Ms. Norak

Ms. Norak
In a Blue Moon


__ADS_3

Sejak hari itu Laras semakin akrab dengan Rakai. Dano yang dulu selalu berada disisi Laras kini perlahan tergantikan dengan Rakai. Kemanapun Laras pergi disitu ada Rakai, sampai muncul gosip baru bahwa Laras itu pakai susuk.


“Muka Laras biasa aja, tapi yang ngintilin dia cakep-cakep semua. Kalo nggak susuk apa? Masa inner beauty!” ujar Ruri, cewek paling seksi di srikandi yang akhir-akhir mulai tergeser posisinya sebagai si paling cakep akibat Manda sering nongol di sekre srikandi.


“Udah Ri, lu lebih cakep dari Laras kok. Cuman emang cowok hobi sama yang masih kebungkus rapi aja” balas Brandon cuek, Ruri makin sewot.


Tapi Laras sendiri tidak peduli, Toh keberadaan Rakai membuat patah hatinya sedikit terobati, meskipun sesekali Laras masih kangen Dano.


“Apa? Sini berantem!”


Laras mendongak. Heru muncul bersama Amel, wajah tertekuk.


“Kenapa beliau? Gagal caleg?” tawa Rakai, Heru mendelik belum siap kena ledek.


“Temen lu MTKnya pas SMA berapa sih? bego bener! Tadi ke minimarket total belanja sepuluh ribu, ngasih sepuluh ribu, si bodoh nunggu kembalian, lama, ngeyel lagi!”


“Ya mana gue tau harga kantong dua ribu? Kalo tau pake kantong harus bayar, mending gue bungkus pake baju!”


“Makanya punya telinga tuh dipakai. Belanja aja blunder, gimana ngitung keuangan keluarga?” balas Amel. Heru mendengus mengambil tahu isi Laras.


“Aku nggak ikhlas kamu ambil itu”


“Bodoh amat Ra, paling karmanya kita jodoh.”


Laras nyengir Heru yang ngedumel selalu terlihat lucu dimatanya.


“Lu masuk Mapala?” tanya Heru pada Rakai dan dijawab anggukan singkat.


“Mo ngapain di Mapala?”


“Bangun sumur”


“Gue serius babi”


“Naik gunung”


“Oh….emang kuat naik gunung?”


Alis kanan Rakai terangkat naik. “Julid lu kayak tetangga”


“Biarin. Gue sirik, iri dengki, nggak senang lihat orang bahagia” balas Heru ketus, teman-temannya ketawa geli. Heru menggigit tahu keras-keras lalu melambaikan tangan pada Dano dan Samuel yang muncul dari belakang. Tanpa basa-basi Dano duduk disamping Laras.


“Bagi Ra, haus” kata Dano cuek meneguk es teh milik Laras.


“Dari mana?”


“Sekre, nemenin Brandon latihan musikalisasi puisi” jawab Dano merebahkan kepalanya di atas meja, tampangnya terlihat lelah.


“Manda mana? Tumben lu bertiga nggak barengan” tanya Samuel.


“Skip kuliah, entar malam mau nonton konser Kpop. Istirahatnya dari sekarang”


“Aneh” gumam Dano memejamkan mata.


“Hima buka pendaftaran ya? Tumben? Gue kira tiap awal semester doang”


“Panitia cabutan, baca pengumuman baik-baik Her, udah blunder belanja, blunder baca pengumuman. Emang orang julid itu keseringan blunder” jawab Amel.


“Kenapa Heru? Cerita yang.” Samuel berpaling semangat.


“Ih pasangan tukang gosip!”


“Jadi gini sayangku, teman kamu ini blunder pas belanja” kata Amel cuek berbicara pada Samuel.


Laras nyengir tapi sesaat tubuhnya tersentak pelan, wajahnya berpaling pada Dano, cowok itu masih memejamkan mata namun tangannya menggenggam tangan Laras. Perlahan Dano memindahkan tangan Laras ke atas pahanya, jemarinya mengelus pelan punggung tangan Laras, membuat jantung Laras berdegup kencang seakan ingin meloncat keluar.


Mata Dano terbuka, ia menatap Laras lekat-lekat kemudian tersenyum.


“Kamu dari mana?” tanya Laras pelan tidak ingin terdengar teman-temannya.


“Sekre, latihan bareng Brandon”


“Emang beneran musikalisasi puisi?”


Dano nyengir tidak menjawab.


“Ra, entar sore jadi kan ke toko buku?”


Laras spontan menarik tangannya dari genggaman Dano dan berpaling ke arah Rakai.


“Jadi dong. Setelah aku kelas ya, jam setengah lima.”


Rakai mengangguk, mengambil tasnya. “Gue duluan ya, mau nyalin tugas”


“Bareng dong. Yuk Ra, gue mau ke sekre Hima, mau ngambil titipan Manda” ajak Amel. Laras mengangguk lalu ikut melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


...*****...


Kelas Laras berakhir lima belas menit lebih cepat. Laras membereskan isi tasnya sembari menunggu perang di pintu kelas usai. Tiap mata kuliah selesai, rata-rata mahasiswa berubah beringas, tepat ketika dosen melangkah keluar saat itu juga lomba lari dadakan melewati pintu kelas dimulai. Tidak peduli ada yang terjepit atau tidak, selama bisa keluar lebih dulu masa bodoh teung dengan nyawa orang.


“Gue kejepit bangsatttt!!!” teriak Dio jengkel, cowok yang tubuhnya imut-imut kayak kunyit itu mengomel kesal mengusap jidatnya yang benjol kepentok pintu.


“Ra, pangeran lu” korek Amel. Laras mendongak dengan senyum lebar, namun senyumnya mendadak kaku ketika melihat Dano masuk ke kelas.


“Ra, ayo”


“Apa?”


“Ke toko buku.”


Kening Laras berkerut bingung. “Aku pergi sama Rakai”

__ADS_1


“Rakai lagi sibuk latihan, jumat mau ikut lomba di monas”


“Lah kamu enggak latihan?”


“Drummer srikandi bukan cuman saya, ada yang lain.”


Yang Laras tidak tahu, seharian ini Dano mengirim pesan dan audisi dadakan kepada semua anak baru srikandi untuk menggantikannya menjadi drummer di lomba Jumat nanti, padahal untuk ukuran mengikuti lomba atau acara di luar srikandi, Heru jarang mengijinkan anak baru, bagi Heru semuanya harus bertahap, tampil di acara kampus, acara luar, baru mengikuti lomba nasional. Tapi Dano tidak peduli, Jumat besok mau menang atau kalah, sekarang lebih penting hubungannya dengan Laras.


Dano sadar, kehadiran Rakai membuat dirinya tersingkir. Rakai memang jelas menaruh perhatian pada Laras, tentu saja siapa yang tidak akan tertarik pada sosok Laras? Cewek itu manis, imut, seksi, dan lembut. Tipe ideal Dano dan Rakai yang suka melalang buana kemana-mana namun berakhir di pelukan cewek mungil kayak Laras. Dan setelah memantapkan hati, Dano sudah memutuskan ia tidak ingin kehilangan Laras. Entah hubungan mereka akan menjadi apa nanti, tapi yang penting sekarang adalah menyelamatkan posisinya di samping Laras.


“Gue duluan ya. Mau kencan sama sayang” kata Amel nyengir lebar melihat dua sejoli itu. Tarik ulurnya tidak main-main.


“Mana ponsel kamu?”


Laras bingung tapi menyerahkan ponselnya. Tanpa basa-basi Dano mematikan ponsel Laras dan memasukan ke dalam kantong celananya. Mata Laras membulat, kalau di chat Rakai bagaimana?


“Yuk Ra, keburu toko buku tutup” ajak Dano cuek.


“Loh ponsel aku?”


Dano mundur ketika Laras hendak menyentuhnya.


“Kalo kamu nyentuh di area sini, saya teriak, karena udah masuk kategori pelecehan.”


Laras bengong, tapi tidak bisa berbuat apapun ketika Dano menarik dirinya melangkah keluar kelas.


...*****...


Laras dan Dano berkeliling di dalam toko buku, tidak tanggung-tanggung hampir tiga jam lebih. Laras terlihat santai namun Dano mulai gelisah. Bolak balik ia mengecek Laras masih setia berpetualang dari rak ke rak lain. Dano mendengus, turun ke lantai bawah memesan D'crepes.


“Suka banget ya mas? sudah tiga kali nih, ntar kalo sampai sepuluh kali saya kasih piagam” ujar mas-mas D'crepes. Dano sewot tapi tidak mengatakan apapun. Ponselnya bergetar ada pesan dari Laras.


Laras : aku ke bagian komik.


Dano geleng-geleng, next time sebelum ke toko buku ia akan membuat list belanja, jadi ketika sampai sudah tahu novel apa yang akan dibeli.


“Mas Dano. Mas ini pesanannya, pacarnya nggak sekalian?”


“Pacar saya hobi ngemil buku mas” jawab Dano lalu beranjak pergi keluar, ia duduk di tangga luar menikmati makanannya. Ternyata menemani cewek ke toko buku itu sama sengsaranya seperti ke mall. Tiga jam berkeliling dan hanya dua barang yang dibeli atau bahkan tidak sama sekali. Di situasi ini Dano lebih senang kencan bareng Laras di rumahnya, mau berjam-jam sekalipun ia betah.


Setelah selesai makan Dano membeli sebotol air mineral, ia kembali ke dalam mencari Laras. Tampak cewek itu berdiri di sudut rak sedang memilih komik, sudah ada dua buku ditangan Laras dan Dano hafal kebiasaan Laras yang akan memilih satu komik lalu mereka pulang. Dano melangkah mendekati Laras dan memeluknya dari belakang, Laras kaget tapi setelah itu ia tersenyum kecil.


“Udah bosen ya?”


“Iya. Mau makan nggak?”


“Maulah. Aku traktir kamu terserah mau makan apa aja”


“Bener?”


Laras menatap Dano lalu nyengir, lagaknya seperti gadis desa sedang menawarkan harta pada musafir dari jauh, padahal musafir itu sebenarnya adalah pangeran. Dano kan pewaris radja group.


“Tapi jangan mahal-mahal”


“Steak, steak! Makan sop iga aja lebih enak” balas Laras. Dano nyengir, ia menunduk mencium pipi Laras.


“Dano! Malu diliatin orang”


“Nggak ada siapa-siapa disini”


“Ihs, yaudah yuk.” Laras melepas pelukan Dano. Setelah membayar di kantin keduanya melaju pergi ke sebuah restoran Jepang.


Alis Dano terangkat naik bergantian melihat semangkuk ramen di hadapannya dan Laras yang bersenandung pelan mengikuti alunan lagu.


“Saya kasihan sama Presiden Soekarno”


“Kenapa?”


“Susah-susah beliau ngusir Jepang dari Indonesia, eh anak cucunya malah jadi wibu”


“Yeuh enak aja! Aku nggak wibu, cuman suka nonton anime aja” delik Laras. Dano angkat bahu menyantap ramen.


“Ra, nikah yuk sama saya.”


Laras tersedak ramen, ia buru-buru meminum segelas air dan mendengus menatap Dano pasang tampang bloon.


“Kalo kamu nikah sama saya, kamu nggak usah ngapain-ngapain.”


Iyalah, kamu kan kaya raya, mau ngapain lagi istri kamu selain berfoya-foya? batin Laras tertawa.


“Kamu cukup main sama jaga Kubis aja setiap hari”


“Itu kamu mau nyari istri atau asisten penjaga anjing?”


“Istri dong Ra. Kalo cuman asisten nggak asik. Nggak bisa diajak aneh-aneh.”


Laras melotot langsung mencubit Dano kencang. “Mesum banget sih!”


Dano meringis. “Bercanda Ra, ya ampun sakit banget cubitan kamu, sering lomba cubit-cubitan di kompleks ya?”


“Iya, makanya hati-hati kamu sama aku. Aku bisa nyubit kamu sampai jaringan nadi kamu ketuker!”


Dano ketawa ngakak sampai menarik perhatian beberapa orang. Sesaat ponsel cowok itu bergetar, ada pesan masuk dari Brandon.


“Ra, minggu depan ada acara srikandi di rumah Brandon”


“Dalam rangka?”


“Tujuh bulanan otak Brandon berkembang pesat. Mau dirayakan, anak-anak pada bangga  karena mendadak Brandon pintar di kelas manajemen keuangan rabu kemarin.”


Laras ketawa.

__ADS_1


“Kamu ikut ya, sama saya tapi”


“Nggak mau. Aku masih malu karena kejadian berantem kemarin”


“Udah lewat Ra. Cuekin aja”


“Tetap aja malu! Ntar jadi omongan anak srikandi kalo aku muncul disana”


“Santai Ra, siapa sih yang berani ngomongin ceweknya Dano?”


Laras tercekat lalu mengangguk pura-pura tidak terganggu dengan perkataan Dano, padahal jantungnya berdetak kencang sekali.


Ceweknya Dano, mulai lagi nih cowok. Tarik dan ulur, batin Laras dengan perasaan berkecamuk.


...*****...


“Ra, bangun.”


Mata Laras mengerjap-ngerjap ketika Dano menyentuh pelan tubuhnya. Pemandangan luas rumah Dano membuat kesadaran Laras kembali.


“Kok nggak ke rumah aku?”


“Mau ganti mobil bentar Ra, ini tadi lampu depannya rusak” kata Dano. Mereka turun dari mobil.


“Pak Rudi, besok tolong bilangin Pak Imang bawa mobil ini ke bengkel. Lampu jauhnya nggak bisa tadi, udah gitu cahayanya kecil lagi, saya matiin agak susah”


“Oh itu, Mas Dano coba matiin pake karung basah, siapa tau bisa”


“Yaelah pak serius nih. Ini juga pintunya macet, suka nggak mau ketutup. Yaelah ini mobil apa gerobak?” dumel Dano membuka tutup pintu kanan penumpang.


“Pake gembok aja mas, biar enggak kebuka” jawab Pak Rudi kalem.


“Mobil ini pak, bukan gerbang sekolah” geleng Dano lalu masuk ke dalam rumah diikuti Laras.


“Bentar ya Ra” kata Dano menuju kamarnya. Laras ke halaman luar, ia tersenyum ketika melihat Kubis disitu, anjing itu menyalak menyambut Laras dan berlari.


“Ya ampun, aku kangen sama kamu” ujar Laras memeluk Kubis lalu mengajaknya berlarian. Laras mengambil snack Kubis dan merayu anjing itu mendekatinya di gazebo.


“Senang banget Kubis ketemu saudara” celetuk Dano dari belakang. Laras berpaling dengan senyum lebar.


“Manis banget”


“Saya?”


“Kubis. Kamu mah pahit.”


Dano berbaring memperhatikan Laras dan Kubis bermain. Ia memejamkan mata sejenak mendengar Laras mengajak Kubis berbicara mengenai kuisnya di mata kuliah hari ini.


“Dasar aneh…” gumam Dano pelan. Laras dan Kubis sama-sama berisik, tapi anehnya Dano suka.


Dulu sekali Dano pernah seperti ini. Tentu saja ketika Kubis tidak sebesar sekarang. Kubis yang saat itu juga menyalak riang seakan mengerti apa yang dikatakan lawan bicaranya. Dulu sekali….ketika Dano juga memejamkan mata membiarkan kedua makhluk di sampingnya ribut sendiri.


Dano rindu.


Degup jantung Dano berdetak kencang, ia memejamkan mata dan bangkit duduk.


“Kenapa? Mau balik sekarang?” Laras bingung.


Dano menggeleng mengambil snack Kubis dan menaruh agak jauh dari Laras.


“Ra, kita pacaran aja yuk.”


Laras bengong sejenak. “Apa?”


Dano tersenyum, tangan kanannya terangkat naik mengelus pipi Laras. “Kamu mau nggak jadi pacar saya? Jawabannya hanya iya dan yes”


“Nggak bisa nolak dong?” protes Laras.


“Emang kamu mau nolak?”


Laras bungkam sejenak. “Tapi waktu itu kamu-”


“Kalo kamu ketemu Dano yang waktu itu. Pukul aja dia. Kok bisa dia pede bilang nggak cinta sama kamu? Dasar Dano bodoh!”


Mata Laras membulat menatap Dano tidak percaya. “Cinta?”


“Saya cinta sama kamu Ra.”


Hening, karena Laras masih mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Cinta Laras tidak bertepuk sebelah tangan?! Dano juga menyukai Laras! Gila! Edan! Laras ingin berteriak kencang untuk meluapkan letupan bahagia di dadanya.


“Mau ya Ra jadi pacar saya?” tanya Dano lagi, ia yang awalnya tenang perlahan gelisah. Jangan-jangan perasaan Laras pada Dano sudah berubah dan ia akan ditolak. Tapi untungnya gelisah itu hanya sementara karena setelah itu Laras mengangguk, meskipun terlihat malu-malu dan menundukan kepala.


Dano tertawa senang, lega rasanya. Ternyata seperti ini rasanya move on dari masa lalu dan memulai hidup baru. Dano menarik Laras masuk ke dalam pelukannya.


“Degup jantung kamu…” gumam Laras.


“Iya Ra, kamu pura-pura nggak denger aja. Saya tadi gelisah, takut kamu tolak” jawab Dano jujur. Laras mendongak, keningnya berkerut dengan tampang lucu.


“Dasar aneh, mana bisa aku tolak kamu? Aku kan suka sama kamu”


“Ya bisa aja Ra. Siapa tau pengaruh Rakai bisa buat kamu berpaling”


“Cemburu ya?” tawa Laras. Dano angkat bahu lalu menunduk mencium kening Laras.


Tangan Laras terangkat menyentuh pipi Dano. Cowok ini kini resmi menjadi pacarnya. Cowok yang ia temui beberapa bulan lalu di taman, membantunya berubah, balas dendam, ditolak, dan kini memeluknya. Laras bahagia, ia bahkan tidak bisa mengukur sebahagia apa dirinya karena degup jantungnya berdetak terlalu kencang.


“Kalo mau cium, cium aja Ra, pacar kamu ini, jangan dianggurin, entar kalo saya dijodohin sama anak Pak Rudi kamu nangis.”


Laras ketawa lalu mengecup pelan bibir Dano, niatnya hanya sebentar, namun ketika Laras ingin menjauh Dano justru menariknya kembali. Kali ini Dano yang mencium Laras, perasaan rindu yang ia tahan menguap keluar.


“Aku nggak tahu kangen aku ke kamu bisa sebesar ini” bisik Dano memeluk erat, rasanya ia mampu untuk memeluk Laras sampai pagi.

__ADS_1


“Kamu disini aja Ra, jangan kemana-mana, kangen saya masih banyak, sampai tumpah-tumpah!” lanjut Dano membuat Laras ketawa geli, ia merasa bahagia.


__ADS_2