Ms. Norak

Ms. Norak
Ide Gila


__ADS_3

Kedatangan Marinah, mama Angga membuat Laras pusing tujuh keliling. Selain harus berpura-pura akur dengan Angga, Laras juga harus rela pergi bersama Marinah disela-sela kesibukan kampus. Sepertinya Marinah benar-benar menyukai Laras. Sejak kemarin ia terus menerus memuji perubahan Laras yang terlihat sangat cantik baginya.


“Pantas Angga betah sama kamu Ra. Kamu cantik. Kalo mama sih sreg banget sama kamu. Cantik, pinter, attitudenya bagus, mana bisa ketemu calon mantu sempurna kayak kamu” puji Marinah dijawab senyum manis Laras.


Tapi aku udah disia-siain sama anakmu! batin Laras.


Sebenarnya Laras ingin jujur, tapi ia belum menemukan waktu yang tepat. Setiap hari saat bertemu, Marinah terlihat sangat senang bersama Laras, ia mengajak cewek itu pergi ke mall, berbelanja, dan makan di restoran mewah. Laras jadi merasa tidak tega. Tapi disisi lain Laras juga keki dengan Angga, cowok itu terlihat menikmati kesempatan itu.


Di suatu waktu saat bersama Marinah, Angga tanpa malu-malu merangkul, memeluk, atau bahkan mencium kening Laras. Tidak nampak tanda-tanda Angga akan memberitahu Marinah mengenai keretakan hubungan mereka.


“Ra malam ini nginep ya?” tawar Marinah langsung dijawab Laras dengan gelengan keras.


“Aku mau nginep di rumah teman ma, mau ngerjain tugas, udah janji dari kemarin” jawab Laras bohong, terpaksa malam ini ia akan memboyong dirinya menginap di rumah Manda.


“Ya, kapan dong bisanya? Mama kan pengen seharian bareng kamu, biar kita bisa spa sore-sore, terus malamnya makan bareng”


“Pas mama mau balik ke Singapura deh, Laras nginep disini” jawab Laras berjanji, Marinah tersenyum senang kembali menunjukan dress-dress mahal dari sebuah situs website. Laras diam-diam menghela napas. Hidupnya terasa seperti berada di atas roller coaster.


...*****...


Tarikan napas Laras membuat Dano berpaling. “Kenapa narik-narik napas gitu? Asma.”


Laras mendengus menyandarkan kepalanya dibahu Dano. Lelah, itu yang Laras rasakan, tapi bukan fisik melainkan mental.


“Aku pengen terjun. Sakit hati lihat orang-orang bahagia dengan pilihan hidup mereka” gumam Laras menatap keluar jendela mobil Dano. Mereka sedang berada di perjalanan pulang menuju rumah Laras. Dano melirik Laras sejenak kemudian membelokan mobil di taman dekat area rumahnya.


“Bang Abe, ketoprak satu, bungkus” kata Dano membuka kaca mobil.


“Cie mau pacaran di mobil, kenalin dong” tawa Abe ketika melihat Laras


“Nggak mau, entar direbut lagi” kekeh Dano lalu menaikan kaca mobil.


“Kamu masih lapar?”


“Enggak, buat Sri. Saya mau nahan kamu sampai tengah malam” jawab Dano kalem. Laras tidak protes, sekarang ia memang ingin bersama Dano dan melarikan diri sejenak dari kekalutan hatinya.


“Sini saya lihat muka kamu” kata Dano mengelus rambut Laras.


“Aku capek, aku pengen jujur ke Tante Marinah, tapi sulit”


“Kamu mau saya bantu?”


“Enggak.” Geleng Laras menolak, kali ini ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Laras tidak bisa membayangkan jika Dano ikut campur, bisa-bisa Marina kena serangan jantung karena ide gila cowok itu. Cukup Angga saja yang dibuat Dano darah tinggi.


“Kalo kamu butuh saya, bilang aja, saya siap” kata Dano nyengir lebar.


“No, seandainya kamu dilahirkan kembali dan bisa nentuin hidup kamu. Kamu mau hidup kayak gimana?”


“Kayak gini. Saya senang sama hidup saya sekarang” jawab Dano.


“Aku enggak”


“Yakin?”


Laras mengangguk. “Aku bersyukur dengan hidup aku, tapi ada situasi dimana aku berharap aku bisa hidup dengan bebas menentukan pilihanku sendiri. Jujur, setelah ketemu kamu aku jadi tahu kalau kebebasan itu mahal harganya, apalagi untuk perempuan seperti aku.


Aku ingin bebas pergi kemanapun yang aku mau, pakai pakaian yang aku suka, berteman dengan siapapun, dan hidup dengan keputusan sendiri tanpa takut menyesal atau gagal. Aku benci banget dengar kalimat 'kalo nggak ngikutin kata saya, kamu bisa gagal.' Aku pikir aku hanya ingin di support dengan sedikit kepercayaan, karena sebenarnya aku juga nggak bandel-bandel banget” kata Laras panjang lebar. Hatinya terlampau berat, membuat mulutnya bekerja lebih cepat merangkai kata untuk menyimpulkan perasaannya.


Dano menatap Laras seksama, ia tahu cewek itu baru saja melewati garis yang selama ini ia ciptakan. Perasaan sayang terbesit dalam hati Dano. Bagaimana seandainya jika ia membawa cewek ini pergi? Memberikannya kebebasan yang selalu ia inginkan.


Laras mungkin akan merasa bahagia, tapi bagaimana jika di suatu waktu ia mengetahui seperti apa Dano sebenarnya? Apa Laras akan terus memimpikan kebebasan itu? Bagaimana jika ia malah pergi dan menghilang?


Kening Dano berkerut mengusir perasaan gundah di hatinya. Ia menarik Laras ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung cewek itu. Hanya itu yang bisa ia lakukan, karena dalam beberapa situasi tertentu, pelukan lebih menangkan dibanding kalimat verbal.


Laras membenamkan wajahnya ke dalam dada Dano. Tenang dan berdebar, sensasi perasaan yang begitu Laras nikmati. Seandainya Dano tahu Laras menyukainya apa yang akan terjadi? Apakah pelukan ini akan terus berlanjut atau mereka akan berpisah di persimpangan jalan?


“Dikehidupan selanjutnya aku mau jadi ikan” gumam Laras.


“Nanti saya nyiapin akuarium buat kamu, terus naruhnya di kamar saya, biar kita bisa interaksi tiap hari”


“Nggak mau, nanti aku lihat kamu ganti baju.”

__ADS_1


Dano melongo sejenak lalu tertawa kencang. Ia menyentil kening Laras pelan.


“Saya nggak mikir sampai kesana loh Ra.”


Laras nyengir, matanya menatap wajah Dano lekat-lekat. Tampan tanpa cacat adalah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan Dano. Laras baru menyadari bagaimana bisa cowok sekeren ini memeluk Laras? Apa di kehidupan sebelumnya Laras pernah menyelamatkan dunia?


Terbawa suasana Laras menarik wajah Dano mendekat. Laras mengecup bibir Dano, hanya sebentar dan setelah itu menundukan wajah menahan malu.


“Kan sudah saya bilang Ra, kalo ciuman yang bener”


“Aku malu” geleng Laras menolak mengangkat wajah. Dano tersenyum geli mengusap rambut Laras dan mencium keningnya.


Suara ketuk jendela terdengar, Laras buru-buru melepas pelukannya dari Dano sementara cowok itu mengambil pesanannya.


“Neng, besok kalo nikah abang yang dijadiin seksi konsumsi ya. Dijamin ketopraknya paling enak se-Indonesia” cerocos Abe sebelum Dano dan Laras melaju pergi.


Dano membawa Laras berkeliling sebentar, sampai ketika waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam mobil mereka baru berbelok ke arah rumah Laras.


“Besok aku nginep di rumah Angga”


“Buat apa?”


“Tante Marinah mau balik Singapura dan aku udah terlanjur janji.”


Dano diam, terdengar pelan helaan napasnya. Ketika mobil mereka berhenti tepat di depan rumah Laras, Dano mematikan lampu depan mobil. Tanpa diduga dengan gerakan cepat Dano memundurkan kursi Laras sampai tubuh cewek itu tersentak.


Tidak memberikan jeda, Dano mencium Laras. Ciuman agresif yang membuat Laras sedikit terkejut. Dano menarik tangan Laras agar melingkari lehernya. Ia seperti kesetanan tidak ingin memberikan jeda di antara mereka.


Ciuman Dano perlahan turun, bibirnya mengecup area leher Laras sementara tangannya sedikit membuka kancing atas kemeja cewek itu. Laras merintih, merasakan hisapan dan gigitan kecil di bawah lehernya. Tanda kemerahan muncul dimana-mana, beberapa muncul di area yang terbuka. Tapi Dano tidak peduli, ia sengaja. Warna merah ditubuh Laras akan menjadi tanda bahwa ia milik seseorang.


Dano ingin Angga tahu itu.


“Ra….” panggil Dano mengakhiri aksinya. Laras mendongak dengan tampang cengo, terlalu sulit bagi Laras untuk mencerna sikap Dano tadi.


Dano cemburu? Atau ini hanya sekedar ciuman biasa?


“Kamu itu milik saya. Dan apa yang menjadi milik saya harus tetap untuk saya. Saya nggak suka berbagi dengan orang lain” kata Dano jelas.


Laras menelan ludah, apa ini berarti ia boleh sedikit berharap pada cowok itu?


...*****...


Dano benar-benar berniat untuk membuat Laras kesulitan dan canggung di depan Marinah. Beruntung sepanjang hari tidak ada satupun perkataan Marinah mengenai leher Laras, bahkan Laras berani berasumsi Marinah tidak ngeh karena warnanya sedikit tersamarkan oleh bedak.


“Ra, kamu tidur diatas, saya di bawah.”


Laras mengangguk, ini pertama kalinya setelah sekian lama ia menginjakan kaki di kamar Angga. Tidak ada yang berubah, bahkan foto Laras bersama Angga masih terpajang di rak gitar milik cowok itu.


Laras sempat mengambil secarik foto dirinya dan Angga saat Laras untuk pertama kalinya menginjakan kaki di Jakarta. Senyum Laras muncul, penampilan Laras dulu lucu sekali. Rambut pendek sebahu, baju hijau, celana biru muda, dan sepatu kets abu-abu. Berbeda dengan Angga yang hanya mengenakan jeans dan hoodie. Laras dalam foto itu terlihat seperti fans yang sedang bertemu idola.


“Aku dulu kacau banget,” tawa Laras geli berbaring di atas tempat tidur. Angga mendongak sedikit mengintip foto ditangan Laras lalu ikut tersenyum geli.


“Itu waktu pertama kali kita ke dufan” kata Angga.


Laras ingat, seminggu kedatangannya dari Surabaya Angga mengajaknya pergi ke dufan. Menyenangkan, karena itu untuk pertama kalinya Laras bisa jalan-jalan sepanjang hari, bahkan hampir sampai tengah malam ia baru pulang ke rumah.


“Inget nggak waktu kita pertama kali ketemu? Aku syok lihat kamu” kekeh Laras melongok ke bawah.


Saat itu Laras mendengar kabar akan bertunangan dengan Angga dan hanya bisa menebak-nebak seperti apa tampang cowok itu. Satu-satunya foto pegangan Laras adalah foto kecil Angga bersama Ibu Liem, di foto itu Angga gendut dan lucu sekali. Laras berpikir mungkin Angga tidak jauh berbeda dari foto. Tapi ketika bertemu, Laras melongo, Anga tampan, jauh lebih tampan dari Yono, anak Pak RT kebanggan kampungnya yang digadang-gadang mampu menaklukan ketampanan model ibu kota. Gaya Angga kalem, tenang, sopan berhasil membuat Laras mendadak tidak pede. Cowok itu sempurna sekali.


Tapi itu dulu. Ketika Angga masih menjadi dunia Laras.


Sekarang semua berubah dan bagi Laras ada banyak Angga diluar sana yang jauh lebih baik atau lebih buruk dari cowok itu.


“Kenapa syok? Aku enggak makan orang” kekeh Angga mendongak.


“Kamu itu orang asing dengan dunia yang terlampau berbeda dari duniaku dulu”


“Karena itu kamu setuju dengan perjodohan kita?”


Laras angkat bahu menaruh kembali foto itu di atas meja. Untuk sesaat keduanya terdiam sampai terdengar helaan nafas Angga.

__ADS_1


“Kalau seandainya kita kembali seperti dulu….menurut kamu gimana?”


“Seperti dulu….” gumam Laras. Dulu dalam kamusnya adalah ketika ia sangat mempercayai, memuja, dan menjadikan Angga pusat dari kebahagiannya. Dulu berarti kembali sebagai Laras dengan dunia membosankan. Dulu…..dalam sedetik kata itu menjadi mimpi buruk bagi Laras.


Angga meraih tangan Laras, keduanya bertatapan untuk waktu lama. “Aku nyesal selingkuh dari kamu. Aku bodoh, dungu, brengsek. Tapi aku masih berharap ada kesempatan kedua untuk aku dan hubungan kita kembali seperti dulu”


“Kembali seperti dulu…..tapi kamu yang biarin aku pergi” balas Laras.


“Kalo aku minta kamu kembali kamu mau?” tanya Angga pelan sekali.


“Enggak.” Laras menggeleng menolak. “Aku sayang kamu, tapi aku nggak mau kamu nyakitin aku dua kali.”


Itu adalah isi hati Laras. Baginya menyayangi seseorang hanya bisa dilakukan tanpa harus memiliki orang itu. Lagipula kembali kepelukan seseorang yang telah menyakitinya adalah perbuatan bodoh karena cinta.


Laras menyanyangi Angga, tapi ia tidak mencintai cowok itu. Sayang dan cinta adalah dua kata untuk perasaan yang berbeda. Lagipula hati Laras kini telah menuju pada orang lain.


...*****...


Sebelum ke Singapura Marinah mendadak ingin makan pepes ikan. Makanan favorit yang selalu ia cicipi setiap kali datang ke Indonesia. Menurut Marinah pepes ikan buatan Ratih adalah yang terenak dan pasti buatan Laras tidak akan jauh berbeda dari racikan ibunya. Terpaksa sepanjang siang Laras harus terjebak berdua bersama Angga mengulek bumbu pepes sementara Mbak Anas di belakang menjemur pakaian.


“Kenapa nggak blender aja?” keluh Angga. Matanya sedikit berair karena harus mengulek bawang merah. Laras berpaling, sejenak cekikikan geli melihat tampang Angga.


“Kalo di blender rasanya beda”


“Beda gimana? Lambung nggak bakal peduli hasil blender atau enggak, yang penting ada makanan masuk”


“Tapi lidah mama kamu peduli dengan rasa” balas Laras nyengir.


Angga berpaling, perasaannya meletup-letup bahagia ketika melihat Laras tersenyum. Kapan terakhir kali Laras tertawa karena dirinya? Yang bisa Angga ingat adalah wajah cemberut Laras setiap melihat dirinya. Terutama sejak pertengkaran mereka di pesta Alea.


“Ra udah nih”


Laras berpaling sejenak. “Kurang halus.”


Angga mencibir kembali mengulek, matanya benar-benar terasa perih.


“Bentar aku yang lanjutin, kamu bantuin aku potong tomat aja. Aku mau buat sambal” tawa Laras geli.


Angga mengangguk buru-buru berlari ke wastafel untuk mencuci muka.


“Mata kamu merah banget”


“Iya. Habis kerasukan banteng PDIP” jawab Angga asal, tanpa disangka Laras tertawa ngakak.


Angga termangu, Laras benar-benar sangat berbeda, bukan hanya dari luar tapi juga dari dalam. Laras tidak lagi kaku atau bersikap formal seperti dulu, ia menanggapi candaan Angga, tertawa tanpa malu-malu atau bahkan sesekali mengejek cowok itu.


Rasa sesal perlahan merayap naik di dada Angga. Bagaimana bisa ia melepas Laras begitu saja? Seandainya Angga memilih untuk tetap bersama Laras pasti perasaan ini tidak akan pernah muncul. Angga mungkin akan merasa bahagia. Memiliki seseorang yang sempurna di sisinya adalah impian Angga dan Laras memiliki itu.


“Awh!” Angga berteriak. Lamunannya membuat salah satu jarinya teriris pisau. Laras berpaling, wajahnya langsung berubah khawatir.


“Tahan bentar aku ambil obat”


“Udah Ra, ini cuman luka kecil” teriak Angga namun Laras sudah menghilang mengambil kotak P3K.


Ketika kembali keduanya duduk di lantai. Laras meniup-niup jari Angga sembari mengobati luka cowok itu. Angga menatap Laras lekat-lekat dengan perasaan sesal, cewek ini adalah seseorang yang telah ia rusak hatinya.


“Ra…..”


“Sakit ya? Tahan bentar.”


Tangan Angga menarik Laras dan kepalanya bersandar di bahu cewek itu. Laras tersentak, tapi helaan nafas Angga membuat Laras menahan diri. Tidak lama setelah itu Laras bisa merasakan isakan kecil. Laras semakin terkejut.


Untuk pertama kalinya Laras melihat Angga menangis dalam rasa putus asa. Tanpa sadar tangan Laras terangkat naik menepuk-nepuk punggung Angga. Sebrengseknya cowok itu, tetap saja ia pernah menjadi bagian dari hidup Laras.


Ditengah suasana yang begitu membingungkan bagi Laras, Marinah muncul, ia termangu menatap Laras dan Angga kemudian senyumnya mengembang lebar.


“Ya ampun, bukannya masak malah pacaran disini” goda Marinah.


Laras dan Angga sama-sama mendongak sedikit salah tingkah.


“Kenapa mata kamu merah? Habis nangis dimarahin Laras ya?”

__ADS_1


“Iya Mi” angguk Angga pendek membereskan isi kotak P3K.


“Kalian habis lulus nikah aja ya? Mama suka ngeliatnya” kata Marinah, Laras jadi bengong.


__ADS_2