
Perkelahian Laras dan Sera di waktu itu membuat Laras menjadi lebih terkenal, terutama di antara kalangan anak-anak srikandi. Laras yang dulu dikenal sebagai 'cewek yang dikejar Dano' kini berubah menjadi 'cewek korban perselingkuhan.' Banyak simpati datang untuknya, terutama dari kaum cewek dan yang pernah menjadi korban orang ketiga.
Laras disebut sudah cukup bersabar, namun Sera justru terus mengusik kehidupan Laras, meskipun saat ini Laras sudah bersama Dano. Decakan pujian untuk Laras sering terdengar.
Berbanding terbalik dengan Laras, Sera justru mendapatkan batunya. Reputasi cewek itu menjadi buruk, dicap sebagai perusak hubungan orang membuat Sera harus berusaha keras memasang wajah batu setiap kali masuk ke dalam ruang srikandi dan berhadapan dengan cewek-cewek srikandi.
“Kemarin Sera adu mulut sama Caca” cerita Amel membuka percakapan mereka di siang hari setelah selesai kelas pagi. “Caca dari dulu benci Sera, cuman baru dapat momen yang tepat buat berantemnya sekarang”
“Terus siapa yang menang?”
“Seralah. Biarpun reputasinya udah jelek dikalangan cewek-cewek srikandi, tapi tetap aja antek-antek dan penggemarnya bakal belain dia. Lagian Sera tuh kalahnya cuma sama Laras aja. Iya nggak Ra?” kekeh Amel geli. Laras mendengus melahap bakso.
“Aduh nyesel banget gue nggak ada disitu. Katanya Yohan sampai berhenti nari, saking serunya ngeliat Laras dan Sera berantem” sesal Manda.
“Udah ah nggak usah diinget-inget. Aku aja nyesel udah buat keributan, aku harus minta maaf sama Heru”
“Selow Ra. Heru juga kehibur. Setelah lu berdua selesai berantem, partynya tetap lanjut” balas Amel.
“Btww Ra, untung lu nggak dituntut sama Sera. Lu nyerang duluan kan?”
“Dia duluan. Verbal sih. Ya aku salah. Eh tapi nggak juga, dia yang mulai duluan” ujar Laras plin plan.
“Tenang aja Ra. Mana berani Sera nuntut ceweknya Valdano Radja. Bisa dicabut beasiswanya” kata Amel langsung dapat delikan sewot Laras.
“Ceweknya Valdano Radja, sembarangan kalo ngomong” protes Laras. “Emang Sera anak beasiswa mana?”
“Radja group lah. Lu tahu kan tiap tahun Radja group selalu buka beasiswa untuk murid berprestasi, namanya Radja foundation. Biar brengsek gitu, Sera pintar Ra. IPKnya empat. Bahkan kalo bisa lima, udah digas kali sama dia. Tapi ya itu, soal cinta rada goblok, makanya jadi selingkuhan” jelas Amel.
“Sepintar-pintarnya orang, bakalan goblok juga kalo urusan cinta” tambah Manda. Kedua temannya mengangguk setuju, kemudian membicarakan hal lain, kali ini tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Sera, melainkan liburan mereka ke Jogja.
“Seminggu dong. Masa tiga hari! Tiga hari mah buat ngeraut pensil! Eh, tahun depan libur hari raya dan buruh nggak bakal digabung kayak gini” ujar Amel menolak keras ide Laras untuk liburan tiga hari. Laras menghela napas dan berdasarkan suara terbanyak keputusannya adalah mereka akan ke Jogja seminggu.
...*****...
Laras menikmati liburannya. Selama hampir seminggu ketiga cewek itu menyusuri hampir setiap sudut Jogja, tempat yang dianjurkan google untuk dikunjungi sampai tempat yang tidak diketahui Laras, tentu saja itu berkat Amel yang sering bolak balik Jogja untuk liburan. Pada hari-hari terakhir mereka menginap di salah satu pantai di area gunung kidul, pantai yang cukup jauh dari pusat kota.
“Aduh bahagia banget bangun pagi dengar suara ombak” seru Manda bahagia dari luar balkon kamar penginapan, semalam mereka baru sampai penginapan sekitar pukul satu pagi.
“Kesana yuk” ajak Manda. Ketiganya kemudian turun menuju kafe di area belakang penginapan.
“Wherever we go, there's always someone who named Sera” bisik Manda geli ketika seorang cewek datang mendekati mereka, name tagnya bertuliskan Sera.
“Tunggu bentar ya, nanti diantar” ujar Sera tersenyum lebar dan berlalu pergi setelah menerima pesanan.
“Tapi Sera yang ini murah senyum” kata Laras, kedua temannya nyengir lebar.
“Siapa tuh cakep banget.” Amel bersiul ketika melihat seorang cewek keluar dari ruang dalam kafe dan membantu Sera. “Gue baru lihat ada cewek secakep itu. Kok bisa cakep banget?”
“Bisalah. Gen orang tuanya bagus berarti” ujar Manda. Mereka kemudian menghabiskan waktu hampir sepanjang hari di kafe, berenang di pantai, dan ketika malam memasang api unggun kecil di dekat pantai.
Laras memijat-mijat kakinya kelelahan, hangatnya api dan udara malam membaur menjadi satu. Laras merapatkan kain erat menunggu matangnya ikan di atas bara api.
“Gue senang disini, tenang” kata Manda menarik nafas dalam-dalam.
“Gue juga” sahut Laras. Ketiganya sama-sama terdiam memikirkan hal lain.
Laras memejamkan mata. Hari-hari kemarin yang begitu hiruk pikuk dalam sekejap menghilang begitu saja. Semua menjadi tenang, damai. Laras tidak ingin melakukan apapun sekarang, ia hanya ingin duduk mendengarkan suara ombak. Dalam kesunyian itu mendadak Laras bisa merasakan sesuatu dalam hatinya. Rindu.
Rindu pada seseorang yang sekarang berada jauh darinya.
Rindu pada seseorang yang tanpa sadar akhir-akhir ini menjadi alasannya untuk tertawa lepas.
Rindu pada seseorang yang membawanya masuk ke dalam dunia miliknya.
Rindu pada seseorang bernama Valdano Radja.
Deg.
Mata Laras sekejap terbuka, sembari memegang dada wajahnya lantas bersemu kemerahan menyadari jawaban atas kegelisahan hatinya.
“Kenapa Ra? Sakit jantung?” tanya Manda heran.
“Aku…..” Laras menelan ludah, menatap serius kedua sahabatnya. “Aku kayaknya suka sama Dano.”
Amel dan Manda berpandangan sejenak kemudian tanpa mengatakan apapun ketiganya hanya tersenyum satu sama lain dengan makna yang sama.
...***** ...
Seperti mimpi, keesokan harinya Laras terkejut ketika melihat Dano. Tentu saja cowok itu tidak sendiri, ia bersama Samuel, Heru, Brandon. Kelihatan keempat orang itu baru saja liburan dari tempat lain dan kemudian memilih menghabiskan liburan terakhir di tempat itu.
“Kok mereka disini?” tanya Laras seperti melihat setan di pagi hari.
“Sebenarnya waktu itu mau travelling bareng Ra. Cuman lu pasti nggak mau kalo diajak ke Labuan Bajo, jadi yaudah janjiannya ketemu di tempat ini” jelas Amel.
“Itu mah jangankan Laras, gue juga nggak mau. Liburan seminggu tapi jauh banget”
“Trus lu mau sebulan? KKN itu namanya” balas Amel, Manda nyengir. Laras menyesap es jeruk, ia hampir tersedak ketika melihat dua orang cewek berbikini datang menghampiri Dano cs.
“Good morning!!!!” Heru seperti biasa berisik. Ia tanpa canggung memangku salah seorang dari cewek tadi sementara yang lainnya duduk di antara Dano dan Brandon.
__ADS_1
“Heru baru putus” bisik Amel menjelaskan. Laras melemparkan tatapan takjub, sementara Manda seperti biasa nyinyir.
“Dasar cowok, baru putus udah aja ada dalam pelukan. Kalah sama Apin yang setia sama kucing tetangga!”
“Kenalin ini Alisa dan Reni” kata Heru memperkenalkan.
“Kemarin berarti barengan ya dari Labuan Bajo?” tanya Amel. Alisa mengangguk menggamit mesra Heru.
“Kalian anak kampus mana?” tanya Manda. Alisa dan Reni berpandangan lalu tertawa geli.
“Kita baru lulus SMA. Kebetulan diterima di kampus yang sama kayak kalian” jelas Reni.
Laras tersedak es jeruk.
“Pada mau pesan apa? Biar aku yang pesen” kata Laras basa-basi dan setelah itu membawa kertas pesanan milik teman-temannya.
“Hai. Meja nomor delapan tambah pesanan ini ya” Laras menyodorkan kertas miliknya. Cowok dengan name tag bertuliskan Johan tersenyum manis kemudian mengangguk.
“Entar dianterin”
“Nggak papa, aku tunggu disini” geleng Laras buru-buru. Johan angkat bahu masih tersenyum. Laras menarik kursi duduk di depan meja bar, ia lebih memilih memperhatikan Johan dibandingkan melihat Heru dan Alisa mesra-mesraan.
“Kamu dari Jakarta?” tanya Johan. Laras mengangguk.
“Aku juga”
“Kerja disini?”
Johan menggeleng. “Aku lagi magang disini, yang kerja di kafe temanku, cuman lagi ke kota, jadi aku gantiin sementara”
“Teman kamu namanya Sera?”
“Iya. Ada juga satu lagi, namanya Olivia”
“Oh aku taunya cuman Sera” balas Laras mulai rileks mengobrol dengan Johan. Cowok itu ternyata sangat menyenangkan, ia pintar dan tahu banyak hal, tipikal cowok tampan yang pekerjaan sampingannya makan ensiklopedia. Obrolan mereka semula hanya perkenalan biasa dan lama kelamaan berkembang lebih jauh. Cuaca, film, musik.
“Aku jarang ketemu anak seusiaku yang tahu Doel Sumbang, Nike Ardila.”
Johan ketawa. “Aku bahkan punya satu album asli milik Nike Ardila. Itu susah banget dapetinnya. Spotifyku juga isinya kebanyakan lagu-lagu dulu”
“Perkembangan teknologi bagus ya. Mempermudah mencari sesuatu”
“Tapi tetap aja, rasanya beda kalo punya album asli”
“Sombong” ujar Laras bercanda. Johan tertawa geli.
“Mas udah belum? Teman-teman saya udah mati kehausan disana” tanya Dano, ia bercanda tapi ada kesan tidak bersahabat dari matanya untuk Johan.
“Ini mas mau dianterin” balas Johan ramah.
“Biar saya yang bawa mas. Yuk Ra.” Dano mengambil napan dari atas meja dan beranjak pergi.
“Entar bagi playlist spotifynya ya” kata Laras disambut anggukan Johan.
“Hati-hati Ra entar diculik” kata Dano.
“Nggak mungkin lah, kurang kerjaan banget” jawab Laras nyengir, Dano hanya mendengus menaruh nampan di atas meja.
...*****...
Hari-hari terakhir Laras di tempat itu menjadi lebih menyenangkan. Kedatangan Heru Cs benar-benar menjadi hiburan tersendiri, keempat cowok itu cukup mahir untuk menjadi badut di antara sela-sela kegiatan mereka selama berada di pantai.
Tapi ada yang mengganggu Laras. Reni. Cewek cantik berambut pendek itu terlihat jelas sedang mendekati Dano. Tingkahnya cenderung manja seakan perlu perlindungan membuat Laras dan Manda kompak dian-diam sering memberikan tatapan risih satu sama lain. Dan Dano sendiri terlihat tidak canggung ataupun peduli, bahkan meskipun Reni sering memeluk lengannya erat.
“Ke kafe yuk Ra. Malas banget gue ngelihatnya, gatal banget” bisik Manda, hanya mereka berdua yang tidak berniat untuk berenang, sementara Amel sendiri terlihat sedang berselancar bersama Samuel.
“Ra bener kata Amel. Cewek itu cantik banget. Gue kalo jadi cowok, dia udah gue pacarin”
“Emang cewek itu mau sama kamu?”
“Pasti sih Ra. Soalnya gue kalo jadi cowok ganteng”
“Kalo dia nggak suka cowok ganteng gimana?”
Kening Manda berkerut lalu menyentil jidat Laras pelan. “Pertanyaan lu ribet kayak lagi debat capres.”
Laras ketawa geli. Mereka memesan minuman dan memilih duduk di kursi luar.
“Ra, gue ke atas bentar. Panggilan alam.” Manda buru-buru berlari kembali ke penginapan, Laras terkikik geli, untuk beberapa momen Manda terlihat sangat lucu dimatanya.
“Johan!” panggil Laras ketika melihat Johan muncul membawa sekardus bunga.
“Eh Laras, kok sendirian?”
“Temen aku lagi balik ke penginapan. Sisanya disana” tunjuk Laras kearah Heru Cs. “Jualan bunga bu?” lanjut Laras bercanda.
“Iya nih. Mau beli neng?” balas Johan menghampiri Laras, ia menarik kursi duduk di dekat cewek itu.
“Satu berapa?”
__ADS_1
“Buat neng gratis, soalnya sendirian. Kalo rame baru bayar.”
Laras nyengir menerima setangkai bunga dan disematkan di telinga kanannya. “Mau dibuat buket ya?”
“Iya. Pernah buat?”
Laras mengangguk. Johan langsung menyerahkan beberapa bunga kepada Laras. “Bantuin aku yuk buat bunga. Sekreatif kamu aja bentuknya gimana, buat nebus bunga di telinga kamu”
“Ih kirain gratis” kekeh Laras kemudian membantu Johan membuat buket sampai lima buah. Laras terlihat senang dengan hasil karyanya, sampai lupa bahwa Manda belum kembali sejak tadi.
“Jadi kamu itu pengen juga punya penginapan makanya mau magang disini?”
“Iya. Aku pengen kerja di tempat yang jauh dari keramaian. Capek juga kan tiap hari disambut macet?”
Laras mengangguk setuju lalu mengangkat buket bunga terakhir. “Kalo kamu udah punya penginapan dan butuh orang buat ngerangkai buket bunga, aku siap.”
Johan tertawa geli. Mereka lanjut mengobrol sampai kemudian seseorang datang tanpa permisi memeluk Laras dari belakang.
“Ra, kok disini? Kenapa nggak gabung?”
Laras mendongak, tampak rambut dan tubuh Dano basah sehabis berenang di pantai.
“Lihat nih, dikasih Johan, cantik kan?”
“Enggak” balas Dano pendek, Laras langsung mencibir.
“Johan!”
Johan berpaling, seorang cewek memanggilnya memberikan kode untuk masuk.
“Ra, makasih udah bantuin…..em…”
“Dano” kata Dano. Johan mengangguk merapikan buketnya ke dalam kardus.
“Teman kamu itu cantik banget” bisik Laras.
“Namanya Olivia. Cantiknya emang nggak normal”
“Emang ada cantik yang normal?”
Johan menatap Laras sejenak lalu tersenyum kecil. “Duluan ya Laras, Dano.”
Dano menarik kursi di dekat Laras. “Akrab banget kalian. Kayak lagi reuni sekolah”
“Johan itu magang disini, terus sering bantuin temannya juga. Ngomong-ngomong, Olivia cantik ya? Aku sama Manda suka curi-curi pandang ke arah dia”
“Hmm…” angguk Dano acuh tak acuh, tanpa permisi meneguk es lemon milik Laras.
“Aku nggak ikhlas kamu minum itu”
“Biarin, paling azabnya sakit perut” jawab Dano cuek. Laras menatap Dano lekat-lekat, ekspresi kagum terpancar dari sorot matanya. Kulit Dano agak kecoklatan, efek sering terkena sinar matahari selama liburan ini. Selain itu samar-samar otot yang terbentuk dan tatto di sekujur tubuh Dano membuat Laras tanpa sadar menelan liur, cowok itu seksi sekali.
“Kenapa nggak gabung Ra?” tanya Dano ulang membuyarkan lamunan Laras.
“Lagi nggak pengen kena air” jawab Laras menahan diri untuk tidak menyentuh perut Dano. Seksi banget!
“Bisa duduk di dekat pantai atau diatas batu-batu itu”
“Sendirian? Ih nggak mau, mending aku ngobrol sama Johan”
“Bisa ngobrol sama saya”
“Gimana mau ngobrol, kamu aja sibuk sama Reni. Nggak jago renanglah, takut bulu babi lah, ngerengek kayak anak kecil. Kalo kayak gitu ngapain masuk air?”
Deg.
Laras menggigit bibir, ia keceplosan mencurahkan kekesalannya.
“Apa Ra?” Wajah Dano menunduk dan terlihat senang mendengar perkataan Laras. “Cemburu ya Ra?” tembak Dano langsung. Wajah Laras berubah kemerahan menahan malu.
“Enggak, bukan urusanku juga kamu mau ngapain aja sama Reni” elak Laras salah tingkah. Dano ketawa geli mencubit kedua pipi Laras gemas.
“Kak Dano!”
Tanpa berpaling Laras langsung tahu itu suara Reni sedang berlari mendekat ke arah mereka.
“Kak, balik-” Reni terkejut bukan main ketika saat itu Laras menarik Dano dan mencium bibir cowok itu.
Laras memejamkan mata, ia menunggu sedikit sampai kemudian melepaskan ciumannya dan kembali berpaling. Reni mematung menatap mereka dan tanpa berkata apapun cewek itu balik badan lalu melangkah pergi.
“Kalo ciuman itu yang bener…” gumam Dano kembali menarik Laras.
Tubuh Laras sedikit menegang, sebelumnya ia mencium Dano karena instingnya ingin mengusir Reni dari situ. Tapi sekarang ia justru kembali terbuai dengan ciuman Dano, tubuh Laras perlahan menjadi rileks. Ciuman Dano lembut dan menyenangkan, harus Laras akui Dano mahir berciuman. Membuat Laras yang semula merasakan kecupan singkat, perlahan ingin lebih. Ia ingin memeluk erat Dano, menyentuh setiap jengkal tubuh cowok itu, memberikan tanda bahwa Dano hanya miliknya seseorang.
Deg.
Laras mendorong Dano. Wajahnya semakin bersemu kemerahan. Ia menunduk dan setelah itu tanpa bicara banyak Laras langsung melangkah pergi.
Dasar tolol! batin Laras merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1