
Henry mendadak datang ke Indonesia, rumah yang tadinya sudah mulai terlihat cerah karena Heru jarang marah-marah kini dalam sekejap kembali suram, bahkan jauh lebih suram dari sebelumnya. Heru jadi jarang berada di rumah. Setiap pagi hanya Henry yang sarapan dan setelah itu ia pergi, Heru sendiri baru bangun siang hari atau bahkan tidak muncul sepanjang hari. Sesekali keduanya bertemu saat makan malam, tapi suasana terlihat sepi karena Heru hanya menjawab pertanyaan Henry sesingkat mungkin.
“Gimana Ning?” tanya Dini saat Ningsih kembali dari ruang makan. Ningsih bergidik seperti baru melihat setan.
“Ngeri Din, diem-dieman. Tapi diemnya kayak lagi perang. Entar kalo dipanggil gantian kamu ya Din, aku ngeri” beritahu Ningsih. Ketiganya lanjut bekerja. Ayu duduk di pojokan sibuk mengupas bawang untuk bumbu masak besok pagi.
“Mbak” panggilan Heru dari dalam membuat ketiganya mendongak. Dini langsung memberikan kode pada Ayu.
“Kamu aja dulu Yu, nanti baru aku. Aku masih belum siap” perintah Dini. Ayu tidak melawan, ia langsung berdiri menuju ke ruang makan.
“Iya Mas Heru?”
“Air.”
Tanpa banyak tanya Ayu mengambil ketel keramik dan mengisi air, ia mendekati Heru hendak menuang ke gelas cowok itu.
“Ke bokap” tunjuk Heru. Ayu mengangguk agak sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia bisa melihat Henry dari jarak dekat. Heru seperti versi muda dari Henry, gestur mereka juga terlihat mirip, bahkan diamnya Henry sama persis seperti Heru.
“Nama kamu siapa?” tanya Henry tiba-tiba.
“Ayu pak” jawab Ayu sopan. Henry meneguk minumannya. Ia terus bertanya tentang asal Ayu, kelihatan agak sedikit tertarik dengan anak itu.
“Kamu tunggu sebentar disitu, ini kalo habis tolong diisi” perintah Henry menunjuk ke arah mangkuk sup ayam di atas meja makan. “Ini siapa yang masak? Enak, besok pagi sarapan saya tolong buat sup ini lagi”
“Mbak Ningsih yang masak pak. Iya, nanti saya beritahu tau Mbak Ningsih”
Henry mengangguk lalu berpaling pada Heru. “Kuliah kamu gimana?”
“Aman. Udah skripsi”
“Kapan kira-kira selesai?”
“Tahun depan paling.”
Henry mengangguk-angguk. “Setelah lulus kamu megang perusahaan papa di Bandung”
“Aku pikir-pikir dulu pa, kalo aku kesana rumah nggak ada yang jaga”
“Rumah akan papa jual.”
Heru spontan melepas sendoknya kasar, ia meneguk air dan menatap Henry serius. Ayu menelan ludah, ia bisa merasakan perubahaan suasana di ruangan itu. “Aku nggak mau” tolak Heru.
__ADS_1
“Papa mau kamu setelah ngurus perusahaan di Bandung, kamu tinggal di Singapura sama papa”
“Papa cari orang lain aja, aku sibuk, masih ada urusan. Kuliah juga belum kelar” balas Heru tidak acuh. Henry menghela napas. Heru putra tunggalnya, dulu Heru bukan anak yang pembangkang, namun sekarang sifat keras kepala cowok itu persis sekali dengan Henry.
“Mau sampai kapan kamu melawan papa?” tanya Henry agak keras. Ayu mundur selangkah, melihat pertengkaran kedua orang itu membuat Ayu mendadak mati kutu.
Heru mendengus matanya melirik Ayu yang terlihat kebingungan berdiri di belakang Henry.
“Sampai bosen!” jawab Heru langsung beranjak pergi meninggalkan makanannya begitu saja.
...----------------...
“Heru belum balik?” tanya Henry pada Raya, wanita itu mengangguk kikuk membantu menarik koper Henry dibantu Ayu. “Yaudah biarin aja, nanti kalo lapar juga pulang.”
Henry naik ke mobil dan melaju pergi menuju bandara. Selama beberapa hari kedepan Henry akan melakukan perjalanan bisnis ke Bandung sekaligus ke Kalimantan untuk memantau beberapa area tambang.
“Udah pergi Yu?” tanya Ningsih dan Dini saat Ayu kembali ke dapur. Ayu mengangguk singkat.
“Mbok ini mas Heru tetap disediain makan siang?” tanya Dini.
“Iya sediain aja, siapa tau pulang malam ini.”
Dugaan Raya salah besar, selama empat hari Heru tidak kunjung muncul, cowok itu menghilang bak ditelan bumi. Rumah mendadak menjadi lebih sunyi, bahkan Ningsih dan Dini yang sering mencoba semaksimal mungkin untuk tidak berpapasan dengan Heru juga merasa rumah terasa semakin suram.
“Mbak Ningsih terhibur, aku menderita. Aku senang-senang aja sih mbak, jadi lebih tenang hidup di rumah ini” balas Ayu. Bohong. Ayu tidak merasa begitu. Kepergian Heru membuatnya merasa khawatir, apalagi ia tahu penyebab cowok itu pergi. Ayu tidak begitu mengerti tapi dari cerita Dini Heru menganggap hubungan Henry dan Evangelin adalah penyebab memburuknya kondisi kesehatan Ratna, meskipun saat itu Henry dan Ratna sudah bercerai.
”Ya gimana ya, mantan tiba-tiba mau nikah lagi sebulan setelah cerai pasti bikin kita murka. Logikanya berarti selama masih sama kita dia selingkuh, iya kan?” ujar Dini mengebu-gebu.
Ayu hanya diam mendengarkan, ia tidak ingin ikut memberikan komentar apapun. Masalah yang terjadi di keluarga Levronka bukan urusan Ayu, ia lebih peduli dengan keberadaan Heru saat ini. Karena meskipun sesekali galaknya minta ampun, Ayu tetap merasa Heru adalah orang yang baik, dan tanpa sadar Ayu mulai menaruh simpati pada cowok itu.
...----------------...
Pukul sembilan malam ketika Ayu selesai mengerjakan tugasnya telepon dapur berbunyi, ia mengangkat dan mendapat panggilan dari Malih.
[Tolong bantuin Pak Toto bawa Mas Heru]
Sesingkat itu pesan Malih namun mampu membuat Ayu mematikan lampu dapur dan berlari secepat kilat ke depan. Tampak Heru sedikit kepayahaan dibawa Toto.
“Yu tolong buka pintu” perintah Toto. Ayu singgap membuka pintu dan membantu memapah Heru naik tangga, cowok itu sedikit meracu dengan mata terpejam.
“Mas Heru diantar pulang sama siapa?” tanya Ayu ketika mencium bau alkohol dari mulut lelaki itu.
__ADS_1
“Diantar temennya, katanya udah ngerepotin di rumah jadi dipulangin. Siapa ya nama temannya? Brenden? Brondon?"
“Mas Brandon” koreksi Ayu. Toto mengangguk, salah satu tangannya mendorong pintu kamar Heru.
“Brandon anjing....” gumam Heru membuka mata, ia berpaling pada Ayu. “Ngapain lu?”
Ayu menjerit kaget tanpa sengaja mendorong Heru membuat cowok itu jatuh ke lantai bersama Toto. “Astaga Pak, maaf saya kaget.” Toto bangkit berdiri sambil memegang pinggang keduanya sama-sama menatap Heru yang malah rebahan di lantai.
“Pak makasih. Yu...air” gumam Heru dengan gestur mengusir. Ayu mencibir menahan keinginan untuk menyepak kaki cowok itu.
“Pak Toto balik aja, tidur, air minumnya Mas Heru biar saya yang ambil”
“Air minum Yu, bukan air kran” racau Heru mendumel.
“Orang kalo mabuk masih bisa cerewet ya pak?” bisik Ayu, Toto menahan tawa sementara Heru berdecak.
“Gue bisa denger Yu, buruan, haus nih, tenggorokan gue kayak kebakar.” Ayu dan Toto keluar. Setengah berlari Ayu mengambil minum lengkap dengan teko. Setelah Heru minum Ayu berencana kembali ke kamar dan mengabari kedatangan cowok itu pada Ningsih.
“Mas Heru...” Ayu tertegun, Heru duduk di lantai dan bersandar di pinggir kasur, ia memegang pigura dirinya dan Ratna. Wajah Heru mendongak, ia tersenyum sendu membuat Ayu berjongkok mendekatinya. “Mas ini diminum dulu”
“Ini mama saya” ujar Heru malah bercerita, ia menaruh kembali pigura itu di atas meja. “Cantik kan? Tapi orang secantik ini nggak bisa dapet cinta yang dia mau. Mama dulu dijodohin sama papa saya. Mereka nggak pernah saling cinta, bahkan meskipun udah ada saya.” Ayu menaruh gelas ke atas meja, ia duduk dan mendengarkan Heru. Cowok itu menarik napas menumpahkan isi hatinya yang dipendam selama bertahun-tahun. “Kamu tau nggak Yu apa yang paling menyedihkan ketika kita ditinggalkan seseorang? Seiring berjalannya waktu, kita akan lupa suara dari orang itu, eksistensinya, dan kemudian lenyap tanpa bekas. Saya udah berada di momen saya lupa suara mama saya. Rumah ini jadi satu-satunya pengingat bagi saya seperti apa sosok mama saya saat hidup dulu. Seandainya rumah ini dijual, mungkin mama saya perlahan juga akan lenyap dari pikiran saya.”
Ayu hampir menahan napas, kisah Heru ternyata sedih sekali. Cowok itu egois, tapi karena ia ingin memastikan kenangannya tidak hilang. Ia terlihat selalu berada di antara banyak orang, tapi nyatanya ia merasa kesepian dan hampa.
“Kamu itu ngingetin saya dengan mama.” Heru mengengam kedua tangan Ayu erat, membuat cewek itu sedikit terkejut. “Bau kamu....”
Bau? Kening Ayu mengernyit bingung. Bau apa? bau busuk kah? Tapi ia rajin mandi.
“Mama saya itu orang yang aneh, dia punya banyak uang, tapi lebih suka pake minyak telon, kayak bayi” senyum Heru samar membuat Ayu paham. Ayu memang hobi menggunakan minyak telon, ia gampang masuk angin dan minyak telon punya bau yang tidak terlalu tajam seperti minyak angin Ningsih.
“Mas, mau minum nggak?” tanya Ayu agak canggung, perlahan ia berusaha menarik tangannya dari gengaman Heru, tapi cengkraman cowok itu jauh lebih kuat.
“Yu, saya...” Mata Heru terpejam dengan kening berkerut, kepalanya pusing tapi debaran jantungnya justru membuat andrenalinya naik.
“Mas...saya-”
“Apa?” Heru membuka mata menatap Ayu tajam, seketika itu Ayu langsung menciut. Perubahaan suasana hati Heru terjadi cepat sekali. Heru menarik Ayu kasar agar mendekat, ditatapnya Ayu lekat-lekat dari atas sampai bawah. Tangan Heru bergerak meraih ikat rambut Ayu, ia penasaran, dan ketika rambut cewek itu jatuh tergerai senyum Heru mengembang. Manis.
“Mas Heru, saya mau balik ke kamar dulu” pamit Ayu mulai takut. Tatapan Heru membuatnya merasa tidak nyaman. Tanpa diduga Heru menarik Ayu dan menempelkan bibirnya. Tubuh Ayu membeku, ia tidak membalas ciuman Heru atau mendorong cowok itu menjauh. Ayu terlalu terkejut sampai tubuhnya terpaku diam tidak bisa melakukan apapun. Tangan Heru bergerak meraba tubuh Ayu. Sensasi mendebarkan didada Heru membuat ciumannya perlahan turun ke leher. Heru melepaskan ciumannya dan menatap wajah Ayu yang pucat pasi. Dalam sekejap cewek itu terlihat seperti mayat hidup dengan mata berkaca-kaca. Tangan Heru membuka kaosnya dan melempar sembarangan, ia masih menatap minat pada Ayu.
“Mas...…”
__ADS_1
Heru memegang kepalanya karena terasa pusing, mata Heru kembali terpejam dan saat itu juga tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Ayu. “Saya ngantuk Yu...” bisik Heru pelan sekali.
Ayu tidak menjawab, perlahan air mata mulai membasahi pipinya seiring dengan tubuhnya yang gemetar bukan main. Sekitar semenit Ayu baru mengecek Heru, cowok itu tertidur pulas, kepalanya bersandar nyaman di ceruk leher Ayu tanpa tahu ia baru saja membuat Ayu menangis. Masih dengan Heru dalam pelukannya Ayu berusaha bangkit berdiri memindahkan cowok itu ke kasur. Ayu kemudian merapikan dirinya dan memastikan tidak ada lagi sisa air mata tertinggal di pipi, dan setelah itu Ayu melangkah keluar seakan tidak terjadi apapun.