Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 20. Badai


__ADS_3

Untuk pertama kali setelah beberapa bulan bekerja di rumah keluarga Levronka Ayu akhirnya bertemu Evangelin. Wanita itu cantik sekali, ia terlihat masih muda, bahkan mungkin hanya lebih tua tiga tahun dari Dini. Saat pertama kali menginjakan kaki di rumah Ayu tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Eva. Setiap hari wanita itu selalu tampil cantik, Eva suka mengenakan dress bahkan meskipun hanya seharian berada di rumah, ia juga suka mengenakan barang-barang mahal sebagai penghias tubuhnya. Beda hari, beda pula cincin atau anting yang Eva gunakan.


Tapi meskipun begitu Eva ternyata baik sekali, Bahasa Indonesia juga sudah lancar. Eva terlihat senang mengobrol dengan semua orang di rumah. Bahkan wanita itu sama antusiasnya seperti Ningsih dan Raya ketika melihat Ayu mengikuti kelas online. Eva suka bercerita dan bertanya pada Ayu, membuat Ayu tanpa sadar semakin keras belajar Bahasa Inggris agar bisa mengerti Eva yang suka berbicara bahasa campur-campur.


Ayu merasa dirinya semakin cocok dengan Eva saat mengetahui wanita itu suka sekali membuat kue, ia bahkan memiliki satu kafe kue di Jakarta dijalankan oleh staffnya. Sekarang setiap minggu ada kegiatan khusus membuat kue yang dilakukan Eva bersama orang rumah. Ayu paling girang, dirinya tidak bisa menyembunyikan senyum setiap kali mereka akan membuat kue.


“Pilihan warnanya cantik” puji Eva melihat kue Ayu berwarna ungu muda. “Kamu kerja di toko kue saya aja gimana? Kebetulan kami butuh orang karena satu staff udah mau resign.” Mata Ayu langsung berbinar, ia berpaling pada Ningsih dan dijawab anggukan semangat oleh cewek itu. “Kamu tenang aja, kamu bisa tetap tinggal disini, nanti saya omongin sama suami saya”


“Makasih ibu tawarannya, saya pikir-” kata Ayu


“Ayu mau kok bu, Ayu pinter banget buat kue. Saya aja suka, kemarin Ayu ikut bantuin Mbak Laras jualan di kampus, rasa kuenya enak banget” potong Ningsih, kakinya menyepak Ayu pelan agar tetap diam. Mata Ayu menatap Ningsih, cewek itu berbicara panjang lebar tentang bakat Ayu seakan Ningsih adalah seorang ibu yang sedang memamerkan kehebatan anaknya pada tetangga.


Suara langkah kaki terdengar membuat ketiganya berpaling, tampak Heru turun tangga membawa tasnya, cowok itu tidak tersenyum ataupun mengatakan apapun pada mereka. Heru melangkah santai seakan ia sedang melewati ruangan kosong tanpa satupun orang berada disitu.


“Haven..” panggil Eva tapi tidak diacuhkan cowok itu. Eva melepas sarung tangannya dan setengah berlari mengejar Heru.


Kedua orang itu berdiri agak jauh membicarakan sesuatu. Ayu tidak bisa mendengar jelas pembicaraan mereka, tapi ia bisa melihat Heru acuh tak acuh menanggapi Eva. Heru tidak tersenyum dan keningnya berkerut, wajahnya menatap kaku Eva, Ayu menelan ludah, ekspresi itu selalu Heru tunjukan saat ia akan meledak karena marah. Saat itu Heru menunduk, ia berbisik pada Eva membuat tubuh wanita itu menegang. Senyum Heru muncul, tapi bukan senyum ramah, melainkan senyum yang membuat Ayu ikut merasa tidak nyaman melihat wajah cowok itu. Heru menepuk pundak Eva lalu tanpa mengatakan apapun lagi ia melangkah pergi. Cukup lama Eva terdiam disitu, tangannya bergerak menyentuh wajahnya.


“Kalian lanjutin aja ya, saya mau istirahat sebentar.” Suara Eva terdengar serak, ia melangkah pergi meninggalkan Ayu dan Ningsih saling bertatapan. Tanpa perlu diberitahu Ayu tahu, Heru baru saja membuat wanita itu menangis.


...----------------...


Heru melempar stik PS ke atas sofa ketika dirinya kalah, ia menarik napas lalu bangkit berdiri menuju kulkas. “Kulkas segede ini cuman ada air es doang?”


“Pembantu gue lagi pulang kampung, gue belum sempat belanja. Lu campur aja pake gula, biar ada manis-manis dikit” jawab Brandon kalem.


“Lu nggak pulang?”


“Lu ngusir?” ujar Heru balik bertanya. Brandon nyengir.


“Kagak, nanya doang, lu udah seminggu nggak balik-balik apa nggak dicariin? Sebenarnya mau lu setahun disini juga gue nggak peduli”


“Gue pusing.” Heru mengambil sebotol air mineral dab duduk di sofa, selama seminggu ini tampangnya lesu, letih, lemah seperti sedang menghadapi masalah kenegaraan. Ketika ditanya kenapa jawabannya hanya haheho dan kembali merengut. Heru menscroll ponsel tidak besemangat. “Skripsi lu kapan mau lanjut?”


Brandon angkat bahu. “Lagi nggak mood.”


Ting. Sebuah notifikasi pesan masuk untuk Heru dari Ayu.


Ayu : Mas, nggak pulang?


Bibir Heru tersenyum kecil langsung membalas pesan itu.


Heru : kenapa?

__ADS_1


Ayu : Ini paketannya udah nyampe, saya taruh di kamar.


Heru : Makasih.


Ayu : Jangan lupa pulang mas.


“Ada cewek...” gumam Heru menatap pesan terakhir dari Ayu, Brandon melirik sekilas.


“Cantik?”


“Nggak tau. Tapi dia baik, terlalu baik sampai pengen gue lindungin. Aneh ya?”


Brandon menghentikan permainannya dan berpaling. “Ini serius?”


“Ya, masa gue bercanda”


“Terus?”


“Gue bingung gimana caranya gue ngungkapin perasaan gue ke dia. Gue takut ditolak”


Kening Brandon berkerut, ia mengenal Heru cukup lama dan cowok itu tidak termasuk ke dalam urutan orang yang khawatir pada masalah percintaan. Dengan tampang dan status sosial yang Heru miliki membuatnya selalu percaya diri apapun yang ia inginkan tidak akan pernah gagal. Bagi Heru urusan memilih cewek itu sama seperti memilih sabun di minimarket, hanya mengambil sesuka hati. Khawatir ditolak jelas bukan gaya Heru. Tapi sekarang Heru justru menampilkan sisi lain, ia terlihat ragu membuat Brandon mendadak penasaran siapa cewek yang berhasil menyerap kepercayaan diri cowok itu.


“Emang nggak ada tanda-tanda atau sinyal dari gebetan lu?”


Brandon tersenyum lanjut bermain PS. “Gue jadi penasaran, siapa cewek ini”


“Seseorang yang gue juga nggak nyangka bisa narik perhatian gue” gumam Heru melamun.


...----------------...


Dano berbaring di sebelah Laras sementara cewek itu asik mengetik skripsi di atas meja kecil. Sesekali tangan Dano iseng membuat lingkaran-lingkaran kecil di atas perut Laras.


“Raaaa....” panggil Dano manja saat filmnya sudah berakhir. Alis Laras terangkat naik. “Kamu nggak bosen apa? Saya aja bosen ngelihat kamu ngetik mulu”


“Kan udah aku bilang, aku mau ngerjain skripsi. Kamu yang maksa aku kesini kan? Aku nurut, tapi aku mau lanjut ngerjain skripsi”


“Ya, saya jangan dianggurin dong Ra. Digoda kek, pasti saya tanggepin kok” rajuk Dano, kebiasaan yang sering ia lakukan saat bosan dan dicuekin Laras. Dano berdecak singkat turun dari kasur dan ke kamar mandi saat Laras tidak menanggapi rajukannya.


“Bentar ya, tinggal dikit lagi. Aku tuh mau ngejar ketertinggalan aku, biar bisa cepat-cepat olah data” kata Laras. Dano tersenyum simpul, ia kembali berbaring. Mata Dano terpejam pura-pura tertidur, tapi tangannya bergerak menyusup masuk ke dalam perut Laras dan mengelus pelan mencoba menarik perhatian cewek itu. “Heh...” tegur Laras.


“Lanjut aja ngerjain skripsinya, nggak akan saya ganggu, sumpah”


“Nggak akan saya ganggu tapi tangan kamu kemana-mana.”

__ADS_1


Dano terkekeh lalu memeluk Laras erat. “Kamu sih cuekin saya”


“Kamu kalo lagi males ngerjain skripsi jangan gangguin orang lain”


“Bukan males Ra, tapi saya belum ada ide” elak Dano beralasan.


“Setelah bab ini selesai aku mau pergi”


“Sama dua kembaran kamu itu?”


“Iya. Sekarang Ayu kerja di kafe, toko kue sih tapi bisa makan juga disitu. Terus Ayu minta dijenguk, katanya mau pamer bakat. Ada-ada aja ya?”


“Di mana tempatnya?”


“Dekat Senopati, nama tokonya Rosaria Cake.”


“Kayak pernah dengar”


“Punya tante Eva, maminya Heru” jelas Laras. Dano mendongak lalu beroria. “Tapi kamu nggak boleh ikut, ini acara cuman buat empat orang.” Bibir Dano langsung mengerucut, Laras tertawa menyingkirkan meja kerjanya. Kepala Dano langsung bersandar di perut Laras. “Kamu bosen ya?”


“Iya. Saya mau ikut tapi nggak kamu bolehin”


“Kamu boleh ikut, tapi pake dress.” Laras mengacak-acak pelan rambut Dano, rambut cowok itu sudah lebih panjang membuat Laras gemas ingin mengikat dengan pita-pita kecil lucu.


“Ra, liburan yuk”


“Kemana?”


“Paris”


“Mau ngapain?”


“Ngejenguk Emily.”


Laras ketawa geli, ia menunduk mencium kening Dano. “Udah ah, aku mau siap-siap.”


Laras menyingkirkan kepala Dano dari perutnya, ia bangkit berdiri namun Dano malah menariknya sampai Laras memekik pelan. Dano menunduk mencium bibir Laras, matanya terpejam sembari tangannya mengelus rambut Laras lalu berpindah pada kedua lengan Laras dan dalam sekali hentakan mengubah posisi mereka dengan Laras di atasnya.


“Ganteng banget, anak siapa sih?” kekeh Laras mengoda. Dano nyengir, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan kedua paha Laras.


“Saya beneran nggak bisa ikut?”


“Enggak” geleng Laras tegas, sedetik kemudian senyumnya merekah. “Tapi aku mau datang telat.” Dan Dano tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika Laras menunduk mencium bibirnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2