Ms. Norak

Ms. Norak
Peringatan Sera


__ADS_3

“Kamu kuliahnya yang rajin ya, jangan kebanyakan main. Mas Angga, Laras tolong dijagain, biar nggak salah pergaulan. Di Surabaya ibu khawatir banget sama Laras”


“Tenang bu, aku jagain, kalo bisa sampai dua puluh empat jam” kekeh Angga.


“Udah bu, masuk sekarang, entar telat boarding loh. Kalo udah sampai telepon aku ya” kata Laras. Ratih mengangguk lalu memeluk Laras dan Angga bergantian, ia melambaikan tangan dan setelah itu masuk ke dalam ruang tunggu.


Setelah memastikan Ratih benar-benar dalam ruangan, Laras kemudian berpaling pada Angga. “Makasih untuk kerjasamanya, aku bakal mikir buat ngomong ke ibu. Bye”


“Loh Ra mau ke mana?”


“Pulang”


“Aku anterin”


“Nggak mau” tolak Laras langsung. “Ibu udah balik ke Surabaya, jadi kamu nggak usah repot-repot baik sama aku”


“Ra nggak bisa gitu dong. Kamu datang bareng aku, pulangnya juga harus bareng.” Angga menahan langkah Laras.


“Suka-suka aku lah, kamu siapa ngatur-ngatur? Mending kamu ngurusin pacar kamu sana, kasihan udah ditinggal seminggu” ketus Laras melangkah melewati Angga.


“Aku udah putus sama Sera.”


Langkah Laras terhenti, ia balik badan menatap Angga.


“Kan udah aku bilang aku mau nunjukin penyesalan dan keseriusan aku ke kamu”


“Dengan cara putus dari Sera? Kamu tau nggak dia sayang sama kamu?”


“Itu nggak penting Ra, karena bagi aku hanya ada kamu.”


Laras melongo, ternyata Angga jauh lebih buruk dari perkiraannya. Bahkan brengsek dan bajingan tidak cukup untuk mendeskripsikan cowok itu.


Sekitar beberapa detik Laras menatap Angga, lalu dengan wajah tak acuh jempol kanannya terangkat. “Oke. Nice info. Semoga dapat yang lebih bagus” ujar Laras sarkas lalu kembali melangkah pergi, tidak memperdulikan Angga memanggil-manggil namanya.


...*****...


“Untuk pengisi acara minta anak srikandi aja, tapi request lagu yang slow. Nggak lucu soalnya nyanyi metal di depan rektor. Yang ngurus anak publikasi ya, gue minta kepastiannya sampai besok, biar kalo nggak dapat kita cari dari organisasi lain. Kalo udah nggak ada pertanyaan gue tutup sampai disini” kata Sandi ketua acara student award kampus. Setelah itu satu persatu panitia keluar ruangan sampai tersisa anak publikasi.


“Urusan ke srikandi Amel sama Laras. Gue sama Gio mau nyari pinjeman kamera sama ngurus Q-card MC. Harus dapat ya, pacar lu berdua kan anak srikandi, harusnya lobinya lebih gampang buat nekan budget, kalo bisa dua ratus ribu aja” kekeh Adi.


“Enak banget Di lu ngomong, bahkan omset tukang cilor depan kampus lebih dari itu” geleng Amel.


“Kan kalo cilor jualan sehari, ini cuman nyanyi sejam”


“Kalo gitu lu aja Di yang ngomong ke ketua srikandi”


“Ogah, ntar gue dipaku di dinding srikandi” jawab Adi cengengesan dan setelah itu rapat benar-benar berakhir.


“Gue kalo bukan karena butuh poin kegiatan untuk syarat sidang, mana mau gue ikut panitia cabutan? Lagian apa sih isi student award itu? Anak-anak pintar yang IPKnya empat semua, mana harus daftar lagi”


“Kan pakai seleksi Mel, masa iya satu kampus nilai akademiknya dianalisis satu-satu? Dua tahun lagi itu pialanya baru dikasih. Lagian ini kan nggak cuman dari segi prestasi tapi dari bakat juga”


“Student award tapi berasa Indonesia got talent.”


Keduanya kemudian menuju ruang srikandi, ramai dengan beberapa anak yang nongkrong di depan sambil gitaran.


“Cari siapa? Rakai? Nggak ada, lagi beli senar gitar. Oh Dano? Lagi nyusu di dalam sama Samuel” cerocos Brandon ember. Laras dan Amel ketawa geli.


“Mau nyari Heru ada perlu”


“Oh, entar. Ru dicari cewek-cewek ekonomi. Masuk aja, anggap rumah sendiri” teriak Brandon.


“Kayak nggak punya nama ya” kata Amel lalu masuk bersama Laras.


Ini adalah pertama kalinya Laras masuk ke dalam ruang srikandi. Banyak poster tertempel disitu, dari band terkenal Nirvana, Bon Jovi, sampai presiden Soekarno pun ada. Bahkan wajah Heru juga ikut terpampang manis dalam pigura yang digantung tepat di atas dinding kursi drummer.


“Kenapa nyari gue? Mau kawin lari? Sorry ide itu udah nggak berlaku lagi” ujar Heru pede. Amel mendengus kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke sekre srikandi.


“Hmm…boleh deh, tapi entar yang tampil anak baru srikandi, biar punya pengalaman manggung”


“Oke, tapi diingetin ya, gladi resik jam tiga sore, jangan telat”


“Harusnya sih enggak” jawab Heru cengengesan.


“Kalo sampe telat, komisinya gue bayar pake botol amer” ancam Amel.


Heru tertawa. “Btw sabtu nanti ada acara nggak?”


Laras dan Amel serempak menggeleng.


“Ke rumah gue ya, ada acara”


“Acara apaan?” tanya Laras, perasaan setiap bulan selalu ada anak srikandi yang membuat pesta, entah di rumah pribadi, nyewa kafe, atau bahkan sampai nyewa tempat di kota lain.


“Merayakan keberhasilan kita hidup sebagai anak Indonesia”


“Idih sok istimewa dimata negara” cibir Amel, setelah itu mereka pamit pergi.


“Udeh gitu doang?” tegur Samuel dan Dano karena sejak tadi keberadaan mereka disitu tidak begitu diacuhkan.

__ADS_1


“Nggak ada niat mau godain kita nih?” tambah Dano sambil rebahan di lantai.


“Sorry dear, kami datang kesini murni karena urusan bisnis” jawab Amel cuek.


“Lagak lu kayak lagi mau bukan brand Mel. Sayang, masih ada kelas kan? Entar habis kelas saya jemput, kamu mau dijemput dengan iringan gembala atau tarian tradisional?” tanya Dano kumat isengnya.


Laras mendengus. ”Geli No dengarnya”


“Mampus!” tawa Amel puas lalu kedua cewek itu keluar sekre srikandi.


“Hati-hati Laras, langkahnya diperhatikan, jangan sampai salah nginjek. Kalo temennya Laras terserah, mau injek tai juga nggak papa” teriak Dano nyaring dari dalam.


“Si anjing, ntar gue sumbat mulutnya pake ranting pohon” gerutu Amel, Laras cekikikan geli. Mereka kembali ke gedung ekonomi, tiga puluh menit lagi ada mata kuliah filsafat ekonomi.


“Gue denger gosip dia berantem sama tunangan lu” bisik Amel tiba-tiba menunjuk ke arah samping dengan alisnya. Laras berpaling, ada Sera berdiri tidak jauh dari mereka bersama teman-temannya.


“Berantem gede di club dan putus, tapi nggak tau deh bener atau enggak” lanjut Amel.


“Oh iya? Sayang banget, padahal mereka cocok” ujar Laras pura-pura tidak tau putusnya hubungan Angga dan Sera. Ternyata Angga serius ingin kembali pada Laras.


“Emang cocok. Orang jahat jodohnya sama orang jahat” cengir Amel disambut anggukan setuju Laras.


...*****...


Laras baru selesai mandi dan duduk di kursi meja belajar ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamar.


“Masuk” teriak Laras. Dano muncul dengan senyum merekah tanpa permisi  langsung merebahkan diri diatas kasur.


“Tumben rapi, mau kemana?” tanya Laras melirik sekilas dari pantulan cermin.


“Mau nagih uang sampah ke masyarakat” jawab Dano sembarangan. “Ganti baju gih Ra”


“Mau kemana?”


“Ke rumah Heru. Kan kemarin Heru udah bilang”


“Ya entar, sepuluh menit, masih nanggung” angguk Laras acuh tak acuh tidak lepas dari layar laptop, ia sedang mengerjakan tugas. Setelah itu tidak terdengar suara apapun, sekitar dua jam Laras baru selesai, ia berpaling dan menemukan Dano tertidur lelap. Laras melangkah mendekat, senyumnya muncul melihat ekspresi tidur Dano. Cowok itu memeluk guling erat dan keningnya sesekali berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu dalam tidur.


“Dano….” panggil Laras pelan. Sampai beberapa kali Dano baru terjaga, ia mengerjap-ngerjapkan mata dengan tampang cengo.


“Kenapa Ra?” tanya Dano ling lung.


“Jadi pergi nggak?”


“Jam berapa sekarang”


“Sembilan.”


“Ganti gih Ra”


“Yaudah kamu keluar”


“Maaf Ra saya lagi sibuk” jawab Dano malah semakin memeluk erat bantal tanda ia tidak ingin keluar. Laras mendengus mengalah, terpaksa menggunakan kamar Sri untuk berganti pakaian.


Laras mengenakan celana jeans pendek, kaos dan jaket hitam seperti milik Dano, rambutnya diikat keatas, dan wajahnya hanya di make up biasa.


“Udah mahir banget ya ngelukis wajah” kekeh Dano ketika melihat Laras sedang menggambar alis.


“Ini latihannya berminggu-minggu tau biar bisa sama kiri kanan” kata Laras.


“Iya Ra iya. Alis kamu udah sama kiri kanan, bagus lagi, se-Indonesia raya alis kamu yang paling indah” goda Dano bangkit dari kasur.


“Diam kamu!”


“Bentar Ra.” Dano menahan tangan Laras ketika hendak memakai lipstik. “Biar entar enggak berantakan.”


Kening Laras berkerut dan setelah itu matanya membulat terkejut ketika Dano menunduk dan mencium bibirnya. Lembut.


“Ih. Kalo dilihat Sri gimana!” Cubit Laras ketika wajah Dano menjauh. Pintu kamarnya memang sedikit dibiarkan terbuka. Dano ketawa geli dan setelah itu mereka pergi.


“Sri beneran nggak mau ikut?” tanya Dano. Sri menggeleng, wajahnya terlihat suntuk tanda sudah berapa hari ini kurang tidur untuk menyelesaikan proposal magang.


“Wah sayang banget Sri, padahal ada komidi putar” kekeh Dano. Sri mendengus langsung menutup pintu ketika Dano dan Laras keluar.


Sekitar tiga puluh menit mereka sampai di rumah Heru. Sudah ramai, beberapa mobil terparkir di depan halaman rumah Heru yang luas. Laras melongo tidak menyangka rumah Heru seluas ini, bahkan jarak dari ruang utama ke tempat pesta agak jauh ke belakang.


“Ini rumah Heru, cuman hanya dia yang tinggal. Heru anak tunggal”


“Orang tuanya?”


“Papanya Heru di Singapura. Mamanya udah meninggal dari Heru SMA. Dulu rumah ini mau dijual biar Heru pindah ke Singapura, tapi emang tengil Heru sengaja tinggal disini dan tiap bulan ada pesta disini” jelas Dano menyadari ekspresi kagum Laras. Tepat ketika mereka membuka pintu menuju halaman belakang, ekspresi Laras terlihat dua kali lebih terkejut. Kolam renang besar, halaman luas, dan gazebo besar ada di situ. Ramai orang dan suara musik Dj membuat darah Laras berdesir semangat.  Ini jauh lebih menyenangkan dibanding pergi ke club.


“Laras sini!!!” teriak Amel dari kejauhan mengangkat gelas alkohol. Ia duduk di sofa dekat pot besar bersama Samuel, Brandon, dan Rakai.


“Heru mana?” tanya Dano. Keempat temannya menunjuk ke arah belakang. Terlihat Heru sedang bersama beberapa anak srikandi di dekat meja dj. Salah seorang yang menarik perhatian sesekali melucu mengundang gelak tawa.


“Itu namanya Yohanes, dipanggil Yohan. Namanya religius tapi hobinya mabuk. Di srikandi tiap ada pelepasan jabatan selalu ada award tahunan untuk tiap anggota, kayak misalnya anggota terkalem, tercerewet. Dan Yohan tiap tahun selalu menang mabuk award, sampai akhirnya dia nggak jadi nominasi lagi. Namanya malah dijadiin award untuk pemabuk srikandi. Yohan award” cerita Amel. Laras ketawa geli memperhatikan tingkah Yohan.


“Gue tau lu mau mabukin gue” kata Yohan. Teman-teman ketawa geli tahu bahwa Yohan sudah mulai terpengaruh alkohol.

__ADS_1


“Tenang…tenang….” ujar Yohan membuat musik berhenti sejenak. “Life goes on. Just don't be afraid….don't be afraid.”


Tawa semakin meledak lalu musik kembali terdengar, Laras dan Amel ikut tertawa kencang.


“Aduh perut aku sakit” tawa Laras geli melihat Yohan cuek melepas baju dan menari jaipong di tengah khalayak ramai.


“Ra, sahabat lu” korek Amel membuat Laras berpaling, ia langsung mendengus ketika melihat Sera bersama teman-temannya berdiri tidak jauh dari situ. Hanya saja tidak terlihat ada Angga seperti biasa yang selalu siap siaga memeluk Sera di setiap momen mereka.


“Ra udah cobain puding belum? Enak tau” ajak Amel.


“Mau kemana?” tanya Dano ketika Laras dan Amel kompak berdiri.


“Ngemil” jawab Laras. Dano meremas tangan Laras lalu mengangguk membiarkan mereka pergi.


“Dano protektif banget, kayak bapak lu” ujar Amel nyengir. Laras angkat bahu mengambil beberapa cemilan di atas meja. Ekspresi Laras terlihat sangat gembira, beberapa orang berenang dan tanpa malu-malu mengenakan bikini. Mereka terlihat sangat menikmati pesta di tempat ini.


Tapi kebahagian Laras tidak berlangsung lama, wajahnya berpaling dengan ekspresi masam ketika melihat Sera mendekat.


“Hai” sapa Sera pada Amel dan Laras.


“Tumben lu nggak sama Angga” balas Amel tanpa basa-basi, ekspresinya terlihat acuh tak acuh. Senyum Sera sedikit menghilang, ia angkat bahu mengambil puding dipiring.


“Angga lagi sibuk.”


Amel mengangguk tidak bertanya lagi.


“Pestanya seru ya” kata Sera namun kali ini tepat ditujukan untuk Laras. “Lu pasti suka karena bisa nikmatin acara kayak gini. Sebenarnya gue cukup kaget waktu lihat lu pertama kali datang ke pesta Alea. Gue kira lu tipe anak yang akan menghindari pesta, alkohol, atau asap rokok. Soalnya yang gue denger lu nggak suka dunia malam…..Dano mahir banget ngeubah orang.”


Laras menggigit biskuitnya tanpa menjawab. Hatinya dongkol melihat ekspresi Sera, ia tahu cewek itu sedang mengejek dirinya seakan Laras mendadak liar karena sering terlihat bersama Dano.


“Laras punya kehidupannya sendiri yang nggak harus lu tahu kali” nyinyir Amel dari samping. Sera angkat bahu masih tersenyum manis.


“Gue suka gaya lu yang sekarang. Cantik”


“Makasih” angguk Laras singkat, entah itu benar-benar pujian atau sekedar ejekan belaka, Laras hanya ingin Sera pergi dari hadapannya.


“Gue balik dulu ya” kata Sera mengambil beberapa gelas alkohol, tapi sesaat sebelum benar-benar pergi Sera mendekat pada Laras dan berbisik.


“Dano itu sama brengseknya kayak Angga. Pada akhirnya lu akan sakit dua kali karena dia. Kita akan impas.”


Ekspresi Laras langsung berubah.


Impas? Yang jadi selingkuhan kan kamu! Batin Laras marah. Emosinya yang sejak kemarin tertahan setiap kali melihat Sera mendadak meledak keluar. Ia benci dengan sikap tidak tahu malu cewek itu, bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Sera justru terlihat jelas ingin merendahkan Laras.


“Dasar cewek kurang ajar!”


Laras melempar biskuitnya ke bawah dan tanpa basa-basi menarik rambut Sera. Tubuh Sera jatuh ke belakang tapi dengan cepat ia berdiri balas menarik rambut Laras. Saat itu musik berhenti dan semua perhatian langsung tertuju pada mereka, tapi Laras tidak peduli, ia menepis kasar tangan Sera dari rambutnya.


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi Sera.


“Brengsek! Dasar perebut cowok orang!” teriak Laras marah. Sera terkejut tapi harga dirinya terlanjur tercoreng balas menyerang Laras.


“Anjing! Nggak tahu malu!”


“Laras! Laras!”


Laras bisa merasakan Dano menariknya dan dengan paksa menggendongnya pergi, sementara beberapa orang mengamankan Sera.


“Ra rileks!” ujar Dano.


“Dasar pelacur nggak tahu malu! Bisanya cuman jadi selingkuhan. Brengsek! Bajingan!” teriak Laras kesetanan. Ia baru berhenti ketika Dano membawanya masuk ke dalam kamar di lantai dua dan mengunci pintu.


“Ra udah, ini lagi pesta, bukan tarung MMA” ujar Dano malah tertawa geli. Perkelahian tadi benar-benar membuatnya terkejut, namun melihat cara Laras menampar Sera, ia tahu benar cewek itu sedang menyalurkan emosi yang ia pendam selama beberapa bulan  ini.


Laras mendengus marah dengan wajah tertekuk. “Dia yang mulai duluan!”


“Sera ngapain kamu?”


Laras tidak menjawab, memikirkannya lagi malah membuat emosinya naik dua kali lipat. Ingin rasanya berlari keluar dan kembali menghajar Sera.


“Oke saya nggak nanya lagi” kata Dano lalu mendekat mengecek wajah Laras. “Kening kamu dicakar. Bentar saya ambil obat.”


“Ini kamar siapa?” tanya Laras ketika Dano mengambil kotak P3K dari laci lemari kamar mandi.


“Saya”


“Serius!”


“Iya, saya serius. Rumah Heru banyak kamar, karena hanya dia dan asisten rumah tangga yang tinggal jadi kamar yang masih kosong buat teman-temannya. Disini kamar saya, yang di depan kamar Samuel. Punya Brandon di pojok” jelas Dano sambil mengobati luka di kening Laras. Keduanya diam sampai kemudian terdengar helaan nafas panjang Laras.


“Sera bilang kamu brengsek kayak Angga. Kamu bakal nyakitin aku” kata Laras. Dano diam, ia duduk di tepian kasur menghadap Laras.


“Tapi yang bikin aku marah adalah karena dia bilang kita akan impas. Aku nggak suka. Sejak awal Sera yang datang dan ganggu kehidupan aku. Meskipun Sera dan Angga sama-sama kurang ajar, tapi tetap aja dia yang mulai tadi. Nggak akan pernah aku maafin.”


Gantian Dano yang menghela nafas. Tangannya mengelus pelan pipi Laras dengan senyum tipis.


“Saya nggak bakal nahan amarah kamu, tapi jangan sampai buat kamu jadi terluka. Cukup sekali kening kamu kecakar, jangan sampai besok-besok rusuk kamu patah, atau jari kamu hilang. Saya nggak suka kamu terluka kayak gitu” kata Dano. Laras mengangguk dan selanjutnya ia tidak menolak ketika Dano menariknya masuk ke dalam pelukan cowok itu.

__ADS_1


“Maafin saya Ra….” bisik Dano pelan sekali.


__ADS_2