Ms. Norak

Ms. Norak
S2; 26. Cemburu ya?


__ADS_3

“Yu ini.” Eva menyodorkan sebuah formulir berbahasa Inggris. Formulir itu berisi data diri beserta beberapa request dari pihak kampus untuk pendaftaran mahasiswa baru. Ayu membaca seksama, selain nilai toefl ada beberapa dokumen yang harus Ayu urus seperti pasport dan visa pelajar. “Jangan nangis dulu, kan baru daftar, nanti kalo udah keterima baru nangis” tegur Eva menahan senyum geli.


“Saya tuh mau nangis karena bahagia bu, meskipun baru mendaftar tapi rasanya kayak mimpi. Saya tiap hari mikir kebaikan apa yang saya lakuin di kehidupan sebelumnya sampai saya bisa dapat kesempatan kayak gini” jawab Ayu haru.


Eva tertawa geli menepuk pundak Ayu. “Berusaha keras ya Yu, tunjukin ke saya kalo semua biaya yang saya keluarin untuk kamu itu enggak sia-sia.”


Ayu mengangguk, dalam hati bertekad untuk sukses dan membalas kebaikan Eva suatu hari nanti. Sejak saat itu Ayu terlihat dua kali lebih sibuk, setelah bekerja ia pergi bersama Eva mengurus berbagai dokumen. Sebenarnya Eva bisa saja meminta asistennya untuk mengurus semua dokumen Ayu, tapi sepertinya wanita itu sedang menikmati waktunya menemani Ayu seperti kakak menemani adiknya mendaftar kuliah.


“Semuanya udah beres bu, berkasnya juga udah dikirim, tapi aku enggak mau berharap banyak, takut kalo terlalu berharap dan gagal kecewanya nggak main-main” kata Ayu suatu hari saat sedang menelepon Asih. Cukup lama Ayu mendengar Asih berbicara sampai kemudian wajahnya mendongak ketika bel pintu kafe berbunyi. Tiga puluh menit lagi akan closed order tapi saat itu muncul Joji melambaikan tangan.


“Udah tutup mas” canda Ayu. Joji nyengir menghampiri Artha sementara Ayu lanjut berbicara dengan Asih.


“Iya bu. Iya. Semoga ya bu..... Ibu jangan lupa makan.... Aman bu, tenang aja, percaya sama aku.....salam buat Adit bu, bilangin jangan kelayapan mulu, belajar yang rajin.” Ayu menutup telepon dan lanjut merekap data belanja hari itu ke excel laptop kafe. Sekilas ia mendongak saat Joji menarik kursi dan duduk di depannya. “Lesu amat mas”


“Kelihatan banget ya?”


“Hmm....pasti lagi sulit harinya”


“Betul, capek berinteraksi sama manusia”


“Kalo gitu saya diem mas, saya manusia juga soalnya”


“Oh iya? gue kira bidadari” goda Joji. Ayu tertawa geli, cowok supel itu memang selalu mengeluarkan celetukan aneh tapi malah membuat Ayu terhibur.


“Dulu saya bidadari mas, cuman udah pensiun”


“Oh ceritanya gantung sayap gitu ya?”


“Iya mas, saya mau fokus jadi manusia aja” kekeh Ayu.


Ivanka keluar dari dapur, ia melambaikan tangan dan buru-buru pergi. “Mau ngeclub tuh” kata Artha saat bergabung bersama Joji dan Ayu, ia menyodorkan satu kue lemon pada Ayu. “Hadiah dari gue”


“Dalam rangka?”


“Dalam rangka lu udah jadi pensiunan bidadari” jawab Artha kalem. Joji dan Ayu tertawa ngakak.


Mereka duduk bertiga disitu mengobrol menunggu jam kerja selesai. Tepat saat jam menunjukan pukul delapan malam deting bel berbunyi, kali ini Heru datang.


“Halo kak” sapa Artha. ”Darimana?”


“KUA”

__ADS_1


“Ngapain?”


“Daftarin pernikahan gue sama Ayu” jawab Heru kalem. Ayu langsung mencibir sementara Artha tertawa kencang, Heru tersenyum menyentil pelan kening Ayu. “Yuk pulang sayang”


“Lah udah jadi?”


Heru nyengir menarik kursi duduk di samping Artha. “Nih, udah ada segelnya.” Heru menarik keluar kalung Ayu memamerkan pada kedua orang di depannya, batin Heru mendadak girang saat melihat ekspresi kaku Joji. Ia tahu mau cowok itu. Diam-diam setiap kali bertemu Joji, Heru selalu memperhatikan gerak-gerik Joji, dan tanpa perlu dijelaskan panjang lebar Heru tau Joji memiliki rasa pada Ayu, rasa yang sama seperti yang Heru rasakan untuk cewek itu.


“Sejak kapan?”


“Udah lama, dikit lagi mau nikah”


“Ih, ngarang Mas Heru, saya belum pernah ngomong mau nikah muda”


“Oh, maunya asik-asik dulu ya? Nggak papa bisa saya kasih kok” kedip Heru genit. Wajah Ayu spontan memerah karena malu. Tawa Artha terdengar semakin menggelengar, terhibur melihat interaksi kedua orang itu.


Joji berdehem, kelihatan agak kurang nyaman dengan kedatangan Heru. “Eh, gue balik duluan ya”


”Iya mas hati-hati ya, besok main lagi” angguk Ayu tersenyum lebar.


“Pasti, gue bawa temen”


...----------------...


Mobil Heru sudah terparkir manis di garasi, tapi ia tidak kunjung turun, wajahnya malah terkekuk cemberut. “Saya nggak suka....”


“Iya mas?” Ayu berpaling bingung, dari ekspresi Heru Ayu langsung tahu cowok itu sedang kesal karena sesuatu.


“Senyum kamu ke Joji lebar banget, kayak nggak pernah lihat cowok aja” ketus Heru.


Ayu bengong, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. ”Mas, saya selalu senyum ke semua orang, terutama pengunjung kafe, begitupun dengan Mas Joji”


“Tetap aja saya nggak suka. Apalagi waktu tadi Joji buat kamu ketawa” balas Heru kekanakan.


“Kamu senyum gitu buat dia makin suka sama kamu. Dia pasti ketawa-ketawa terus kan kalo sama kamu?”


“Mas, jangan mikir yang aneh-aneh, Mas Joji itu emang supel anaknya. Mas Heru kenapa sih suka mikirin sesuatu yang nggak perlu? Mas Joji kalo sama Artha juga suka ketawa, masa kayak gitu artinya dia suka sama Artha juga?”


Feeling gue nggak pernah salah, batin Heru. “Terserahlah...”


Ayu menghela napas, dibeberapa momen tertentu Heru itu jauh lebih kekanakan dibanding anak TK, sifatnya cenderung egois dan keras kepala membuat Ayu berkali-kali harus mengelus dada sabar mencoba mengerti apa mau Heru.

__ADS_1


“Mas...”


”Udah, balik sana, istirahat. Besok kamu masih kerja kan?” ujar Heru memalingkan wajah dari Ayu.


Ayu melepas sabuk pengaman, tapi bukannya turun ia justru mendekati Heru, kedua tangan Ayu menyentuh pipi Heru dan perlahan mengarahkan wajah cowok itu padanya. Satu kecupan Ayu berikan dibibir Heru. “Masih marah?”


Heru menahan dirinya agar tidak tersenyum. Ayu itu manis, tapi jiwa Heru masih berkobar untuk menunjukan protes. Tidak tahan dengan diamnya Heru, untuk pertama kalinya Ayu melewati batas yang selalu ia buat. Tanpa diduga Ayu bergerak naik ke pangkuan Heru dan mencium bibir cowok itu. Heru terkejut, tapi tidak menolak, salah satu tangannya malah bergerak ke samping mendorong kursi duduknya ke belakang agar bisa memberikan ruang lebih bagi Ayu.


“Yu....” Heru bergumam saat bibir Ayu bergerak turun mencium leher dan belakang telinganya. Heru bisa mencium bau manis menyeruak keluar dari tubuh Ayu. Parfum cewek itu seperti memiliki bau khas yang menyatu dikulit Ayu.


“Masih marah?” tanya Ayu. Heru mendongak, ia malah tersenyum nakal menatap minat pada kancing baju Ayu. “Masih marah nggak?”


“Enggak”


“Yakin?” Ayu menyentuh dagu Heru mengarahkan pandangan cowok itu padanya. “Saya bisa senyum kesemua orang. Tapi yang bisa meluk saya, nyium saya, dengerin seneng sedihnya saya, ngelihat saya kapapun itu cuman Mas Heru yang bisa. Jadi kalo mas marah karena saya senyum ke orang lain, saya enggak bisa nurut sama Mas Heru, karena itu kerjaan saya”


“Iya.....”


“Terus, meskipun benar Mas Joji suka sama saya, saya enggak peduli. Seperti yang mas bilang ke Artha, saya udah punya segel. Ini kan?” Ayu menunjuk kalung yang melingkar dilehernya. “Mas enggak usah buang-buang tenaga untuk cemburu ke hal yang perlu, mas itu pacar saya, mas harusnya percaya sama saya, sama seperti saya juga percaya sama Mas Heru.”


Hening. Karena perkataan panjang lebar Ayu mampu membuat Heru terdiam. Tangan cowok itu masih memeluk Ayu, tapi salah satu jemarinya mengetuk-ngetuk pinggang Ayu, ia terlihat jelas sedang berpikir. Ayu tersenyum geli. Heru itu hanya umurnya saja yang tua tapi kedewasaan tetap dimiliki Ayu. Tapi Ayu tidak bisa menyalahkan Heru sepenuhnya, cowok itu tumbuh di keluarga broken home dan perselingkuhan menjadi isu yang menemaninya tumbuh dewasa. Heru mungkin tidak ingin mengaku, tapi kecemburuan cowok itu jelas menunjukan rasa takutnya. Takut jika apa yang menjadi miliknya diambil orang lain, meskipun terkadang tingkah Heru suka bikin Ayu sakit kepala.


Ayu menunduk mengecup bibir Heru. “Udah kan? Puas? Ayuk turun.”


Heru menggeleng, masih belum, ia masih mengingingkan Ayu, dan tanpa banyak bicara tangan Heru mencengkram tangan Ayu tidak membiarkan cewek itu pergi. Tubuhnya maju sedikit mengurung Ayu diantara dirinya dan stir mobil sembari mencium bibir cewek itu. Tangan Ayu meremas bahu Heru, ia terbawa suasana sampai tidak sadar tangan bebas Heru sedang bergerak perlahan membuka kancing bajunya.


“Mas Heru!” jerit Ayu tertahan saat Heru iseng menghisap dan mengigit bahunya meninggalkan jejak kemerahan disana.


Heru tertawa geli. “Kan saya selalu bilang Yu, saya suka bagian ini”


“Dasar!” Ayu buru-buru turun dari atas Heru dan mengancing bajunya sampai kancing teratas, ia bergidik melihat senyum nakal Heru padanya.


“Kamu nggak suka ya pake tanktop?” tanya Heru iseng.


“Cuaca lagi panas, terus- Ih Mas Heruuuuu” Ayu merajuk cemberut lalu turun dari mobil. “Sana Mas Heru jauh-jauh dari saya lima meter.”


Heru tertawa geli dengan santai merangkul Ayu. Saat berada di halaman samping, Heru tiba-tiba menarik Ayu dan mendorongnya pelan ke arah dinding belakang lalu mencium cewek itu.


Ayu melingkari tangannya di leher Heru dan sesekali mengelus rambut cowok itu pelan. Ayu mengigit bibir saat Heru menunduk mencium lehernya disertai sentuhan Heru yang memberikan sensasi aneh di dalam hati Ayu.


“Bener kata kamu, yang bisa ngelihat kamu kapapin itu cuman saya. Termasuk ketika kamu gigit bibir kayak tadi, yang bisa ngelihat seksinya kamu emang cuman saya” bisik Heru menggoda sementara pipi Ayu langsung merona merah karena malu.

__ADS_1


__ADS_2