
Laras mengayunkan raketnya kencang, ia berlari kesana kemari berusaha membalas smash Dano. Napas Laras tersenggal-senggal, wajahnya mendongak menatap Dano, cowok itu terlihat jauh lebih serius saat sedang latihan.
“Aku mau istirahat bentar.” Laras angkat tangan dan duduk di pinggir lapangan.
“Permainan kita udah oke kok, harusnya ada kesempatan buat menang, kalo nggak menang juga nggak papa. Paling saya ajak berantem anak-anak” kata Dano menyodorkan air mineral.
Laras meneguk airnya sampai setengah. “Ini akal-akalan kamu kan biar kita bisa berduaan?”
Dano nyengir lebar dan mengangguk jujur. “Habis kamu sama Manda Amel terus sih, saya jadi dilupain. Salah kamu” kilah Dano membela diri.
“Kalo Samuel Manda? Itu ide Samuel juga?” tanya Laras mau tahu.
Dano angkat bahu. “Coba tanya Udin. Hasil tim kan murni dari undian”
“Semi murni, soalnya kamu sama aku. Aku yakin kamu nyogok Udin” koreksi Laras, ia memijat-mijat lengannya yang mulai terasa pegal.
“Amel masih suka sama Samuel?” tanya Dano.
“Harusnya masih. Tapi kayaknya udah mulai move on, makanya waktu tau Amel setim sama Samuel aku jadi kasihan. Gimana mau move on kalo ketemu tiap hari?”
“Kalo cinta biarin aja ngalir” balas Dano berbaring di lantai.
“Tapi cinta sama tunangan orang enggak dibenarkan!”
“Calon tunangan” koreksi Dano. “Harusnya Amel berguru sama saya, testimoninya jelas.”
Laras menyepak pelan kaki Dano sampai cowok itu tertawa geli. Dulu pertunangan Laras seperti problematika yang rumit, namun sekarang malah menjadi lelucon di antara kedua orang itu.
“Kamu kalo depan Amel diem-diem aja ya, biarin aja mereka berduaan, jangan dipancing. Kasihan Amel. Biarin Amel move on”
“Nggak mau Ra. Bakalan saya cie-ciein mereka, kalo perlu saya ribut biar mereka balikan” geleng Dano bercanda.
“Aku jahit mulut kamu”
“Ooooh, mainnya pake kekerasan ya sekarang” balas Dano lalu tertawa bersama Laras.
“Ngomong-ngomong, aku ikut panita cabutan HIMA. Setelah aku cek, poin syarat sidangku dari organisasi masih kurang” cerita Laras. “HIMA mau ngadain bazar kue di acara ulang tahun kampus nanti. Ketuanya Manda, aku dan Amel ikut ngebantu”
“Terus?”
“Terus….Kamu harus bantuin aku buat promosi”
“Kalo itu mah tanpa kamu minta juga akan saya lakuin Ra”
__ADS_1
“Promosi kali ini bukan sekedar ngomong, kamu harus maksa orang biar beli kue dari bazar. Hima lagi butuh dana untuk acara akhir tahun. Kamu kan ahli kalo maksa-maksa orang”
“Iya sayangkuuu, akan saya lakukan apapun yang kamu mau”
“Bagus” ujar Laras senang, ia memukul kok ke tengah lapangan.
“Si Heru jadinya sama siapa? Kok dia kayak adem ayam aja? Apa Heru nggak jadi ikut?”
“Heru sama Ayu”
“Yang waktu itu bantuin kamu buat kue?"
“Iya. Ayu seumuran sama kita Ra, kayaknya sih bahkan lebih muda dari kamu. Anaknya baik, sayangnya dapat majikan kayak Heru”
“Bisa aja kamu”
“Terus daripada ngabisin masa muda dengan bekerja mending si Ayu ikut tanding badminton, lumayan bersenang-senang melepaskan stres karena Heru”
“Tapi latihannya sama Heru juga. Stresnya makin nambah dong” senyum Laras geli.
“Mereka udah latihan Ra. Kita bertiga termasuk Udin dilarang main ke rumahnya, katanya takut kita ngelihat strategi mereka. Kemarin waktu diajak malas-malasan, sekarang ngatur taktiknya ngalahin pelatih profesional” lapor Dano julid. Laras ketawa ngakak.
“Yuk latihan lagi, biar bisa ngalahin taktiknya Heru” kekeh Laras berdiri dan menarik Dano pelan.
...----------------...
“Yu, lu udah bisa jadi atlet” puji Heru saat satu bola smash Ayu masuk, mereka kemudian beristirahat sejenak.
“Mau daftar jadi atlet nggak?”
“Kalo saya jadi atlet siapa yang bersihin kamarnya Mas Heru?” jawab Ayu lalu mengambil air mineral dingin.
“Bisa aja lu Yu.” Heru berbaring di lantai. Tanpa terasa hampir sebulan mereka berlatih dan permainan sudah jauh lebih berkembang, mungkin ini saatnya Heru berlatih di lapangan badminton beneran. Heru juga berencana untuk menyewa pemain lain agar mulai membiasakan Ayu bermain setim dengannya.
“Yu…” panggil Heru tapi tidak dijawab Ayu. Wajah Heru mendongak mendapati Ayu memejamkan mata dengan kipas elektrik mini diarahkan ke wajahnya. Heru diam, sekarang saat memperhatikan Ayu seperti menjadi kesenangan tersendiri bagi Heru.
Tanpa sadar bibir Heru menyunggingkan senyum. Tanpa celemek, baju, dan rok panjang, Ayu itu manis sekali. Tubuhnya mungil dengan rambut kuncir kuda yang sedikit berantakan membuat. Heru berusaha keras menahan dirinya untuk tidak merapikan rambut Ayu. Udah gila! geleng Heru kasar buru-buru membuang pikiran aneh itu.
“Ingat Danella, ingat Danella....” gumam Heru pelan.
Danella itu cantik, modis, dan pintar, tidak ada yang bisa mengalahkan pesona cewek itu!
Kalau Ayu? Heru sendiri tidak pernah melihatnya mengenakan make-up, tapi tanpa make up saja cewek itu terlihat manis. “Udah gila!” teriak Heru tanpa sadar membuat Ayu berpaling terkejut.
__ADS_1
“Mas Heru kenapa?” tanya Ayu heran. Heru geleng-geleng kepala ia bangkit duduk.
“Capek ya mas? Ini diminum.” Ayu menyodorkan sebotol air mineral dingin.
“Perhatian banget lu Yu, kayak asisten pribadi” kata Heru basa-basi.
Kening Ayu berkerut lalu tertawa geli. “Lah saya kan emang asisten rumah tangga, gimana sih mas”
“Oh iya lupa” kata Heru memalingkan wajah. Tawa Ayu membuat pipi Heru mendadak bersemu kemerahan. Kok Heru jadi salah tingkah sendiri ya? Apa efek capek karena latihan seharian? Ponsel Heru berbunyi, ada pesan masuk dari Udin. Jadwal pertandingan sudah ditentukan begitu pula dengan lawan masing-masing.
“Kita lawan Manda dan Brandon. Bisalah Yu menang, minimal kita masuk final” kata Heru semangat.
“Ini harus banget ya menang?” tanya Ayu malah tidak bersemangat. Sudah bisa dibayangkan seribu omelan Heru seandainya mereka tidak menang.
“Kenapa Yu? kok belum mulai udah mau nyerah gitu?”
“Seandainya kita kalah gimana mas?” tanya Ayu serius menelan rasa takutnya bulat-bulat. Heru menatap seksama, ekspresi memelas Ayu justru membuat Heru setengah mati menahan diri untuk tidak menaruh tangannya di atas kepala cewek itu.
“Seandainya kita kalah? Hmmm….gimana ya? Kayaknya kamu jadi nggak punya kesempatan buat dapat voucher makan gratis di restorannya Varo. Voucher makan gratis sebulan lagi” kata Heru, ia mengetik sesuatu di google lalu menunjukan pada Ayu.
“Ini restorannya.”
Mata Ayu membulat tidak percaya. “Ini hadiahnya mas?”
“Iya”
“Yang bener?”
“Ya masa gue bohong Yu. Gue sih nggak masalah kalo kalah, cuman elu yakin mau ngelewatin kesempatan ini?”
Voucher makan gratis….Ayu mulai menimang-nimang, seandainya ia menang sudah pasti Ningsih akan menjadi orang pertama yang Ayu ajak makan disitu. Selama ini selalu Ningsih yang berbaik hati mentraktir Ayu, meskipun hanya semangkuk bakso di depan rumah.
“Vouchernya bisa ngajak orang lain kan mas?”
“Iya. Maksimal dua orang.” Senyum Ayu langsung mengembang lebar, mendadak ia menjadi dua kali lebih bersemangat dari Heru. “Jadi gimana Yu?” Ayu mendongak menatap Heru lekat-lekat, perubahan ekspresinya begitu cepat membuat Heru tidak bisa menahan senyum geli. “Yu…Ayu, giliran makan aja cepat” geleng Heru.
“Kan kalo Mas Heru sering makan di tempat-tempat kayak gitu, saya belum pernah. Mulai sekarang saya akan latihan lebih keras lagi mas, biar kita menang” jawab Ayu serius.
Heru nyengir lalu mengangguk. Ponsel Heru berbunyi lagi, kali ini adalah panggilan masuk dari Danella. “Kenapa?”
[Kamu dimana? bisa jemput aku enggak di Plaza Indonesia?]
Heru melirik ke arah jam dinding, pukul setengah tujuh sore. “Iya, aku otw” kata Heru lalu mematikan sambungan telepon. “Latihannya sampai disini aja Yu, gue ada urusan mendadak.”
__ADS_1
Ayu mengangguk lalu bangkit berdiri sembari meneguk air mineral, belum sempat kakinya melangkah keluar tangan Heru iseng meremas botol, membuat airnya menyembur keluar membasahi wajah Ayu.
“Usil banget!” dengus Ayu kesal menatap Heru menjauh dengan tawa geli.