Ms. Norak

Ms. Norak
Pemenang


__ADS_3

Kamar Manda terlihat berantakan dengan tumpukan buku dan kertas bertebaran dimana-mana. Dua cewek mungil sebagai penyebab dari rusuhnya kamar itu meregangkan badan, raut wajah mereka terlihat suntuk luar biasa menatap layar laptop, sudah tiga jam lebih keduanya duduk dalam posisi sama untuk menyelesaikan makalah.


“Ra”


“Hmm?”


“Ra?”


“Apa?”


“Suka ngunyah kalajengking nggak?”


Laras berpaling, raut wajah Manda sudah menunjukan ia lapar berat.


“Mau makan apa Nda?” tanya Laras nyengir, keduanya turun ke dapur ada Marsel baru selesai makan mie instan.


“Dek, masih ada makanan nggak?”


“Ada, tuh kulit pisang, kunyah aja” jawab Marsel kalem menunjuk tempat sampah lalu ngeloyor pergi. Manda mendengus membuka lemari tempat persediaan makan.


“Ini rumah nggak makanan yang layak apa? Heran. Marsel!! Mbak Mina mana?”


“Berberber”


“Hah?!”


“Belanja”


“Apa?”


Marsel keluar kamar dengan wajah tertekuk. “Lagi belanja. Budeg. Tai telinga keluarin pake traktor sana!”


“Kurang ajar!” dengus Manda mengambil mie instan dari laci lemari. “Ra makan mie mau nggak?”


“Boleh. Tapi pake nasi, biar kenyangnya double”


“Dasar anak kos.”


Laras mengambil nasi dan menarik kursi duduk memperhatikan Manda. Rumah besar itu terasa sunyi, mungkin karena Marsel sedang fokus belajar untuk ujian sehingga jarang keluar kamar dan beradu argumen dengan Manda.


“Ra…”


“Hmm?”


“Dano gimana?” tanya Manda iseng.


Laras diam, sudah hampir seminggu sejak pesta Alea dan Laras tidak bertemu Dano. Cowok itu tidak mengirim pesan, mengikutinya di kampus, atau bahkan muncul di rumah seperti biasa. Dano menghilang seperti ditelan pusaran black hole. 


“Nggak tau Nda nggak ada kabar, lagi sibuk kayaknya” jawab Laras.


Manda menaruh dua mangkuk mie dengan senyum tipis.


“Kenapa senyum-senyum gitu?”


“Nggak papa, lucu aja ngeliat kalian. Suka tapi malu-malu, tarik ulur.  Tariknya jauh sampe Bekasi”


“Lebay Nda, hubungan kita nggak kayak gitu”


“Iya Ra, percaya” balas Manda nyengir. “Emang nggak kangen?”


“Enggak” jawab Laras singkat.


Bohong. Laras berbohong.


Menghilangnya Dano dari keseharian Laras membuat ia diam-diam merindukan cowok itu. Dano yang suka melemparkan lelucon aneh, tingkahnya yang random, atau gaya slengeannya membuat Laras merasa rindu.


Entah dimana cowok itu sekarang, tapi Laras ingin bertemu. Meskipun Laras tidak paham apakah perasaan rindu ini karena memang ia merasa kesepian setelah perginya Angga dari kehidupannya atau karena ada perasaan lain yang muncul. Laras sendiri berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa kesepian adalah jawaban paling tepat untuk situasi ini.


“Ra, terkadang ini sama ini suka nggak sinkron” kata Manda menunjuk ke arah bibir dan dadanya.


“Ini bilang nggak suka, tapi ini suka”


“Tapi bisa juga sinkron” balas Laras denial.


Manda angkat bahu, ekspresinya menunjukan ia tidak percaya Laras.


“Aku paling paham dengan perasaanku Nda. Dano itu cuman sekedar teman buat aku, nggak pernah sekalipun aku naruh rasa sama dia.”


Dan itu adalah perkataan paling kontradiktif yang pernah Laras katakan.


...*****...


“Ra, makasih ya.”


Laras mengangguk merapikan lembar kertas jawaban anak sekelas lalu melangkah menuju ruang dosen. Kepala Laras celingak-celinguk mencari ruang Ibu Nella, terlihat beberapa mahasiswa sedang antri di depan ruangan dosen itu, sepertinya sih sedang konsul skripsi.


“Nyari Bu Nella ya Ra?” sapa seorang cowok yang tidak Laras kenal. Laras mengangguk kikuk.


“Iya, mau ngumpulin tugas anak kelas”


“Bu Nella masih ngasih konsul, tunggu bentar Ra, dikit lagi keluar” beritahunya ramah. Laras bersandar di dinding luar sembari memeluk tumpukan kertas.


“Habis ini kelas lagi Ra?”


“E-eh? Enggak emm…”


“Rakai” kata cowok itu agak telat memperkenalkan diri.


“Laras” balas Laras kikuk.


Rakai tersenyum geli. “Gue tau nama lu, jangan gugup gitu dong, kayak lagi ngomong sama pejabat aja”


“Sorry…”


“Besok ikut ke dufan Ra?”

__ADS_1


“Ngapain?”


“Nonton penampilan srikandi, gue nyanyi loh Ra”


“Kalo ada waktu, aku sempetin ke sana” balas Laras langsung tahu Rakai adalah salah satu anak srikandi, pantas ia menyapa Laras ramah.


“Yuk Ra bareng” ajak Rakai ketika gilirannya masuk kemudian berbisik pelan. “Jangan lupa datang ya Ra.”


Laras mengangguk, setelah menaruh kertas jawaban dan berbasa-basi sebentar dengan Ibu Nella, Laras langsung melesat pergi. Laras menekan tombol lift dan ketika pintu lift terbuka tubuhnya mendadak kaku, Sera berdiri seorang diri di dalam sana. Laras terpaksa masuk, tampangnya dibuat sedatar mungkin padahal dalam hati mengutuk keras letak ruang dosen yang berada di lantai enam. Menit-menit terus berlalu, Laras merasa waktu berjalan sangat lama dibanding biasa.


“Ra, boleh minta waktu bentar? Gue mau ngomong.”


Laras agak terkejut, Sera baru saja berbicara padanya. Laras benci melihat Sera, tapi bukannya berlalu ia malah mengikuti langkah Sera ketika keluar dari lift. Mereka berdiri di dekat taman gedung hukum yang lumayan sepi.


“Mau ngomong apa?” tanya Laras berusaha keras untuk menciptakan kesan jutek, ia ingin Sera tahu bahwa Laras tidak menyukainya.


“Angga…”


“Ada apa?”


“Gue…..” Sera terdengar ragu, ekspresinya terlihat sangat gelisah. “Gue tau malam itu di pesta ulang tahun Alea, lu sama Angga ngobrol”


“Dia yang maksa gue ngobrol” koreksi Laras. Dalam hati Laras merasa geli karena harus berlu-gue, baginya terdengar tidak cocok, tapi karena di depan Sera maka Laras tidak ingin mengalah.


“Gue tahu…” angguk Sera lemah. “Gue juga tahu lu sama Angga udah putus”


“Lalu?”


“Gue cuman mau bilang, gue harap lu nggak ganggu hubungan gue dan Angga.”


Laras melongo, tubuhnya seperti tersengat lebah. Sera bilang apa? Jangan ganggu hubungannya dengan Angga? Bukannya seharusnya Sera lebih baik berkaca dan mengatakan hal itu pada dirinya? Yang menjadi selingkuhan Angga kan Sera bukan Laras!


“Gue nggak tau seerat apa hubungan kalian dulu, tapi sekarang udah beda. Angga pacar gue dan gue harap lu nggak berusaha untuk mengingat kisah kalian. Hubungan kalian udah berakhir.”


Laras makin melongo, ternyata selain tidak sadar diri, Sera juga tidak tahu malu. Sera cantik, seksi, dan populer, tapi sifat cewek itu jauh lebih buruk dari perkiraan Laras. Untuk beberapa detik Laras hanya bisa diam karena terlalu bingung untuk mengatakan apapun.


“Gue harap lu bisa ngerti posisi gue. Gue cuman nggak mau kehilangan orang yang gue sayang.”


Babi, batin Laras memaki.


“Tenang aja, gue juga nggak ada niat buat gangguin hubungan lu berdua” kata Laras akhirnya buka suara. “Bagi gue apa yang udah berlalu yaudah, jadi lu nggak usah khawatir. Gue nggak hobi ganggu hubungan orang, gue nggak segatal itu.”


Ekspresi Sera berubah memerah, Laras baru saja terang-terangan menyindirnya. Tapi Laras tidak peduli, tangannya terangkat menyentuh bahu Sera pelan.


“Kalo lu cinta, jaga aja cinta lu, selama dia cinta balik, dia nggak lari. Gue sih berharap lu bukan pelarian, karena meskipun lu berdua saling cinta, tapi tetap aja lu dulu selingkuhan Angga” sindir Laras dengan senyum manis. “Oh iya, gue pernah dengar, hubungan orang jahat itu jarang ada yang berhasil, tapi semoga lu berdua langgeng. Gue duluan ya.”


Tanpa basa-basi Laras melangkah pergi, tidak memperdulikan ekspresi marah Sera ketika mendengarkan perkataannya. Dalam hati Laras bersorak senang, untuk pertama kalinya Laras tidak tinggal diam ketika seseorang menyerangnya. Hari ini Laras merasa sangat hebat.


...*****...


Sore sepulang kampus Laras menyempatkan diri nongkrong bersama Manda dan Amel. Sebenarnya bukan mau Laras, tapi karena paksaan Amel yang ingin memperkenalkan Manda pada temannya. Bukan rahasia lagi kalau Manda itu adalah cewek populer kampus. Statusnya sebagai seorang model lepas tapi sering wara-wiri di panggung catwalk milik designer terkenal membuat Manda menjadi incaran beberapa cowok yang naksir berat padanya.


“Ada cowok mau deketin Manda, tapi susah mau ngobrol, karena beliau jarang mau diajak nongkrong. Manda nggak mau nongkrong kalo nggak ada elu. Mau ya Ra? Entar gue beliin ale-ale, atau nggak frutang gosok” rayu Amel sepanjang kelas berlangsung, Laras bengong tapi akhirnya nurut.


“Ya dalam rangka menyambut hari pacul sedunia gue pake batik” balas Heru kalem.


“Ra, itu yang suka Manda” korek Amel pelan menunjuk Brandon. Laras mendongak, Brandon tanpa basa-basi menarik kursi duduk di depan Manda, terlihat aksi PDKTnya didukung teman-temannya yang sengaja membiarkan kursi di depan Manda kosong.


Menurut Laras dari segi fisik Brandon cakep, tinggi, dan senyumnya manis sekali. Tapi tangan kanan Brandon hampir sepenuhnya tertutup oleh tatto, meskipun ia terlihat keren dengan tatto itu tapi Manda menunjukan bahwa ia sama sekali tidak tertarik. Tipe Manda itu dewasa, kalem, tidak tattoan, tidak rokoan, dan ganteng. Jadi Brandon jelas jauh dari tipenya. Susah memang, tapi namanya orang cantik jadi ya dimaklumi. Beda dengan Laras yang sudah sujud syukur apabila ada yang mau.


“Mana saudara lu?” tanya Amel pada Heru.


“Dugu?”


“Hah?”


“Dugu?”


“Apa sih dugu-dugu? gagu lu?”


“Ye, lu norak. Dugu itu Bahasa Korea, artinya siapa. Norak lu nggak pernah nonton netflix”


“Alah, lidah supermi sok ngerasa jajamyeon” ketus Amel. Selalu begitu, entah Heru yang memulai atau Amel duluan, keduanya pasti memiliki sesi untuk berdebat.


“Temen lu Dano mana?” tanya Amel lagi lebih jelas.


“Tau, coba tanya Laras. Ra suami lu dimana?” tembak Heru membuat Laras tersedak, Heru ngakak. “Cielah Ra, salting nih ceritanye? Udeh lu kagak usah shy shy meong, gue udah tahu semua”


“Tau apa? Laras udah jadian sama Dano?” tanya Manda mau tahu.


Heru pasang tampang sok misterius. “Kasih tau nggak nih Ra?”


“Jangan nyebar gosip aneh Ru, entar aku cabe mulut kamu”


“Mau dicabe loh mulut gue. Entar boncengan”


“Cabe-cabean!” teriak Brandon dan Daus barengan. Laras nyengir, selanjutnya ia lebih banyak diam mendengarkan bacotan Heru dan teman-temannya, tidak membosankan karena selalu ada topik random yang Heru lontarkan, meskipun sesekali Heru masih senang menggoda Laras.


“Sorry telat” seseorang menepuk punggung Heru dan menarik kursi duduk di sebelah Laras. Wajah Laras berpaling, nampak Rakai, cowok yang tadi pagi menyapanya kini duduk disebelahnya.


“Dari mana lu? Nggak latihan?”


“Udah, baru aja bubar”


“Dano?”


“Pulang, nggak ikut, katanya mau persiapan lahiran, tau deh siapa yang lahir” jawab Rakai. “Besok pada datang kan?”


“Datang dong, masa gue tega ninggalin lu semua tampil tanpa gue”


“Gue nggak peduli lu datang atau enggak sih Ru, yang penting mereka bertiga datang” tunjuk Rakai pada Laras, Manda, dan Amel. Teman-temannya langsung nyengir lebar.


“Sorry gue udah ada pawang” jawab Amel judes tahu maksud Rakai. Rakai ketawa menghisap rokoknya santai.


“Pede lu Mel” kekeh Daus.

__ADS_1


“Besok kalian bawain lagu apa?”


“Opick, bila waktu”


“Gue gampar ya. Tattoan, rokoan tapi nyanyi religi” ancam Heru sewot.


“Loh justru disitu poinnya. Bukan berarti karena tattoan gue nggak bisa nyanyi religi”


“Tapi elu di dufan. Maksud lu apa nyanyi religi di dufan?”


“Dih daripada gue nyanyi mars kampus?”


“Coba aja kalo lu berani.”


Alis kanan Rakai terangkat naik, ia menghisap rokoknya dan kemudian tersenyum kecil. Heru langsung melemparkan tatapan ngeri.


“Jangan coba-coba….”


Dan selanjutnya hanya terdengar tawa geli semua orang, kecuali Heru.


...*****...


Heru menutup wajahnya menahan jengkel, Rakai tidak main-main dengan ucapannya kemarin. Dengan tangan di dada Rakai lantang menyanyikan mars kampus, gokilnya meskipun hanya terdengar suara Rakai, tapi semua penonton ikut menaruh tangan di dada menemani Rakai menyelesaikan tiap bait sampai selesai. Beberapa anak srikandi ketawa geli, kecuali Heru yang mengomel dari barisan paling belakang.


“Ru udah selesai” kekeh Amel geli. Heru mendengus kembali mendongak ketika mendengar suara drum, lagu pupus dari Dewa 19 terdengar. 


Laras menatap dari kejauhan, meskipun tengil tapi suara Rakai tidak bisa disepelekan, terlihat jelas kualitas vokalis srikandi, pantas mereka selalu menang di setiap perlombaan.


“Rakai itu punya band sendiri di luar kampus, namanya Rain, setau gue bulan depan mau tampil di acara Tv” beritahu Amel.


“Rain? kok aku baru dengar?”


“Ya lu sih kebanyakan dengerin lagu delapan puluhan, mana tahu musik sekarang?”


“Aku sering denger lagu noah” balas Laras tidak mau kalah. Wajahnya kembali berpaling ke arah panggung. Seseorang dari balik drum menarik fokus Laras. Dano duduk disana menebuk drum, penampilan terlihat sedikit berbeda dibanding gitaris srikandi. Dano mengenakan kaos hitam dan celana bola, jika bukan karena berada di balik drum, semua orang pasti akan berpikir Dano itu tukang kabel.


“Lagi…lagi…lagi” teriak cewek-cewek di barisan depan yang kesemsem dengan penampilan srikandi. Beberapa secara terang-terangan melemparkan tanda hati, terutama untuk Dano.


“Maaf ya adik-adik, kita harus ke penampilan berikutnya. Kebetulan ini lomba band, bukan live band kafe”


“Wuuuu, nggak asik” sorak cewek-cewek tadi.


MC lomba cuek kembali membaca urutan penampilan, lagaknya dibuat seprofesional mungkin “Yak! Penampilan berikutnya dari segerombolan stardut alias start dangdut alias bintang dangdut alias biduan alias, ah banyak bener… Ini dia kita sambut stardut!!!! Hore!!!!”


“Aku keliling bentar” pamit Laras melangkah pergi menyusuri dufan. Agak kesepian sebenarnya karena Amel menggandeng mesra lengan Samuel, Brandon sibuk PDKT dengan Manda, dan tersisa Heru yang sibuk mengurus srikandi sambil ngedumel.


Histeria pengunjung dari area tornado membuat Laras mendekat, ia tertarik ingin mencoba tapi ragu. Tubuhnya mungil, bagaimana ketika tornado berputar ke bawah dan tubuh Laras keluar dari sabuk pengaman sampai berakhir terjun bebas? Membayangkannya saja sudah membuat Laras merinding.


Akhirnya kaki Laras melangkah terus, tidak memperdulikan kemungkinan ia akan tersesat di tempat itu. Laras terlalu bersemangat untuk mengelilingi seantero dufan. Cukup jauh Laras melangkah dan kini ia berdiri tepat di bawah wahana komidi putar. Lampu satu persatu menyala membuat rona bahagia Laras tidak bisa disembunyikan lagi.


“Ra…”


Tubuh Laras tersentak, ia balik badan dan Dano berdiri tepat di belakangnya.


“Kamu ngapain disini?” tanya Laras terkejut seperti sedang melihat setan.


“Saya ngikutin kamu dari tadi.”


Kening Laras berkerut menatap Dano seksama, rambut cowok itu sedikit lebih memanjang dibanding terakhir kali sejak sebelum  menghilangnya Dano dari hadapan Laras.


“Penampilan kalian tadi bagus” gumam Laras. Dano tidak menjawab, ia mendekati Laras dan berpaling memperhatikan aktivitas pengunjung di wahana komidi putar.


“Cobain yuk”


“Apa? Komidi putar? Nggak mau, kayak anak kecil”


“Ya ampun Ra, lihat tuh, yang tua-tua aja rebutan naik” tunjuk Dano pada segerombolan anak muda seusia mereka. Tanpa ragu Dano menarik tangan Laras, keduanya lantas menikmati wahana komidi putar dan beberapa wahana lain. Laras senang, tapi melihat kemunculan Dano membuatnya galau dan memilih untuk diam. Roller coaster yang bergerak di depan Laras itu sama persis seperti perasaannya yang naik turun akibat tingkah Dano.


“Ra. Ra. Laras” panggil Dano. Laras berpaling bingung.


“Kenapa?”


“Kok diem aja dari tadi? Wahananya kurang seru ya? Yuk naik histeria, dijamin kena serangan jantung.”


Laras menggigit bibir menahan tawa, ia menarik napas panjang dan menatap Dano serius.


“Kamu kemana aja?” tanya Laras akhirnya memberanikan diri bertanya.


Senyum Dano menghilang, ekspresinya ikut serius seperti Laras. “Saya nggak kemana-mana Ra…Kamu..nyariin saya?” tanya Dano terkesan agak ragu


“Kamu ngilang, nggak ada kabar, kamu marah sama aku karena sesuatu?”


Dano menggeleng.


“Tapi kamu kayak orang marah” balas Laras.


Dano menggaruk kepala, ia juga bingung. Sebenarnya Dano juga sadar beberapa hari ini ia menghilang dari hadapan Laras. Bukan karena marah, tapi karena Dano sedang berusaha meredam perasaan aneh yang memenuhi dadanya. Hari dimana Dano melihat Laras dengan dress hitam di pagi hari, saat itu juga desiran aneh merayap naik memenuhi tubuhnya. Semakin lama Dano bersama Laras, perasaan itu juga berkembang besar, dan Dano butuh waktu untuk menjauh dari Laras.


“Saya….” Dano menelan ludah, ia tidak pernah merasa segugup ini di depan seorang cewek.


“Woi! lu berdua dicari kemana-mana malah mojok disini!”


Laras dan Dano berpaling, Rakai bersama Manda dan Heru melambaikan tangan menghampiri mereka.


“Yuk, balik, Samuel udah mengeluh lapar” ajak Heru.


Laras mengangguk tanpa banyak bicara memilih berjalan di sebelah Manda.


“Brandon mana?” bisik Laras, Manda bergidik.


“Ngintilin gue mulu kayak penguntit, gue kabur ikut Rakai. Risih tau.”


Laras ketawa geli. “Hati-hati karma, yang awalnya ogah, malah jadi mau”


“Dih amit-amit!” tolak Manda mentah-mentah.

__ADS_1


__ADS_2