Ms. Norak

Ms. Norak
Pupusnya Dewa 19


__ADS_3

“Laras!!!!!”


Laras terkejut ketika Amel dan Manda berlari masuk memeluk dirinya, kedua cewek itu menangis kencang seolah sedang menghadiri pemakaman Laras. Laras menepuk-nepuk punggung keduanya tenang, ia tahu Manda dan Amel pasti akan datang, tapi tidak menyangka keduanya datang tepat pukul satu malam.


Di luar mobil Dano terparkir, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pemilik. Jangan-jangan Dano dibuang ke tengah jalan? Laras ingin bertanya tapi suara serak Manda membuatnya memilih diam.


“Ra, gue tuh khawatir lu kenapa-napa. Kok lu nggak bilang? Gue nggak bakal lapor lu dimana sumpah!”


“Maafin aku ya. Saat itu aku nggak bisa berpikir apapun lagi selain kabur ke Dano”


“Iya Ra kita maafin. Tapi sampai kejadian kayak gini lagi, kita berhenti sahabatan” ancam Amel sesenggukan. Laras tersenyum geli, Amel ternyata bisa menangis juga. Ketiganya berpelukan erat, lega rasanya bisa berkumpul kembali.


“Udah mbak nangisnya?” suara Ius membuat ketiga cewek itu berteriak serempak. Ius nyengir lebar. “Mau makan nggak mbak?”


“Makasih bu, tapi tadi udah makan di mobil” tolak Manda halus.


“Saya bukan ibu. Masih cakep gini ya dipanggil Mbak. Kenalin Mbak Ius. Saya siapin susu, tunggu di kamar. Mbaknya pada nginap kan?” cerocos Ius berlalu setelah mendapat anggukan dari Manda.


“Kalian pake mobil Dano kesini? Dano mana?” tanya Laras ketika mereka berada di kamar.


“Kita lempar ke jurang Ra. Jurang yang dalam tanpa jalan keluar. Biarin dia merayap keluar. Hukuman karena udah nyembunyiin elu dari kita” jawab Amel.


Laras ketawa geli. “Ah yang bener?”


“Enggak dong Ra, yekali! Lagian hari ini Dano serem banget. Tadi ada kejadian menarik” kata Amel menggebu-gebu.


“Apa?”


“Dano dan Angga berantem!”


Laras terkejut. “Kok bisa? Berantem karena apa?”


“Karena elu lah Ra. Masa karena rebutan peringkat kelas, nggak elit banget”


“Pokoknya Ra, Dano marah besar. Angga datang nggak pake salam pembuka langsung nanya elu dimana dan nyuruh Dano nggak usah ikut campur. Dano sebel terus berantem deh. Tonjok-tonjokan!” cerita Manda.


“Tapi tenang aja Ra, Dano menang. Ah seharusnya kalo tau mereka bakal berantem, gue buka taruhan Dano vs Angga” tambah Amel nyengir.


“Terus Dano gimana? Luka nggak?” tanya Laras terlihat jelas khawatir.


“Lumayan bonyok sih. Tapi masih bisa jalan. Oh iya, tadi kita nganterin Dano ke bandara, tahu deh mau kemana, katanya mau refreshing. Eh lu sama Dano beneran pacaran kan?” kejar Manda malah menanyakan hal lain.


“Kok kamu mikir gitu?”


“Tadi waktu berantem Dano teriak ke Angga 'cewek yang lu paksa-paksa nikah itu pacar gue!' Gue akui Dano waktu ngomong gitu kelihatan keren banget”


“Alah Nda gaya lu! Tadi lu hampir nangis ngeliat Dano emosi kan?”


“Ih, siapa yang nggak bakal nangis? Cowok lu si Dano itu ngancem mau gilas Angga pake mobil. Sinting kan?”


Laras mengangguk setuju, ia belum pernah melihat Dano marah besar. Tapi mendengar cerita Manda, Laras jadi merasa Dano memiliki dua kepribadian. Sisi baik yang sering Laras lihat dan sisi gelap yang muncul hari ini.


“Jadi kalian pacaran?” kejar Manda belum lupa. Laras angkat bahu membuat Manda cemberut, beruntung suara ketukan dari Ius yang mengantarkan susu membuat topik pembicaraan berubah.


“Mel boleh pinjam ponsel nggak? Mau nelpon Dano”


“Ini Ra pakai aja. Telepon gih, siapa tau belum baik pesawat.”


Laras memanggil nomor Dano, tidak ada jawaban dan sepertinya cowok itu sudah berada di atas pesawat.


“Ini Mel makasih. Enggak di angkat, kayaknya ponselnya udah dimatiin”


“Yaudah Ra selow. Dano nitip lu buat kita jagain, pasti dia bakal kembali. Tenang aja Ra. Cinta mah nggak akan kemana” tepuk Amel dengan senyum manis.


...*****...


“Waktu hamil, Tante Dian ngidam ikan sapu-sapu, makanya pas lahir anaknya nggak bisa diam ngeliat genangan air” kata Manda geleng-geleng Amel. Masih pukul delapan pagi dan cewek itu sudah berenang bolak-balik melawan air dingin.


Laras ketawa sembari sibuk mengurus CV. Manda mengintip sejenak. “Lu serius mau kerja Ra?”


“Iya. Aku mau ngumpulin uang dulu, minimal bisa sewa kos murah dan bayar makan sehari-hari. Kalo ada lebih bisa buat keperluan skripsi semester depan. Di momen kayak gini aku bersyukur punya beasiswa, jadi tanggungan kuliahku nggak banyak”


“Berarti kalo nggak ada lebih, lu cuti kuliah?”


Laras mengangguk.


Manda menghela napas. “Ra untuk urusan tempat tinggal, lu bisa sama gue. Orang tua gue jarang pulang Indonesia, jadi nggak bakal ngerepotin. Terus makan juga bisa sama gue, lu kerja aja buat keperluan skripsi”


“Aku nggak mau ngerepotin kamu Nda. Kalian udah sering repot karena aku”


“Ya ampun Ra, kita itu sahabat, masa gitu doang ngerepotin? Lagian ini kan urgent, terus entar di rumah, lu bisa bantu gue masak”


“Tujuan Manda ngebantuin elu biar dia nggak perlu repot-repot masak buat Marsel kalo pembantunya libur” ujar Amel, Laras nyengir.


“Nggak kok, gue mah murni pengen nolong kawan!” elak Manda.


Amel naik ke tepian kolam, ikut mengintip isi CV Laras. “Lu kerja di bar bareng Samuel mau nggak? Kerjanya malam, gajinya juga oke”


“Syaratnya apa?”


“Coba nanti gue tanya Samuel, tapi harusnya nggak ribet sih Ra.”


Laras mengangguk. “Sebenarnya Dano minta aku kerja di kafe temannya”


“Loh kalo gitu gas aja Ra, siapa tau lebih mudah masuk, nggak perlu repot wawancara”


“Aku ambil itu kalo dalam beberapa minggu ini nggak dapat kerja Mel. Aku nggak mau terlalu banyak ngerepotin Dano”


“Ya ampun Ra, gemes deh gue sama lu, banyak nggak enaknya. Lagian gue yakin Dano emang mau direpotin sama  lu!” ujar Manda.


“Tetap aja Nda, utang budi sama orang itu bikin hidup nggak tenang”


“Tapi kalo sama Dano boleh dong, biar hubungan lu berdua berkembang” balas Amel. Laras mendelik langsung kena sorakan kedua temannya.


Selanjutnya hampir sepanjang hari mereka bersenang-senang. Mulai dari berenang, memasak, sampai berburu makanan di daerah sekitar. Tanpa terasa sudah empat hari Laras bersama Amel dan Manda, diam-diam Laras mulai merindukan Dano. Ketika Amel dan Manda pergi kuliah Laras sering merasa kesepian, ia sama sekali tidak bisa menelpon atau mengirim pesan pada Dano untuk sekedar menanyakan kabar cowok itu.


“Ra, cowok lu datang entar malam” beritahu Amel ketika membaca pesan di ponsel, ia berbaring di kasur sementara Laras dan Manda duduk di bawah sibuk bermain halma.


“Jam berapa?”


“Malam katanya. Gue sama Manda balik sore deh, mau nganterin mobil Dano.”


Sore hari setelah Amel dan Manda pulang, Laras sengaja menunggu Dano, namun sampai pukul sebelas malam cowok itu tak kunjung muncul.


“Udah mbak, mungkin Mas Dano datang besok” kata Ius menguap, acara Tv kesukaannya sudah selesai dan matanya mulai terasa berat.


“Kalo gitu aku tidur duluan ya Mbak” pamit Laras masuk kamar, tapi matanya tidak bisa terpejam. Sesekali Laras mondar-mandir berdiri di dekat jendela. Sampai pukul dua pagi Laras tak kunjung memejamkan mata. Ia duduk di kursi membaca novel, namun pikirannya melalang buana entah kemana.


Suara klakson mobil dan pagar dibuka membuat Laras meloncat dari kursi, ia membuka tirai dan tersenyum melihat mobil Dano masuk ke halaman rumah.


Laras membuka pintu, tepat disaat bersamaan Ius baru akan mengetuk pintu kamar. Wajah Ius terlihat menahan kantuk, sepertinya ia juga diam-diam menunggu Dano. “Mbak Mas- eh udah tau ya?”


Laras tidak menjawab, ia berlari keluar membuka pintu. Tampak Dano keluar dari mobil, ia mengenakan kaos putih, celana futsal, sendal jepit, dan tampang lelah. Dano mendongak, senyumnya muncul saat melihat Laras. Tangan Dano terentang membuat Laras berlari memeluknya.


“Kamu dari mana?” bisik Laras malah menangis. Air matanya jelas menunjukan bahwa Laras rindu berat. Laras berada dalam kondisi paling rapuh dan kepergian Dano seakan menjadi neraka bagi Laras. Tanpa sadar kehadiran Dano dihidup Laras berubah menjadi candu.


“Gimana hari kamu sama dua kurcaci itu? Kamu nggak diapa-apain kan?”


Laras menggeleng lalu mendongak. “Kamu nggak papa? Aku dengar cerita kamu berantem” tanya Laras, beberapa lebam masih berbekas di wajah Dano.


“Itu udah berlalu Ra, saya bisa mastiin sekarang Angga nggak akan ganggu kamu lagi.” Dano menatap Laras lekat-lekat, tangannya terangkat mengusap air mata yang mengalir di pipi, wajahnya menunduk mencium bibir Laras lembut.


Laras memejamkan mata, ia lampiaskan rindunya memeluk Dano erat dan membalas ciuman cowok itu.


Candu.


Dano telah menjadi candu Laras. Bibir Dano yang manis membuat Laras ingin melayang terbang.


“Ra, saya harus mandi. Kamu udah makan? Saya bawa permen buat kamu” kata Dano melepas ciumannya, ia mengambil bungkusan permen dari dalam mobil. Laras tertawa bahagia menatap berbagai jenis permen di dalam situ.


“Hadiah buat cewek manis yang rela nungguin saya sampai tengah malam.”


...*****...


    “Enak Ra?” Dano keluar kamar mandi hanya mengenakan celana futsal, bertelanjang dada, dan handuk di bahu.


Laras mengangguk duduk di tempat tidur masih menikmati permen. Dano mendekat menyingkirkan permen Laras ke lantai dan meraih wajah cewek itu. Bibirnya mencium Laras gemas merasakan manis permen yang masih mengecap di lidah Laras. Perlahan Dano berbaring sembari mengiring Laras naik ke atasnya.


“Selama aku pergi kalian ngapain aja?” tanya Dano duduk dengan Laras tetap berada di atas pangkuannya. Tangan Dano memainkan tali baju tidur Laras, sesekali mencium bahu cewek itu lembut.


“Keliling Jakarta, manjat monas, gabung parpol, seru banget pokoknya.”


Dano ketawa. “Udah bisa bercanda ya sekarang?”

__ADS_1


“Soalnya ada kamu. Kalo nggak ada kamu, aku nggak berani ngelawak, takut habis ketawa malah sedih”


“Emang kalo ada saya kamu nggak akan sedih Ra?”


“Kalo sama kamu, aku sedih kamu yang hibur. Kalo sama Amel dan Manda, aku sedih mereka ikutan sedih. Soalnya kami sehati”


“Berarti sama saya enggak sehati?”


Laras angkat bahu malu-malu mencium bibir Dano dan memeluk cowok itu erat. Dano menepuk-nepuk punggung Laras, ia bergerak sedikit membuka laci meja mengambil ponsel Laras yang seminggu lebih tidak pernah digunakan.


“Ra, coba nyalain ponsel kamu” pintah Dano. Laras langsung menggeleng menolak, ia tidak ingin menghancurkan suasana di antara mereka dengan masalah. Laras baru saja merasa senang karena bisa bertemu Dano dan tidak ingin perasaan itu hancur dalam sekejap.


Dano mengecas ponsel itu menggunakan powerbank, ia menunggu sampai sepuluh persen kemudian kembali pada Laras. “Nyalain Ra”


“Nggak mau”


“Ra, percaya sama saya, semua akan baik-baik aja.” Wajah Dano menunduk sedikit berusaha menyakinkan Laras. Kedua mata mereka bertatapan, Laras merasa ragu namun akhirnya mengambil ponsel itu.


Saat menyalakan ponsel, degup jantung Laras berdetak kencang. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin karena panik. Laras takut, bagaimana jika semua orang kembali menelponnya dan memaksanya untuk menikah? Bagaimana jika mereka melacak keberadaan Laras? Dan bagaimana jika mereka menemukan Laras malam ini? Pikiran-pikiran itu terus menghantui Laras sampai tepukan pelan Dano di pipi menyadarkan Laras. 


Laras mendongak, Dano mengangguk meyakinkan Laras untuk terus melihat layar ponsel. Lebih dari dua ratus panggilan tidak terjawab dan chat tidak terbaca, semua berasal dari Ratih, Susanto, Angga, Amel, Manda, dan bahkan Samuel. Sepertinya Dano memang menutup mulutnya rapat-rapat, karena Samuel sahabatnya tidak tahu dimana Laras.


“Baca pesan terbaru dari ibu kamu Ra, yang lain cuekin aja” kata Dano. Laras menelan ludah membaca serentetan panjang chat dari Ratih yang dikirim dari berhari-hari lalu sampai hari ini.


Ratih: Laras, kalau kamu baca pesan ibu, tolong telepon ibu sekarang. Ibu kangen sama Laras.


Laras terlihat ragu, tapi sekali lagi Dano meyakinkannya. Dengan tangan bergetar Laras menekan tombol hijau, tidak sampai beberapa detik telepon itu langsung terhubung.


[Laras?]


Mata Laras bergetar mendengar suara Ratih. Wanita itu terdengar lelah dan lega disaat bersamaan.


“Ibu….” panggil Laras pelan.


[Halo Laras? Ini kamu? Laras kamu dimana? Ibu khawatir sama kamu? Laras udah makan? Ibu nggak bisa tidur berhari-hari mikir Laras tinggal dimana, makan apa, sama siapa? Ibu takut Laras sakit. Maafin ibu.]


Dan runtuh sudah pertahanaan Laras, ia menangis kencang seolah ada seseorang yang mati disitu. Dano menepuk-nepuk pundak Laras, ia terus disitu menemani Laras berbicara dengan Ratih. Tangis Ratih pun samar-samar terdengar.


“Maafin Laras bu udah jadi anak kurang ajar”


[Nggak papa Ra, ibu ngerti, itu hak kamu untuk menolak. Maafin ibu juga yang malah ikutan nekan kamu. Maafin ibu] balas Ratih membuat Laras semakin terisak sedih.


Selanjutnya layaknya orang yang baru bertemu, keduanya mengobrol lama. Ratih terdengar sangat lega bisa mendengar suara putrinya. Bagi Ratih, urusan menikah dengan putra keluarga Liem bukan lagi mimpinya. Ratih hanya ingin Laras sehat dan menjalani hidup seperti yang ia mau. Kepergian Laras selama seminggu lebih ini membuat Ratih sadar bahwa Laras sekarang jauh lebih baik dibanding berusaha membuat Laras menjadi sempurna sesuai versi Ratih.


[Mas Dano udah pulang?]


Kening Laras berkerut bingung. “Ibu kenal Dano?”


Ratih tertawa geli. [Tolong kirim salam buat Mas Dano kalo udah pulang. Kamu jangan lupa pulang, kasihan Sri sendiri]


“Iya bu, Laras janji pulang secepatnya, Laras juga harus masuk kuliah” angguk Laras.


[Kamu jaga kesehatan ya Ra, sekarang nggak usah mikir yang berat-berat, fokus kuliah. Ibu dukung apapun yang kamu mau] kata Ratih.


“Makasih ibu, maafin Laras. Laras sayang sama ibu” balas Laras dan setelah itu sambungan telepon selesai. Wajah Laras mendongak menatap Dano.


“Empat hari ini saya ke Surabaya nemuin ibu kamu. Saya pikir akan susah buat ngerayu ibu kamu, tapi ternyata ibu kamu emang udah kepikiran buat nggak maksa kamu nikah. Ibu kamu nyesel.”


Laras terkejut, tidak menyangka Dano akan mengambil langkah sejauh itu.


“Kamu….”


“Kan udah saya bilang Ra, saya akan melindungi kamu dengan cara saya sendiri. Saya nggak bisa diam aja ngelihat kamu kayak orang nggak bernyawa gini.”


Laras terharu, tangisnya kembali pecah, bukan karena sedih tapi karena rasa bahagia dalam degup jantungnya mulai merambat naik.


“Udah Ra jangan nangis, masa kamu mau ngabisin waktu sama saya pake nangis? Yang bahagia dong” kekeh Dano. Laras memeluk tubuh cowok itu erat.


“Makasih No. Makasih banyak. Kamu itu lebih magic dari ibu peri” bisik Laras terisak sementara Dano malah tertawa geli.


...*****...


Seperti semudah membalikan telapak tangan, hidup Laras kembali seperti semula. Huru-hara dituntut menikah dalam sekejap menghilang. Laras sudah masuk kuliah seperti sedia kala, tapi ia direpotkan dengan banyaknya tugas kuliah yang terbengkalai akibat ditinggal pergi seminggu lebih.


Setibanya di rumah, selama tiga hari berturut-turut Laras kurang tidur karena harus begadang semalaman mengerjakan tugas kuliah. Terlihat bagian bawah mata Laras menghitam dan wajahnya suntuk bukan main menahan kantuk sepanjang melangkah menuju coffee shop kampus.


Laras mendorong pintu coffee shop, setelah memesan ia berdiri di samping menunggu kopi, wajah Laras berpaling dan secara tidak sengaja matanya menangkap sosok Angga duduk di pojok bersama teman-temannya, mereka terlihat sedang sibuk berdiskusi mengerjakan tugas.


Deg.


Angga juga menatap Laras, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah menghilangnya Laras. Ekspresi Angga terlihat sendu, ia menatap Laras lama sampai membuat Laras berpaling tidak nyaman. Laras tahu Angga ingin berbicara dengannya, tapi Laras enggan. Jangakan berbicara, menatap wajah Angga saja membuat Laras merasa benci.


Laras bisa mendengar suara kursi ditarik, ia tahu Angga akan menghampirinya. Laras merutuki kopinya yang tak kunjung datang. Mata Laras terpejam dan bibirnya komat-kamit membaca doa pengusir setan agar Angga tidak mendekat. Tepukan pelan dibahu membuat tubuh Laras tersentak.


“Ra, kamu pesan kopi buat saya juga kan?”


Tanpa sadar Laras menarik napas lega ketika Dano muncul.


“Kenapa kamu? Asma?” cengir Dano. Laras angkat bahu mengambil pesanan kopi.


“Kamu lama”


“Baru juga telat semenit, kenapa Ra? Nggak tahan ya kalo sejam nggak ngeliat saya? Saya memang ganteng sih, suka bikin kangen. Kamu adalah satu dari seribu perempuan yang nggak bisa kabur dari pesona saya” cerocos Dano pede. Barista kopi tersenyum geli mendengar perkataan Dano.


Mereka kemudian keluar dari tempat itu, sekilas Laras merilik Angga, cowok itu ikut menatapnya lalu buang muka dengan ekspresi kaku.


“Ra sabtu jalan yuk”


“Kemana?”


“Kemana aja, yang penting jalan”


“Kalo gitu mending kamu ke rumah saya aja, tiap sabtu ada jalan sehat bareng ibu kompleks”


“Saya sih mau Ra, tapi emang kamu tega saya dikecengin emak-emak?”


Laras ketawa. “Entar lihat ya, takutnya aku ada kerja kelompok di rumah Amel”


“Laras!”


Laras berpaling, Manda berlari ke arah mereka, tumpukan map berlambang HIMA berada dalam pelukannya. “Bantuin dong Ra, berat nih, tadi mau ke sekre, gue lupa bawa kunci, mana pada kelas semua lagi” kata Manda menyerahkan beberapa map ke Laras.


“Kok nggak minta tolong ke gue Nda?”


“Haram hukumnya pake tenaga lu” jawab Manda cuek. Mereka berjalan sepanjang koridor kampus, tampang Manda terlihat sedikit suram.


“Kamu kenapa? Belum kerja tugas? Atau ada utang?”


Manda menggeleng dan berbisik “gue lagi galau Ra”


“Sama siapa?”


“Ada deh. Tapi gue galau”


“Coba cerita keluh kesah lu sahabat, gue siap mendengarkan” ujar Dano dari samping, Manda melotot tanda tidak senang dengan interupsi cowok itu.


“Ada cowok yang buat gue mikir, gue suka nggak ya sama dia? Dia bukan tipe gue jadi gue cuekin, tapi akhir-akhir ini gue kangen sama dia”


“Brandon kan? Lu kangen Brandon kan? Hahahahaha!” tawa Dano puas, ekspresinya siap untuk meledek Manda.


“Apa sih? Sok tau lu!” ketus Manda jengkel. Dano makin ketawa, kepalanya mengangguk-angguk dengan gestur menyebalkan sampai mendapat pukulan ringan dari Manda.


“Kan udah dibilang, coba aja dulu, jangan sok-sokan nolak, jadi nyerahkan anaknya? Lu mending ngomong ke Brandon 'aku kangen sama kamu' pasti entar balik”


“Ra, mulut cowok lu tolong dikunci, berisik!”


“Dih, emang gue pintu apa? Lagian gue kan ngasih solusi”


“Gue nggak butuh solusi lu! Simpen solusi lu itu rapat-rapat”


“Halah payah!” cibir Dano. Manda mendengus menarik Laras menjauh.


“Sini Ra, ikut lift ini aja, nggak usah sama dia. Entar kita ikutan gila” ketus Manda jengkel.


“Hati-hati Ra, orang yang galau suka ngelakuin hal aneh, entar kamu dicekek loh” kekeh Dano lalu berlalu pergi meninggalkan mereka. 


...*****...


Senyum Laras mengembang lebar ketika melihat Dano muncul di teras rumah Amel, ia berlari memeluk cowok itu.


“Dilarang mesra-mesraan disini, hush hush!” teriak Amel dari jendela kamar.  Dano mendongak dengan tampang jahil.


“Ayo Ra ciuman, biar Amel makin panas”

__ADS_1


“Nggak!” tolak Laras meninju pelan dada Dano. Mereka kemudian melaju pergi dari situ. Dano membawa Laras ke sebuah coffe shop di sekitar daerah monas.


“Ini milik teman saya yang waktu itu saya bilang ke kamu” kata Dano sembari menyapa beberapa pelayan kafe.


“Wih, dari mana aja lu? tumben kesini, siapa nih? Adek angkat?” seorang barista dengan name tag bertuliskan Rian menyapa Dano, matanya menatap Laras takjub.


“Istri gue, namanya Laras” kekeh Dano.


“Rian. Cepat-cepat cerai ya, entar nggak bahagia” canda Rian, Laras tertawa geli, setelah memesan mereka memilih duduk di jendela pojok.


“Kamu sering kesini?”


“Dulu waktu SMP nongkrongnya disini. Coffe shop ini milik Rian, tapi dijalanin sama temennya, dia baru megang sendiri pas kuliah”


“Kalian teman dekat banget dong?”


“Iya, dari SD”


“Tetangga juga?”


“Iya. Tapi sempat pisah waktu SMP, saya sekolah di luar”


“Hmm….Dimana?”


“Inggris”


“Sama Angga dong?”


Dano mengangguk. “Kan saya pernah bilang Ra, kami pernah jadi best friend”


“Kenapa sekarang enggak?”


Dano angkat bahu, tangannya terjulur mengacak rambut Laras gemas. “Kamu nanya kayak detektif”


“Aku penasaran.”


Dano nyengir. “Angga brengsek soalnya, sebelas dua belas kayak saya. Berhubung saya enggak suka ada saingan, jadi saya nggak temenan lagi sama dia. Dalam pertemanan itu salah satu harus jadi anak baik untuk mengingatkan yang jahat”


“Aneh” balas Laras.


Seorang cewek datang mengantarkan pesanan, ia tidak mengenakan seragam staff. Senyumnya mengembang lebar pada Laras dan Dano.


“Maaf ya agak lama”


“Bintang satu, cewek gue udah kelaparan, nggak lihat apa mukanya pucet gitu?”


“Nggak usah didengerin. Dano kalo lapar emang suka berkicau” ujar Laras. Cewek itu nyengir memperkenalkan diri sebagai Clara.


“Kalo ada apa-apa panggil gue aja. Tapi kalo elu, panggil satpam di depan” kata Clara lalu pergi.


“Cantik ya” gumam Laras diam-diam mencuri pandang ke arah Clara. Meskipun Olivia tetap menjadi cewek tercantik dimata Laras, tetap saja Clara juga menarik perhatiannya.


“Calon tunangan Rian” kata Dano. Laras bergumam takjub. Rian tampan dan Clara cantik, dari sisi manapun kedua orang itu memang terlihat sangat sempurna untuk hidup bersama.


“Cocok. Rian cakep” balas Laras.


Dano berpaling lalu iseng mengeser tubuhnya menutup arah pandang Laras.


“Kalo saya?”


“Kamu? Burik” canda Laras, Dano pura-pura mendengus. 


Sepanjang sore mereka habiskan di tempat itu, perasaan Laras meletup-letup bahagia. Pernikahannya batal dan sekarang duduk di depan Laras seorang cowok yang ia suka. Kalau dulu Laras menyukai Angga karena pertunangan mereka membuatnya merasa wajib untuk mencintai Angga, maka sekarang perasaan Laras pada Dano benar-benar berasal dari hatinya.


Angga yang dulu adalah dunia bagi Laras dengan cepat berganti.


Dano.


Laras menyukai cowok itu.


“Woi Mas Radja!”


Dano dan Laras berpaling beberapa orang masuk ke dalam kafe membawa alat musik. Dano menyambut mereka dengan senyum lebar, beberapa langsung sibuk memasang alat musik di panggung kecil di depan, sementara seorang menarik kursi duduk di samping Dano.


“Nichol”


“Laras”


“Adek angkat Dano ya?” tanya Nichol, Laras ketawa.


“Temen. Kok mikir gitu? Tadi Rian juga nanya yang sama”


“Habis temen lu ini jarang bawa cewek, gue kira dia naksir gue”


“Najis!” celetuk Dano dari samping. Nikhol nyengir, dengan santai mencomot pisang goreng milik Laras, tanpa canggung cowok itu bercerita panjang lebar, sampai kemudian ia beranjak pergi ketika teman bandnya  memanggil.


“Sumbang satu lagu ya” ujar Nikhol pada Dano.


Laras berdecak takjub, ternyata Clara yang bernyanyi, suara cewek itu merdu bukan main. Gaun putih Clara membuat penampilannya terlihat seperti sedang berada di acara musikal.


“Gimana makanannya Ra? Ada masukan?” tanya Rian datang menghampiri.


“Enggak ada, aku suka. Enak-enak semua, aku bakal ngajak teman-temanku kesini”


“Nanti gue kasih kartu member Ra, biar bisa dapat satu kopi gratis tiap tanggal lima Juni”


“Acara apa lima Juni sampai lu bagi-bagi kopi?” kening Dano berkerut.


“Hari jadi gue sama Clara” jawab Rian cuek, Dano mencibir.


“Ra, saya mau nyanyi, kamu dengerin ya. Khusus elu tutup telinga, nggak pantes dengar suara serak-serak basah gue”


“Serak-serak becek” koreksi Rian ketika Dano berdiri bergabung bersama Nichol.


“Kalian udah lama dekat?” tanya Rian.


“Enggak juga, tapi akhir-akhir ini sering bareng” jawab Laras jujur, Rian mengangguk paham.


“Oh, baguslah. Gue senang Dano udah move on” kata Rian, Laras baru saja ingin bertanya move on dari siapa, tapi tertahan ketika tangan Rian menunjuk Clara.


“Clara itu cewek gue. Gue sayang banget sama dia, gue bisa gila kalo terjadi sesuatu sama Clara.”


Laras menatap Rian dan Clara bergantian. Ia bisa merasakan keseriusan yang terpancar dari mata Rian. Entah sampai kapan, tapi Laras tau, Clara adalah cinta mati Rian.


“Gue dan Dano itu sama, kalo udah sayang kita bakal ngasih apapun. Fisik dan hati. Makanya kita sahabatan. Lu mungkin nggak sadar, tapi gue bisa bilang lu beruntung dapetin Dano.”


Laras diam, perkataan Rian membuat dirinya semakin berharap.


Apa mungkin Dano juga memiliki perasaan yang sama seperti Laras?


Apa Laras bisa mendapatkan cinta yang ia inginkan?


Apa Dano bisa menjadi milik Laras?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi benak Laras. Mata Laras kini tertuju pada Dano, cowok itu sedang memetik gitar bernyanyi bersama Clara. Tidak diduga suara Dano terdengar merdu menyanyikan lagu Pupus milik Dewa 19 dalam alunan petikan gitar.


Laras terbawa suasana, hatinya tidak bisa menahan lebih lama setiap kali melihat Dano. Dalam perjalanan pulang, kembali ke rumah Laras dan Dano menyempatkan diri berjalan-jalan sebentar di taman kota, tempat dimana mereka pertama kali bertemu.


“Waktu itu aku duduk disitu dan kamu datang, lagakmu kayak penculik” kata Laras menunjuk kursi panjang di dekat mereka. Dano ketawa geli.


“Tapi serius Ra, waktu pertama kali ketemu saya kamu terpesona nggak? Saya kan cakep”


“Mulai” kata Laras semakin terbiasa dengan kepedeaan Dano. Tapi cowok itu tidak salah, ia memang tampan, bahkan jika diingat kembali Laras terpesona saat pertama kali melihat dirinya.


“Enggak. Soalnya kamu nakutin” jawab Laras berbohong, kakinya menyusuri rumput basah menuju kembali ke arah parkir mobil.


Hembusan angin meniup pelan rambut Laras, ia mendongak ketika Dano berhenti dan merapikan rambutnya. Selalu seperti itu, sikap Danolah yang semakin membuat Laras yakin perasaannya berbalas.


“Aku suka kamu” ujar Laras pelan sekali. Pengakuannya membuat wajah Dano berubah terkejut, ia melepas tangannya dari rambut Laras dan sedikit mengambil jarak. Dano menatap Laras tidak percaya, seakan perkataan itu menjadi momok mencekam baginya.


“Sejak kapan?”


Laras angkat bahu. “Entah.”


Dano menghela napas, rasa bimbang memenuhi dadanya. Entah harus senang atau sedih. Kening Dano berkerut menatap Laras serius, ia sedang memikirkan sesuatu membuat suasana menjadi hening. Laras gugup, dia merasa baru saja membuang bom waktu diantara mereka.


“Kamu nggak perlu-”


“Saya suka kamu di kehidupan saya.” Dano memotong kalimat Laras, pandangannya terlihat sangat serius. “Tapi bukan berarti saya ingin kamu jadi pemilik hati saya. Maaf Ra, hati saya belum setoleran itu buat nerima orang lain. Jujur, saya suka dengan hubungan kita yang sekarang.”


Laras memaksakan diri tersenyum, ia tahu perasaannya sama sekali tidak berbalas. Kini semua menjadi jelas, semua sikap Dano padanya memang murni karena perjanjian mereka dulu.


“Nggak papa No, tapi, aku ngerasa lebih lega karena udah jujur ke kamu” kata Laras, ia tidak bohong, meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan tapi Laras tidak menyesal sudah mengakui perasaannya. Meskipun dalam perjalanan pulang keduanya lebih banyak diam dalam pikiran masing-masing, dan saat itu juga benak Laras bisa merekam jelas lirik dari pupus milik dewa-19.

__ADS_1


Dan malam ini menjadi malam paling melegakan sekaligus menyedihkan bagi Laras.


Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan…..


__ADS_2