Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 3. Perkara Partitur


__ADS_3

Pukul satu siang Ayu baru selesai membereskan kamar Heru. Entah dimana pemiliknya berada, tapi sekarang kamar itu terlihat lebih rapi dari sebelumnya. Ruang kamar Heru jauh lebih besar dari rumah Ayu. Kamar Heri dominan berwarna putih dan abu-abu, di sudut ruangan terdapat rak besar berisi berbagai koleksi Heru, mulai dari robot, mobil, sampai lensa kamera tertata rapi di situ. Lucu sekali. Bahkan Adit saja sudah berhenti memainkan mainan seperti itu sejak lulus SD. Di kamar Heru juga terdapat berbagai alat musik, mulai dari gitar, suling, sampai biola tergeletak di dekat pintu bersama kertas yang berceceran disana-sini. Kamar tidur Heru terbagi menjadi tiga bagian. Toilet, tempat tidur utama, dan satu ruangan lagi bertuliskan genius studio. Dari cerita Ningsih, ruangan itu adalah tempat yang digunakan Heru untuk menyalurkan hobinya.


“Hobinya banyak Yu. Main musik, ngegambar, ngegame. Bahkan bulan kemarin sampai ngegambar di dinding belakang. Tuh disitu, tapi lagi dicat putih, kata Mas Heru dia udah bosan sama gambarnya, jadi mau ngegambar baru lagi. Pokoknya aneh-aneh lah Yu, tapi mending gitu sih daripada ngomel-ngomel ke kita.”


Ayu mengintip sekilas ke arah dinding di halaman belakang, dinding berwarna putih baru selesai dicat kemarin sore oleh Toto, sebelumnya ada gambar kartun besar disitu tapi kini terlihat seperti dinding baru.


 


“Yu..Yu…kamu dicariin Mas Heru.” Dini muncul tergesa-gesa, ekspresinya ngeri seperti baru melihat setan di siang bolong. “Wah Yu, mampus! Kamu apain kamarnya? Lagi ngamuk-ngamuk sekarang!”


 


Ayu terpenjat, mendadak tubuhnya langsung panas dingin. Kening Ayu berkerut mencoba mengingat lagi apa kesalahan yang telah ia lakukan. Tapi sekeras apapun Ayu mencoba, ia tidak merasa telah melakukan suatu kesalahan fatal. Tugasnya membersihkan kamar Heru dilakukan sama seperti hari-hari biasa.


 


“Buruan Yu disamperin. Ngeri aku dengerin Mas Heru marah-marah. Wah Yu habis kamu!”


Ayu menelan ludah, takut-takut kakinya melangkah menaiki tangga menuju kamar Heru. Tubuh Ayu semakin panas dingin, rasanya seperti sedang menuju kerajaan setan.


   


“Mas Heru nyari saya?” tanya Ayu pelan sekali.


Heru berpaling, wajahnya memerah terlihat sangat kesal karena sesuatu.


“Lu yang rapiin partitur di atas keyboard?”


“I-iya mas?…” Ayu gugup me dadak teringat perkataan Heru kemarin. 'Jangan sentuh partitur di atas keyboard!'


Deg. Ayu jelas baru saja melakukan kesalahan. Ia begitu semangat merapikan ruangan itu sampai melupakan perintah Heru. Terlebih lagi ada satu permasalah Ayu, ia tidak tahu Heru menyebut organ dengan kata keyboard dan tumpukan kertas coretan itu adalah partitur.


“Lu bisa kerja nggak sih? Perkara gini doang bikin gue repot! Kalo gue bilang jangan disentuh ya jangan! Lu kalo nggak bisa kerja, resign sana!” semprot Heru jengkel.


Ayu menunduk takut, ini pertama kalinya ada orang yang berteriak sekencang ini padanya. “M-maaf mas, saya enggak tau kalo itu namanya partitur......Maafin saya Mas Heru.”


Heru mendengus mengeluarkan ponsel menelepon seseorang. “Gue telat datang, partitur gue keacak, harus gue urutin dulu”


“.....”


“Iye tau, masalahnya nggak gue kasih nomor urut. Udeh diem lu, sejam lagi gue kesitu” kata Heru. Aneh karena nada bicaranya jauh lebih tenang dibanding berapa detik lalu.


“Ngapain lu masih disitu?” kata Heru setelah selesai menelepon, matanya menatap Ayu tajam seakan ingin meIumat habis cewek itu.


“S-saya-”

__ADS_1


“Sana pergi, malas gue ngelihat muka lu” usir Heru ketus. Ayu mundur takut-takut, tepat setelah tubuhnya keluar dari kamar Heru langsung membanting pintu membuat jantung Ayu seakan ingin meloncat keluar. Mata Ayu berkaca, ia turun dari lantai dua dengan ekspresi lemas.


“Diapain kamu Yu?” tanya Dini saat Ayu tiba di dapur. Runtuhlah pertahanan Ayu, cewek itu menangis sesegukan memeluk Ningsih. “Udah Yu, emang lagi bete orangnya” kata Dini menepuk-nepuk punggung Ayu.


“Kemarin aku sempat dengar Mas Heru berantem sama Pak Henry ditelepon. Lagi apes kamu Yu jadi pelampiasan”


“Aku enggak tau mbak kalo partitur itu maksudnya kertas lagu, terus kalo di kampung enggak ada yang bilang keyboard, kami nyebutnya organ!” isak Ayu sedih. Ningsih dan Dini saling berpandangan lalu tersenyum kecil.


“Yu, mulai besok kamu belajar Bahasa Inggris aja. Ngapalin nama-nama benda di rumah ini pake Bahasa Inggris, biar enggak salah lagi” hibur Ningsih.


“Iya Yu bener, nanti aku pinjemin kamus Bahasa Inggris aku. Udah Yu enggak usah lama-lama nangisnya, kalo didengar Mbok Raya malah kamu yang dimarahin. Aku juga dulu pernah dimarahin kok Yu, sama persis kejadiannya kayak kamu” tambah Dini kasihan.


Ayu mengangguk menyeka air matanya, selanjutnya seakan tidak terjadi apapun Ayu kembali bekerja, meskipun wajahnya sedikit memerah karena menangis. Dalam hati Ayu berjanji, ini akan jadi pertama dan terakhir kalinya Ayu menangis di rumah ini.


...----------------...


Sejak kejadian itu Ayu jadi semakin rajin belajar bahasa Inggris, berbekal kamus dari Dini dan catatan Ningsih, Ayu sudah mulai menghapal banyak nama benda di rumah. Menurut Ningsih tidak ada salahnya bagi Ayu untuk belajar, selain meminimalisir kesalahaan yang sama, Ibu Evangelin istri Pak Henry sering menggunakan Bahasa Inggris saat berkomunikasi.


“Dulu waktu Ibu Eva kesini, aku mati kutu Ra, disuruh ngambil sugar aku diem aja. Untung cuman diketawain” cerita Ningsih “Aku niatnya mau kerja malah jadi belajar. Padahal sekolah enggak selesai.”


Ayu jadi semakin semangat untuk belajar. “Sofa sofa, meja table, jendela window…” gumam Ayu menghapal sambil menyiram tanaman. “Garam salt, jahe ginger, jeruk orange, apel apel, anggur grape, piring-”


“Plate.”


Ayu berpaling terkejut, Brandon teman Heru yang datang tempo hari berdiri di sampingnya tanpa menyapa. “Mas Herunya lagi keluar Mas” kata Ayu tanpa basa-basi. Brandon angkat bahu malah tetap berdiri di samping Ayu.


“Flower”


“Pohon?”


“Tree”


“Langit?” Ayu diam, kosa katanya belum sampai sana. “Sky” kata Brandon. Ayu mengangguk-angguk mengeluarkan buku kecilnya dan mencatat apa yang diucapkan cowok itu.


“Tulisannya gini?”


“Iyaps, betul sekali. Kenapa lu tiba-tiba belajar bahasa Inggris? Mau persiapan kuis tujuh belasan?”


“Biar nggak dimarahin Mas Heru” geleng Ayu lugu menceritakan insiden partitur beberapa waktu lalu, Brandon terbahak geli.


“Ya ampun Yu, polos banget lu”


“Salah saya mas. Harusnya saya catet perintah Mas Heru”


Brandon nyengir lebar. “Tapi gue baru tau Heru suka marah-marah, gue kira sabar kayak malaikat.”

__ADS_1


Ayu mencibir membuat Brandon kembali tersenyum geli. Ayu terlihat mirip Laras yang polos, bedanya Laras punya dua penjaga galak kayak setan, jadi Laras lebih sulit untuk digoda.


“Besok-besok kalo Heru ngamuk lagi lu lapor gue aja, biar gue hajar dia”


“Eh jangan mas, entar makin panjang, malah saya yang dipecat”


“Yaudah kalo gitu nanti gue peluk Heru biar amarahnya hilang.”


Kening Ayu berkerut bingung, tatapan matanya pada Brandon berubah menilai. “Mas Brandon sama Mas Heru itu….”


“Canda Yu, yakali gue meluk Heru”


“Oh kirain....”


“Pikiran lu” kekeh Brandon menyentil pelan kening Ayu.


“Mas Brandon masuk aja ke dalam, saya mau lanjut kerja”


“Sini gue bantuin” kata Brandon malah mengambil selang air tanpa bisa dicegah Ayu. Tidak menunggu waktu lama kedua orang itu sudah mengobrol akrab. Brandon ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang Ayu kira. Cowok bertato itu mengaku hobi mendengarkan lagu dangdut membuat Ayu tertawa tidak percaya.


“Jangan bilang siapa-siapa ya Yu, tapi gue punya satu box kaset Ikke Nurjana, warisan dari nyokap”


“Masa sih mas? kok enggak kelihatan?”


“Karena tato gue? Ya namanya juga selera” jawab Brandon santai. “Lu suka apa Yu?”


“Saya? Hmm…saya suka nonton orang menghias kue, mas tau youtube channel Chef Athena enggak? Saya sering nonton di ponselnya Mbak Ningsih” cerita Ayu mengebu-gebu. Brandon mengangguk, matanya menatap Ayu seksama, cewek itu terlihat senang saat menceritakan kesukaannya.


 


“Brand, nunggu lama ya?” Keduanya berpaling, Heru muncul dengan baju dan bola basket.


“Habis latihan lu?”


“Iya. Yuk masuk. Yu tolong bawain soft drink, yang dingin” pintah Heru tanpa basa-basi.


“Gue duluan ya Yu” kata Brandon melambaikan tangan dan melangkah pergi bersama Heru.


Ayu buru-buru menaruh selang lalu berjalan tergesa-gesa menuju dapur, ia tidak ingin lagi melakukan kesalahan yang menyebabkan murka Heru datang. Tapi, Ayu tertegun saat membuka freezer, ia tidak mengingat arti soft drink. Ayu mencoba mencari di kamus dan yang ia dapatkan adalah kata ‘minuman ringan.’


“Yang mana ya?” gumam Ayu mengubek-ngubek isi freezer, ada banyak minuman kaleng disitu tapi tidak ada satupun bertuliskan soft drink. Tanpa terasa hampir dua puluh menit Ayu tidak kunjung mendapatkan apa yang diminta Heru, kepalanya mendadak pusing sampai tidak menyadari Heru muncul dari belakang.


“Lama banget Yu.”


Ayu berpaling dengan ekspresi takut, ia menelan ludah mencoba untuk tetap terdengar tenang. “Enggak ada soft drink mas.”

__ADS_1


Heru maju mendekat. “Ini apaan? Buta lu? Masa ngambil gini doang harus gue ajarin sih? Sekalian aja makan lu gue suapin. Udah sini gue aja!” ketus Heru kasar mengambil minuman kaleng dari tangan Ayu lalu tanpa berkata apapun lagi ia melangkah pergi. Ketegangan Ayu sirna, tanpa sadar bibirnya mencibir saat Heru sudah menghilang dari balik pintu.


“Mana aku tau itu soft drink, tinggal bilang minta fanta apa susahnya sih?”


__ADS_2