
Libur semester dimulai, tapi baru seminggu Laras sudah bosan setengah mati. Kerjaan Laras selama liburan ini monoton, masak, mandi, makan, bersih-bersih, ada beda sedikit ketika ngelantur bareng Apin.
“Makin tertekuk aja mukanya” tegur Sri ketika melihat Laras uring-uringan di sofa.
“Udah, kalo kangen temui aja”
“Kangen siapa?” balas Laras sewot. Sri angkat bahu, tidak perlu dijelaskan ia tahu benar Laras itu kangen Dano, tapi ya namanya cewek harga diri Laras tinggi banget, sampai kesusahan sendiri menahan perasaan galaunya yang mau meledak keluar.
“Dulu waktu kamu kerja tugas di Manda sebulan, Dano sering kesini buat bantuin aku bersih-bersih rumah” cerita Sri dari balik tempat cuci piring. Laras langsung mendongak.
“Dano?”
“Iya”
“...”
“Ra”
“...”
“Ra!”
“H-hah?”
“Jangan mendadak budeg”
“Kamu nggak ngarang cerita kan? Beneran Dano? Sekelas Dano mau secara sukarela bantu bersih-bersih rumah? Dia tolol atau bego?”
“Dua-duanya dan semua itu terjadi karena Laras Keshwari Adiratna, putri Bapak Susanto. Lagian kamu sama Dano itu ada masalah apa sih? Kok sampai segitunya kamu enggak mau ngomong? Dano selingkuh?”
“Aku juga berharap gitu sih Sri” balas Laras lemah. Ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Rakai yang mengajaknya keluar tapi dengan cepat ditolak Laras. Aneh, padahal Rakai sudah jelas menunjukan ketertarikannya pada Laras namun hati cewek itu masih terus tertuju pada Dano.
Bukannya memasukan ponsel, Laras justru mencari nomor Dano. Cuaca panas membuat pikiran Laras menjadi kacau dan tanpa berpikir dua kali jemarinya menekan tombol panggilan. Hanya sekitar beberapa detik panggilan itu terhubung, namun bukan suara Dano yang terdengar, melainkan suara Yanti.
[Halo Neng Laras? Bentar ya neng. Mas Dano lagi muntah-muntah]
Laras terkejut. “Dano sakit? Sakit apa?”
[GERD]
“Hah? GERD?”
[Iya neng, sama vertigo juga]
“Nggak dibawa ke rumah sakit?” Laras makin panik.
[Kata Mas Dano nggak usah]
“Apa?..Aku kesitu mbak.”
Panggilan langsung dimatikan, Laras buru-buru mengambil dompet dan jaket. Masa bodoh ia belum mandi, Dano GERD, vertigo, dan muntah-muntah tapi tidak mau dibawa ke rumah sakit. Bagaimana jika cowok itu meninggal?
“Sri aku pergi dulu, baliknya telat” ujar Laras panik berlari keluar.
Yanti menaruh ponsel Dano kembali ke atas meja dengan ekspresi heran. “Neng Laras telepon, katanya mau kesini” lapornya pada Dano. Mata Dano membulat terkejut.
“Serius? Mbak ngomong apa ke Laras?”
“Saya bilang Mas Dano sakit. Udah ya mas, saya ambil bubur lagi, itu obat maagnya saya taruh di meja” pamit Yanti melangkah keluar. Dalam hati ia heran pada Laras. GERD dan vertigo kan kata medis keren untuk sakit maag dan pusing kepala, setidaknya itu yang Yanti pelajari dari Rudi saat ngobrol tiga hari lalu.
“Dasar remaja dimabuk cinta, panikan kalo kekasihnya sakit” gumam Yanti.
...*****...
Laras berdiri di depan pagar rumah Dano, sampai dua kali memencet bel wajah Rudi muncul.
“Cari Mas Dano ya mbak? Ada di dalam” ujar Pak Rudi tanpa basa-basi, Laras tersenyum kikuk mengucapkan permisi.
“Mbak Yanti” panggil Laras ketika masuk rumah, wanita paruh baya itu muncul dengan keranjang baju kotor. Laras mengernyit, untuk ukuran anak pemilik rumah sedang sakit, asisten rumah tangga Dano terlihat sangat santai.
“Ya ampun Neng Laras, kok baru muncul? Sibuk belajar ya sampai nggak inget main kesini?” ujar Yanti girang.
“Dano dimana mbak?” tanya Laras tanpa basa-basi tidak ingin acara temu kangen dadakan dengan Yanti berlangsung lama.
“Tuh di kamar, habis saya kasih makan bubur”
“Nggak mau bawa ke rumah sakit?”
Yanti menggeleng. “Mas Dano nggak mau. Lagian cuman GERD sama vertigo doang.”
Laras melotot. “Mbak, aku bukan orang medis, tapi setau aku GERD itu kalo nggak diobati bisa jadi masalah berbahaya buat lambung, apalagi Dano sampai muntah-muntah begitu. Terus vertigo juga harus dicek, bukan gejala serius sih, tapi aku khawatir vertigo Dano kambuh di momen nggak tepat, kayak lagi nyetir atau manjat genteng, kalo dia kecelakaan gimana?” kata Laras berapi-api.
Kening Yanti mengernyit dengan tatapan lugu. “Aduh Neng Laras. GERD maksud saya itu maag biasa, mas Dano telat makan tapi udah saya kasih promag, entar juga sembuh kayak biasa. Terus kata Mas Dano dia itu pusing mikirin hidup, ya itu vertigo.”
Laras bengong, dari mana Yanti mempelajari bahasa medis seperti itu?
“Kalo telat makan sebutannya maag atau GERD, pusing vertigo, sakit hati lever. Saya bener kan?”
__ADS_1
Laras makin bengong.
“Udah neng, samperin aja Mas Dano di atas, lagi main PS kayaknya” ujar Yanti cuek. Batin Laras memaki-maki, bisa-bisanya ia kena tipu Yanti dan dengan paniknya datang kesini. Tapi sudah kepalang tanggung, mau tidak mau Laras mengangguk lalu balik badan menuju kamar Dano, sengaja ia memilih tangga untuk menenangkan detak jantungnya yang mendadak berdebar tidak karuan.
Dasar Yanti!
Satu tarikan napas Laras terdengar. Tenang Ra, tenang, kamu cuman ketemu Dano, bukan ketemu presiden Amerika Serikat, nggak perlu gugup! batin Laras menenangkan.
Dua ketukan terdengar sampai kemudian pintu dibuka. Laras mendongak begitu melihat Dano, penampilan cowok itu acak-acakan dengan hoodie dan celana futsal. Wajah Dano juga terlihat sedikit lemas, mungkin karena masih sakit.
“H-hai…” sapa Laras gugup, Dano menatapnya seksama lalu bergeser memberikan ruang bagi Laras untuk masuk.
“Di sini aja nggak papa”
“Oh yaudah, kamu berdiri disini, saya rebahan di kasur. Perut saya masih sakit soalnya. Kalau mau ngomong teriak aja” ujar Dano kalem membuat Laras mengalah dan masuk. Sama seperti dulu kamar itu masih terlihat menarik di mata Laras, meskipun agak berantakan karena tisu dan piring di lantai kamar.
“Aku kesini karena kata Mbak Yanti kamu sakit” beritahu Laras tanpa ditanya.
“Cuman maag biasa” balas Dano duduk di kasur, matanya menatap Laras berdiri kikuk di depannya. Tangan Dano menepuk space di sebelahnya. “Duduk sini, lantainya belum dibersihkan.”
Laras patuh. “Sakit kamu gimana?”
“Udah mendingan”
“Oh”
“Kamu udah makan?”
“Udah.”
Hening. Karena kini Dano duduk berhadapan dengan Laras, tidak nampak ia akan berbicara justru serius menatap Laras sampai membuat cewek itu jengah.
“Kalau kamu udah baikan, aku pulang deh”
“Perut saya masih nyeri. Disini aja, temani saya sampai sembuh” tahan Dano menarik lengan Laras.
“Kalo gitu kapan sembuhnya?”
“Lama. Udah disini aja dulu, mau kemana sih cepat banget?”
“Bantuin Sri masak”
“Alesan aja kamu”
“Yeh emang mau bantuin Sri masak, kalo misalnya kami kelaparan karena nggak ada makanan gimana?”
“Numpang makan aja disini, rumah saya masih sanggup nanggung dua orang lagi, tiga ding, plus Apin. Terus khusus kamu makannya saya suapin”
“Ya emang.”
Keduanya bertatapan lalu tertawa, sudah berapa lama mereka tidak berdebat dan tertawa lepas seperti ini?
“Saya kangen sama kamu” ujar Dano tanpa permisi memeluk Laras. Rasa bersalah, frustasi, dan rindu menguap keluar dalam eratan pelukan Dano. Tangan Laras terangkat naik mengelus rambut Dano pelan, ternyata rasa sayangnya pada cowok itu tidak pernah menghilang.
“Aku belum mandi.”
Dano mendongak, bibirnya mengerucut. “Jangan ngerusak suasana Ra, saya lagi sakit, pengen manja-manja sama kamu”
“Lah emang benar aku belum mandi, bau tau!”
“Biarin, saya juga belum.”
Laras ketawa.
“Waktu itu kamu kenapa nangis?”
“Kapan?”
“Pas hujan dan saya kasih kamu payung”
“Aku enggak nangis” elak Laras bohong. Dano melepas pelukannya dengan tatapan tidak percaya.
“Masa?”
“Iya.”
Dano mengangguk, pura-pura percaya.
“Kamu kangen saya kan?”
“Enggak”
“Oh oke. Kamu nggak nangis, nggak kangen, tapi kamu kesini pas dengar saya sakit” tembak Dano langsung. Laras jadi salah tingkah.
“Aku….”
“Apa?”
__ADS_1
Laras diam, malu rasanya harus mengakui perasaan khawatirnya pada Dano.
“Yaudah, nggak usah dilanjutin. Tanpa kamu jawab saya juga udah tau, kamu itu sebenarnya peduli sama saya, cuman gengsi”
“Siapa-”
“Ssst…” Dano spontan menutup mulut Laras agar tidak protes, cewek itu mendengus dengan tatapan kesal.
“Aku mau nanya, tapi kamu harus jawab jujur” kata Laras menurunkan tangan Dano. “Kamu jadian sama Rita?”
Kening Dano mengernyit bingung. “Kenapa kamu mikir gitu?”
“Rita suka kamu” jawab Laras lalu menjelaskan panjang lebar apa yang ia dengar dan duga. Dano ketawa terbahak-bahak, tangannya mengacak rambut Laras gemas.
“Ra, Rita emang nembak saya malam itu, tapi saya nggak terima”
“Kenapa?”
Dano nyengir, wajahnya maju mengecup bibir Laras lembut. “Kita emang berantem hebat Ra, tapi kita nggak pernah putus. Saya masih pacar kamu, kalo saya terima Rita sama aja saya selingkuh dari kamu.”
Laras tertegun. Benar. Tidak ada satupun kata putus keluar dari mulut keduanya. Perasaan Laras mendadak membaik, kegelisahan dan kegalauannya selama ini tidak berarti. Secantik apapun Rita, tetap saja Dano masih menjadi milik Laras.
“Apakah Nyonya Laras sudah puas dengan jawaban saya?”
“Belum. Terus kenapa waktu di kantin kalian mesra banget?” Laras menyilangkan tangan di dada.
“Saya sih nggak merasa itu mesra ya, soalnya Rita duduk dekat saya karena mau nanya cara main drum.”
Alasan! Dasar cewek gatel!
“Tapi kalo itu buat kamu ngerasa kesal, saya mau sujud syukur”
“Loh kok gitu?”
“Kalo kesel tandanya kamu cemburu. Kalo kamu cemburu artinya kamu masih suka sama saya.”
Laras tidak mengelak dan Dano menang telak. Cowok itu tertawa bahagia kembali memeluk Laras erat.
“Maafin saya Ra. Jangan marah lagi, saya bisa gila karena kamu ngehindarin saya terus”
“Aku juga minta maaf” balas Laras. Keduanya sama-sama tersenyum manis.
Laras pernah diselingkuhi, menangis, dibohongi, kecewa, patah hati, dan terluka. Namun semua perasaan itu menguap keluar. Hari abu-abu yang menghantui Laras sudah tidak nampak lagi, mungkin di masa depan masih akan ada hari-hari seperti itu, tapi Laras tidak peduli, toh ia punya seseorang disini yang tahu betapa berharga kehadiran Laras untuk dirinya
Dano.
Seorang asing di pertemuan pertama mereka, kini berada di pelukan Laras. Cowok yang mengobati sakit hati Laras, membuat luka baru, dan berusaha untuk menutup luka itu lagi. Laras tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tapi Laras memutuskan untuk mengambil resiko.
Resiko jatuh cinta pada seseorang yang sedang berusaha menutup luka di hati Laras.
“Mendung ya?” kata Laras berpaling ke arah luar jendela kamar Dano. Dan benar, tidak lama kemudian awan mulai menggelap tanda akan turun hujan lebat.
...*****...
“Ra lihat.”
Laras mendongak menatap jilid kertas penuh coretan yang disodorkan Dano.
“Saya resmi masuk bab dua”
“Sombong kamu” dengus Laras sibuk mengetik isi bab satu, gara-gara dosen pembimbingnya pensiun tanpa pemberitahuan Laras diharuskan mengganti dosen pembimbing. Drama seminggu stress berinteraksi dengan dosen pembimbing baru membuat Laras terpaksa ganti judul dan memulai semua dari nol lagi.
“Harus dong. Jangan sirik gitu mukanya, iri tanda tak mampu” ejek Dano cuek tiduran di dekat Laras.
“Sampai aku sidang duluan, aku ludahin muka kamu”
“Coba aja. Tapi sampai saya yang sidang duluan. Kita nikah”
“Enak aja! Aku mau jadi wanita karir, rencana nikahnya masih lama”
“Kamu berkarir aja di hati saya Ra, muat nampung kamu sampai melampaui masa pensiun”
“Dasar gombal” tawa Laras.
“Istirahat bentar Ra. Kasihan cowok ganteng gini kamu anggurin. Nanti saya direbut cewek lain.”
Laras menaruh laptopnya ke samping dan menunduk mencium bibir Dano.
“Iya, iya. Cowok aku ganteng banget sih, sayang kalo nggak diapa-apain”
“Kamu mau ngapa-ngapain saya Ra? Dasar mesum!” canda Dano pura-pura melindungi tubuhnya dari Laras.
Laras tertawa ngakak kembali menunduk dan mencium lembut bibir Dano.
“Aku sayang sama kamu” bisik Laras pelan.
“Saya juga sayang sama kamu, sayangnya sampai tumpah-tumpah” balas Dano.
__ADS_1
Laras tersenyum manis, ia merasa bahagia.
...Tamat ...