Ms. Norak

Ms. Norak
S2: Rela Nggak Rela


__ADS_3

Ayu menghabiskan sepanjang sorenya memilih baju yang akan ia bawa ke Inggris nanti. Dibantu Ningsih, mereka merapikan isi kantong belanja yang dibawa Eva tadi siang. Menjelang keberangkatan Ayu Eva terlihat paling sibuk, mulai dari tiket pesawat dan akomodasi semua diurus wanita itu, ia bahkan memutuskan akan mengantar Ayu dan menemani cewek itu di Inggris sampai Ayu benar-benar betah tinggal disana.


Telepon Ayu berdering, ada panggilan masuk dari Adit. Beberapa hari lalu Adit dan Asih datang ke Jakarta, mereka tinggal seminggu untuk temu kangen sekaligus menyiapkan perpisahan Ayu ke Inggris, dan setelah itu kembali karena Adit harus bersiap mengikuti ujian nasional. Selama berada di Jakarta Asih tidak kunjung berhenti mengucapkan terima kasih sekaligus rasa syukur pada Eva, wanita tua itu terus menangis haru tidak menyangka ada hari dimana anak-anaknya bisa dengan bebas bersekolah dimanapun. Membayangkan Ayu dan Adit kuliah saja Asih tidak sanggup apalagi sampai ke luar negeri, rasanya Asih seperti baru menemukan sumur dalam di antara luasnya padang gurun.


“Ujian kamu gimana?”


[Aman dong mbak, biar gini-gini aku itu pinter]


“Awas aja kalo nilai kamu jelek, aku bakalan bilang ibu buat ngebuang kartu pokemon kamu. Udah gede kok hobinya ngumpul kertas kayak gitu” dumel Ayu.


[Aku cowok mbak, wajar kalo hobinya aneh] kekeh Adit asal. Ayu tidak membantah, jangankan Adit Heru saja memiliki koleksi patung anime, mobil, dan robot-robotan yang harga belinya diluar nalar. Ah iya, Heru. Cowok itu lagi apa ya sekarang? Sudah beberapa hari ini Heru tidak kunjung menunjukan batang hidungnya, ia bahkan tidak menelepon Ayu. Cowok itu benar-benar bersikukuh menunjukan aksi protesnya karena rencana kepergian Ayu ke Inggris.


[Oh Mbak Ayu diajak ngomong malah ngelamun!]


teriak Adit membuat Ayu salah tingkah [Ngelamunin apa sih mbak? utang atau pacar?]


Terdengar tawa Ningsih dari belakang layar ponsel. “Jangan dibahas Dit, Ayu lagi sensitif kalo masalah pacar”


[Lah emang Mbak Ayu ada pacar Mbak?]


“Ada Dit, tapi lagi ngambek nggak mau pulang” jawab Ningsih ketawa. Ayu mencibir sebal, memang untuk urusan mengoda Ayu kedua orang itu juaranya.


...----------------...


Ayu tidak tahan lagi, hari ini tepat seminggu Heru tidak kunjung pulang ke rumah. Mendekati waktu keberangkatan membuat Ayu menjadi cemas akan pergi dalam kondisi mereka masih bertengkar. Tangan Ayu memijat-mijat pelipisnya membaca pesan Laras. Malam ini Heru dan Dano kemungkinan akan menghadiri acara makrab srikandi, organisasi kampus mereka dulu, dan sesuai tradisi acaranya dilakukan di sebuah bar.


Bar....membayangkannya saja sudah membuat Ayu pusing.


“Saya nyusul enggak ya kak?” tanya Ayu bimbang. Laras menepuk-nepuk punggungnya kasihan. “Tiga minggu lagi saya berangkat, saya takut perginya dalam keadaan masih berantem”

__ADS_1


“Aku temani Yu, tenang aja tempat kayak gitu lumayan aman. Ada Dano juga kok, kamu cuman sebentar ketemu Heru habis itu pulang.”


Ayu bimbang, menurut informasi Laras besoknya setelah acara Dano dan Heru akan pergi ke Kalimantan. Mengingat waktu Ayu tidak begitu banyak dan takut cowok itu bersikukuh tidak mau pulang, terpaksa Ayu mengalah.


“Tenang Yu, disana ada Amel. Aman kita, jangan takut gitu” kata Laras saat keduanya berada di taksi. Ayu tersenyum kecut. Kata bar, club, acara malam, semua itu selalu memiliki arti negatif bagi Ayu. Sejak pertama kali menginjakan kaki di Jakarta, pesan Ningsih adalah sebisa mungkin Ayu harus menjauhi tempat-tempat seperti itu.


“Kita enggak pernah tau Yu seberapa jauh kita bisa mengendalikan diri sendiri. Sekerasnya hati seseorang tapi pengaruh sekitar bisa buat hati orang berubah. Aku dan kamu itu nggak ngerti hal-hal seperti itu dan mungkin suatu saat akan mengerti. Kita berdua juga mungkin punya prinsip, tapi enggak ada salahnya kan untuk menjauh dari hal-hal kayak begitu? Manusia bisa berubah kapan aja, termasuk prinsip” ujar Ningsih dimomen saat pertama kali Ayu melihat Heru mengadakan party di kediaman Levronka.


Ayu turun dari taksi bersama Laras di depan sebuah bar yang ramai. Beberapa mobil mahal terparkir di depan sementara segerombolan orang berada disitu, beberapa diantaranya mengenakan kartu tanda panitia. Ayu menelan ludah, ia hanya mengenakan jeans dan jaket sama seperti Laras, tapi rasanya kok seperti Ayu tidak seharusnya berada disitu ya?


“Raaa.” Laras dan Ayu sama-sama berpaling, Amel muncul dari dalam, tampangnya terlihat suntuk dan tanpa basa-basi memeluk Ayu erat.


“Bawa goceng nggak Yu? mau beli rokok” tanya Amel bercanda. “Heru dan Dano udah di dalam, lu berdua lama banget datang”


“Aku dan Ayu kerja, biar gini-gini kami itu bukan pengangguran” jawab Laras lugas.


Ketiganya beriringan masuk ke dalam bar. Ayu meringis, bau asap rokok begitu menyengat membuatnya merasa agak sesak, belum lagi dentuman musik mengalun kencang seperti ingin memecahkan gendang telinga. Tapi sejauh mata Ayu memandang hanya ia seorang yang terlihat tidak nyaman berada disitu. Hati-hati tangan Ayu mengengam ujung jaket Amel mengikuti kemana cewek itu pergi, mereka ke pojokan di meja kecil yang dilingkari sofa diduduki beberapa alumni srikandi. Ada Heru di sana, cowok itu duduk di sebelah Dano dan terlihat jelas cukup terkejut saat Ayu datang menghampirinya.


“Siapa nih?” Seorang cowok menatap Ayu terang-terangan dari atas sampai bawah menimbulkan perasaan tidak nyaman. Tentu saja kehadiran Ayu menarik perhatian semua orang disitu. Ayu melirik Heru dan raut wajah cowok itu langsung berubah acuh tak acuh.


“Ru dicariin, nggak usah pura-pura buta” tegur Amel. Heru mendengus singkat sembari menghisap rokoknya.


“Oh nyari Heru ya? Siapa nih Ru? Adik lu?” tanya seorang lagi iseng. Ayu menelan ludah, ia masih berdiri di samping Laras tapi terlihat jelas merasa gugup.


“Anaknya nyokap tiri gue” jawab Heru kalem. Laras dan Ayu langsung berpandangan menyadari sikap Heru yang terlihat tidak mengindahkan keberadaan Ayu di situ.


“Lah nyokap tiri lu ada anak? Sejak kapan?”


“Sejak memutuskan untuk adopsi anak”

__ADS_1


“Oh kalo gitu boleh dong gue ajak kenalan?”


“Jangan, entar gue diamuk nyokapnya” geleng Heru melarang.


Ayu mendengus, dalam tiga detik rasa bersalahnya pada Heru kini menguap keluar digantikan kekesalan luar biasa. Ayu tahu Heru marah, tapi protes dengan cara seperti ini justru membuat hubungan mereka semakin renggang.


Heru itu egois, benar-benar egois! Apapun yang cowok itu inginkan harus dituruti dan Ayu ingin meledak sekarang juga. Posisi Heru yang duduk di ujung membuat Ayu spontan menedang keras betis Heru. Cowok itu berteriak kesakitan langsung berdiri berhadapan dengan Ayu.


“Nyesel saya nyamperin kesini, sana tidur aja di luar” ketus Ayu marah lalu tanpa basa-basi balik badan dan melangkah pergi.


“Lah...adek lu ngamuk” ujar seseorang agak bingung dengan kejadian yang baru terjadi.


“Jahat kamu! Ayu bela-belain nguatin diri buat masuk sini dan nyamperin kamu, respon kamu malah gitu” tegur Laras, ia hendak mengejar Ayu tapi ditahan Heru.


“Itu tadi siapa?” tanya seorang anak srikandi saat Heru berlalu pergi.


“Pacarnya Heru” jawab Laras disambut koor ooo dan setelah itu pesta berlanjut terus seakan tidak pernah terjadi apapun.


...----------------...


Heru berlari keluar mengejar Ayu berjalan pelan meninggalkan area bar, dari belakang langkah Ayu terlihat seperti cewek linglung yang berjalan tanpa arah. Heru berdecak, ia masih kesal dengan Ayu tapi melihat langkah Ayu akan melewati ojek pangkalan membuatnya langsung berlari menarik cewek itu.


“Kamu mau kemana-...Yu?” Rasa kesal Heru langsung menghilang begitu melihat Ayu menangis, kepala cewek itu menunduk tidak ingin menatap Heru.


“Ngapain mas kesini? Sana balik, entar dicariin temen-temennya” kata Ayu sesegukan. “Saya mau pulang, saya capek.”


Hati Heru mendadak sakit, Ayu menangis, tapi bukan tangisan bahagia seperti hari-hari dulu saat Ayu menerima kalung darinya atau saat ia terharu dengan sikap manis Heru. Hari ini Ayu menangis karena dirinya, sebuah tangisan sedih yang membuat Heru langsung menarik Ayu masuk ke dalam pelukannya.


“Maaf.. ” bisik Heru menepuk punggung Ayu pelan, ia tidak lagi memperdulikan tatapan aneh beberapa orang ke arah mereka. Heru mengeluarkan ponsel mencari kontak Dano, ia mengirim pesan, dan setelah mendapat balasan dari cowok itu Heru menunduk ke arah Ayu. “Ayo kita ngomong.” Dan setelah itu Heru menghentikan taksi lalu mereka pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2