Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 1. KISAH UNTUK HERU; Awal Mula


__ADS_3

“Kalo masuk rumah sendalnya diperhatikan ya lantainya nggak boleh kotor” kata Raya, wanita yang dipanggil mbok oleh penghuni bangunan besar milik keluarga Levronka sekaligus pemimpin asisten rumah tangga dengan rambut berkonde dan kaca mata tipis menatap Ayu lekat-lekat.


Usia Ayu baru berada dipenghujung belasan tahun dan mulai hari ini Ayu akan bekerja sebagai asisten di rumah keluarga Levronka. Ayu Septriasa yang lugu hanya tahu keluarga Levronka adalah keluarga kaya raya tempat dimana Ningsih, sepupunya di kampung bekerja.


Keluarga Ayu butuh uang untuk biaya sekolah Adit adiknya. Ayu sendiri merasa tidak begitu pintar menyerah untuk lanjut sekolah dan memutuskan Aditlah yang harus minimal memiliki ijazah SMA. Untuk urusan biaya akan menjadi tanggung jawab Ayu dan Asih ibunya yang bertahun-tahun sudah berperan sebagai orang tua tunggal.


Berkat bantuan Ningsih, Ayu akhirnya bisa mendapat kesempatan untuk bekerja di tempat itu, meskipun awalnya Raya sempat ragu saat melihat Ayu. Postur tubuh Ayu cenderung mungil dan kurus membuat Raya khawatir anak itu tidak bisa melakukan pekerjaan berat. Tangan kurusnya mungkin tidak akan mampu menyapu halaman luas dalam waktu kurang dari sejam atau mencuci sprei yang berat saat terkena air.


Tapi sekali lagi usaha Ningsih patut untuk diancungi jempol, promosinya seolah Ayu adalah kaos kaki terakhir di toko membuat Ayu akhirnya diberi kepercayaan untuk mengurus kebersihan kamar putra tunggal keluarga Levronka.


“Namanya Haven Levronka Yu, tapi sekarang dipanggil Heru” beritahu Ningsih ketika Ayu kembali ke kamar. Seharian ini Ayu menghabiskan waktu mengelilingi setiap sudut rumah sembari mendengarkan penjelasan panjang tentang aturan rumah yang harus ia patuhi selama tinggal di situ.


“Haven? Heru? Jauh banget mbak”


Ningsih mengangguk serius. “Katanya waktu kecil sering sakit, jadi dinamain Heru sama akungnya, tapi di akta masih tetap Haven”


“Kalo orang tua Mas Heru dimana mbak? Tadi waktu keliling rumah aku lihat sunyi banget kayak nggak ada orang”


“Pak Henry Levronka tinggal si Singapura sama istri kedua Ibu Eva. Istri pertamanya Ibu Ratna udah meninggal beberapa tahun lalu”


“Mas Heru kenapa enggak pindah kesana?”


“Enggak tau Yu, mungkin nanti pas lulus kuliah”


“Mas Heru enggak kangen bapaknya ya?” tanya Ayu penasaran. Ia heran karena rumah sebesar ini hanya ditinggalin oleh satu orang pemilik, padahal luasnya rumah keluarga Levronka sangat cukup untuk menampung keluarga Ayu, keluarga Ningsih, dan tiga tambahan keluarga tetangga.


“Yu, Mas Heru kalo kangen Pak Henry detik ini juga bisa beli tiket pesawat kesana, beda sama kita yang harus nabung berbulan-bulan buat nyari tiket bus paling murah”


“Wow hebat ya, Mas Heru berarti sering pulang balik Singapura”

__ADS_1


“Enggak Yu, selama aku kerja disini, Mas Heru cuman sekali kesana. Aku pernah dengar dari Mbok Raya, hubungan Heru sama Pak Henry nggak begitu bagus”


“Kenapa?”


“Entah, masalah warisan kali Yu kayak di Ftv. Tapi, udahlah Yu, bukan urusan kita, selama kerjaan kamu beres semuanya aman.”


Ayu mengangguk paham tidak bertanya lagi, ia memilih mengeluarkan pakaiannya dari tas lusuh dan menaruh rapi di dalam lemari yang telah dibagi Ningsih.


“Ngomong-ngomong nasehatku, sebisa mungkin kamu meminimalisir ketemu sama Mas Heru” beritahu Ningsih sembari bangkit dari kasur mengambil handuk bersiap untuk mandi.


“Orangnya jahat mbak?”


“Enggak jahat sih, tapi galak” gidik Ningsih ngeri masuk ke kamar mandi


Setelah selesai merapikan pakaian Ayu berbaring di kasur. Empuk dan nyaman, tidak seperti miliknya di rumah yang terbuat dari bambu dan dialasi tikar usang. Pikiran Ayu mengawang-awang mengingat lagi kejadian kemarin saat ia setengah mati menahan tangis ketika memeluk Asih sebelum masuk bus. Ayu itu akan bekerja di kota, ia merasa harus menunjukan ke Asih bahwa dirinya adalah anak paling kuat dan tidak cengeng. Tekad Ayu sudah bulat, sampai Adit selesai sekolah Ayu hanya akan fokus bekerja mencari uang sebanyak mungkin.


“Kamu pasti bisa Yu. Ayo kerja keras, setelah punya banyak uang kamu bebas mau ngapain aja. Semangat!”


...----------------...


Peraturan pertama di rumah keluarga Levronka adalah: saat makan tidak boleh ada satupun asisten rumah tangga di ruang makan, kecuali mereka dipanggil Heru. Ayu tidak mengerti kenapa seperti itu, tapi menurut  Ningsih peraturan itu sudah ada sejak Ratna masih hidup.


“Katanya punya darah biru Ra, makanya peraturannya agak ketat” jelas Ningsih saat mencuci piring. ”Bu Ratna enggak suka obrolan keluarga didengar orang luar, makanya kita enggak boleh hilir mudik mondar-mandir pas jam makan”


“Obrolannya pasti penting ya mbak?” tanya Ayu lugu.


“Kayaknya deh Yu, obrolan orang kaya. Kalo kita pas makan cemberut karena lauknya pas-pasan, kalo orang kaya pas makan mikir duitnya mau dihambur-hamburin kemana lagi. Makanya aku mau nikah sama orang kaya Yu, biar pusingku cuman satu; dimana lagi tempat aku harus membuang rupiah merahku ini hahaha” kata Ningsih tergelak dalam perkataannya sendiri.


“Tapi aku kasihan Mas Heru harus makan sendiri”

__ADS_1


“Lebih kasihan kita Yu yang makan ramean tapi nggak kenyang” kekeh Ningsih lagi, Ayu nyengir lebar “Tapi nggak selalu sendiri Yu, temen-temen Mas Heru banyak yang datang, kadang suka bikin acara. Lihat aja entar kamu bakalan capek ngebersihin rumah. Aku paling geli harus bersihin toilet di lantai satu, sisa muntahan orang. Biar miskin gini aku kalo muntah dikresek Yu, terus kubuang ke tempat sampah” gidik Ningsih geli.


“Acara? Acara apa mbak?”


“Nggak tahu, tapi pada rokokan, mabuk-mabukan, kadang suka ngundang Dj atau apalah itu namanya, pokoknya nggak bagus Yu buat dilihat. Aku aja merinding lihat kelakuan teman-temannya Mas Heru, anak ibu kota tapi kelakuannya kayak nggak punya adab”


“DJ itu kaya dangdutan di kampung ya?” Ayu pernah mendengar Rizki teman Adit bercita-cita menjadi DJ, katanya kerjaannya hanya memutar musik tapi uangnya banyak.


“Ya mirip lah Yu, cuman musiknya nggak enak, enggak bisa dipake joget rileks kayak gini” jawab Ningsih langsung berjoget santai.


“Tapi kamu tau nggak Yu yang paling gila? Aku pernah lihat Mas Heru ciuman sama pacarnya terus sampai masuk kamar. Duh merinding bandanku sampai sekarang” bisik Ningsih pelan sekali.


“Emang Mas Heru enggak ditegur?”


“Siapa yang berani negur? Boro-boro negur. Di rumah ini hanya Mbok Raya yang nggak pernah kena marah Mas Heru, sisanya kena sikat!”


“Mbak pernah kena marah juga?”


“Sering, pas dulu ngurus kamar Mas Heru, makanya aku kasihan sama kamu. Kerja pertama kali udah ngurus kerajaan setan, kayak lagi di ospek iblis kamu Yu.”


Ayu mengangguk paham, setelahnya selama seminggu bekerja disitu, Ayu mendengar banyak cerita tentang Haven Levronka atau Heru, si putra tunggal keluarga Levronka. Heru jarang mengobrol dengan orang rumah, jarang di rumah tapi sekalinya di rumah suka membuat acara aneh-aneh nan merepotkan, dan yang paling penting Heru itu galak! Saat kesal Heru tidak segan untuk membentak atau mendamprat habis-habisan siapapun di rumah kecuali Raya.


“Mas Heru jarang nuntut si Yu, jadi mungkin kesel kalo apa yang diminta nggak sesuai sama yang dia mau” kata Ningsih sementara disaat bersamaan Ayu justru berpikir Heru memiliki masalah dalam mengontrol emosi.


“Aku dulu pernah dibentak Yu karena nggak sengaja ngerapiin mejanya, katanya aku terlalu kerajinan sampai ngebuang coretan tugas kuliah Mas Heru. Syukurnya sih habis itu udah nggak diungkit lagi”


“Aku jadi ngeri mbak, kalo sampai aku ngelakuin kesalahan gimana ya?”


“Ya paling kamu dicekek Yu” ujar Ningsih malah tertawa lebar.

__ADS_1


__ADS_2