Ms. Norak

Ms. Norak
Galau


__ADS_3

Sakit hati itu tidak enak. Bagi Laras, dibanding sakit hati ia lebih memilih sakit gigi. Kalo sakit gigi masih bisa cuek ditinggal tidur, kalo sakit hati? Boro-boro tidur, bernapas saja terasa hambar.


Sejak penolakan Dano, Laras jadi sering uring-uringan. Galau. Mukanya terlihat suntuk, Laras jadi malas mandi, malas mendengarkan dosen, malas makan, pokoknya moodnya mendadak jadi jelek dan malas mau ngapa-ngapain. Yang khawatir tentu saja adalah dua sahabatnya saat melihat Laras seperti fisik tanpa raga sedang menatap kosong ke arah dosen di depan kelas.


“Ra, jangan ngelamun, ntar di kawin jin iprit loh!” tegur Manda ketika melihat Laras bengong menatap lontong sayur dihadapannya.


“Masih galau Ra? Udah dua minggu nih” kata Amel.


“Dua minggu move on mah berlaku untuk lu doang” dengus Manda, Amel angkat bahu.


“Perasaan baru kemarin hidup aku kacau karena disuruh nikah, eh sekarang hati aku kosong” ujar Laras buka suara mengaduk-aduk es tehnya tidak bersemangat.


“Udah Ra, lupain aja Dano, masih banyak cowok diluar sana yang mau sama elu” hibur Amel.


“Siapa?”


“Hm….siapa aja deh, yang penting lupain aja Dano” jawab Amel bingung.


Laras menggeleng menghela napas, ternyata efek patah hati itu sedahsyat ini. Kalo tau perasaannya akan naik turun Laras mending tidak jatuh cinta, kapok rasanya!


“Biar lu bisa ngelupain Dano, gimana kalo kita nyari cowok?”


“Caranya?”


“Ke club, mall, atau kemana gitu. Kan jodoh itu bisa bertemu di tempat yang nggak kita duga. Iya nggak Nda?” korek Amel meminta dukungan Manda.


“Betul Ra, coba lu main-main ke istana negara, sapa tau jodoh lu anak menteri.”


Laras nyengir.


“Malam ini party yuk?” ajak Amel.


Laras menggeleng. “Capek Mel”


“Ke mall?”


“Nggak mau, bosen. Apa juga yang bisa dilihat?”


“Channel, Louis Vuitton?”


“Dih mahal. Lagian apa enaknya ngeliat tapi nggak bisa beli?”


“Ya sekedar cuci mata Ra”


“Nggak mau, bukannya seger malah iri ngeliat orang lain nenteng Louis Vuitton”


“Kalo gitu cuci mata lihat cowok-cowok cakep”


“Emang ada?”


“Banyak Ra, mata lu aja udah ketutup Dano”


“Iya Mel banyak. Cakep melambai, cakep tapi ototnya meluber kemana-mana, cakep macho tapi gandengannya sama yang cakep macho juga. Sekalinya dapat yang pas, udah ada cewek seksi disampingnya. Terus sisanya om-om genit. Niat cuci mata malah berakhir kita yang dijadikan alat cuci mata sama om-om, kadang ditawar lagi pake diskon dua puluh persen” balas Laras menolak mentah-mentah semua usul Amel. Manda ketawa ngakak.


“Ya terus mau kemana?” Amel makin bingung.


Laras angkat bahu kemudian mengambil tasnya. “Aku duluan Mel, mau ke toko buku. Mau ikut?”


“Nggak Ra, mending gue pikirin nego harga sama om-om.”


Laras nyengir lalu melangkah pergi, makanannya yang belum habis ia tinggalkan begitu saja.


...*****...


Satu-satunya tempat yang bisa mengalihkan Laras dari galaunya adalah aroma kertas di rak toko buku. Sudah sejam lebih Laras berkeliling membaca berbagai sinopsi novel. Dua novel sudah berada dalam genggamannya, sekarang yang ingin Laras cari adalah buku dari salah satu penulis favoritnya.


“Mas, permisi mau nanya, novel karya Eden Keningston yang judulnya Ms. Ghost di rak sebelah mana ya?” tanya Laras pada seorang staff.


“Sebentar ya mbak……Di rak ketiga ujung, sisa satu stok”


“Makasih Mas.”


Laras melangkah ringan, rencananya setelah ini adalah duduk di kafe dekat toko buku sembari membaca novel, lalu setelah itu jika masih sempat Laras mau makan pecel lele di gang dekat ujung rumah. Langkah Laras berhenti, matanya menangkap sosok seorang cowok sedang memegang Ms. Ghost.


Laras terlambat, cowok itu lebih dulu mengambil.


“Mas, novelnya mau diambil?” tanya Laras mendekat, ia tidak ingin menyerah sampai novel itu berada ditangannya, kecuali toko buku menjamin novel akan distock hari esok mungkin Laras mau melepaskan Ms. Ghost, masalahnya Laras sudah tiga minggu irit jajan demi membeli novel-novel di tangannya itu.


“Buat dibaca?” tanya Laras bego.


Cowok itu tertawa. “Enggak Ra, buat pukul anjing.”


Cowok itu melepaskan masker dan ternyata ia adalah Rakai. Laras melongo sejenak.


“Loh Rakai? Ngapain kamu disini?”


“Habis fogging” canda Rakai. Laras nyengir lalu menatap Rakai lekat-lekat. Diam-diam Laras takjub melihat tumpukan buku di tangan Rakai. Dari novel terbitan website sampai novel sastra milik Hermann Hesse ada dalam pelukannya.


“Kenapa bengong Ra? Heran ngeliat preman di toko buku?”


Laras menggeleng. “Aku takjub aja sama buku-buku di tangan kamu. Itu buat kamu baca sendiri atau?”


“Iya. Buat gue baca sendiri. Gue jarang ke toko buku, makanya sekali datang beli banyak. Gue suka baca, tapi baca buku kayak gini. Kalo buku sekolah, nggak suka” jelas Rakai panjang lebar.


“Lucu banget…” gumam Laras tanpa sadar. Dibalik tampang sangar Rakai ternyata cowok itu hobi baca kisah roman picisan.


“Lu mau buku ini?” tanya Rakai, Laras mengangguk semangat.


“Buku ini boleh buat lu, tapi sebagai ganti lu harus traktir gue makan. Harga atas jasa karena buku ini jatuh ke tangan gue, gimana coba kalo sampe tadi orang lain yang ambil?”


“Iya iya. Kamu mau makan bulan sabit juga nggak papa, aku bayarin” angguk Laras setuju mengambil buku di tangan Rakai sebelum cowok itu berubah pikiran.


Setelah itu Laras pergi bersama Rakai. Cowok itu ternyata sangat menyenangkan, sepanjang hari Laras terus menerus dibuat tertawa oleh lelucon ataupun tingkah lucu Rakai. Sepertinya hampir semua anak srikandi memiliki bakat untuk menjadi pelawak, apa jangan-jangan syarat membentuk band di srikandi itu harus bisa melawak?


“Sini Ra, saya fotoin, kapan lagi kamu bisa foto di jembatan penyebrangan pas lagi sepi-sepi gini?” ujar Rakai mengambil beberapa potret Laras.

__ADS_1


”Satu, dua tiga. Sekali lagi, gaya bebas. Satu, dua, tiga. Nah sekarang coba pose gaya putus asa.”


Laras ketawa ngakak.


“Ra, kamu suka baca komik?”


“Iya. Aku penggemar berat Paman Gober”


“Kapan-kapan yuk nyari komik, tapi bukan disini”


“Terus dimana?”


“Hmm….gue mau nunjukin tempat bagus yang sering gue kunjungi. Semacam toko buku bekas, tapi buku-bukunya udah nggak beredar lagi di toko buku resmi”


“Mau dong. Kabarin aja, aku mau ke sana. Ada komik Paman Gober edisi lama?”


“Harusnya ada Ra. Disitu semua ada, tapi kadang hanya satu stock, karena memang bukunya rata-rata diambil dari orang yang pindah rumah terus ngeloakin buku. Bahkan mungkin kalo lu teliti, lu bisa nemu diary anggota VOC”


“Hahaha, ada-ada saja.”


Rakai tersenyum, melihat Laras ketawa lebar.


“Gue boleh minta nomor lu kan?”


“Boleh, bentar-”


“Di Dano” potong Rakai. Laras mendongak, keningnya berkerut sedikit lalu mengangguk bingung. Padahal lebih mudah meminta langsung pada Laras.


“Yaudah Ra, yuk makan. Lu mau makan apa?”


“Pecel lele”


“Pake kol goreng?”


Senyun Laras melebar, lalu mengangguk semangat. “Deal!”


...*****...


Amel menepuk punggung Laras kencang, ia datang bersama Dano dan Heru. Laras hanya mendongak sebentar lalu kembali fokus pada bukunya. Ia sudah berada di pertengahan bab yang cukup seru, sampai kehadiran Dano tidak begitu mengganggu dirinya. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu sejak pengakuan Laras terakhir kali.


“Seru amat Ra, baca buku kayak lagi lihat majalah porno” tegur Heru.


“Heeh” jawab Laras acuh tak acuh.


“Baca apa sih Ra?” Amel memeriksa sampul novel Laras.


“Jangan diganggu Mel, Laras lagi mempelajari teknik budidaya sapi” ujar Heru. Laras mendengus tapi tetap lanjut membaca.


“Acara ulang tahun srikandi gimana? Gue denger ketua acaranya ganti?” tanya Manda pada Heru.


“Kok tau?”


“Diomongin di sekre Hima”


“Ckck, fakultas tukang gosip”


“Emang ketua sebelumnya siapa?” tanya Amel.


“Rudi. Sekarang Echa. Emang srikandi kalo buat acara penting terus yang ketuanya cowok, pasti ada aja hambatannya. Udah tradisi”


“Rudi keluar kenapa?”


“Rehab”


“Narkoba?”


“Yoi” geleng Heru kalem. Amel berdecak sementara Manda bengong.


“Emang ya srikandi, parah! Bisa gue hitung pake jari siapa aja yang bermasalah”


“Kebalik Mel. Bisa lu itung pake jari siapa aja yang tidak bermasalah. Banyak kok anak srikandi yang emang beneran niat mau ngeband, bukan cuman gaya-gayaan biar dibilang keren. Cuman ya itu, yang negatif pasti lebih dilihat dibanding positif”


“Sebutkan hal positif yang kalian punya di luar manggung dan menang trophy!”


“Gue duduk disini, berbicara dengan lu dengan pemikiran positif” balas Heru. Amel mencibir lalu meneguk es teh, ia kemudian berpaling pada Laras.


“Kenapa Ra narik napas gitu? Endingnya jelek?” tanya Manda.


“Belum sampai ending. Tapi aku udah galau di pertengahan, aku takut sad ending. Kalo sad ending nggak mau aku lanjutin”


“Ya ampun Laras, masa sama buku aja galau? Masih banyak hal di dunia ini yang bisa lu galauin. Ckck dasar anak muda!” ujar Heru, Laras mendelik.


“Iya bapak-bapak!”


“Dih. Ra lucu deh kalo cemberut, kayak bekicot”


“Aku enggak cemberut, nuduh aja kamu”


“Ih Larassss gemes deh” goda Heru ketawa sambil mencubit gemas pipi Laras sampai kemerahan.


“Sakit tauk!”


“Udah Ra udah. Heru lagi sedih nilai kuis bahasa Indonesianya hancur, makanya jadi gini.” Dano buka suara, Heru ketawa-ketawa girang.


“Loh Laras, kok pipinya merah? Malu ya ada gue disini?” goda Heru.


Laras mendelik, ia berpaling, agak terkejut ketika tangan Dano menyentuh pipinya dan mengusap pelan. Sekitar dua detik ia diam, dan kemudian menarik wajahnya menjauh dari sentuhan Dano.


“Aku duluan ya” ujar Laras agak salah tingkah.


“Kemana Ra? Kelas masih dua puluh menit lagi.” Manda mendongak.


“Mau ketemu Rakai, mau ngasih pinjem novel”


“Rakai minjem novel? Rakai srikandi?” dahi Amel berkerut. Laras mengangguk lugu.

__ADS_1


“Beneran Rakai srikandi? Wow! Sejak kapan dia suka baca buku?”


“Kayaknya dari dulu Mel. Kemarin ketemu di toko buku”


“Rakai Fernandez ke toko buku? Double Wow!”


“Lebay Mel. Anak srikandi meskipun tampangnya urakan, tapi sebenarnya calon cendikiawan terbaik negara” ujar Heru.


“Tentu aja gue harus lebay! Seorang Rakai suka baca buku itu amazing, gila, dunia mau terbalik! Malah selama ini gue mikir dia anggota pemuja setan.”


Laras nyengir mengambil tasnya. “Aku duluan ya, sampai ketemu di kelas” kata Laras melambaikan tangan berlari pergi.


Dano menatap Laras dalam diam, seratus persen ia yakin Laras baru saja mencoba menghindarinya..


...*****...


“Jalan yuk, mumpung masih jam setengah enam” ajak Amel melirik jam tangan, mata kuliah terakhir di hari sabtu sudah selesai.


“Nggak bisa, gue ada janjian sama orang lain” ujar Manda.


“Siapa?”


“Temen?”


“Cowok?”


“Iya.”


Amel pasang tampang curiga. “Brandon?”


Manda diam langsung dibalas tawa geli Amel.


“Aku mau, tapi malu uuuu uuuu” nyanyi Amel melengking. Manda mendelik sewot tapi tidak menanggapi.


“Lu ada janji juga Ra?”


“Iya, mau pergi sama Rakai.”


Amel tepuk tangan. “Gila! Habis Dano langsung Rakai, lu polos gini tapi sat set sat set juga”


“Apa sih Mel, kita mau cari buku kok”


“Iya Ra iya. Menyesal tuh Dano, mantannya sekarang lebih sering study tour dari toko buku ke toko buku” kekeh Amel. Setelah kelas benar-benar kosong ketiganya kemudian melangkah keluar, Manda berlari lebih dulu, kelihatan sih tidak ingin pertemuannya dengan Brandon diikuti Amel yang pasti akan meledeknya habis-habisan.


“Lucu banget orang kalo lagi jatuh cinta” tawa Amel melihat Manda berlari terbirit-birit menjauh darinya.


    “Kamu juga dulu begitu”


“Lu juga” balas Amel. Laras angkat bahu.


“Laras!”


Keduanya berpaling, Dano berlari menghampiri mereka.


“Mel, Laras gue pinjem ya” ujar Dano tanpa basa-basi menarik Laras, Amel mengangguk sementara Laras bengong mengikuti langkah Dano.


“Mau kemana?” tanya Laras bingung.


“Makan, saya lapar” ujar Dano, mendorong pelan Laras masuk ke mobil, tanpa banyak bicara mobil Dano melaju pergi.


Laras mengeluarkan ponsel mengetik beberapa pesan untuk Rakai dan setelah itu sepanjang jalan ia hanya diam. Laras mencoba untuk tidak terlihat canggung tapi tetap saja ia tidak bisa memulai topik.


Rakai : entar gue jemput, share location aja lu dimana.


Balasan dari Rakai membuat Laras menarik napas lega, ia ingin terlepas dari kecanggungan ini. Mobil Dano berhenti di sebuah warung makan, mereka duduk di pojokan dekat kasir.


“Kamu mau makan apa?”


“Es teh aja, aku tadi baru habis makan” kata Laras. Dano mengangguk kemudian berdiri memesan, Lara menarik nafas, kenapa rasanya sulit sekali untuk berbicara dengan Dano? Beberapa waktu lalu mereka begitu dekat, sekarang semuanya terasa jauh.


“Kamu kemarin ngapain aja?” tanya Dano ketika kembali.


“Kerjain tugas kayak biasa, kamu?”


“Latihan. Mau ikut lomba tujuh belas agustus” jawab Dano, Laras mengangguk. Selanjutnya hanya obrolan biasa, keduanya lebih banyak diam. Bahkan Dano sendiri terang-terangan menatap Laras meskipun tidak mengatakan apapun. Ada banyak hal yang ingin Laras katakan, tapi ia bingung harus mulai dari mana. Mereka menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit tanpa berbicara apapun, Laras menyeruput pelan es tehnya, menunggu Dano selesai makan.


“Saya mau ngomong Ra” kata Dano setelah selesai, ia meneguk air minum. “Mengenai pengakuan kamu waktu itu….”


“Iya, aku tau, maaf”


“Kenapa minta maaf?”


“Karena kita jadi canggung.”


Dano diam, ia menarik nafas pelan. “Saya nggak merasa ada yang salah dengan perasaan kamu, saya senang kamu mau jujur, tapi jawaban saya masih sama seperti waktu itu. Dan sekarang saya ingin bilang saya nggak mau hubungan kita jadi canggung dan renggang. Saya nggak bisa ngelepas kamu gitu aja Ra.”


Kenapa? Kenapa kayak gitu? Kamu nggak mau nerima perasaan aku tapi kamu nggak mau ngelepas aku?


“Tenang aja No, aku sekarang udah baik-baik aja. Kita tetap temenan kayak dulu kan?”


Bohong.


Laras tidak baik-baik saja. Ia sedih dan bingung dengan sikap Dano, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk sekedar menyatakan pemikirannya dan membuat percakapan ini semakin panjang.


Dano diam, cukup lama menatap Laras sampai kemudian kepalanya mengangguk tanpa makna.


“Ayo Ra, saya anterin pulang”


“Nggak bisa, aku ada janji lain, udah mau dijemput”


“Sama siapa?”


“Rakai” jawab Laras. “Aku duluan ya, sampai ketemu di kampus.”


Laras melambaikan tangan dan berlari. Dano diam menatap Laras sampai punggung cewek itu menghilang di belokan dekat halte busway. Dano menarik napas panjang. 

__ADS_1


Aneh.


Seharusnya ia merasa biasa saja, namun fakta bahwa Laras menemui Rakai membuatnya naik darah. Dano yang membuat batas di antara dirinya dan Laras, namun ketika cewek itu menjauh Dano justru merasa marah.


__ADS_2