.
“Sebenarnya rambut kamu ini bagus, cuma kurang dirawat. Rajin pakai vitamin ya, biar nggak terlalu kusut” kata Silvia ketika selesai mencuci rambut Laras. “Mau dipotong sebahu kan?”
“Iya mbak, pake poni boleh?”
“Jangan Ra. Kamu kalo pakai poni entar tinggi kamu kehitung dari hidung sampai jempol kaki doang. Kamu mungil, nggak usah ngurangi tinggi badan” ujar Dano dari belakang.
“Ih, aku lihat di internet cewek-cewek mungil pake poni lucu kok”
“Tergantung bentuk muka. Kamu nggak cocok”
“Nggak boleh!”
“Rambut aku!”
“Eh, inget peraturan pertama.”
Laras bungkam baru mengingat ia memiliki perjanjian dengan Dano. Peraturan ampas! batin Laras sebal.
“Udah gini aja, aku punya poni palsu, kita coba pakai, kalo cocok aku potong pake poni, kalo nggak berarti leher Dano yang kita potong” putus Silvia. Laras mengangguk setuju dan ketika ia mencoba poni palsu yang diberikan Silvia, hati Laras langsung menjerit. Dano benar, Laras terlihat aneh sekali dengan poni.
“Gimana? Masih mau pake poni?”
Laras menggeleng dengan berat hati melepas poni palsu itu, matanya melirik Dano dari pantulan kaca dan terlihat jelas cowok itu sedang tersenyum penuh kemenangan. “Diem kamu” sungut Laras keki. Selanjutnya butuh dua jam lebih bagi Laras untuk menyelesaikan urusan rambut, karena selain memotong rambut ia mengikuti ide Silvia untuk mewarnai hitam rambutnya.
“Biar coklat-coklat kayak gini hilang dan rambut kamu kelihatan sehat hitam berkilau awww!” kata Silvia genit.
Setelah benar-benar selesai Laras menatap pantulan dirinya dengan rambut baru dikaca, ia merasa puas. Selama dua puluh tahun, ini pertama kalinya Laras memotong rambut sampai sependek ini, biasanya ia akan membiarkan rambutnya memanjang agar lebih mudah membuat konde saat mengenakan kebaya. Pantulan Laras dari kaca terlihat sangat berbeda, bibirnya tersenyum memberikan kesan manis pada wajahnya. Tapi hanya sebentar, karena setelah itu fokus Laras teralihkan pada pantulan Dano. Tubuh cowok itu tengkurap di dua buah kursi dan terlelap.
“Kalo ada gempa, kita udah lari duluan, Dano bangunnya pas semua udah roboh.”
Laras nyengir lalu menyerahkan selembaran uang. “Mbak aku mau bayar”
“Entar ya Ra, aku ambil kembaliannya”
“Nggak usah mbak, aku suka sama hasil potongannya, harusnya malah harganya lebih mahal” balas Laras membuat Silvia tersenyum senang.
“Kalo gitu aku kasih kamu service spesial deh. Sini.” Silvia mengambil lipstik dan mendekati Dano. “Lihat mas ganteng kita.”
Laras cekikan geli ketika Silvia tanpa ragu menorehkan lipstik merah menyala ke atas bibir Dano. Cowok itu sama sekali tidak terlihat terganggu, Dano malah menepuk-nepuk wajahnya karena berpikir ada nyamuk hinggap disana dan setelah itu ia tetap terlelap, bahkan ketika Laras cekikan geli mengambil beberapa potret Dano sebagai kenang-kenangan cowok itu tetap tidur mendengkur. “Ya ampun lucu banget” kekeh Laras puas. Timbul niatan untuk menyebarkan foto ini apabila Dano bertingkah aneh lagi seperti kemarin.
“Ra, aku nyapu rambut ini dulu ya. Kamu kalo mau lanjut make-up Dano, aku ada nih”
“Nggak usah deh mbak, makasih, kasihan anaknya. Aku bangunin dulu” geleng Laras tertawa, ia mengguncang pelan tubuh Dano, sampai beberapa kali cowok itu baru membuka mata.
“...Ya?” Dano terlihat linglung ia mengucek-ngucek mata menatap Laras yang berjongkok di depannya. Seperti kebingungan karena melihat sosok baru Laras tangan Dano tanpa sadar terangkat naik menyentuh wajah cewek itu. Jarinya mengelus pelan pipi Laras masih dengan ekspresi bingung. Bukannya menepis tangan Dano, Laras justru tertawa keras, membuat kesadaran Dano kembali. “Cantik Ra” puji Dano. Laras tidak menjawab, ia semakin tertawa geli. Tampang bloon Dano berhasil menggelitik perut Laras.
“Kenapa sih Ra? Otak kamu ikutan kepotong?” tanya Dano heran, ia bangkit duduk dan setelah itu matanya melotot terkejut ketika melihat pantulan dirinya dari kaca. “LARAS!!!!” teriak Dano nyaring sementara Laras semakin terbahak.
__ADS_1
...----------------...
Dano dan Laras menghabiskan sisa hari itu di sebuah mall besar. Mereka makan dan berkeliling, sampai kemudian Dano menarik Laras masuk ke sebuah toko pakaian di lantai tiga mall.
“Sekarang kita ML Ra” bisik Dano langsung kena cubit Laras. “Aduh Ra! Sakit tahu, jadi cewek suka banget sih cubit-cubit, kalo kulit saya lepas gimana?”
“Ya habisnya kamu mesum banget!”
“Ra, ML maksud saya itu Mengubah Laras. Jadi sekarang kita kayak lagi ngelakuin misi untuk mengubah kamu Ra.”
Laras mencibir lalu mendongak menatap papan nama di samping pintu masuk. “No, yakin masuk sini?”
Caroline Edward, brand pakaian asal Perancis yang cukup terkenal dari segi kualitas dan harga. Laras mengetahui nama brand itu ketika Amel sempat memilih puasa jajan seminggu untuk membeli sebuah kaos yang dibandrol jutaan. Sepanjang berbelanja hanya Dano yang sibuk memilih sementara Laras sudah terlihat mulai bosan. Laras duduk di sofa dengan ekspresi suntuk sementara Dano bolak-balik mengambil jeans, kaos, dan berbagai jenis pakaian wanita lalu menaruh di atas pangkuan Laras.
“Ini buat siapa?”
“Cewek saya. Kamu nggak mau beli sesuatu Ra?”
“Nggak, saya ngantuk” geleng Laras, matanya membulat melihat harga ripped jeans di tangannya, satu juta, udah gila! Jeans robek-robek gini setara dengan harga makan dua minggu.
“Mbak ini tolong disatuin” ujar Dano pada pramuniaga disitu, ia lalu menarik Laras menuju barisan dress di rak ujung.
“Ra, cobain deh” kata Dano ketika mengambil sebuah dress ketat berwarna hitam dengan belahan rendah.
“Ih nggak mau, seksi banget”
“Udah Ra, cobain” dorong Dano memaksa Laras masuk ke ruang ganti.
Laras menguap malas mencoba dress yang diberikan Dano. Laras merasa aneh, pantulan dirinya dari kaca ruang ganti terlihat sangat berbeda. Dress ketat dengan belahan dada rendah dan punggung terbuka membuat Laras seperti sedang mengenakan bikini, bahkan lebih parah dari itu, ia seperti hanya mengenakan sehelai kain karena harus melepas branya untuk membiarkan punggungnya terekspos sempurna. Laras bengong seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Dengan rambut yang dipotong sebahu dan dress hitam, Laras terlihat seperti orang berbeda.
“Siapa ya?” tanya Laras bego melihat pantulan dirinya.
“Ra udah?” suara Dano dari luar membuyarkan lamunan Laras.
“I-iya.” Laras bengong.Sret. Laras berpaling terkejut ketika tirai dibuka dan tanpa permisi Dano masuk ke dalam. “N-ngapain kamu?” Laras mendadak gugup.
“Saya pengen lihat”
“Kan bisa di luar”
“Biar eksklusif aja Ra” jawab Dano cuek, senyum nakalnya muncul ketika melihat penampilan Laras. Tepat seperti dugaan Dano, Laras terlihat sangat seksi dengan penampilan seperti itu.
“Kenapa ngeliat gitu sih?” tegur Laras risih menutup belahan dadanya.
“Malam minggu besok ada acara ulang tahun teman saya, dresscodenya warna hitam”
“Maksud kamu dress ini buat aku? Aku harus pakai gitu? Bukan untuk cewek kamu?”
“Saya kan nggak punya cewek Ra”
“Loh tadi kamu bilang kamu beli semua baju itu untuk cewek kamu”
“Saya bercanda Ra, itu untuk kamu.”
Mata Laras membulat terkejut langsung menolak keras. “Aku nggak mau”
“Kenapa Ra? itu ukurannya udah pas untuk kamu kok, tenang aja nggak ada yang kegedean atau kekecilan”
“Bukan itu masalahnya”
“Terus?”
“Aku nggak bisa ganti duit kamu. Dano harga semua pakaian itu nggak murah.”
Kening Dano berkerut heran seolah Laras baru saja mengatakan ingin loncat dari lantai tiga mall. “Apa sih Ra? Saya nggak minta ganti”
“Nggak mau. Aku nggak mau utang sama kamu” geleng Laras menolak.
Jari Dano terangkat naik menyentil dahi Laras. “Ingat perjanjian kita Ra. Kamu harus nurut sama saya”
“Tapi ini diluar batas”
“Sejak kapan perjanjian kita ada batasnya?” tawa Dano membuat Laras bungkam. Benar kata Dano, selain larangan untuk jatuh cinta tidak ada lagi batasan di antara mereka, karena sejak awal perjanjian itu hampir bersifat general; Laras akan menurut pada Dano, entah apapun perkataan cowok itu Laras harus patuh.
“Kamu lihat deh Ra.” Dano memutar tubuh Laras dan sama-sama menatap pantulan cewek itu di kaca. “Sabtu besok, jam setengah sembilan malam saya jemput kamu, pakai dress ini, make upnya enggak usah menor, cukup dengan make up yang akhir-akhir ini sering kamu pakai, saya suka.”
Laras menelan ludah, tidak bisa membayangkan seperti apa nanti ia di sabtu besok. Ditengah kalutnya Laras tersentak, Dano tanpa permisi menempelkan bibirnya di dekat leher Laras. Awalnya hanya sebuah kecupan dan kemudian berubah menjadi sebuah isapan kecil.
“D-dano…kamu ngapain?” tanya Laras gugup, sebuah bekas kemerahan kecil kini berada di leher Laras. Dano tidak menjawab, hanya tersenyum kecil lalu melangkah keluar.
“Buruan Ra ganti baju, habis ini saya anterin kamu pulang.”
...----------------...
__ADS_1
Laras berbaring di atas kasur dengan perasaan berkecamuk, sudah pukul setengah dua pagi dan matanya tidak bisa terpejam. Sejak tadi Laras hanya mondar-mandir, kantong belanjanya belum ia buka sama sekali. “Aduh, apa aku pura-pura sakit aja ya?” gumam Laras ragu.
Berdasarkan penjelasan Dano, acara besok diadakan oleh seorang anak srikandi, dan itu berarti kedatangannya bersama Dano akan menjadi bahan gosip baru. Laras mengambil dress hitamnya dari dalam kantong. Apa mungkin hari esok akan menjadi kuburan bagi Laras yang naif dan polos?