Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 16. Si Tukang Komen


__ADS_3

Henry kembali ke rumah. Setelah sekian lama menghabiskan waktu di Bandung dan Kalimantan untuk mengecek bisnisnya, lelaki itu sekarang duduk manis di ruang makan menikmati gulai ikan buatan Raya. Ada Heru disana, namun seperti biasa keheningan terjadi. Kedua orang itu terlihat seperti orang asing yang dipertemukan dalam satu meja. Henry melirik Heru, sedikit lega karena anak itu sudah kembali ke rumah. Henry sempat khawatir jika sekembalinya ke Jakarta dan Heru ternyata masih melalang buana entah dimana. Meskipun sering bertengkar tapi Heru itu adalah putra tunggal sekaligus pewaris semua bisnis Henry, jadi terkadang meskipun terlihat tidak peduli tapi diam-diam semua gerak-gerik Heru selalu ada dalam laporan bulanan Henry.


“Kamu baca tulis lancar?” tanya Henry tiba-tiba pada Ayu saat cewek itu membawa tambahan gulai ikan.


“I-iya pak, bisa” jawab Ayu kikuk.


Henry mengentuk-ngetuk meja dengan jemari dan kening berkerut. “Kamu pendidikan terakhirnya sampai mana?”


“SMP pak”


“Hmm...kamu ikut paket C aja, terus lanjut kuliah.”


Mata Ayu membulat terkejut mendengar perkataan Henry, ekspresi lelaki itu terlihat serius. “Tapi pak saya enggak punya-”


“Biaya?” Ayu mengangguk lugu. “Perusahaan saya di Bandung punya yayasan yang ngasih beasiswa untuk anak berprestasi”


“Saya bukan anak berprestasi pak, saya murni hanya lulusan SMP karena saya enggak pinter. Kalo saya sekolah lagi, saya hanya akan buang-buang duit bapak” jelas Ayu polos.


Henry tertawa kencang, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan membuat kening Ayu berkerut. Memangnya ada yang salah dari perkataan Ayu? “Kamu coba aja dulu. Inget, pendidikan itu penting, orang jaman sekarang suka mandang orang lain dari tingkat pendidikannya. Kalo kamu sekolah, kamu mungkin bisa lebih pinter. Kamu itu masih muda, emang kamu mau kejebak terus jadi pembantu disini?”


Ayu menelan ludah, kalimat Henry seakan menjadi serangan fakta. Ayu bungkam tidak berani membalas perkataan lelaki itu, ia takut salah bicara. Mata Ayu menatap Heru yang sejak tadi hanya diam, alis cowok itu terangkat naik lalu mengangguk pelan.


“Pikirin aja lagi Yu, bener kok kata papa” kata Heru buka suara.


“Iya pak, terima kasih tawaran, saya coba bicarakan dengan ibu saya dulu” balas Ayu sopan lalu pamit balik ke dapur.


...----------------...


Di luar hujan perlahan mulai meredah, Ayu duduk menatap rintik hujan sembari memotong-motong kacang panjang. Dua hari ini ia terus memikirkan perkataan Henry. Sekolah? Apa Ayu mampu Seingat Ayu ia dulu tidak begitu pintar, apalagi jika pelajarannya adalah matematika dan sejenisnya. Seberapa keras Ayu berusaha belajar siang malam tetap saja otaknya tidak ingin bekerjasama untuk memecahkan kumpulan angka dengan kombinasi alfabet. Disini Ayu jadi berpikir; terkadang meskipun kita sudah berusaha keras, tapi kepintaran itu seperti anugerah mahal untuk orang tertentu. Lihat saja Adit, anak itu memiliki kecerdasaan yang tidak Ayu mengerti. Bukan sekali Adit yang masih SD mengajari matematika SMP hanya dengan berbekal membaca catatan Ayu. Adit juga suka membaca, hobinya duduk berjam-jam dibawah pohon membaca semua buku yang ia pinjam dari perpustakaan keliling.

__ADS_1


[Dicoba dulu nak, ibu senang anak-anak ibu sekolah. Ibu dulu enggak lulus SD, tapi kalo ngeliat kalian ada kesempatan buat sekolah, ibu senang banget] kata Ibu Ayu saat mereka berbicara dihari kemarin.


Apa aku coba aja ya? batin Ayu menimang-nimang. Brak. Lamunan Ayu buyar, wajahnya berpaling mendapati Dini menaruh keranjang cabe di atas meja dengan tampang gusar. Cewek itu tidak tersenyum tanda baru saja terjadi sesuatu padanya.


“Ngapain kamu Yu?” tanya Dini.


“Ini mbak, nyiapain sayur buat makan malam” jawab Ayu. Dini mendengus lalu mulai mencuci piring. Ayu lanjut bekerja, ia memilih diam tidak menganggu Dini, sesekali Dini terdengar mendumel kesal.


“Yu, Yu, udah selesai kamu? Jajan bakso yuk." Ningsih muncul dengan senyum sumringah.


“Dikit lagi mbak, ini aku cuci bentar” jawab Ayu lalu mencuci potongan sayur kacang dan mentiriskan dengan keranjang kecil.


“Enak banget ya Yu, berasa lagi main ke rumah tante” sindir Dini tiba-tiba. Ayu berpaling agak terkejut.


“Maksudnya mbak?”


“Badminton itu diminta Mas Heru, ngebuat kue diminta Kak Laras, aku nggak bisa nolak mbak. Pekerjaanku juga berusaha aku selesaikan.”


Dini mencibir, terlihat jelas tidak mau mendengar pembelaan Ayu, ia tahu Ayu tidak berbohong tapi sekarang Dini seperti ingin meledak menumpahkan emosinya pada cewek itu.


“Alasan aja kamu! Kamu seneng kan punya alasan untuk nggak kerja? Gara-gara kamu kerjaan aku jadi banyak. Apa gunanya punya banyak orang di rumah, tapi kerjaan aku tetap banyak kayak dulu? Gunanya kamu apa? Mana gajiku tetap gitu-gitu aja”


Ayu menarik napas, agak sakit hati mendengar perkataan Dini. Seingat Ayu selama ini ia berusaha sebaik mungkin menyelesaikan pekerjaannya, kalaupun tidak sempat Ayu akan meminta tolong Ningsih dan kemudian esok hari pekerjaan Ningsih akan dibantu Ayu. Tapi sekarang malah Dini yang terlihat marah sekali padanya.


“Kamu itu mau godain Mas Heru kan? Aku merhatiin kelakuan kamu suka kencetilan kalo di depan Mas Heru. Eh, kamu tuh harusnya sadar, kamu cuman pembantu disini. Kamu-”


“Heh Dini!” bentak Ningsih keras membuat Dini tersentak. Ningsih maju mendekat, wajahnya terlihat memerah karena kesal. “Ngomong apa kamu barusan? Kamu bilang Ayu apa? Kencetilan? Ngaca! Sadar Din! Kamu tuh iri karena nggak bisa kayak Ayu. Kamu kira di rumah ini kamu yang paling oke? Apa-apa pamer, apa-apa komentar, mbok yo dipikir perkataan kamu itu nyakitin apa enggak! Dikira dunia ini punya kamu apa?!” semprot Ningsih jengkel.


“Kamu nggak usah ikut campur, suka-suka aku lah mau ngomong apa ke Ayu”

__ADS_1


“Ya kalo gitu suka-suka aku juga mau membalas omongan kamu. Kenapa? Kamu mau berantem sama aku?”


“Kurang ajar kamu!” bentak Dini tapi tidak berani menampar Ningsih, dibanding Ayu, Ningsih memang jauh lebih nekat dan susah dilawan. Selama ini Dini berani ke Ayu karena cewek itu hanya diam dan tidak pernah melawan.


“Kamu yang mulai! Sampai aku denger lagi kamu nuduh aneh-aneh ke Ayu, aku jahit mulut kamu!” ancam Ningsih, tangannya terkepal siap menonjok Dini apabila cewek itu membalas perkataannya.


“Mbak, udah, jangan bertengkar nanti didengar Mbok Raya. Aku yang salah, maaf ya Mbak Dini” tegur Ayu berusaha tetap tenang, padahal badannya gemetar takut Ningsih main tangan.


Ningsih berpaling. “Kerjaan kamu udah Yu?”


“Iya mbak udah”


“Ayo makan bakso, aku traktir” ajak Ningsih menarik Ayu pergi.


“Mbak makasih ya. Tapi tadi aku takut banget mbak mukul Mbak Dini” kata Ayu pelan saat mereka sudah menjauh dari Dini, sekilas Ayu bisa melihat Dini mendumel menatap kesal ke arah mereka.


“Iya Yu, tadi aku rencana mau cubit bibirnya, biar kapok enggak komenin orang terus. Aku sebenarnya lagi nunggu waktu aja buat nyemprot si Dini, cuman baru ada kesempatan sekarang. Itu anak emang harus dikasarin biar ngerti”


“Iya mbak iya, udah mbak, jangan marah-marah terus, nanti cantiknya hilang loh” canda Ayu mengelus punggung Ningsih. Keduanya berjalan ke depan, hujan sudah berhenti dan tukang bakso terlihat asik bertengger di depan memukul-mukul mangkoknya. Saat hendak membuka gerbang terdengar suara Heru memanggil Ayu, cowok itu baru memarkirkan mobil, ia memberikan kode agar Ayu menghampirinya.


“Iya Mas Heru gimana?”


Heru menyodorkan kertas bertuliskan pendaftaran paket C. “Ini. Dipikirin lagi Yu, kalo udah, isi, terus kasih ke gue, nanti gue yang urus”


“I-ini serius mas?” mata Ayu menatap tidak percaya.


“Kalo nggak serius, gue gebug bokap. Udah sana, lu mau jajan bakso kan?” balas Heru lalu melangkah masuk ke rumah. Ayu menatap punggung cowok itu dan kertas ditangannya bergantian, bibirnya lantas bergerak menampilkan senyum manis.


“Makasih Mas Heru” gumam Ayu pelan meskipun tidak bisa dengar oleh cowok itu.

__ADS_1


__ADS_2